MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Malam Pengukuhan


__ADS_3

Bunda Devi senang luar biasa melihat siapa yang datang bersama Nico. "Bunda, apa kabar?" Suci menyalami ibu mertua yang langsung dibalas pelukan hangat oleh Bunda.


"Alhamdulillah. Bunda sangat baik,apalagi dengn kedatanganmu ke sini. Mau tinggal seterusnya kan di sini?"


Suci hanya  tersenyum dengan keinginan Bunda yang belum bisa dikabulkan permintaannya."Tidak sekarang. Semoga secepaatnya ya Bun."


"NIco, kenapa lambat sekali sih. Cepetan dong kelarin masalahnya. Bunda kan pengen ada teman di rumah." Nico yang menjadi sasaran pelototan Bunda. Ia sudah tak sabar memperkenalkan menantunya kepada semua orang.


"Sabar Bunda, sedikit lagi dapat bukti kecurangan Pras. Semua akan selesai." Nico merengkuh bahu Suci. Dalam hatinya meyakini,  tak lama lagi urusannya dengan keluarga Pras akan segera  berakhir, sedikit info  yang dikorek dari Winda memberikan titik terang langkah yang akan diambilnya.


Keduanya pamit untuk ke kamar, ingin mandi karena badan terasa lengket dengan keringat. Suci mengedarkan pandangannya. Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Nico yang luasnya dua kali lipat dibanding kamarnya. Ranjang king size terpajang di tengah dengan diapit meja lampu tidur di kiri dan kananya. Di dekat jendela yang lebar terdapat single sofa panjang menghadap layar TV LED 40 inc.


 


"Sini aku tunjukkan pakaianmu," Nico menuntun Suci  menuju pintu walk in closet yang berdampingan dengan pintu kamar mandi. Lemari dengan pintu cermin digesernya, memperlihatkan isinya berupa pakaian untuk Suci. Mulai baju kerja sampai baju santai dan pakaian tidur  tertata rapi. Hijab dengan berbagai warna pun tergantung dihanger khusus. Berikut pakaian dalam terlipat rapi di dalam laci.


Suci melongo dengan pemadangan  yang dilihatnya. Pilihan model pakaian kok bisa sessuai dengan seleranya. kecuali ada beberapa pakaian tidur yang membuatnya memalingkan muka, malu. Ada piyama pendek tanpa lengan dan juga lingerie.


"Mas Nico memangnya tahu dengan ukuran bajuku?"


Nico yang memperhatikan Suci dengan bersandar di tembok, mendekat ke arah sang istri dan memeluk pinggangnya. Adegan mesra itu terpantul di cermin samping dan depan, hampir mendominasi ruangan sehingga memebri efek ruang luas.


"Aku kan sudah menyentuhmu luar dalam. Jadi tahu dong size pakaian luar dan dalammu." Satu kecupan mendarat di pipi Suci karena gemas melihat rona merah tiba-tiba muncul di pipi mulusnya.


"Lepas ah, aku mau mandi."


Nico bukannya melepas belitan tangannya di pinggang ramping sang istri, malah mengetatkannya. Menyandarkan kepalanya di bahu Suci.


"Mas Nico, plis lepas dulu. Aku gerah pengen mandi," Suci melembutkan suaranya. Membujuk sang suami agar luluh.


"Mandi bareng  ya, cantik."


Suci menggelengkan kepalanya. "Aku aja yang duluan. Ini sudah mau magrib. Kalau mandi bareng bisa-bisa lama."


Nico tidak menjawab. Tapi tangannya berganti merengkuh bahu Suci. Mengajaknya keluar dari ruangan itu. Masuk ke pintu sampingnya. Kamar mandi.


"Mas Nico duluan aja deh, aku malu." Suci masih berdiri di dekat pintu saat Nico mengisi air di bathtub.


"Eh nggak bisa! Kita harus mandi bareng. Masa sama suami sendiri malu." Nico mendekat kembali ke arah Suci. Membantunya membuka kerudung. Mau nggak mau Suci mengalah. Ia membuka sendiri pakaiannya. Dengan cepat Nico pun membuka pakaiannya sampai polos di depan Suci, cuek tanpa malu.


"Mas Nico ih kayak anak kecil." Suci menutup matanya melihat tongkat yang tegak lurus seperti akan menghunusnya. Nico tergelak melihat Suci yang malu.Ia senang sekali menggoda kembali istrinya.

__ADS_1


"Memangnya anak kecil ukurannya sebesar ini?" Nico meraih kedua tangan Suci yang menutupi wajah, diarahkan untuk memegang tongkatnya yang keras.


"Mas Nico ihhhh." Suci memekik kaget karena tangannya di tahan. Sejenak matanya membelalak, lalu kembali memejamkan mata. Jangan ditanya lagi bagaimana merahnya seluruh wajah Suci. Nico kembali tergelak, sampai bahunya terguncang karena  tertawa lama.


"Lama banget sih buka bajunya. Sini aku bantuin." Tak sabar, Nico membuka pakaian dalam yang masih menempel di badan Suci. Kini keduanya polos, dengan pakaian dibiarkan berserakan di lantai kering. Nico menggendong Suci menuju bathtub  yang sudah terisi air hangat dengan busa yang memenuhi. Wangi aromateraphy menguar lembut memenuhi ruang kamar mandi yang luas.


"Mas, hanya mandi ya. Jangan minta lebih!" Suci berbicara dengan memunggungi Nico yang tangannya sedang menggosok-gosok, sesekali menggerayangi ke bagian tubuh depan di balik busa yang melimpah.


"Tapi aku pengen--" Suara serak Nico yang berhasrat, bersama hembusan nafasnya menyentuh kulit leher Suci.


"Nggak boleh Mas. Itu melanggar adab. Agama kita sudah mengatur etika bersetubuh, demi kebaikan tentunya." Suci mencubit lengan Nico  yang kembali nakal meremas gunung  kembarnya.


Acara mandi gosok menggosok baru berakhir 30 menit kemudian. Suci yang ingin beranjak, berkali-kali di tahan Nico. Alasannya masih belum bersihlah, masih ada daki lah. Sungguh modus.


****


Selepas magrib, Suci turun menemui Bunda yang berada di ruang makan dengan mengenakan gamis rumahan berwarna coklat susu motif polkadot dengan kerudung instan warna senada. Nico akan berada di masjid sampai isya, begitu pamitnya.


"Bunda, aku bantuin apa nih?" Suci menatap meja yang sudah dipenuhi sajian makan malam. Semuanya sudah lengkap sepertinya.


"Bi Mumun sudah memasak semuanya. Kamu cukup bantuin siapin makan ke piring suamimu." Bunda tersenyum lembut menatap menantunya yang cantik natural tanpa polesan.


Kini kursi makan terisi 4 orang. Dan suasana ini begitu diharapkan Bunda bisa tercipta setiap hari. Suci mengambilkan nasi dan lauk untuk Nico. Sama halnya Bunda yang menyiapkan untuk sang suami.


"Tenang, Bun. Nanti akan ada saatnya." NIco menanggapi dengan santai curahatan hati Bunda.


Selesai makan bersama, masih di ruang makan, Ayah membuka obrolan serius menyangkut perusahaan. "Nico, kamu kan sudah menikah, jadi sudah waktunya mengganti posisi Ayah memimpin perusahaan."


"Jangan dulu, Yah. Aku benar-benar belum siap kalau harus jadi direktur. Kenapa nggak mbak Anita saja sih yah?" Nico mencoba  bernegosiasi. Dirinya masih betah dengan posisi jabatannya kini.


"Kakakmu kan memilih tinggal di Bali. Hanya kamu yang bisa diandalkan. Pokoknya, secepatnya siapkan dirimu. Ayah cukup jadi pengawas saja. Ayah ingin santai. Ingin mengajak Bunda keliling dunia, menikmati hari tua." Kalimat terakhir Ayah membuat Bunda memeluknya karena merasa tersanjung dengan keinginan suaminya itu. Suci hanya tersenyum, menyaksikan keharmonisan mertuanya itu.


Obrolan terjeda saat Bi Mumun mengabarkan di depan gerrbang ada Nyonya Siska dan anaknya ingin bertamu. Membuat Nico dan Suci saling pandang.


"Kalian naik aja ke kamar. Biar mereka jadi urusan Bunda."


Suci yang panik hanya mengangguk dan menurut begitu Nico menggenggam tangannya mengajak ke atas. "Nggak usah panik, sayang. Ada Bunda  yang akan mengatasinya." Nico mengusap kepala Suci yang tampak tergesa menaiki anak tangga.


.


.

__ADS_1


"Bu Devi, kita abis dari dokter. Ini kaki Winda keseleo tadi siang, mumpung lewat sini sekalian mampir deh." Padahal tidak ada yang bertanya, nyonya Siska bercerita sendiri begitu duduk di ruang tamu. Hanya Bunda yang menyambut. Ayah memilih masuk kamar karena malas bertemu tamu seperti mereka.


"Owh. Terus bagaimana keadaan kakinya sekarang?" Bunda menatap Winda  yang celingukan melihat sekeliling.


"Eh, ini kaki sudah mendingan tante." Winda menyerahkan paper bag berisi cake yang dibelinya di jalan. Biar nggak terlalu malu bertamu  malam ke rumah Nico. Bunda hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih.


"Tante, Mas Nico nya kemana?" Winda tak sabar mengutarakan maksud utama kedatangannya.


"Nico sudah tidur, Winda. Katanya tadi tidak enak badan, sepertinya masuk angin. Dia minta siapapun jangan mengganggunya."


Di kamar atas


Nico merebahkan kepala di pangkuan Suci yang sudah berganti pakaian sesuai keinginannya. Lingerie hitam.


"Usap di sini!" Nico mengarahkan tangan Suci agar mengusap kepalanya. Selama Suci mengusapinya, bibir Nico mengecup-ngecup lutut sang istri. Tidak cukup di situ, kecupan merambat ke paha, lalu naik dan naik sampai lembah.


"Ah, geli Mas."  Suci menggelinjang sampai kepala Nico terjatuh menimpa kasur. Nico mengulas senyum lebar melihat Suci yang mulai terpancing.


Malam belumlah larut. Tanpa mempedulikan suasana di lantai bawah, di kamar atas ini lampu sudah berganti temaram mengiringi kesyahduan yang tercipta oleh dua insan. Dengan tatapan memuja, Nico menelusuri setiap inci tubuh halus nan mulus sang bidadari. Malam ini ingin menjadi  malam pengukuhan dirinya memiliki sang istri seutuhnya.


"Boleh ya, sayang?" tatapan berkabut dan suara berserak sang pria, meminta izin untuk kembali menembus.


Dibawah kungkungan sang suami, Suci mengangguk lemah. "Pelan-pelan ya--"


Suaranya teredam oleh bungkaman bibir Nico di bibirnya. Kesakitan yang dirasakannya direfleksikan oleh cengkraman kuat tangan di bahu polos sang suami. Malam masih panjang, baru menginjak pukul 9. Dua insan sudah mandi keringat untuk season yang pertama.


Selanjutnya, biarkan mereka menikmati malam ini. Ditemani hujan yang mulai turun mengantarkan hawa dingin. Tak mengapa dingin di luar, karena di dalam kamar mereka akan berlanjut, salng menghangatkan.


 


*******


Hore...hareudang, panas panas panas....hahaha


Jangan lupa kasih aku poin ya readersku tersayang. Aku juga butuh kehangatan para  netizen hihihi


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2