MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Ultimatum (2)


__ADS_3

Langit kota Bekasi mulai cerah karena sinar sang mentari yang merangkak naik, ketika dua pria tampan tiba di pabrik. Mereka tiba bersamaan dengan jam karyawan masuk. Selain kebakaran gudang yang menjadi pusat perhatian, kehadiran dua pria bertubuh proposional itupun menjadi pusat perhatian kaum hawa. Mereka berbisik dengan kawannya sambil senyum-senyum, seolah keberuntungan dapat memandang sosok yang langka dijumpai.


"Selamat pagi Pak Nico, Pak Candra." Helmi, kepala gudang menyambut kedatangan atasannya itu dengan menjabat tangan keduanya.


Bertiga, mereka menuju lokasi gudang yang terbakar. Beruntung tiga mobil DAMKAR datang dengan cepat sehingga api tidak menjalar lebih luas. Sisi kanan gudang yang diberi police line tampak menghitam dan masih mengepulkan asap kecil sisa kebakaran.


"Barang yangg dekat dengan titik kebakaran sudah di evakuasi ke kantor. Sebagian barang siap ekspor hangus, pak. Sekarang staf sedang mengorganisir daftar kerusakannya." Helmi juga menjelaskan hasil olah TKP yang dilakukan polisi. Didugam kebakaran terjadi karena korsleting listrik.


"Dua minggu lagi waktunya shipping, bagaimana ini Bang? Nico menatap Candra minta pendapatnya.


"Kita harus adakan rapat dadakan, mau gak mau barang yang rusak harus produksi ulang . Pak Helmi, tolong segerakan laporannya!" Candra meminta Helmi mendata kerugian akibat kebakaran gudang berikut detail barang yang harus di produksi ulang.


Hari yang sibuk dimulai, Candra selaku Production Manager didampingi Nico memimpin rapat dadakan bersama staf produksi. Barang siap ekspor yang rusak adalah project yang didapat Nico dari perusahaan Jepang. Solusi didapat, selama seminggu ke depan karyawan garment harus lembur. Akhirnya, dua kerugian harus di tanggung perusahaan, kerugian kebakaran dan upah lembur karyawan.


Ponsel di saku celana Nico bergetar bersamaan rapat yang baru selesai menjelang ashar. Nico mengekerutkan keningnya, nomer tak dikenal tampil dilayar ponselnya.


"Hallo"


"Bagaimana dengan kejutannya Nico?"


Nico bangkit dari duduknya mendengar suara yang familiar dari sebrang sana.


"Maksudnya apa Pak Pras?"


"Sudah saya bilang, menikahlah dengan Winda. Kamu akan mendapat banyak keuntungan, bukan kerugian seperti saat ini. Oh ya, sekretarismu cantik juga. Bagaimana rasanya jika one night stand dengannya."


Di sebrang sana Prasetya menutu pembicaraannya dengan tawa sinis. Kalimat yang membuat wajah Nico merah padam karena amarah. "Shit"


Nico mengumpat sambil meremas rambutnya. Tatapan tanda tanya tampak di wajah Candra, fokusnya terhadap laptop terganggu oleh tingkah Nico.


"Ada apa Nico?" Candra tak bisa menahan rasa penasarannya melihat Nico yang berdiri dengan resah.


Nico kembali duduk di kursinya, sesaat diam untuk menenangkan diri. Air mineral yang tinggal setengahnya lagi, diteguknya sampai habis. "Aku sudah tahu penyebab kebakaran gudang."

__ADS_1


****


"Mbak Suci, mau pulang sekarang?"


Suci yang berdiri di lobby sedang memegang ponsel untuk memesan taksi online, mendongakkan kepalanya.


"Iya." jawabnya ragu. Ia tidak mengenal sosok pria yang menyapanya


"Aku Malik, temannya Nico. Aku disuruh Nico mengantar Mbak Suci pulang," Malik berdiri tegap di hadapan Suci.


"Oh ya?!" Suci masih terlihat ragu. Ia memang pernah mendengar Nico bercerita, saat ke Aceh ditemani Malik. Tapi ketemu dengan orangnya belum pernah.


Melihat Suci yang tampak ragu, Malik menyuruhnya untuk menelpon Nico agar yakin. Hanya dengan mengangguk, Suci menuruti saran Malik.


"Assalamualaikum cantik."


"Waalaikum salam. Mas, ini ada orang yang menjemputku katanya disuruh Mas Nico, benarkah?"


Suci tersipu diiringi senyum tipis, mendengar suara di sebrang yang begitu perhatian. Pembicaraan pun berakhir setelah Suci mengatakan akan segera pulang.


"Bagaimana?" Malik mendekat dan mengangkat kedua alisnya. Tadi dirinya sedikit menjauh saat Suci sedang berbicara dengan Nico.


"Ayo Bang Malik. Maaf ya tadi aku ragu. Soalnya belum pernah berjumpa sebelumnya," ujar Suci dengan tersenyum tipis.


Malik hanya mengangguk. Mereka.berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan Lobby.


"Pantesan si Nico tergila-gila. Senyumnya aja bisa membuat diabetes." Malik membatin. Ia baru melihat Suci dari jarak dekat. Dulu ia hanya mengawasinya dari jauh.


Sepanjang jalan Malik hanya diam, fokus menatap lalu lintas yang padat di sore hari karena jam bubar kerja. Sekali-kali Suci meliriknya, sambil berpikir membuka obrolan apa yang pas untuk dibahas.


"Ehm. Bang Malik sudah lama berteman dengan Mas Nico?" Suci mencoba berbasa basi agar suasana tidak kaku.


"Kita temenan sejak SD sampe SMP. Masuk SMA dan kuliah kita berpisah karena Nico pindah kota. Ya, akhirnya ketemu lagi dan akrab lagi sampai sekarang." Jelas Malik tanpa melihat ke sampingnya.

__ADS_1


Suci hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Malik. "Eh, itu di depan ada mini market. Boleh mampir dulu ya?" Tunjuk Suci ke arah plang besar yang sudah terlihat dari jaraknya.


"Maaf mbak Suci. Nico menyuruh langsung pulang, tidak boleh mampir kemana-mana." Malik melirik sekilas ke arah Suci.


"Yaaah, padahal cuma mau beli bahan masakan. Mas Nico kan pulang dari pabrik mau mampir ke rumah."


"Gampang. Order go food aja," jawab Malik kalem.


Suci hanya mengedikkan bahunya, pasrah dengan keputusan Malik.


Mobil yang dikendarai Malik tiba di depan rumah Suci. Tampak mobil Nico pun sudah terparkir, sepertinya belum lama datangnya.


"Eh mbak Suci sebentar, hmm....aku bisa minta nomer Rahma?" Suci yang sudah membuka pintu mobil, tertahan sejenak. Bibirnya tersenyum tipis dengan kedua alis terangkat. Ia mengirimkan nomer sepupunya itu setelah Malik memberikan nomer ponselnya terlebih dahulu.


"Aku nitip. Jangan mempermainkannya ya!" Ancam Suci tapi dengan terkekeh pelan. Malik hanya menaggapi dengan acungan jempol.


****


"Ngapain dulu sih, kok lama turunnya?" Nico menyongsong kedatangan Suci dengan mata menyipit penuh selidik. Sejak mobil Malik datang, Nico sudah berdiri di teras menunggu sang kekasih keluar dari mobil.


"Itu...dia minta kontak Rahma." Jelas Suci. Ia tidak ingin Nico salah faham. Suci mengajak Nico dan Malik ikut masuk ke dalam rumah.


"Cemburu bilang, Boss!" Bisik Malik saat berdiri bersisian dengan Nico, yang langsung mendapat sikutan di perut Malik sampah ia mengaduh.


Selepas makan malam, ke empat orang masih duduk bersama mengitari meja makan. Dengan serius Nico mengutarakan maksudnya kepada Candra.


"Bang Candra, kemarin Suci menyerahkan keputusan kepadaku. Jadi Bismillah, minggu depan kita langsung akad nikah saja. Resepsinya di Jakarta sesuai permintaan Bunda, nanti untuk waktu resepsinya kita rundingkan lagi."


"Oke. Saya restui kamu menikahi adikku. Aku yang akan menjadi walinya!" Candra mengulurkan tangannya yang segera disambut Nico. Keduanya berjabat tangan dengan kuat dan wajah sumringah, diakhiri dengan saling berpelukan.


Semua sudah Nico jelaskan kepada Candra. Tentang ancaman Prasetya, tentang obsesi Rafa. Yang keduanya mengancam keselamatan Suci. Hanya dengan segera menghalalkan Suci, Nico akan leluasa melindungi sang pujaan hati.


Suci menatap keduanya dengan pandangan haru dan binar bahagia. Hanya tinggal menghitung hari dirinya akan berubah status, menjadi istri.

__ADS_1


__ADS_2