MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Gelagat Ipar


__ADS_3

Nico


Tiga bulan kemudian.


Rengekan kecil jam 6 pagi hari membuatnya segera menaruh laptop di meja. Dengan langkah lebar namun penuh kehati-hatian agar tidak membangunkan Suci, ia mendekat ke sumber suara. Yaitu box bayi tempat gadis kecilnya tidur.


Amanda Molek. Semolek wajahnya. Perpaduan wajah cantik sang mama dan wajah tampan sang papa. Baby Manda, begitu bayi lucu itu dipanggil, yang lahir 5 minggu yang lalu itu tampak menggeliat, bergerak-gerak tak nyaman.


"Ssshhh...." Ia menepuk-nepuk pelan agar si kecil tidak merengek padahal matanya terpejam rapat.


"Sayang, kenapa hmm...kan tadi udah mimi..." Ia berkata pelan agar tidak membangunkan Suci yang baru terlelap 1 jam yang lalu. Semalam sang istri terbangun dua kali, jam 11 dan jam 3 dini hari karena baby Manda menangis ingin menyusu. Dan baru bisa tidur lagi jam 5 subuh.


Ia meraba bagian bawah popok kain. "Hm, pantesan. Anak Papa ngompol..."


Ia sudah belajar dari Suci bagaimana mengganti dan memasang popok baru. Sampai dua minggu ke depan rencananya masih memakai popok kain karena sepertinya kulit sang bayi masih sentisitf jika memakai popok sekali pakai. Selalu ruam.


Ia tersenyum lega. Usai diganti popok, bayi lucu itu kembali lelap dengan kedua tangan terangkat melewati kedua bahu mungilnya. Bebas merdeka.


Tok tok tok.


Pandangannya kini teralihkan ke pintu kamar yang diketuk.


"Tante Suci...Om Nico....Naura boleh masuk?"


Ia bergegas menuju pintu agar tidak ada teriakan kedua dari keponakannya itu.


Naura tersenyum lebar dengan dua gigi depannya yang ompong begitu ia membukakan pintu.


"Jangan berisik. Tante Suci lagi bobo." Ia memasang telunjuknya di depan bibir ketika Naura akan bicara.


"Naura mau ketemu baby Manda," ujar anak cantik yang kini kelas 1 SD itu berkata setengah berbisik. Kemarin Naura dan orangtuanya bari tiba di Jakarta karena menunggu libur long weekend agar bisa lama tinggal di rumah nenek kakeknya itu.


"Manda masih bobo. Nanti aja ya!" Ia menjawil bibir Naura yang tiba-tiba mengerucut sepanjang 5 cm.


"Om karetin ya bibirnya." Ia menggoda Naura yang masih merajuk dengan bibir mengerucut itu.


Tangisan baby Manda terdengar nyaring. Naura langsung berbinar dan menerobos masuk begitu ia lengah menoleh ke dalam kamar.


"Hai....adek Manda....ayo kita berjemur sama kakak..." Naura dengan sigap membuka pengunci di bagian kiri dan kanan sehingga sekat box bisa diturunkan dan ia leluasa mencium pipi chubby adik sepupunya itu.


Ia hanya mampu menggeleng melihat kelakuan keponakannya itu.

__ADS_1


Suara tangisan baby Manda dan keributan Naura membuat Suci terbangun.


"Tidur lagi aja, sayang. Biar Manda aku bawa keluar." Ia menatap kasihan melihat mata panda sang istri yang karena kurang tidur.


"Manda haus, Mas. Biar aku susuin dulu. Nanti baru Mas bawa berjemur." Suci perlahan bangun dan duduk sejenak mengumpulkan nyawa yang masih berserakan.


Anita muncul di ambang pintu dan mengajak Naura turun ke ruang makan untuk sarapan. Namun Naura menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Adek Manda mau menyusu dulu, kak Naura juga harus sarapan dulu ya. Nanti temani adek berjemur."


Ucapan Suci mampu membuat Naura luluh dan mengikuti sang ibu turun ke bawah.


Ia tersenyum menatap putrinya yang menyusu dengan gerakan mulut cepat seolah takut kehabisan.


"Ish, anak Papa rakus sekali. Sisain buat Papa, sayang."


"MAS."


Ia tersenyum menyeringai melihat tatapan maut istrinya itu.


****


Suci


Suara ramai di ruang keluarga, membuatnya melongok. Rupanya baby Manda sudah selesai berjemur dan kini orang-orang dengan wajah ceria mengerubungi bayi menggemaskan itu. Ada Naura yang ribut sendiri mengajak berbicara sang bayi yang belum mengerti. Nico dan yang lainnya mengawasi sambil berbincang santai dengan Ayah Bunda dan Anita. Ia tersenyum.


Keluarga suaminya begitu hangat kepadanya. Kecuali dengan Mami Devi, ia kurang suka karena hobinya yang foya-foya, tidak ingat umur dan tidak ingat bayar utang. Untung sekarang tidak ada, pulang ke Surabaya.


"Mas, udah sarapan?"


"Tadi udah ngopi. Makannya nanti aja jam 9."


"Suci, kamu harus segera makan. Bibi udah masakin sayur katuk. Biar ASI nya deras." ujar Bunda mengingatkan.


Ia mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.


Bunda memang perhatian. Makanan serta buah-buahan penunjang nutrisi sudah tersedia di dapur yang satu akses dengan ruang makan.


"Mertuamu sangat baik. Umi jadi tenang." Ia terngiang ucapan sang ibu saat awal melahirkan dan menginap di rumah bssar ini seminggu lamanya.


Ia mendongak begitu mendengar kursi di depannya ditarik. Ternyata kakak iparnya yang datang.

__ADS_1


"Mas Jimmy, sarapan." Ia menawari dengan memberi kode tatapan mata ke arah piringnya.


"Sudah tadi bareng Naura. Mau ngopi aja."


Ia hanya menganguk mendengar jawaban kakak iparnya itu dan melanjutkan makannya.


Tak berselang lama, Bibi datang membawakan segelas kopi hitam untuk Jimmy.


"Kapan main ke Bali?" Jimmy bertanya sambil mengaduk kopinya yang mengepulkam asap dan menguarkan aroma khas.


"Tergantung Mas Nico." Ia tersenyum tipis sambil mengunyah makanan yang terlajur penuh di mulut. Tidak tahu Jimmy akan mengajaknya mengobrol.


Jimmy tampak menoleh ke kiri dan ke kanan. "Gak perlu bareng Nico kalau mau ke Bali. Dia kan selalu sibuk."


Jimmy memajukan badannya sampai rapat dengan sisi meja. "Kamu dan anakmu bisa main ke Bali kapanpun. Nanti aku bisa jemput di bandara." ujarnya dengan memelankan suaranya.


Ia merasa risih ditatap dengan jarak dekat oleh Jimmy. Dan apa arti tatapan itu? Ia menautkan kedua alisnya, merasa tatapan itu tidak biasa. Tidak tahu juga arti tatapan itu. Hanya merasa janggal saja.


"In sya Allah nanti aku akan berkunjung sama Mas Nico." Ia memotong perkedel kentang di piring dan menyuapkannya bersama nasi.


Selama 18 bulan usia pernikahannya sampai sekarang, baru 1 kali Nico mengajaknya berkunjung ke rumah kakaknya. Padahal sudah beberapa kali mereka liburan ke Bali, namun Nico merasa malas singgah dan memilih merahasiakan jika ia dan Nico sedang berada di Bali.


Semangkuk sayur katuk sudah tandas sebagai penutup makannya. Ia segera beranjak membereskan piring kotor bekasnya ke dapur. Meski sebenarnya ada Sri salah satu asisten rumah tangga yang bertugas membereskan meja makan, namun ia lebih suka melakukan sendiri. Sudah kebiasaan.


"Abis melahirkan kok kamu malah makin cantik. Auranya makin keluar."


Ia terkejut mendengar suara Jimmy di belakngnya. Tak menyangka akan mengikutinya ke dapur. Usai menyimpan piring kotor di bak cuci piring, ia membalikkan badannya. Dan Jimmy masih menatapnya intens dengan memegang gelas kosong bekasnya ngopi.


"Biasanya sebulan abis lahiran masih melar, masih gemuk. Tapi kamu malah tampak singset, berisi dan lebih seksi." Jimmy berucap sambil menatapnya dari bawah sampai atas seolah sedang memindai dengan senyum yang entahlah.


Sungguh, ia tidak merasa tersanjung dipuji sedemikian rupa. Justru bulu kuduknya meremang karena pria yang menghalangi jalannya itu menatap lama di bagian dadanya dengan jakun turun naik.


Suara tangisan Amanda terdengar nyaring. Diringi suara Nico yang mencoba menenangkan.


"Ah, Manda nangis. Aku permisi, Mas." Ia merasa ada jalan untuk menghindar. Buru-buru pergi melewati samping tubuh Jimmy. Ia dapat merasakan jika Jimmy masih mengikutinya lewat pandangan mata.


Spontan bahunya bergidik.


...---------...


Makasih untuk yang sudah memberikan vote nya, untuk hadiah bunga dan secangkir kopinya.

__ADS_1


Sesuai janji, aku balas kebaikan readers dengan double up.


😍😍😍


__ADS_2