
Segel kunci gembok dipasang oleh Candra di pintu container ke tiga. Menandakan selesainya packing seluruh item produk. Satu persatu mobil container melaju meninggalkan halaman pabrik menuju pelabuhan Tanjung Priok.
"Alhamdulillah--"
Candra bernafas lega. Selesai sudah tugasnya di Bekasi. Bersama Salma yang menenteng berkas yang akan diketik untuk bahan laporan di dalam tasnya, mereka menyalami manajer pabrik dan staf. Berpamitan.
Cuaca malam yang cerah.
Mobil keluar meninggalkan pabrik. Tak lagi menuju hotel karena sudah check out usai mereka makan sore. Candra dan Salma akan pulang. Kembali ke Jakarta.
Tak banyak pembicaraan yang terlontar dari keduanya selama di perjalanan. Itu karena rasa lelah menggelayut di wajah keduanya, akumulasi kerja kejar deadline selama tiga hari ini.
"Bang, boleh aku tidur? Berat sekali ini mata. Ngantuk." Salma meminta ijin kepada Candra yang fokus memperhatikan jalanan. Mata Salma sudah memberat, beberapa kali ditahannya agar tetap terjaga. Sudah tentu berkali-kali menguap.
"Iya. Tidur aja. Nanti aku bangunin jika sudah sampe." jawab Candra. Tanpa melepas pandangannya dari mengawasi kondisi jalanan.
Mobil berhenti di depan kosan khusus wanita. Tiba lebih cepat karena jalanan jam 10 malam lebih lengang daripada siang hari.
Tepukan di bahu membuat Salma terpaksa membuka matanya yang masih berat.
"Salma, sudah sampe--"
Suara Candra memaksa dirinya untuk duduk tegak. Mengumpulkan nyawa yang masih berserakan.
"Udah sampai ya." Dengan suara berat dan serak Salma bergumam sendiri. Ia segera membereskan barang bawaannya begitu melihat pintu gerbang kosan nyata di depan mata.
"Santai aja turunnya, Sal." Candra tersenyum geli memperhatikan Salma yang masih dalam mode ngantuk itu terburu-buru sampai barang bawaannya ada yang jatuh.
"Makasih, Bang. Aku masuk dulu--" Salma tersenyum, melambaikan tangan sebelum berbalik.
"Eh, tunggu, Salma!"
Salma melongokkan kepalanya ke kaca saat Candra memanggilnya lagi.
"Besok kamu boleh masuk siang. Kerjakan berkasnya di kosan aja sambil selonjoran. Aku tunggu laporannya besok siang di kantor."
"Ashiap, Boss. Aku bisa kerja sambil maskeran."
Jawaban Salma membuat Candra terkekeh, menggelengkan kepala. Mobil yang masih menyala mesinnya itu melaju meninggalkan Salma yang berdiri melambaikan tangan.
"Kemana aja mbak, kok baru kelihatan--" ujar security sambil membukakan gerbang. Ia.sudah kenal dengan semua penghuni kosan itu.
"Ada tugas ke luar kota pak, baru beres."
Security hanya ber oh ria tanpa suara, bertanya hanya sebagai basa basi. Salma melangkah dengan gontai karena lelah dan pegal serta mengantuk. Ia menuju kamarnya yang ada di lantai bawah. Tidak ada daya untuk membersihkan diri. Karena bantal gulingnya seolah melambai minta dipeluk. Ia pun melanjutkan terbang ke alam mimpi usai kepalanya menyentuh bantal.
__ADS_1
****
"Alhamdulillah, akhirnya diangkat juga--"
Candra tersenyum lebar usai menjawab salam. Ia tersenyum bahagia menatap layar yang menampilkan wajah cantik di sebrang sana.
"Dari kemarin aku menghubungimu, kenapa susah sekali?" Candra menaikkan kedua alisnya menatap sang gadis yang berwajah datar tanpa senyum.
Sinar mentari yang masuk melalui jendela kamar Candra yang terbuka, memberi kehangatan tidak hanya pada ruang kamar namun juga ruang hati sang pria. Hatinya menghangat karena bisa bersua kembali dengan sang kekasih meski lewat layar video call.
"Mas Candra, mau menjelaskan sesuatu?"
Rachel, dengan backround kamar tidur bernuansa putih, menatap Candra dengan tatapan serius.
"Soal apa, Rachel?"
Wajah Candra yang masih bermuka bantal tampak mengkerut. Ia juga heran karena merasa Rachel bersikap dingin padanya.
Muka ditekuk disebrang sana akhirnya menceritakan apa yang dilihatnya saat itu di mall. Ia melepaskan kegundahan dan rasa cemburunya yang beberapa hari ini dipendam sendiri. Entah kenapa saat ini semuanya ingin jelas, mendengar langsung pengakuan dari orangnya.
Candra kembali tersenyum lebar.
"Kenapa kamu saat itu tidak menghampiriku, Rachel. Padahal aku akan sangat senang, bukan merasa terciduk. Karena wanita itu Salma, sekretaris aku. Aku tak sengaja bertemu di mall usai hangout dengan teman-teman."
Rachel terbelalak dengan mata membulat.
Kaget sekaligus lega.
Ia tahu Salma sebagai sekretaris Candra karena kekasihnya itu pernah bercerita. Candra memang terbuka tentang siapa saja orang-orang yang berinterkasi dekat dengannya. Hanya saja Rachel tahu nama, tapi tidak tahu orangnya.
"Maafkan aku, Mas Candra. Aku sudah salah duga--"
Rachel mengatupkan tangannya dengan wajah penuh penyesalan juga malu.
"Harusnya kamu segera bertanya, jangan membuat kesimpulan sendiri. Ingat Rachel! Sebagaian dari prasangka itu dosa."
Candra yang sedikit kecewa, menatap layar yang masih menampilkan wajah ayu dengan tatapan menyesalnya.
"Iya. Aku salah. Maaf ya mas--"
Candra tersenyum. Tidak tega melihat wajah di sebrang sana yang gelisah.
"Iya. Aku maafkan. Sabtu, insyaallah aku akan ke Tasik. Bertemu orangtuamu. Suci sekarang sudah bahagia dengan suaminya. Tanggung jawabku sudah lepas. Saatnya aku melamarmu, Rachel."
Wajah sang gadis berubah. Terbit rona merah di pipi dan senyum terkembang karena bahagia. Namun bahagianya tidak penuh. Sisi batinnya merasa ada yang berongga. Ia menghadapi dua pria, dua pilihan, yang akan menentukan masa depannya.
__ADS_1
"Mas Candra, aku senang kamu akan ke sini. Namun sebelumnya, aku ingin kita sama-sama sholat. Beristikharah. Ada waktu tiga malam untuk memohon petunjuk Gusti Alloh. Untuk meyakinkan, apakah kita adalah jodoh. Mau ya Mas?"
Candra yang duduk di balik meja kerjanya, di dalam kamar, tampak diam berpikir.
"Baiklah. Aku setuju. Aku yakin kamu adalah tulang rusukku."
"Aamiin, Mas. Dan sebaiknya selama tiga hari ini kita jangan dulu komunikasi. Nanti saja kita ketemu hari sabtu, di rumahku. Okay?"
Candra mantap menjawab dengan membulatkan jarinya.
Video call berakhir dengan saling tersenyum, melambaikan tangan dan berucap salam.
Candra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi putar yang didudukinya. Dengan mata terpejam, ia meresapi perkataan Rachel yang meminta untuk istikharah. Tujuannya baik, mencintai karena Allah harus melibatkan Allah didalamnya, memohon petunjuk-Nya. Meyakinkan jawaban dari-Nya.
Kenapa baru sekarang terpikirkan untuk bermunajat. Aku terlalu yakin kalau Rachel adalah jodohku.
Kenapa aku jadi takut dengan kenyataan nanti. Astagfirullah...
Candra membuka matanya. Mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ketakutan yang melintas dipikirannya ia hempaskan jauh-jauh.
Candra menggelengkan kepalanya. Tidak mau menerka-nerka. Apapun jawaban dari hasil istikharah, yakin itu yang terbaik.
Masih jam 9 pagi.
Masih ada waktu untuk bersantai sebelum berangkat ke kantor nanti siang. Ia hanya ke kantor untuk menyerahkan laporan kepada Direktur. Tak ada kesibukan yang menunggunya.
Candra memutuskan untuk melakukan fitnes. Duduk diam dan melamun hanya memunculkan hayalan yang buruk. Ia bangkit dari kursinya, melangkah menuju kamar sebelah yang ia rombak sebagai tempat fitnes.
...Kita bisa merancang skenario seindah mungkin...
...Tapi......
...Percayalah, rencana Allah adalah yang terbaik dan terindah untuk kita...
...-------...
Sabar ya!
Tim Candra-Rachel ataupun Tim Candra-Salma.
Bukan soal siapa jodohnya. Tapi kita cermati alurnya step by step. Ada pelajaran yang bisa dipetik soal keikhlasan, kesabaran, kenyataan hidup yang harus diterima.
Hi hi othor sok bijak.
LIKE-KOMEN-VOTE SEIKHLASNYA 😍
__ADS_1