MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Mari Jalani Hidup Masing-Masing


__ADS_3

Malik


Sepanjang perjalanan, tangan kirinya selalu menggenggam erat jemari tangan Rahma yang duduk di jok sampingnya. Ia menyetir dengan satu tangan di jalanaan ibukota yang padat merayap. Ia hanya sebentar melepas saat harus mengoper persneling, lalu kembali menggenggam tangan lembut sang istri, sesekali mengecupnya dengan mesra.


Hari ini, hari pertama ia kembali ke kantor. Dan Nico menceritakan soal kedatangan Mama Indah ke rumah Bunda yang mengancam akan membatalkan pernikahannya. Mana bisa, sangkalnya.


Dan selepas magrib ini, ia memutuskan mengajak sang istri mendatangi kediaman Mama Indah. Berharap ibu kandungnya itu hatinya luluh mau menerima Rahma sebagai menantu.


"Sayang, kalau Mama tetap menolakmu, jangan pedulikan. Cukup lihat aku seorang. Aku akan selalu ada, menjaga dan melindungimu."


"Saat aku memutuskan menerima abang, aku sudah siap dengan konsekuensinya. Abang jangan khawatir..."


Percakapan sebelum keluar dari apartemen tadi membuatnya tersenyum lega. Ternyata Rahma tak hanya lembut hati tapi juga berkarakter kuat dan tegar.


"Bilang sama nyonya, ada Malik!" Begitu ia sampai di depan gerbang tinggi dan security menyapanya.


"Mas, kan putranya. Silakan masuk aja." Security berkata sopan namun kernyitan di dahi menandakan seolah heran dengan permintaan anak majikannya itu.


"Bapak telepon aja ke dalam. Bilang ada Malik!" Ia mengulangi lagi perintahnya. Mau tidak mau security menuruti perintahnya.


"Abang kenapa harus seperti itu?" Rahma bertanya saat mobil sudah sampai di pekarangan rumah mewah itu.


"Biar pas kita masuk, Mama sudah ada." Jawabnya santai. Karena ia tidak mau menunggu jikalau Bibi harus memanggil Mamanya dulu. Ia ingin secepat mungkin meninggalkan rumah itu. Sangat malas jika harus bertemu ayah tiri dan adik tirinya yang selalu ketus terhadapnya.


"Kamu jangan takut ya?!" Ia memberikan tatapan meneduhkan. Kedua tangan saling bertaut selama berjalan bersisian sampai tiba berdiri di ambang pintu.


"Selama bersama Abang, adek tidak takut." Rahma mengedipkan mata dengan mengulas senyum manisnya.


"Istriku pinter gombal juga." Ia tidak tahan untuk mengecup sekilas pipi Rahma. Gemas.


Efeknya? Tentu saja Rahma tersipu dengan semburat rona merah di pipi.


Handle pintu berbahan kayu jati itu ia dorong perlahan. Ia dan Rahma melewati ruang tamu yang kosong tidak ada orang.


Benar saja, begitu melewati ruang tengah dan menoleh ke ruang keluarga, sudah ada Mama Indah duduk menunggu bersama suaminya.


"Malik sayang, apa kabar?" Mama Indah menyongsong kedatangannya dan memeluk erat.


"Kemana aja kamu, nak? Mama cari ke apartemen tidak ada. Mama Indah menatapnya dengan semringah tapi juga mengabaikan Rahma yang jelas-jelas berdiri di sampingnya dengan tangan saling bertautan.


"Mama, kami telah menikah." Ia mengabaikan pertanyaan ibunya.


"Rahma sudah menjadi istri Malik. Kami menikah 9 hari yang lalu." Ia beralih merangkum bahu Rahma dan menatap penuh arti. Seolah mengatakan kamu jangan takut.


Rahma mengangguk dan mengulas senyum.


"Ma, apa kabar?" Tangan Rahma terulur untuk mencium punggung tangan sang mertua.


Ia melihat dengan jelas penolakan Mamanya yang menepiskan tangan dengan wajah yang melengos. Masam.


Rahma tampak menunduk begitu uluran tangannya diabaikan.

__ADS_1


Ia yang melihat reaksi Rahma segera mengusap-ngusap bahunya seolah memberi dukungan tenang, ada aku.


"Malik. Mama tidak mau menantu seperti dia." Mama Indah melirik Rahma dengan ekor matanya. "Kamu harus batalkan pernikahan ini. Mama punya calon yang jelas bibit, bebet, bobotnya." Mama Indah menatapnya tajam.


"Ehem..."


Terdengar suara deheman Om Theo ketika suasana mulai terasa memanas.


"Ini kenapa masih pada berdiri. Ayo ngobrolnya sambil duduk. Ma...." Om Theo mendekati Mama Indah dan menatap penuh isyarat.


"Tidak perlu, Om. Kami tidak akan lama." Ia menanggapi dengan melihat sekilas ayah tirinya itu.


"Ma, Malik tidak ingin berdebat." Ia menghela nafas panjang.


"Kalau Mama tidak menyukai Rahma, tak apa. Mari kita hidup dengan jalan masing-masing." Ia memejamkan mata usai berucap demikian. Hati kecilnya tentu tak ingin hubungan dengan ibunya itu renggang.


"MALIK!" Mama Indah geram dengan wajah memerah.


"Demi perempuan kampung ini, kamu jadi anak durhaka, hah."


Ia mempererat genggaman tangannya dan merasakan tangan Rahma berkeringat dingin usai Mama Indah mengucapkan kata hinaan itu.


"Terserah apa penilaian Mama." Ia berucap tenang tak mau terprovokasi untuk ikut marah.


"Malik menghormati Mama sebagai ibu kandung Malik sampai kapanpun. Tapi jika Mama tidak suka dengan jalan hidup Malik, sebaiknya mari kita saling menghargai saja, Ma. Tak perlu bermusuhan."


Keadaan menjadi senyap karena Mama Indah tak lagi menjawab. Ia memilih pamit dan meraih tangan ibunya yang mematung dengan ekspresi datar saat ia mencium punggung tangan halus sedikit mengeriput itu.


Ia hanya menganggukkan wajah saat pamit kepada Om Theo.


Rahma menganggukkan wajahnya dengan senyum canggung sebagai pertanda pamit kepada mertuanya itu.


Ia berjalan dengan langkah santai sambil memeluk pinggang sang istri. Hatinya sungguh berharap, ibunya akan memanggilnya kembali. Berkata menyesal dan mau merestui wanita pilihannya.


Harapan tinggallah harapan.


Sampai langkah kakinya keluar pintu pun tak ada suara sang ibu yang menahannya.


Baiklah.


Ia menghembuskan nafas keras.


"Abang..."


"Abang yang sabar.... Kita doakan Mama terbuka hatinya." Rahma mengelus telapak tangannya dengan sorot mata turut bersedih.


Ia tersenyum kecut untuk kilasan masa lalu bersama sang mama yang hanya memanjakan dengan uang yang selau mengisi kartu ATM nya saat masih sekolah. Namun tidak dengan kasi sayang. Sangat kurang.


Ia lanjut tersenyum dengan sorot mata penuh cinta untuk sang istri yang menentramkan hatinya.


Selamat tinggal. Entah kapan aku akan melangkahkan kaki ke rumah ini lagi.

__ADS_1


Mobil melaju keluar pintu gerbang besi yang menjulang tinggi.


Perih itu ada. Ia tak berharap hubungan dengan orang yang telah melahirkannya menjadi renggang apalagi putus.


Kasih ibu sepanjang masa. Kasih ayah sepanjang jalan. Kasih anak sepanjang galah.


Peribahasa itu menjadi rancu baginya. Bahkan mungkin tak berlaku untuk takdir hidupnya.


"Minum, Bang."


Pikirannya yang berkelana tersentak oleh tawaran sebotol air mineral yang menyentuh bahunya.


"Abang jangan nyetir sambil melamun. Gantian aku aja ya!" Rahma menatap penuh kekhawatiran melihat suaminya diam dengan wajah murung.


Ia yang sudah meneguk setengah botol air itu, menggeleng.


"Maaf, membuatmu cemas." Ia melirik sekilas lalu mengusap kepala Rahma.


"Rahma, maafin perkataan Mama tadi. Jangan dimasukkan ke hati ya." Ia melirik lagi sekilas tanpa mengabaikan fokusnya mengamati jalanan.


Cup


"Aku Rahma, wanita yang tidak cengeng."


Cup


Dua kecupan bertubi yang dilayangkan Rahma ke pipinya membuat ia tersenyum lebar dan berbinar ceria.


"I love you, bidadariku." Ia menarik Rahma untuk lebih dekat dan bersandar di bahunya.


"Love you too, imamku." Rahma pun menyandarkan wajahnya dengan tangan menggelayut.


"Sekarang kita ke mana?" Ia mengecup lama puncak kepala Rahma yang berbalut hijab, saat lampu lalu lintas menyala merah.


Kruwukk kruwukkk.


Rahma menyembunyikan wajahnya. Malu dengan suara orkestra cacing yang tiba-tiba berbunyi.


Ia tertawa dengan bahu terguncang. Terhibur dengan kelakuan istrinya.


"Baiklah, aku tahu harus pegi kemana...." Ia kembali menginjak pedal gas saat lampu hijau menyala. Dengan kekehan yang masih menghiasi bibirnya karena Rahma masih menyembunyikan wajah.


...-------...


Semangat senin pembaca tersayang. Semoga sehat selalu ya.


Senin, pasti pada punya amunisi VOTE kan? hehehe.


Ayo berikan vote nya untuk story ini. InsyaAllah, aku akan balas kemurahhatian pembaca dengan doble up.


Love you all 😍

__ADS_1


Nia


IG. @me_niadar


__ADS_2