MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Menentukan Pilihan


__ADS_3

Bandung


Mobil yang dikemudikan Nico melaju dengan kecepatan sedang dari Jakarta menuju Bandung. Sejak menikah apalagi sekarang telah memiliki anak, mental balapannya mendadak down. Ia menjadi lebih berhati-hati, tidak lagi memikirkan diri sendiri. Ia memiliki anak dan istri yang harus dijaganya.


Mumpung kegiatan di kantor sedang senggang, karena perlahan tugasnya mulai diambil alih sang kakak. Nico mengajak Suci untuk menentukan hunian di komplek mana yang akan dipilihnya. Karena keputusan sudah bulat untuk menetap di Bandung. Bunda yang awalnya keberatan harus berjauhan dengan anak menantu dan cucunya, akhirnya mengalah. Bunda terobati dengan Anita dan Naura yang tinggal bersamanya.


"Sayang, mau lihat lokasi atau check in (hotel) dulu?" Nico menatap sekilas dari spion tengah karena Suci duduk di belakang sedang menyusui Amanda yang kini menginjak usia 4 bulan. Jalanan pusat kota Bandung di pagi menjelang siang itu tampak ramai lancar di hari kerja. Jika akhir pekan akan mengalami kemacetan karena banyaknya wisatawan lokal yang menghabiskan liburan di kota yang terkenal sebagai Paris Van Java.


"Liat rumah dulu ya Mas. Penasaran."


"Siap, Nyonya. Saya akan antar kemanapun nyonya pergi."


Suci terkekeh melihat kelakuan suaminya yang konyol itu. Ia juga bersyukur karena baby Manda tidak rewel padahal ini perjalanan jauh untuk pertama kalinya untuk si kecil. Hanya berhenti satu kali di rest area untuk keperluan ke toilet dan baby Manda tetap anteng.


"Kalau drivernya ganteng gini, siapapun penumpangnya pasti betah berlama-lama deh..." Suci memperhatikan Nico yang hanya terlihat bagian wajah sampingnya saja. Suaminya itu selalu terlihat keren apapun yang dipakainya.


"Boleh juga tuh dicoba jadi sopir taksi online." Nico tersenyum mesem menatap Suci dari pantulan spion.


"Eh, jangan! Mojang Bandung terkenal cantik-cantik. BAHAYA!" Suci mencibir dengan mata melotot galak.


Nico tergelak. Ia melihat ekspresi ngambek sang istri masih dari spion tengah, membuatnya malah terhibur.


"Gadis Aceh juga cantik-cantik. Dan aku beruntung mendapatkannya satu, mamanya Amanda." Nico mengantarkan senyum manis lewat spion sehingga membuat Suci tersipu malu.


Mobil memasuki wilayah Cicendo dan lalu berbelok memasuki komplek perumahan yang asri dengan deretan pohon-pohon peneduh sepanjang trotoar tengah, penyekat lajur kiri dan kanan jalan komplek.


"Alhamdulillah, sampai..." ujar Nico lega.


Mobil terparkir depan sebuah rumah dua lantai dengan pagar besi setinggi 175 cm. Tampak di depan pintu tergantung banner "RUMAH DIJUAL".


Seorang pria dari dalam rumah terlihat tergopoh-gopoh menuju pintu gerbang dan lalu mendorongnya.


"Wilujeng sumping (selamat datang), Den Nico...Neng...." sapa Mang Tamin dengan ramah. Ia adalah orang kepercayaan Nico yang ditugaskan menjaga dan merawat semua aset properti yang ada di Bandung.


Nico dan Suci membalas dengan tersenyum.


"Gimana kabarnya, Mang?" Nico menepuk bahu Mang Tamin sambil melangkah masuk diikuti Suci yang mendorong stroller baby Manda.


"Alhamdulillah, pangesto (baik)." Mang Tamin mengangguk sopan. "Den, tetangga di blok D tiga hari yang lalu lihat-lihat ke sini katanya bogoh (tertarik) dengan rumah ini. Saya sudah suruh hubungi nomer kontak yang ada di iklan."


Nico mengernyit untuk mengingat-ngingat apakah Malik pernah membahas atau tidak. Karena contact person nya adalah nomer Malik.


Suci yang sedang mengamati setiap sudut lantai satu, mendekati Nico karena mendengar percakapan kedua orang itu. "Mas, kalau ini ada yang mau beli, kita lihat yang lain aja."


Nico menggeleng. "Pilihanmu lebih penting, sayang. Kalau kamu suka rumah ini, banner nya akan dicabut."


Hampir 1 jam keduanya berada di rumah itu. Rumah yang masih kosong belum terisi furniture itu berdesain minimalis modern dan sudah memiliki taman yang tertata apik.


****


Nico mengajak Suci menuju rumah berikutnya usai meminta kunci yang kesemuanya dipegang Mang Tamin. Hanya berjarak 4 km dari komplek yang tadi, kini mereka tiba di Papandayan Residence. Cluster yang ini lebih mewah dengan konsep rumah adem yang ramah lingkungan dengan banyak area hijau di lingkungan dalam cluster perumahannya.


"Mas, sejak kapan investasi properti?" Suci menatap kagum deretan rumah yang tertata dan tampak terjaga kebersihan lingkungannya. Meski hari menjelang siang, namun hawa di sana terasa teduh dan adem.


Nico berdiri merangkum bahu Suci usai membuka pintu gerbang bercat putih yang tampak kokoh. Rumah itu pun terpasang banner bertuliskan "For Sale"


"Sejak pulang dari Amerika. Waktu awal beli 1 di Bandung, 1 di Jakarta. Aku renovasi dulu sebelum di jual. Alhamdulillah tak sampai setahun terjual. Dari labanya bisa membeli properti baru." Jelas Nico.


Suci mengangguk-ngangguk.


Brukkk.

__ADS_1


Nico dan Suci yang baru masuk ke pekarangan, kompak menoleh ke arah jalan begitu mendengar suara benda jatuh.


Nico setengah berlari mendekati bocah laki-laki yang terjatuh dari sepeda. "Hei, anak jagoan...pasti kuat." Ia membantu mengangkat sepeda yang menimpa kaki bocah tampan yang tampak meringis memegangi lututnya.


"Sini Om lihat...." Nico membantu mengangkat celana panjang yang dikenakan anak itu. Beruntung tidak ada luka karena celana yang dipakainya berbahan tebal, hanya lututnya sedikit memerah lebam.


"Aku gak papa kok, Om." Anak itu menggeleng dengan menurunkan kembali celananya dan lalu berdiri menepuk-nepuk belakang celananya karena barusan duduk di aspal.


"Rumahnya di mana, dek?" Suci mendekat sambil menggendong baby Manda.


Anak itu bukannya menjawab tapi menatap baby Manda dengan binar ceria, matanya membelalak sempurna dengan senyuman yang lebar.


"Ihhh lucunya....seperti adek aku...." Anak itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah baby Manda yang juga menatapnya. Bayi yang murah senyum itu pun memberikan senyuman menggemaskan.


"Mau pegang juga boleh...." Suci menatap keinginan berbalut ragu di mata anak itu. Tangannya maju mundur seolah ingin memegang tangan baby Manda.


Anak itu menggeleleng. "Kata Mama kalau abis maen gak boleh pegang-pegang adek....harus cuci tangan dulu."


"Oh gitu.... Nama kakak siapi sih....terus nama adeknya siapa?" Suci terkesan dengan bocah laki-laki yang tampak santun dan supel itu. Ia bisa menduga anak itu mendapat didikan yang sangat baik.


"Den....Den Athaya.....aduh kenapa ninggalin Mamang.... " Seorang pria berseragam security datang dengan menggunakan sepda, tampak ngos-ngosan karena panik.


"Mamang kaget...kirain ada yang nyulik..." lanjutnya sambil menyeka keringat.


Anak itu malah terkikik. "Mang Adang lama....kakak tinggal aja..." Ia kembali terkikik karena berhasil menjahilinya.


"Tadi anak ini jatuh dari sepeda, pak. Tapi saya lihat tidak ada luka...hanya lututnya sedikit lebam." ujar Nico yang dari tadi tersenyum menyaksikan interaksi dua orang itu.


"Waduh...nuhun pisan (makasih banyak) ya Aa...teteh... udah nolongin boss kecil saya. Dia suka jail ngerjain saya. Barusan nganter beli es krim di depan...eh lagi di kasir tau-tau ngilang."


"Ngomong-ngomong, penghuni baru ya? Kalau rumah boss saya belok kanan di blok Anggrek." Lanjut security itu.


Nico mengulas senyum ramah. "Kita masih pilih-pilih, Pak."


"Lucu ya anak itu...bibit gantengnya udah keliatan...pinternya juga..." Nico beralih menggendong baby Manda yang girang saat bocah laki-laki tadi mengajaknya bicara.


"Aku kok kayak familiar dengan wajahnya....mirip siapa ya..." Ia tampak berpikir keras mengingat-ngingat sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Suci tampak menunggu kelanjutan ucapan suaminya. "Udah ingat mirip siapa?"


"Lupa, sayang."


****


Nico memutuskan untuk istirahat di hotel sebelum menyurvei rumah terakhir yang akan dikunjungi. Usai beristirahat cukup, ia memenuhi permintaan Suci untuk sholat Ashar di Masjid Raya Bandung dan santai sejenak di alun-alun.


Kini mobil memasuki destinasi terakhir, Kahuripan Village. Cluster premium yang hanya berisi 40 unit rumah itu tampak menerapkan keamanan yang ketat. Nico mendapatkan introgasi namun dengan pelayanan yang ramah karena ia belum terdaftar sebagai penghuni cluster. Dengan meninggalkan tanda pengenal dan menunjukkan bukti kepemilikan unit, ia pun bisa masuk.


Komplek ini pun sama, lingkungan yang asri dan banyak area hijau. Sepanjang jalan Suci mengamati setiap rumah dengan bentuk yang hanya catnya ada yang berbeda-beda. Masjid berdiri kokoh di tengah cluster diapit ruang terbuka hijau sebagai taman bermain.


"Mas, aku liat gak ada rumah yang dipagar ya?" Suci mengamati rumah yang kini dimasukinya. Semua jendela tampak tinggi dan lebar mengesankan sirkulasi udara yang baik dan cahaya matahari masuk sempurna.


"Iya, sayang. Aturan dari developer nya seperti itu, nggak boleh pasang pagar, harus halaman terbuka. Cluster ini konsepnya bertetangga saling menjaga."


"Developer sudah menjamin keamanan 24 jam plus cctv lengkap. Tadi liat kan gimana petugas memeriksa setiap kendaraan yang masuk?" lanjutnya sambil menuntun Suci ke lantai 2.


"Hm." Suci manggut-manggut. Ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan lantai 2. Lalu memasuki kamar utama yang besar dengan jendela yang berjajar tinggi di sebelah timur. Setiap pagi pasti akan merasakan sinar mentari menghangatkan ruang kamar itu. Tampak pula view masjid dan taman terbuka hijau yang tertata dan terawat.


"Jadi mau pilih yang mana, Mama cantik?" Nico merengkuh Suci dari belakang. Ikut memandang panorama senja dari jendela kamar itu.


"Bentar ya...aku mau muji suamiku dulu." Ucap Suci sambil merangkum tangan Nico yang memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Suamiku seleranya hebat ya. Pilihan rumahnya bagus-bagus. Orang marketing yang cerdas nih."


"Hm." Nico malah menyingkap hijab Suci dan menelusupkan wajahnya di ceruk lehernya. Manfaatkan waktu mumpung baby Manda tertidur di strollernya.


.


.


.


"


Suci sudah menentukan pilihan. Keputusannya mantap memilih rumah itu. Rumah di cluster Kahuripan Village , karena ia terpikat dengan konsepnya 'Bertetangga Saling Menjaga' selain juga suka dengan model rumah bergaya tropis minimalis itu.


"Bro Nico!"


Suara seseorang yang memanggilnya, membuat Nico urung membuka pintu mobil. Mereka bersiap untuk pulang ke hotel usai puas berkeliling rumah.


"Woy, Boss! What's up?" Nico melakukan high five lalu saling berpelukan penuh suka cita. Keduanya tertawa dan saling bertanya kabar karena lama sekali tidak bertemu.


"Sayang, kenalin...boss pemilik perumahan ini nih." Nico menatap Suci yang berdiri di sebelah kiri mobil.


"Saya Suci..." Suci menangkupkan kedua tangannya di depan baby Manda yang tengah di gendong.


"Saya Satya, mbak. Yang boss tuh suamimu, mbak. Bukan saya...." sahut pria itu merendah.


"Bisa ajah...boss properti." Nico menonjok bahu Satya yang datang menghampiri bersama asistennya.


"Jangan bilang rumah ini buat dijual? Harusnya kamu tempati! Ini mantap banget lingkungannya." Satya menatap Nico penuh selidik.


Nico tergelak. Temannya itu tahu pasti kalau dirinya suka jual beli properti.


"Nggak bro, yang ini buat keluarga kecilku. Kita mau tinggal di sini."


Satya mengepalkan tangannya untuk tos. "Yes. Kita bakal tetanggaan." Ia tersenyum begitu Nico menyambut tos nya.


"Aku lagi sidak finishing rumah paling ujung untuk rumah masa depan." Satya lalu mendekat untuk berbisik. "Calon bininya masih on the way."


Nico tertawa lepas mendapt bisikan gaib teman bisnisnya itu.


"Ketemu kamu tuh terakhir kali di resepsi aku kan ya?!"


Satya mengangguk.


"Busyet dah. Sekarang berubah...dulu garing sekarang renyah...auranya itu lho, aura orang falling in love."


"Iya kan, sayang?" Nico meminta pendapat Suci yang masih memperhatikannya. Suci pun mengangguk sambil mengulas senyum.


"Bisa aja lo, Bambang." Satya menoyor bahu Nico. Keduanya pun kembali tertawa riang.


"Ditunggu undangannya, bro!"


Satya pun mengacungkan dua jempolnya. Dan lalu mereka berpisah, dengan Nico terlebih dahulu meninggalkan cluster itu.


...****...


Sudah pada kangen dengan Arya cs? 😁😁


Sabar ya, sebentar lagi....


Semangatin dulu aku nya. Biar gak kabur kayak author lainnya 😀. Aku juga sama merasa kecewa dengan ketidak layakan NT membalas jerih payah 😑

__ADS_1


So.....Like, vote, komen, para pembaca lah yg jadi moodboster.


Ups, maaf curhat 😉


__ADS_2