
"Ibu Sucita--"
Suster memanggil nama Suci untuk masuk ke ruang pemeriksaan kandungan. Sudah ada delapan orang yang mengantri pagi ini di ruang tunggu dr. Mila, Spog, ada yang diantar pasangannya, ada pula yang sendiri. Suci mendapat nomor antrian ke tiga yang kini telah dipanggil.
Dengan ramah, dokter Mila mempersilahkan Suci dan Nico untuk duduk. Setelah mengamati buku riwayat pemeriksaan, saatnya Suci berbaring untuk dilakukan USG.
Nico begitu antusias menatap layar begitu tranducer ditempelkan di kulit perut Suci.
"Ini dia janinnya...ukuran dan berat badannya normal, sehat...nah ini jenis kelaminnya juga sudah kelihatan..." dokter yang sudah berusia matang itu menunjukkan titik gambar yang ditandainya.
"Dok, jangan dikasih tau jenis kelaminnya. Biar jadi kejutan, iya kan sayang?" Nico menatap Suci yang langsung mengangguk mengiyakan.
Dokter Mila tersenyum, menherti akan keinginan pasiennya itu.
Nico merangkum bahu Suci dengan rasa bangga karena bisa menemani sang istri memeriksa kandungan tanpa absen tiap bulannya. Keduanya berjalan santai menyusuri koridor rumah sakit ibu dan anak dengan wajah semringah.
"Mau lajut ke mana, mama cantik?" Nico menatap Suci sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kemana pun...asal itu sama kamu," sahut Suci dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Wow...istriku jadi pinter ngegombal...bikin hatiku klepek-klepek." Nico menggelitiki pinggang Suci dengan gemas, membuat Suci meronta dan terkikik karena geli.
"Mas--"
"Hm--" Nico yang sedang menyetir menimpali dengan tetap fokus menatap jalan. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya menambah kesan macho penampilannya.
"Mau ngomong apa, sayang?" Nico menoleh sebentar dengan kening mengernyit karena Suci masih saja diam.
"Kemarin Mami mau pinjam uang 5 juta. Aku bilang, iya nanti mau minta ijin dulu sama mas Nico. Gimana mas?" Suci menatap Nico dengan seulas senyum. Ia merasa makin jatuh hati terhadap pria tampan di sampingnya itu. Karena sejak dirinya hamil, Nico selalu siaga dan makin perhatian.
"Besar sekali. Untuk apa, katanya?" Nico kembali menoleh sesaat.
"Buat ke salon, shopping. Katanya tidak lama pinjamnya. Nunggu kiriman dari mas Sony minggu ini--"
"Ck, Mamih gaya hidupnya gak pernah berubah dari dulu. Wajar aja perusahaan bisa pailit. Boros." Nico menghembuskan nafas kasar. Ia tahu pasti sifat Mami Dewi selama dirinya tinggal di Surabaya.
Suci memilih diam melihat perubahan ekspresi Nico yang menjadi kesal.
"Kasih aja, sayang. Tapi jangan sekarang, besok aja. Harusnya makin tua tuh rajin ke pengajian." Ujar Nico masih dengan nada kesal. "Pasti Mami gak betah diam di rumah ya?" tebaknya, sambil menoleh sekilas.
"Ya--gitu deh." Suci meringis. Ia tak bermaksud mengadu. Ia hanya menjawab karena ditanya.
__ADS_1
"Ah, sudah. Jangan bahas lagi Mami. This's our quality time." Nico memilih menutup cerita soal Mami Dewi.
Perjalanan hampir 1 jam membelah kepadatan jalan raya ibukota,m akhirnya sampai ke satu tujuan.
"Lho, kok ke hotel?" Suci mengernyit karena Nico membelokkan mobilnya memasuki halaman hotel.
Nico membuka kacamatanya usai mobil terparkir di tempat yang teduh.
"Kan tadi malam kamu bilang baby pengen ditengok." Nico tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Ishh-- kan bisa di kamar kita," jawab Suci tampak malu.
"Suana baru dong. Kan kata dokter, ibu hamil harus selalu good mood. Jadi aku harus bikin kamu bahagia."
"Modussss--" Suci mencubit pinggang Nico yang kemudian tergelak.
Suci mendesah panjang.
"Kenapa?" Nico mengernyit heran.
"Gak bawa baju santai. Masa rapih begini di dalam kamar." Suci mengerucutkan bibirnya. Udara di luar yang panas ditambah bawaan kehamilan, membuatnya gerah dan berkeringat.
"Kata siapa gak ada baju ganti. Tuh liat!" Nico melirikkan matanya ke jok belakang. Tampak ada travel bag teronggok di atas jok.
"Ya Allah. Jadi mas Nico udah ngerencanain?" Suci memutar bola matanya melihat Nico yang tertawa puas. "Issh, kok gak ngasih tau..." Suci kembali mencubit pinggang Nico dengan gemas.
"Surprise." Nico masih tertawa saat keluar dari pintu. Ia merasa lucu melihat reaksi Suci yang ngedumel protes karena tidak diajak diskusi akan rencana ini.
Nico merengkuh bahu Suci berjalan menuju lobby hotel sambil menenteng travel bag di tangan kirinya.
"Kita nginap di sini, sayang. Dari kamar, nanti bisa lihat pemandangan pantai Ancol. Pokoknya asyik dah."
"Wah bisa jalan-jalan ke pantai dong," sahut Suci menoleh dengan mata berbinar.
"Boleh. Ke pantainya enaknya nanti sore." Kemudian Nico berbisik, "Sekarang enaknya nengok baby dulu--"
"Mesum--" Suci mencubit gemas pinggang Nico.
Pembicaraan mereka terhenti di depan resepsionis untuk konfirmasi. Karena Nico sudah melakukan booking online untuk kamar yang diinginkannya.
****
__ADS_1
Toko kue Citarasa menjadi tempat tujuan Malik usai pulang kerja. Ia masih harus menghandle pekerjaan Nico. Karena sahabatnya itu baru akan masuk kerja lusa.
Ia duduk saling berhadapan bersama Rahma, seperti biasa di meja favorit mereka. Dengan dua gelas minuman dan cemilan tersaji di meja.
"Mama baru bisa datang ke Jakarta bulan depan." Tampak raut kecewa di wajah Malik. "Kalau aku mengkhitbahmu menunggu Mama datang, kelamaan. Gimana ya?" Malik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semula kecewa beralih kebingungan tampak kentara di wajahnya.
"Memangnya orangtua Bang Malik di mana?" Rahma memang belum mengenal keluarga Malik. Selama ini hanya Malik yang selalu mendatanginya.
"Ah iya, aku belum pernah cerita soal keluarga." Perta nyaan Rahma menyentaknya dalam kealpaan menceritakan latar belakang dirinya dan keluarganya. Ia terlalu percaya diri jika cukup dirinya saja yang maju berbekal dukungan materi yang sudah mapan untuk memulai hidup baru. Namun Nico mengingatkannya. Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan. Tapi juga menyatukan dua keluarga.
"Orangtuaku bercerai saat aku SMA kelas dua," ujar Malik mulai berkisah. Ia menjeda sejenak menyesap kopi hitam di depannya.
Rahma menatap Malik dengan raut serius, menunggu ia melanjutkan ceritanya.
"Aku mengalami gimana rasanya jadi anak broken home," Malik tertawa sumbang mengingat masa remajanya yang buruk. "Pernah terjerumus memakai narkoba lalu tertangkap dan masuk rehabilitasi. Maksud aku melakukan itu untuk cari perhatian, agar mereka mau rujuk kembali. Tapi nihil. Mereka pengkuh dengan egonya masing-masing."
"Setahun kemudian Mama dan Papa menikah lagi hanya berjarak 1 bulan, duluan Mama. Aku yang selama setahun tinggal bersama Mama, memlilih tinggal di apartemen saat Mama harus ikut suaminya menetap di Singapura."
"Papamu di mana?" Rahma tak sabar mendengar lanjutan cerita saat Malik kembali menyeruput kopinya.
"Papa masih tinggal di Jakarta, di wilayah Jagakarsa bersama istri barunya. Tapi setelah setahun, Papa meninggal terkena serangan jantung saat main badminton." Malik menceritakannya dengan datar. Tak ada raut kesedihan tergambar di wajahnya.
"Innalillahi..." lirih Rahma dengan tatapan penyesalan.
"Aku sih biasa aja, nggak sedih saat mendengar kabar itu. Toh selama itu aku kurang dekat dengannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jarang berada di rumah." Malik menggedikkan bahunya dengan santai.
"Menurutku sih, gak apa-apa Abang datang sama Bang Nico aja, seperti kemarin." Rahma memilih mengganti topik pembicaraan agar Malik tidak melanjutkan cerita aib papanya yang sudah meninggal.
"Tujuan yang sekarang kan untuk memenuhi persyaratan dari Ayah. Nah, nanti kalau Ayah sudah ngasih lampu hijau dan Abang berniat mengkhitbah, baru deh ajak Mama. Gimana kalau begitu?" Rahma memberikan solusi.
Malik menarik nafas panjang.
"Tadinya kalau ayahmu sudah menerimaku, sekalian aja akad. Aku sudah tidak sabar ingin menghalalkanmu." Malik tersenyum lebar menatap Rahma yang kemudian memalingkan muka karena malu.
"Sabar, Bang. Aku juga butuh restu orangtuamu, biar berkah." Rahma memberi tatapan menenangkan untuk pria tampan di hadapannya itu.
"Rahma, aku sangat mencintaimu. Aku bisa berubah seperti ini karenamu. Please, jadilah pendamping hidupku" ujar Malik dengan tatapan penuh permohonan.
Rahma berdehem untuk menetralkan rasa hati yang berdebar mendapat tatapan yang mendalam itu.
"Bang Malik berubah karena telah menjemput hidayah. Aku hanya perantara. Semoga tetap istiqomah ya!" seulas senyum manis mengiringi ucapan Rahma.
__ADS_1
"Semoga Allah takdirkan kita berjodoh," sambung Rahma.
"Aamiin...Insyaa Allah," Malik mengangguk mantap dengan tatapan yang tetap melekat pada gadis cantik di hadapannya itu.