MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Amplop Apa?


__ADS_3

Bali


Anita baru selesai menemani Naura tidur saat pintu kamar anaknya itu diketuk. Sang anak tidur lebih awal jam 7 WITA. Mungkin karena capek bermain di pantai tadi sore.


Rupanya asisten rumah tangganya mengabari ada Jimmy di luar gerbang. Ia sebelumnya sudah pesan kepada semua pegawai di rumahnya untuk melarang Jimmy masuk.


"Bi, tolong bawakan kopernya!"


Anita berdiri di teras rumah menatap Jimmy yang berjalan mendekat diiringi bodyguard di belakangnya yang tampak waspada jikalau ayahnya Naura itu berbuat ulah.


"Nita, aku menyesal."


"Terlambat." Anita menatapnya datar. "Aku sudah memberimu kesempatan untuk berubah. Bukan sekali. Tapi berkali-kali. Dan kali ini kelakuanmu sangat fatal," ujarnya tegas.


Jimmy tampak melipat bibirnya. Wanita di hadapannya kini terlihat galak tak lagi bersikap mengalah seperti selama ini.


"Please, Nita. Beri aku kesempatan sekali lagi." Jimmy menatap dengan sorot memelas.


"Sumpah! Aku akan berubah."


Anita menggeleng.


"Sumpah bagimu seperti lalab. Aku bosan mendengarnya."


Anita menyerahkan koper ke depan lelaki yang tak lama lagi menjadi mantan suaminya.


"Itu barangmu. Mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing. Pergilah!"


Anita hendak masuk ke dalam rumah namun tangannya dicekal oleh Jimmy. Sigap, dua bodyguard melepaskannya dan menahan Jimmy yang meronta.


"Kurang ajar. Lepas! Dia istri saya." Jimmy menatap marah kepada dua pria bertubuh kekar utusan Nico yang menghalanginya.


"Kita akan menjadi mantan. Bukan lagi suami istri." Ujar Anita tegas.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kamu harus memberiku uang! Aku punya hak, Nita. Selama ini aku mengelola hotel," teriak Jimmy karena bodyguard mendorongnya mundur.


Anita tersenyum sinis. "Hak katamu. Aku masih berbaik hati tidak menjebloskanmu ke penjara. Kamu sudah korupsi dana hotel."


"Mau minta hak apa?" Anita menaikkan intonasinya. "Kamu harusnya balikin dana hotel 4 miliyar yang kamu curi selama ini! Kamu pakai untuk apa uang itu?!" Teriak Anita melepaskan rasa marahnya.


Dan Jimmy pun tidak berkutik. Bibirnya mengatup rapat tak bisa lagi membela diri.


Jimmy melangkah dengan lunglai menyeret koper besar keluar dari rumah etnik yang selama ini membuatnya bertahta seperti raja. Namun kini harus menunduk pergi dengan dipaksa oleh para abdi yang biasanya sungkan dan takut padanya karena selalu galak. Tapi sekarang, ia tak lagi punya taring.


"Dasar ya tidak tau diri. Modal kolor aja belagu. Rasain akibatnya."


"He eh. Sekarang pulang juga bawa kolor doang."


"Kenapa gak dari dulu ya Bu Anita usir parasit itu."


"Iya. Bu Anita terlalu sabar. Jadi kita yang greget ya."


"Ah, kalau saya jadi pak Jimmy, saya mau bersyukur. Punya istri kaya, cantik, baik. Hm, surga dunia dapet."


Dua orang asisten rumah tangga dan penjaga rumah berbisik-bisik usai Jimmy keluar dari pintu gerbang.


Anita menatap kepergian Jimmy dari balkon lantai 2. Tak ada tangis yang mengiringi. Sepertinya air matanya sudah habis terkuras selama ini. Ia malah merasa baru lepas dari belenggu. Lega....bahagia. Ditambah ada keluarga yang mendukungnya. Ia tak lagi merasa sendirian.


Kisah pernikahan yang baru menginjak tahun ke sembilan itu kini berakhir. Buku baru, lembaran baru, akan dimulai. Pelan-pelan ia akan memberi pengertian kepada Naura tentang perpisahan ini.


Anita melangkah masuk seiring udara malam yang semakin dingin menusuk kulit. Lusa, waktunya pulang ke Jakarta.


Gelap mulai pekat


Dan kita tak lagi terikat


Gelap akan mengantar pada lelap

__ADS_1


Cintaku pun tlah menguap


****


Jakarta


Sore yang yang dinaungi langit cerah berhiaskan siluet jingga. Candra memarkirkan mobilnya di depan toko kue yang tampak ramai pembeli, untuk menjemput Salma pulang. Namun ia urung masuk ke dalam toko karena Salma sudah berdiri di luar pintu, menunggunya. Biasanya ia akan bersantai dulu di dalam tapi tumben istrinya itu malah mengajaknya langsung masuk ke mobil.


Meski heran, ia menurut keinginan Salma. Keningnya bertambah mengkerut melihat sang istri wajahnya ditekuk. Seperti ada masalah, ia membatin.


"Neng, kok cemberut. Ada apa?" Ia menoleh sejenak karena mobil sudah melaju pelan di jalan raya yang padat.


Bukan jawaban yang didapat. Salma malah mendecak dan mendelikkan matanya. Bertambah tanda tanyalah kini dalam pikirannya.


"Lagi PMS ya?" Candra menerka asal. Menurut yang ia baca, mood wanita yang lagi datang bulan suka sensitif. Ah, tidak semuanya. Selama ini Salma nggak pernah begitu. Ia menarik kesimpulan sendiri dalam hatinya. Tapi kok tiba-tiba begini? Gak ada angin gak ada hujan.


Ia akan menekan tombol audio agar suasana dalam mobil lebih rileks. Namun Salma mencegahnya.


"Berisik, Bang." ujar Salma dengan ketus.


Ia menghela nafas panjang. Sabar. Mungkin Salma lagi kesal karena ada konsumen toko yang cerewet. Tebaknya lagi dalam hati.


"Kenapa, sayang? Ada masalah di toko? Ayo curhat sama Abang." Ia mengusap tangan Salma saat mobil berhenti di lampu merah.


Salma menatapnya dengan wajah datar. "Abang bener-bener nggak tau udah berbuat salah?"


Ia memiringkan badannya. Menatap lurus istrinya itu dengan rasa terkejut dan kepala penuh tanda tanya.


"Abang salah apa, neng?"


"Apa karena tadi pagi gak diantar ke toko?"


"Kan emang kamu mau nemenin dulu Amanda berjemur."


Tit tit tit.


"Bukan itu."


"Lalu apa?" Ia menoleh sekilas.


Ditunggu beberapa saat, namun Salma tidak mengucapkan apapun. Salma memilih memalingkan muka menatap kaca jendela samping.


"Lho kok gak belok?" Salma spontan menatapnya heran.


"Kita selesaikan dulu masalahnya."


"Di rumah ada Umi dan Suci. Abang gak mau mereka melihat kita ada masalah."


Candra menatap lurus jalanan di depannya sambil memperhatikan barangkali ada tempat yang nyaman untuk menepikan mobil. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya kenapa Salma begitu terlihat kesal kepadanya.


Mobil menepi di bahu jalan yang lebar. Suara mengaji dari toa masjid terdengar. Menandakan sebentar lagi akan dikumandangkan adzan magrib.


Ia membuka safety belt agar lebih leluasa.


"Neng sayang, Abang tipe orang yang gak betah menyimpan masalah." Tangannya terulur meraih dagu Salma yang berpaling menatap ke kaca jendela. Kini ia palingkan menjadi saling menatap. "Apalagi masalahnya dengan teman seranjang. Sangat tidak betah." Ia mengedipkan matanya, mencoba mencairkan wajah Salma yang dingin.


Salma menghela nafas kasar.


"Abang udah berbuat salah sama aku." Salma berkata lirih dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Buka hanya sekali. Tapi berkali-kali."


"Masa?!" Candra membulatkan matanya.


"Selama ini kamu baik-baik saja dan tampak bahagia."


"Apa itu sandiwara?"

__ADS_1


"Kenapa bisa berkata seperti itu?"


"Abang salah apa? Katakan, neng!" Ia mulai tidak sabar meminta penjelasan karena terpengaruh suasana. Sampai tanpa sadar mengguncang bahu Salma sedikit keras.


"Aw, sakit Bang." Salma meringis.


"Maaf. Abang kaget soalnya." Ia menurunkan tangannya dari bahu Salma.


Candra memperhatikan Salma membuka tas yang tersimpan di sisi kiri.


"Ini!" Salma menyerahkan amplop coklat ke depan mukanya.


"Ini apa?" Ia menggenggam dengan ragu. Kedua alisnya saling bertaut saking penuh rasa heran dan bingung.


"Itu buktinya. Aku belum buka. Pengen Abang sendiri yang membukanya. Aku takut pingsan."


"Apa Abang akan ngeles lagi?" Salma mengerucutkan bibirnya. Dari tadi mode belum berubah. Tetap asam.


Candra menatap bergantian, antara amplop coklat dan Salma. Lalu menekuri amplop yang dipegangnya. Siapa yang mau mengganggu ketentraman rumah tangganya. Ia suami setia. Tidak pernah berbuat selingkuh. Dan tak akan pernah. Itu prinsipnya.


"Ish, Bang Candra. Malah bengong. Cepet buka! Aku pengen mudik ke Malangbong!"


Suara Salma yang masih bernada kesal membuatnya tersadar dari analisa di otaknya.


"Neng, jangan membuat keputusan saat marah." Ia tidak setuju dengan kalimat terakhir Salma. "Oke, Abang buka!"


Amplop coklat seukuran kwarto itu dibukanya. Keningnya mengkerut. Isi amplop itu ternyata amplop lagi.


"Bang, aku deg degan. Jangan-jangan itu foto syur...." Salma menutup mata tak ingin menyaksikan amplop berikutnya yang tertutup rapat.


"Sayang, jangan panik! Jangan percaya! Abang gak merasa melakukan itu. Ini pasti ada orang yang tidak suka dengan kita." Candra menarik tangan Salma agar ikut melihat lagi isi amplop yang akan dibuka.


"Astagfirullah!" Ia mulai kesal. Merasa dipermainkan. Karena saat dibuka isinya amplop lagi. Cuma amplop yang ketiga ini warnanya putih.


Adzan magrib terdengar berkumandang bersahutan, memanggil umat muslim untuk meninggalkan urusan duniawi, sejenak bersujud kepada sang Khalik.


.


.


.


.


Candra tertegun melihat isi dari amplop ketiga. Kemudian berubah membelalakkan mata.


Matanya mengerjap-ngerjap takut salah baca karena pencahayaan yang remang. Saking terhenyak, ia sampai tak kepikiran untuk menyalakan lampu agar bisa membaca dengan jelas.


.


.


.


.


.


.


.


...RSIA BUNDA AISYAH...


...Jl. xxxx Jakarta Pusat...


...SURAT KETERANGAN HAMIL...

__ADS_1


...……………………...


__ADS_2