
Jimmy
Sudah enam hari ia mendapat perawatan di rumah sakit. 'Hadiah' dari Nico membuat tulang hidungnya patah, sudut bibir robek, 2 gigi geraham patah, serta rahangnya retak. Belum lagi luka dalam perut akibat tonjokkan bertubi-tubi. Dan sekarang kondisinya berangsur membaik.
Selama itu pula, belum sekalipun Anita menjenguknya. Hanya Surya yang datang sesekali memantau perkembangannya. Setiap ditanya bagaimana kabar Anita serta reaksi mertuanya, ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Surya hanya menjawab irit.
"Kamu ke sini disuruh Anita?"
"Iya."
"Kenapa Anita tidak mau menengok?"
"Nggak tahu, Pak."
"Reaksi mertuaku gimana?"
"Nggak tahu."
Dan ia hanya berdecak kesal. Kalaulah Anita dapat dihubungi, ia tidak akan banyak bertanya kepada sang keamanan rumah Ayah Hendro itu. Anita memblokir nomernya.
Ruang perawatan VIP serta biaya rumah sakit yang sudah dijamin tidak membuatnya betah. Ia ingin pulang ke Bali. Terlalu malu untuk datang ke rumah mertuanya apalagi jika ketemu Nico. Ia sangat takut. Bisa-bisa dimutilasi.
"Tahu dari mana aku dirawat?"
Begitu pertanyaan yang ia lontarkan saat kakak dan adiknya menengok di hari ketiga. Mereka tiga bersaudara laki-laki semua dan orangtuanya sudah lama meninggal. Namun hubungan mereka tidak dekat karena ia yang membuat jarak. Gelimang harta membuatnya angkuh. Setiap kedatangan saudaranya ke rumah selalu dicurigai ingin merongrong.
"Gue dikabari Anita. Kalau bukan karena dia yang suka baik sama kita, ogah gue datang nengok lo." Kakaknya menjawab dengan malas.
Disaat sakitpun ia masih bersikap angkuh membuat suasana terasa kaku. Sehingga dua saudaranya itu tidak betah berlama-lama.
Ia mendesah panjang. Dokter mengatakan boleh pulang besok pagi. Waktu terasa lambat bergerak karena sepi dalam kesendirian. Sejak kemarin ia sudah bisa melakukan urusan kamar mandi sendiri, tak perlu lagi bantuan perawat.
Pintu ruangannya ada yang mengetuk. Keningnya mengkerut. Siapa yang mengetuk pintu? Biasanya kalau dokter atau perawat akan langsung masuk. Ia yang memilih duduk di sofa sambil memainkan ponsel, berteriak dengan malas.
"Masuk!"
"Selamat siang, Pak Jimmy."
Dua orang yang mengenakan setelan jas mendekati dan menyalaminya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Ia masih tertegun karena kedatangan orang yang tidak dikenalnya. Sapaan kedua dari pria yang sudah berumur membuatnya tersadar.
"Ba- baik." Ia sedikit tergagap karena kaget.
"Maaf kalian siapa?" Ia menatap dua orang tamu yang duduk berhadapan dengannya.
Pria yang sebaya Ayah Hendro itu tersenyum tenang dan melirik rekan disebelahnya. Mungkin itu sang asisten.
"Perkenalkan saya Roy, pengacara ibu Anita."
"Silahkan dibaca."
Pengacara itu menggeserkan berkas ke depannya.
"Apa ini?" Keningnya makin berlipat. Belum juga lepas dari kekagetan mendengar tamu yang memperkenalkan diri. Sekarang ia menatap berkas di depannya dengan rasa deg degan.
"Itu berkas gugatan cerai yang dilayangkan Ibu Anita."
"Apa?!?" Ia urung membuka map. Beralih mendongak menatap tamu dengan rasa kaget dan muka pias.
Pengacara Roy menyuruhnya membaca berkas sebelum nanti mendapat penjelasan lebih lanjut.
__ADS_1
Ia menelan saliva dengan berat.
Lembar pertama ia baca dengan tangan gemetar.
Perihal : Gugatan cerai
Dengah Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
*Nama : Anita Maheswa*ri
"TIDAK!" Ia melempar berkas yang dipegangnya dengan keras ke atas meja. Hingga sebagian kertasnya berhamburan.
"Kalian jangan mengada-ngada." Ia menatap tajam dengan sorot marah ke arah dua tamunya itu.
"Semuanya sudah jelas Pak Jimmy. Untuk apa kami mengada-ngada." Pengacara Roy memperlihatkan foto copy KTP Anita juga surat nikah untuk memperkuat bukti.
"Saya tidak akan berlama-lama. Pak Jimmy cukup tanda tangani persetujuan cerai agar urusan cepat selesai."
"Saya menolak!"
"Baik, Pak Jimmy. Pilihannya cuma 1. Anda tanda tangani surat ini atau mendekam di penjara karena percobaan pemerkosaan."
"Ancaman hukumannya 8 tahun penjara."
"Silakan pilih!"
Ia tidak berkutik.
Pagi yang mendung.
Ia melangkah dengan lunglai meninggalkan lobi rumah sakit dengan menggendong ransel berisi baju yang awalnya dibawakan Surya sebagai baju ganti.
Sendiri. Tidak ada keluarga yang menjemputnya. Badannya masih lemas dan bertambah tidak bergairah saat tahu semua kartu ATM dan kartu kredit telah diblokir. Hanya satu barang berharga yang masih dimilikinya. Ponsel.
****
Anita
Kabar yang disampaikan pengacara membuat hatinya perih namun sisi lain merasakan lega, lepas dari rasa sesak yang menghimpit dada. Perih yang dirasa karena ia harus menyerah. Tak mampu lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga.
Selama di Bali ia disibukkan dengan rapat evaluasi di hotel dan villa yang selama ini dipercayakan kepemimpinannya kepada Jimmy sebagai general manager GM). Hasilnya?
Laporan accounting manager membuatnya geleng-geleng kepala. Banyak aliran dana yang dikirim ke rekening pribadi Jimmy tanpa sepengetahuannya. Untuk apa dana sebanyak itu? Ia mengurut keningnya. Pusing.
Usaha warisan orangtuanya itu tak boleh hancur. Ia tak mau lagi mengecewakan orangtuanya untuk yang kedua kalinya.
Semilir angin pantai di sore hari menerpa tubuhnya yang rebahan santai di kursi pantai. Di balik kaca mata hitamnya ia mengawasi sang anak yang ceria bermain pasir membentuk rumah-rumahan.
"Mami, kapan ke Jakarta?" Ini udah seminggu."
Ia harus membujuk anak semata wayangnya yang menagih janji dengan merajuk.
"Pekerjaan Mami belum selesai, sayang. Sabar dulu ya!"
Dan disinilah ia menghabiskan sore dengan membujuk Naura bermain air dan pasir dan melihat sunset dari area privat hotelnya yang view nya menghadap laut lepas.
Ia harus memulihkan dulu 'kesehatan' hotelnya sebelum meninggalkan Bali.
"Hai adek..."
"Kamu seperti adek aku Manda, ihhh lucuuu..."
__ADS_1
"Namanya siapa Om...."
Lamunannya terusik dengan suara riang Naura yang berbicara dengan laki-laki asing yang memangku anak kecil.
"Namanya Alif."
"Kakak namanya siapa?"
"Aku Naura, Om"
Percakapan keduanya makin jelas karena ia berjalan mendekat. Khawatir dengan sang anak. Meski ada dua bodyguard yang mengawasi keselamatan dirinya dan Naura.
"Naura, udah ya mainnya. Udah mau gelap." Ia merentangkan tangan agar Naura mendekat.
Naura menggeleng dan memundurkan badannya dua langkah.
"Bentar lagi, Mami."
"Ada adek lucu nih...." Naura dengan riang menunjuk kepada pria yang memangku bayi montok yang tertawa senang karena Naura bermain 'Ciluk Ba'.
"Belum gelap kok, mbak. Biarkan main dulu sama Alif."
"Hm...namanya tadi siapa...oh Naura ya."
"Sepertinya Naura kangen adeknya...tadi bilangnya begitu..."
Pria ramah itu membuatnya meringis.
"Maksud Naura adek sepupunya di Jakarta."
"Naura anak tunggal."
"Owh." Pria itu mengangguk faham.
Ia menyesal. Kenapa juga harus menjelaskan kepada pria asing. Ia memalingkan muka ke arah lain. Untung lagi memakai kacamata hitam. Tak akan terlihat kalau ia sedang grogi karena malu.
"Wah, harus dibuatin adek kalau gitu. Pasti rumah makin berwarna karena punya kakak Naura yang ceria dan periang. Pasti jadi kakak penyayang." Pria itu tersenyum lebar.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Maaf ya mbak, saya lancang."
"Nginap di sini juga?"
Kata 'juga' meyakinkan dirinya kalau pria itu tamu di hotelnya. Terlihat pula dari topi pantai yang dikenakan. Ciri khas souvenir hotelnya.
"Iya." Ia menjawab singkat.
Setelah dibujuk untuk kesekian kalinya, barulah Naura menurut.
"Om, Naura boleh cium dulu dedek Alif?"
"Boleh, kakak Naura...."
Pria itu menundukkan tubuh agar Naura bisa menjangkau Alif, bayi montok yang ia taksir berumur 10 bulan.
"Sudah, sayang..." Ia memperingati Naura yang sudah mencium kedua pipi Alif malah lanjut mengajak bermain hingga bayi itu tergelak.
"Bye....Alif."
"Bye...Om."
"Nanti ketemu lagi ya...."
__ADS_1
Usai pamit kepada pria itu, ia berjalan pelan sambil menuntun sang anak. Naura berjalan mundur karena gadis kecilnya itu masih berteriak dan melambaikan tangannya yang bebas kepada dua orang asing itu.
****