
Malik mengajak sang mama ke ruang tengah. Ia menarik nafas panjang berusaha meredam kekesalannya dan rasa marah.
"Kenapa sih?" Mama Indah mengerutkan keningnya karena Malik menuntunnya sejak dari ruang tamu. Ia merapihkan rambut coklatnya yang menjuntai ke dahi.
"Malik yang seharusnya bertanya begitu. Kenapa mama bertanya kepada Rahma seperti interview orang melamar kerja?" Malik berusaha menekan nada suaranya agar rasa jengkelnya tak nampak.
"Mama tidak suka dengan Rahma?" Malik menyipitkan matanya karena sang mama diam tak bersuara.
"Ada pilihan lain yang mau kamu kenalkan sama mama?" Mama Indah menatap putranya dengan tenang.
"Memangnya kenapa dengan Rahma?"
Rahma
Asisten rumah tangga datang dengan membawa nampan menyuguhkan minuman. Dengan ramah, ia dipersilakan untuk minum. Ia menganggukan kepalanya diiringi senyum tipis.
"Maaf mbak, saya boleh numpang ke kamar mandi?"
"Boleh, neng. Ayo saya tunjukkan arahnya. Maaf ya saya gak bisa antar karena sedang masak."
Ia mengikuti arah jalan yang ditunjukkan oleh sang ART. Masuk ke ruang tengah melewati lemari penyekat ruangan, lalu belok kanan mentok.
Langkahnya terhenti di belakang lemari tinggi yang menyekat ruang tengah dan ruang makan saat tak sengaja mendengar namanya disebut. Ia mendengar suara Malik sedang berbicara.
"Memangnya kenapa dengan Rahma?"
"Bukannya Mama antusias ingin bertemu dengan calon istri Malik?"
"Mama kira pacarmu itu perempuan modern."
"Ternyata penampilannya begitu dan pendidikannya gak selevel dengan kamu."
"Kamu itu pergaulannya luas, Malik. Dia bisa minder menjadi pendamping kamu."
Ia merasa hatinya perih. Suara mama Indah begitu jelas terdengar di telinganya, merendahkannya. Ia ingin berlalu, namun kedua kakinya seolah rapat menginjak lantai, tak bisa dilangkahkan.
"Rahma lahir di era modern, Ma. Dia perempuan akhir zaman yang soleha dan langka di zaman modern ini."
"Ma, dia perempuan baik. Dia udah mengubah Malik menjadi pribadi yang lebih baik. Aku butuh pendamping hidup seperti dia."
"Mama gak suka dengan penampilannya. Ganti yang lain atau Mama yang carikan!"
Atmosfer di ruangan itu semakin panas. Suara mama Indah makin meninggi dan tegas.
"Enggak, Ma. Diizinkan atau tidak, Malik akan tetap menikahi Rahma. Mama juga dulu menikah dengan Om Theo tanpa minta izin Malik."
"Situasinya beda, Malik!!"
"Iya, Ma. Sangat-sangat beda. Mama menikah dengannya yang beda agama. Sedangkan Malik akan menikah dengan Rahma yang jelas seakidah. Mama jangan egois."
"JOHAN AL MALIK!"
Plak
Tubuhnya terjengit begitu mendengar nada kemarahan mama Indah memanggil nama lengkap Malik. Dan suara apa itu? Sepertinya ia mendengar suara tamparan.
__ADS_1
Pergi.
Ya, ia memutuskan lebih baik pergi. Ia merasa kehadirannya malah membuat perdebatan diantara ibu dan anak itu. Perlahah ia balik arah kembali ke ruang tamu untuk mengambil tasnya yang tersimpan di kursi.
****
Malik dan Mama Indah masih berdiri dalam kondisi bersitegang. Malik tampak mengusap-ngusap pipinya usai mendapat tamparan dari sang mama.
"Maafkan Mama, Malik." Mama Indah memelas dengan sorot mata penuh penyesalan. Ia mendekat untuk memegang wajah sang anak. Namun Malik berkelit dengan memundurkan tubuhnya.
"Tadinya Malik berharap pertemuan ini akan merajut kembali hubungan kita, Ma. Hubungan hangat ibu dan anak." Malik menatapnya dengan nanar dan intonasi suara yang rendah tanpa semangat. Bagaimanapun, ia masih menghormati sang mama sebagai orangtua. Ia menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya melibihi bentakan mama Indah saat tadi.
"Tapi Mama membuat jarak makin menganga."
"Bahkan Malik sudah lupa gimana rasanya sentuhan lembut tangan Mama."
"Mungkin tamparan ini yang akan Malik ingat," pungkasnya sambil berlalu meninggalkan Mama Indahnyang mencoba menahan agar mau mendengar penjelasannya.
"Rahma--" Malik memanggil-manggil saat dilihatnya Rahma tidak ada di ruang tamu. Ia berlari keluar, melihat sekeliling teras dan taman tapi yang dicari tak terlihat.
"Bi, lihat Rahma gak?" Malik menghampiri Bi Roro ke dapur yang tampak sedang mencuci panci bekas memasak.
Bi Roro mengeringkan tangannya usai mencuci. "Rahma itu yang tamu ya Mas?" tanyanya untuk meyakinkan.
"Iya, bi."
"Tadi sih minta izin ke kamar mandi, Mas. Saya tunjukkan jalannya saja, tidak mengantarnya karena lagi menggoreng ikan takut gosong."
Malik mengusap mukanya dengan kasar. Ia menduga Rahma telah mendengar percakapannya dengan mama.
"Ayolah Rahma, angkat please!" Malik bergumam sendiri. Sudah tiga kali panggilannya tersambung namun tidak juga diangkat. Hingga akhirnya berubah menjadi diluar jangkauan.
Malik menggeram melampiaskan rasa kesal dan marah. Kejadian hari ini diluar ekapektasinya. Sambutan sang mama yang diharapkan baik dan mendukungnya malah sebaliknya.
"Malik, tunggu!"
Malik menghentikan langkahnya yang sudah sampai ambang pintu keluar, begitu mendengar suara mama memanggilnya. Ia membalikkan badannya tanpa bersuara, hanya menatap sang mama, menunggu apa yang akan disampaikannya.
"Dia bukan perempuan yang pas buat kamu. Buktinya, dia pergi begitu saja."
"Tinggalkan dia, nak!" Mama Indah melembutkan suaranya, berusaha mempengaruhi Malik agar mau menurut.
"Jangan dibutakan oleh cinta."
"Uangmu bisa habis diporoti sama perempuan itu."
Malik membulatkan matanya. Tak menyangka mamanya bisa berkata seperti itu. Ia sampai geleng-geleng kepala dan beristighfar dalam hati.
"Mama sangat salah menilai Rahma," ujar Malik datar. Ia tak terima gadis yang sudah mengisi hatinya itu mendapat image buruk di mata sang Mama.
"Rahma bukan seperti Mama yang mau menikah dengan lelaki kaya karema punya aset dimana-mana."
Malik berjalan dua langkah mendekati mamanya. "Sampai mama rela menggadaikan akidah demi hidup bermandikan uang," ujarnya pelan. "Jadi jelas siapa disini yang matre?!"
Malik berbalik badan dan setengah berlari meninggalkan mamanya yang tak berkutik.
__ADS_1
"Malik--"
"Malik, jangan pergi!"
Percuma. Panggilan mama Indah tak digubris oleh Malik yang meraungkan mobilnya pergi meninggalkan pekarangan.
"Ada apa, ma?" Om Theo menghampiri mama Indah dengan raut cemas.
"Malik pergi lagi--" Mama Indah berkata serak.
"Ini semua gara-gara perempuan itu," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Karena harapan untuk berkumpul dengan anak semata wayangnya itu sirna.
"Mama harusnya jangan terlalu keras sama Malik. Berikan dia kebebasan menentukan pilihannya." Om Theo mengusap-ngusap bahu istrinya itu dengan berkata pelan.
"Enggak, Pah. Perempuan itu gak selevel dengan kita. Mama pengen punya mantu seperti anaknya Ceo. Mama sudah bertemu waktu kita hadir di aniversary perusahaan."
"Namanya Angel, Pah. Dia cantik dan smart. Body nya bagus, penampilannya selalu modis." Wajah Mama Indah berubah berbinar saat menggambarkan menantu idaman sesuai kriterianya.
Om Theo hanya mengangkat bahunya. Ia tidak bisa ikut terlalu jauh. Karena Malik adalah anak tiri dan hubungannya juga tidak dekat. Bahkan diawal pernikahannya, Malik terang-terangan tidak menyukainya.
****
Malik memasuki toko kue Citarasa dengan tergesa. Penampilannya tampak kusut dengan wajah dipenuhi kecemasan. Ia menghampiri Suci yang sedang fokus memandang layar laptop.
"Suci, apa Rahma sudah pulang?" ujarnya dengan sorot mata gelisah.
Suci memperhatikan Malik sejenak, lalu menutup laptopnya dan menyuruh pria berwajah kusut itu untuk duduk.
"Rahma ada di kamarnya, Bang."
Malik bernafas lega mendengarnya.
"Ada apa sebenarnya, Bang Malik? Kenapa Rahma pulang sendiri sambil menangis?" Suci memicingkan matanya menatap Malik yang kini menghembuskan nafas kasar.
"Maafkan aku, Suci. Aku tidak ada maksud menyakiti Rahma. Semua ini gara-gara Mama."
"Aku mau ketemu dengan Rahma. Boleh aku ke atas?" Malik menatap tangga berharap bisa melihat gadis pujaannya itu.
Suci menggelengkan kepala. Meski sebenarnya ia masih penasaran ingin tahu detailnya, tapi Suci memilih menahan diri.
"Biarkan dulu Rahma menenangkan diri."
"Jangan khawatir, Bang. Rahma tidak akan kemana-mana. Tadi ia berpesan, tidak mau dulu bertemu bang Malik."
Malik memejamkan matanya. Mendadak kepalanya terasa pening dan berdenyut. Suci benar, ia harus memberi waktu agar Rahma bisa tenang. Ia kembali menoleh ke arah tangga, berharap Rahma turun. Tapi ditunggu sampai 15 menit lamanya, nihil.
Dengan langkah lunglai, Malik pergi meninggalkan toko. Ia berjanji akan datang lagi esok.
Salma mendekati Suci yang masih menatap pintu keluar masuk toko. Tatapan dengan sorot mata kasihan mengiringi kepergian Malik.
"Tadi saat berangkat kita menggoda Rahma dengan happy. Eh, malah pulang dengan sedih." Rupanya Salma mendengar semua pembicaraan Malik dan Suci dari balik pantry.
"Mungkinkah orangtua Malik tidak menyukai Rahma?" duganya sambil menautkan alis menatap Suci.
"Bisa jadi, Teh. Kita tunggu Rahma yang bercerita nanti."
__ADS_1