
Bandung
Di mana ada Nico, di situ ada Malik. Sepertinya dua orang itu memang tak bisa dipisahkan. Saat Nico resmi resign, Malik pun sama. Toh awalnya mau bekerja di perusahaan keluarga Ayah Hendro itu karena Nico memaksanya untuk menjadi asisten. Padahal ia lebih suka monitoring bisnis distro and clothing yang dirintis 4 tahun yang lalu bersama Nico.
Bisnis yang tidak jauh berbeda dengan dunia garmen perusahaan Ayah Hendro. Namun di dunia distro and clothing, mereka bisa mengekspresikan diri, menuangkan ide, dalam bentuk design kaos dan jaket yang unik.
Butuh waktu sebulan untuk mengisi furniture rumah sampai terisi lengkap. Dan kini sudah sebulan pula Nico dan Suci resmi pindahan. Sementara Malik dan Rahma tinggal di komplek yang berbeda namun berjarak tidak terlalu jauh dengan Nico.
"Welcome back to the club!" Nico berseru riang, disambut Malik yang memutar kursi kerjanya dengan tangan terangkat melakukan high five. Seruan motivasi yamg selalu digaungkan setiap pagi memulai kerja. Tentunya diiringi ucapan Bismillah. Layar komputer sudah menyala dan aplikasi corel draw sudah terbuka. Saatnya memindahkan ide dari otak menjadi sebuah gambar. Ada pula tim ahli yang membantunya dalam mendesain.
Pancaran bahagia begitu kentara dari wajah keduanya. Sebab mereka bisa berangkat kerja hanya dengan kaos santai dan celana jeans. Tak perlu lagi berpakaian formal apalagi pakai jas seperti pekerjaan sebelumnya. Inilah kebebasan yang diinginkanya sesuai passion.
Para karyawan tampak selalu bersemangat sebab mereka happy dengan gaya kepemimpinan friendly duo tampan yang dulunya sangat jarang menapaki ruko tiga lantai itu.
Ruang Admin penjualan online tentunya yang paling heboh. Usai mengikuti briefing bersama seluruh karyawan, 5 orang admin yang kesemuanya perempuan muda tampak kasak kusuk diiringi tawa cekikikan. Mereka tak bosan membicarakan ketampanan dua bossnya yang sold out itu. Hmm, cukup dipandang saja.
Sistem kerja yang serius tapi santai itu memungkinkan mereka kerja sambil becanda untuk mengusir ngantuk karena menghadapi layar komputer seharian.
Sementara ruko sebelah kirinya berfungsi sebagai pabrik chloting line. Dengan deretan mesin jahit dan mesin cetak sablon digital terbaik serta mesin penunjang lainnya.
Sudah ada 15 gerai distro yang tersebar di kota-kota wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Kini Nico berencana melakukan invasi ke kota Yogyakarta dan Surabaya.
"Ada kabar baik!" Malik menyimpan mouse nya, beralih memutar kursinya menghadap Nico.
"Apa?" Nico mendongak dari fokusnya memeriksa laporan penjualan.
"Aku akan jadi ayah!" Malik tersenyum lebar. "Rahma lagi hamil 6 minggu." Lanjutnya dengan mata berbinar.
"Wuih, tajam juga senjatamu." Nico tertawa lepas lalu mengucapkan selamat dengan tulus. "Bakalan nyusulin Bang Candra nih. Bener-bener gak mau ketinggalan nih anak." lanjutnya sambil geleng-geleng kepala, konyol. Tak urung membuat Malik tertawa lepas.
****
Jakarta
Rafa
Foto Naura si gadis cilik yang riang menggoda bayi gempal yang tak lain adalah anaknya, masih ia simpan di galeri ponselnya. Waktu itu di bandara, ia spontan mengambil foto candid sebelum dirinya mendekat. Bukan hanya foto Naura yang ter candid, tapi juga ibunya.
Ada 4 foto. Dua diantaranya menampilkan Anita yang difoto menyamping tengah tersenyum menatap interaksi Naura dan Alif. Sangat natural.
Ia tak sadar mengulas senyum lebar menatap foto-foto itu. Kini sudah lima bulan berlalu sejak perpisahan di bandara itu. Ia bahkan berharap bisa bertemu dengan Naura lagi saat dua bulan yang lalu kembali lagi ke Bali untuk urusan bisnisnya.
Ia menginap di hotel yang sama dan menghabiskan waktu sore di pantai dengan menggendong Alif. Berharap bisa bertemu lagi gadis cilik yang telah mencuri hatinya. Ia rindu dengan interaksi riang Naura dan Alif yang natural tanpa kamuflase. Namun nihil.
Ia bukannya tak tertarik dengan ibunya Naura. Namun sebagai orang yang berilmu agama, ia menjaga hati untuk tidak terpikat dengan wanita yang sudah bersuami. Namun fakta membuatnya terkejut. Saat check out dari hotel, matanya menangkap pigura besar terbingkai di dinding ruang resepsionis. Figura itu menampilkan sosok Anita berfoto bersama para staf dan karyawan dalam balutan busana adat Bali.
"Maaf, mbak. Itu siapa ya....yang tengah?" Ia menunjuk foto wanita cantik nan anggun yang berdiri di tengah tampak mencolok. Sang wanita mengenakan kebaya putih dengan rambut disanggul dan bunga kamboja tersemat di telinganya. Khas budaya Bali.
"Itu Bu Anita, Owner hotel ini, Pak." Jawab salah seorang petugas resepsionis dengan ramah.
Namun saat meminta bertemu dengan sang owner, seorang petugas sepertinya keceplosan karena tampak kaget dengan ucapannya sendiri. "Bu Anita pindah ke Jakarta. Belum ke sini lagi sejak bercerai."
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Setelah tahu jika Anita single parent, asa ingin bertemu lagi kian mencuat, ingin kenal lebih dekat.
Dan lihat. Ini bukan suatu kebetulan kan? Ia menegakkan punggungnya. Mengerjapkan mata untuk meyakinkan apa yang dilihatnya dari layar LED. Kamera pengawas di toko perhiasannya menampilkan dua wanita yang dilamunkannya tengah memilih perhiasan. Naura dan Anita.
Ia seperti remaja yang baru bertemu gebetannya. Jantungnya mendadak berdebar kencang sampai tak sadar ia meraba dadanya.
"Bu, ke sini sekarang ya!" Ia menghubungi Ibu Lina, pengasuh yang tengah mengajak Alif berkeliling mall.
****
Anita
"Mami, aku mau yang ini aja!" Naura melenggak-lenggok sambil menggoyang-goyangkan kepalanya usai memakai anting baru pilihannya.
Ia menyerahkan kartu debitnya untuk membayar sepasang anting itu.
"Tidak usah, bu. Antingnya sudah dibayar." Pelayan toko menggeser lagi kartunya dengan tersenyum ramah.
Ia mengernyit. Belum mengerti maksud sang pelayan. "Siapa yang bayar?"
"Boss kami, bu."
Suasana restoran cepat saji di mall itu tampak ramai karena ini akhir pekan. Ia kini duduk berhadapan dengan Rafa. Lelaki yang tak pernah diingatnya usai pertemuan terakhir kali di bandara.
Ia bersikeras ingin membayar anting yang dipakai Naura. Namun Rafa pun bersikeras menolak. Buat kenang-kenangan, katanya.
Ia menoleh ke tempat bermain anak. Naura tampak riang mengajak bermain baby Alif yang tengah belajar berjalan, diawasi oleh ibu Lina.
"Om, kita ketemu lagi....berarti jodoh ya, Om."
__ADS_1
Kalimat riang Naura membuat ia meringis malu karena Rafa mengangguk dan tersenyum menatapnya. Dan tatapannya itu....kenapa berbeda rasanya.
Naura pun meloncat-loncat senang sambil menciumi baby Alif dengan gemas. "Alif, kakak kangen Alif...."
"Jadi gimana, Anita?"
Suara pria di depannya membuat lamunannya buyar.
"Eh, apa?" Ia menjadi gugup begitu mendapat tatapan lembut Rafa.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bolehkah?"
Ia menautkan jemari kedua tangannya di atas meja. Merasa heran dan kaget karena Rafa tiba-tiba bersikap seolah telah mengenalnya lama. "Apa yang kamu ketahui tentang aku?"
"Kamu adalah single parent, ibu dari seorang Naura, putri cantik dan baik hati." Rafa berkata sambil menatapnya lurus. "Aku sudah jatuh hati dengan Naura sejak bertemu di pantai.
"Mungkin kamu merasa kaget, aku terkesan terburu-buru. Tapi aku serius. Cukup melihat chemistry Naura dan Alif aja, aku berharap Naura bisa menjadi kakaknya Alif."
"Aku pria single, istriku meninggal usai melahirkan Alif."
"Innalillahi..." Ia sontak berucap lirih. "InsyaAllah ibunya Alif khusnul khatimah." Ia tulus mengucapkan doa.
Rafa mengangguk. Mengaminkan.
Lidahnya terasa kelu kala mendapat rentetan tembakan mengenai hati. Hati yang tadinya biasa-biasa kini menjadi tak biasa. Menjadi tak sejalan dengan pikiran yang ingin menolak siapapun pria yang mendekat. Tapi malah hatinya membuka jalan untuk pria di depannya.
Ia menghembuskan nafas perlahan. "Aku bingung harus jawab apa. Lagian sepertinya aku lebih tua dari kamu."
"Berapa?"
"32."
"Aku 29."
"Dan bagiku gak masalah. Lagian kamu seperti 25. Kamu cantik dan pandai merawat diri. Apalagi pas pakai jilbab, makin cantik deh." Rafa mengangkat dua jarinya tanda serius.
Ia memalingkan wajah sembarang arah. Menyamarkan rasa malu yang menghangatkan kedua pipinya. Pujian Rafa membuat hatinya berdesir.
"Kapan liat aku pakai jilbab?" Ia memicingkan mata begitu sadar dari angannya yang melayang kini mendarat ke semula.
"Dari medsos Anita Maheswari." Rafa tersenyum simpul.
"Kamu seusia dengan adikku."
Rafa bersidekap tangan di atas meja, di depan alas makan yang masih bersisa. Dengan tubuh yang dicondongkan ke depan.
"Anita, jangan permasalahkan usia. Kita sama-sama dewasa. Aku ingin mengenalmu lebih dekat sebagai langkah ta'aruf, bukan untuk pacaran."
Ia melongo begitu Rafa mengajaknya melakukan sholat istikharah. Ia terkesima dengan perlakuan yang santun, dan terpana dengan tatapan lembut yang mendorong pintu hatinya untuk terbuka.
Ia menelan saliva sebelum memutuskan menjawab.
"Baiklah, kita saling mengenal dulu."
****
Suci
Hujan mengguyur kota Bandung sejak sore. Membuat udara terasa lembab dan dingin menusuk kulit. Ia memandangi alam di keremangan malam. Rintik hujan jatuh menerpa daun-daun hingga bergoyang.
Tinggal di tempat baru telah membuatnya nyaman dan betah. Ada Sri yang ia bawa serta sebagai asisten rumah tangga di sini. Karena Sri sudah bisa dipercaya dan cocok dengannya. Bunda tentu saja dengan suka rela mengijinkannya membawa Sri.
Umi giliran tinggal dengan Bang Candra setelah sebulan ini bersamanya. Umi akan lebih lama di Jakarta karena Salma tengah menghitung hari menuju kelahiran bayi kembarnya. Kembar laki-laki.
Ia menoleh sejenak menatap Amanda yang sudah terlelap dalam boxnya. Berbalut selimut yang lembut dan tebal serta pakaian yang hangat agar tak merasa kedinginan.
Hatcih hatcih.
Udara dingin selalu saja membuatnya bersin-bersin dan menggigil. Sampai ia harus menggosok-gosok hidungnya yang gatal dan memerah. Namun rengkuhan tangan kokoh di belakangnya yang mengungkung, perlahan berhasil mengusir hawa dingin berganti kehangatan mengaliri aliran darahnya. Ia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan bibir yang mengecupi lehernya yang terbuka.
"Sudah tahu dingin, sayang. Kenapa berdiri di sini hmm."
Suara serak Nico yang berhasrat membuatnya mengulas senyum. Tentunya tak akan terlihat oleh suaminya itu. Aroma tubuh Nico yang wangi maskulin, membuatnya selalu nyaman dalam pelukan suaminya itu.
"Aku kangen dipeluk seperti ini, Papa. Udah seminggu Papa pulang malam terus." Ia merajuk manja.
Nico menarik tubuhnya sehingga kini saling berhadapan. "Ulu-ulu...ada yang ngambek."
Ia yang awalnya cemberut, tak bisa menahan tawa karena Nico menggesekkan hidung di lehernya. Membuatnya kegelian dan meremang.
"Mas, makasih udah jadi suami terbaik dan Papa terhebat." ucapnya tulus sambil bersandar di dada Nico.
__ADS_1
Ranjang king size menjadi saksi dua insan saling berpelukan erat dan rapat.
Ia mendongak menatap Nico dengan senyum terulas. "Aku gak tau sudah berapa kali berucap kata cinta. Saking jarangnya ya, hihihi...." Ia menutup mukanya karena malu.
"I love you Papa Manda ...forever....till jannah." Ia mengecup bibir Nico dengan segenap perasaan.
****
PoV Nico
Ungkapan kata cinta Suci membuat aku speechless. Yeah, dia wanita yang menjadi ratu dan bertahta di hatiku. Now and forever.
Kita memang tak sering mengucap kata cinta. Biar tindakan nyata yang berbicara. Aku berikan segenap jiwa raga, kasih sayang dan materi untuk membuatnya bahagia dan bangga menjadi istriku.
"I love you too, Mama Manda...."
Bibir ranum yang mengecupku itu tak kubiarkan lepas. Perasaanku sudah terharu biru oleh ungkapan manisnya. Aku melu matnya dengan rakus dan perlahan beralih menjelajah....saling menyatukan tubuh dan berbagi rasa.
Aku mengusap rambutnya penuh sayang, usai percintaan yang panjang yang selalu membuatnya terlelap lebih dulu. Memandang wajahnya usai bercinta adalah kebiasaanku yang tidak pernah diketahui Suci. Aku suka menatapnya lama-lama, melihat aura kecantikannya yang memancar dalam tidurnya yang lelap dan tenang.
Baru sadar, dari tadi ponsel Suci ternyata memainkan playlist lagu yamg berulang, lagu yang sama. Saking fokusnya mencumbunya, aku tidak mendengar suara lain selain suara desahan Suci yang membuatku makin bergairah. Tapi dalam keheningan malam yang berpadu gemuruh hujan....lagu itu menjadi syahdu untuk diresapi.
Aku bersyukur kau di sini kasih
Di kalbuku mengiringi
Dan padamu ingin 'ku sampaikan
Kau cahaya hati
Dulu 'ku palingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir ubah segalanya, Oh
Inilah janjiku kepadamu
Sepanjang hidup bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku, cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu
Yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
Semoga Allah berkahi kita
Kekasih penguat jiwaku
Berdoa kau dan aku di Jannah
'Ku temukan kekuatanku di sisimu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
Oh, Inilah janjiku kepadamu
Lagu Majer Zain itu favoritnya Suci. Tapi lagu itu juga seperti curahan hatiku untuknya.
Memang, tak ada yang kekal di dunia ini. Tapi satu hal yang tak luput kupanjatkan dalam setiap doa. Semoga Allah panjangkan umur kami dalam ketaatan dan takwa, sampai menua bersama.
...TAMAT...
...------------------------------------...
Tak banyak kata aku ucapkan. Makasih readers setia, udah membersamai MENGAPA CINTA dari awal sampai akhir.
Nico dan Suci akan muncul lg di next novel sbg piguran. Baru draft sih 😉 moga aja masih smangat akohnya ya 😁
Next, Empat Sekawan up lagi. In shaa Allah mulai besok ya 😊
Hatur nuhun ka sadayana
Laf U 😍
Me Nia
__ADS_1