MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Suasana Pesta


__ADS_3

Syiah Kuala - Banda Aceh


Suci


Rumah Om Badru ramai dengan berdatangannya sanak saudara. Baik yang dari jarak dekat maupun yang dari luar kota Banda Aceh. Hal yang wajar, karena esok akan ada acara hajatan. Pernikahan Rahma dan Malik.


Ia bersama bang Candra dan Salma, sudah mengecek kesiapan gedung dan berkomunikasi dengan pihak Wedding organizer untuk kelancaran acara esok.


Semula Malik menawarkan untuk menggelar acara di ballroom hotel, tanpa perlu mengkhawatirkan besaran biayanya karena Malik siap menanggung semua biaya pernikahan mereka. Berapapun.


Namun Rahma menolaknya. Rahma lebih memilih menggelar pernikahan di gedung Hall center yang jaraknya hanya 1 km dari rumah.


"Bagaimana?" Ia langsung ditodong pertanyaan begitu memasuki kamar Rahma.


"Tenang calon penganten. Semua sudah siap. Tapi calon mempelai prianya belum tiba nih." Ia menggoda Rahma yang tampak gelisah menunggu kabar dari Malik.


"Aduh gimana dong, suci. Harusnya udah sampai hotel." Rahma berjalan mondar mandir di depannya, menunjukkan kegelisahannya.


"Hpnya masih gak aktif juga." Rahma menghela nafas panjang sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30 malam.


"Jangan - jangan..."


"Jangan berpikiran buruk." Ia segera memotong ucapan adik sepupunya itu.


Ia tidak tega melihat Rahma yang cemas. Sebenarnya Malik dan Nico beserta ayah dan bunda sudah sampai di hotel 1 jam yang lalu. Namun Nico merajia ponsel Malik agar tidak menghubungi Rahma. Biar kangennya ditabung buat besok, katanya.


"Dasar mas Nico."


Ia menggeleng saat sang suami mengirim pesan, mencetuskan ide itu.


Kamar Rahma telah dihias tirai dan kelambu nuansa putih dengan sematan bunga artifisial rangkaian mawar pink. Nuansa romantis kental terasa.


Ia menuntun tangan Rahma yang masih berdiri untuk duduk di tepi ranjang.


"Kamu jangan khawatir. Bang Malik sudah di hotel bersama mas Nico."


"Serius?!" Rahma menatapnya seolah masih ragu.


Ia mengangguk.


"Mas Nico sengaja merajia hp bang Malik agar kalian jangan dulu berkomunikasi."


"Anggap aja lagi dipingit."


"Biar esok kangennya menggunung dan....." Ia sengaja menggantungkan ucapannya sambil mesem-mesem.


Tentu saja Rahma jadi malu sampai mencubit pipinya karena terus-terusan menggoda.


"Dasar kamu ya--"


"Eh, tapi malam pertama kamu ngapain aja?" Rahma mulai penasaran pengen tahu pengalaman saudarinya itu.


"Soalnya aku deg degan, Suci." Lanjutnya dengan wajah serus.


Ia terkikik mendengar kepolosan Rahma. Ia menganggapnya polos karena dirinya sudah berpengalaman. Padahal dulu juga ia sama polosnya.


"Setiap pengantin baru mungkin akan beda aktifitas malam pertamanya."


"Ikuti alur aja, Rahma."


"Ikuti permainannya bang Malik. Kamu nurut aja." Ia bicara pelan seolah takut ada orang lain yang mendengarkan.


"Jangan ketawain aku terus dong....kan malu." Rahma memukul lengannya dengan bantal karena ia terus mesem-mesem. Hal ini membuatnya malah tertawa lepas.

__ADS_1


"Tapi besoknya langsung pergi honeymoon kan?"


"Bebas mau rambut basah tiap hari juga." Ia menaik turunkan kedua alisnya.


"Suci----" Rahma menggeram dengan suara ditekan.


Dengan kedua tangan diangkat seolah ingin meremas mulutnya. Ia kembali tertawa sampai kedua bahunya terguncang saking gembiranya bisa menggoda terus sepupu sekaligus sahabat terbaiknya itu.


"Rahma--" Ia berhenti tertawa dan kini memasang mimik serius.


Rahma menaikkan alisnya. "Apa?"


Ia menatap Rahma penuh harapan. "Besok lembaran baru hidupmu."


"Semoga esok lusa ibunya Bang Malik luluh. Mau menerima kamu sebagai menantunya." Ia menepuk-nepuk punggung tangan Rahma untuk memberi semangat dan dukungan.


"Aamiiin."


"Uma dan ayah juga bertanya lagi kemarin. Apa aku siap melangkah bersama bang Malik."


"Terus kamu jawab apa?" Ia sudah tak sabar karena Rahma belum melanjutkan ucapannya.


"Aku jawab 'Bismillah'. Aku sudah mantap menerimanya karena sudah istikharoh."


Malam ini Rahma memintanya untuk tidur bersama. Dua orang bersaudara itu mengisi waktu dengan berbincang santai sambil menunggu kantuk datang. Ia pun menyempatkan dulu menghubungi Nico karena merasa kangen, dua hari tak berjumpa.


****


Nico


Ia melambaikan tangan ke arah waiter untuk memesan jus strawbery. Mendadak ia terpaku dan menelan salivanya begitu melihat seorang anak perempuan usia sekitar 5 tahun yang berdiri di tepi jendela sedang meminum jus strawbery. Bahkan suara seruputannya terdengar nyaring.


Aku jadi kayak orang ngidam.


Ia mengusap mulutnya dengan tisu sekalian menghalangi senyumnya yang terbit karena merasa geli sendiri dengan keinginan spontanitas itu.


Malik tampak mengerutkan kening.


Suasana restoran hotel yang tidak terlalu ramai membuat ia, Malik dan ayah bunda bisa duduk santai usai menghabiskan makan malam.


"Hafal apanya, yah?" Malik tampak tidak mengerti maksud pertanyaan ayah Hendro.


"Ck, yang mau nikah. Apa aja sih yang disiapin? Sampe belum hafal kalimat akad nikah." Ia yang akhirnya menimpali karena gemas melihat sahabatnya itu hanya melongo.


"Ohhh, itu---" Malik tertawa sumbang.


"Belum, yah."


"Lupa--" Malik nyengir kuda sambil menggaruk temgkuknya yang tak gatal.


"Nanti aja di kamar minta diajarin sama Nico." Malik meliriknya diiringi tatapan permohonan.


"Ogah."


"Mau tidur biar besok fresh." Ia pura-pura menguap namun Malik malah meninju lengannya. Membuatnya tersedak.


"Siapa yang jemput kita besok?" Bunda yang dari tadi hanya mendengarkan, kini membuka suara.


"Ada bang Candra yang mengatur," Ia mengucapkan terima kasih saat waiter membawa jus pesanannya. "Pokoknya semua sudah rapi. Hantaran juga udah diurus sama Suci dan teh Salma. Bunda tenang aja."


Tenggorokannya terasa nyes, dinginnya terasa merasuki pori-pori kulit begitu ia menyeruput jus strawbery nya.


Ia beranjak menjauh saat melihat layar ponselnya, ada panggilan masuk dari sang istri.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, sayang." Ia menjawab ucap salam Suci sambil menatap kerlap kerlip lampu kota Banda Aceh dari jendela kaca restoran yang tinggi menjulang.


"Mas Nico mau ke sini dulu gak?"


"Hmm, kayaknya besok aja, sayang. Kamu baik-baik aja kan?" Ia jadi mengkhawatirkan keadaan Suci karena nada bicaranya seolah mengharap ia datang saat ini.


"Iya baik. Tapi anakmu kangen nih--"


Ia terkekeh mendengar suara di sebrang yang merajuk manja.


"Yang kangen baby atau mamanya nih." Ia sengaja menggoda Suci. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, senyumnya mengembang sempurna saat kembali terdengar suara merajuk dari sebrang sana.


"Kita ketemu besok aja, sayang. Kalau aku ke sana kasian Malik sendirian."


"Aku juga kangen kalian kok."


Akhirnya Suci bisa mengerti. Obrolan sampai 30 menit cukup untuk sementara saling mengobati kerinduan.


****


"Saya terima nikah dan kawinnya Cut Mutiara Rahma bin Badru Muammar dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai."


Lantang. Dalam satu tarikan nafas, dalam jabat tangan yang erat dengan ayahnya Rahma, Malik berucap tegas dan lancar.


Serempak para saksi berucap 'SAH'.


Tampak binar kelegaan tergambar di wajah Malik. Ia menengadahkan tangan, mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh sang ustad.


Pembawa acara mulai memanggil, mempersilakan mempelai istri untuk hadir ke tempat akad.


Malik mulai berdiri tegak menatap jalan yang tergelar karpet merah dengan hiasan bunga di kiri dan kanannya.


Sebentar lagi iring-iringan mempelai wanita akan masuk menyerahkan sang pengantin.


Malik tampak gagah dalam balutan baju pengantin adat Aceh Linto Baro dengan modifikasi modern. Ia bak seorang bangsawan Aceh yang tampan, gagah dan berwibawa. Ia mengenakan baju lengan panjang (bajee), celana panjang hitam (siluweuwe) yang berpadu dengan kain songket Aceh warna kuning senada yang dipakai Rahma, dan juga kopiah (kupiah meukuetob).


Keduanya saling bersitatap saat Rahma sudah berdiri berhadapan dengan Malik. Senyum kebahagian merekah dengan binar cinta yang berkilatan pada netra keduanya.


Rahma tampak pangling dalam balutan pakaian adat Daro baro dengan modifikasi modern. Kesan cantik dan mewah sangat kentara, ditambah penutup kepala (Patam Dhoe) serupa mahkota yang dikenakan Rahma menambah aura keanggunan dan kebangsawanan. Sangat elegan.


Para tamu mulai menyalami kedua mempelai usai rangkaian upacara adat digelar. Orangtua Rahma sengaja menyelipkan budaya Aceh dalam pernikahan sang anak. Mengingat Rahma adalah putri tunggal mereka.


"Sayang, kalau capek duduk aja." Nico menyuruh Suci beristirahat karena melihat wajah cantik sang istri tampak berkeringat, kepanasan.


Suci menurut. Ia memang merasa kakinya pegal-pegal.


Alunan musik gambus mengiringi para tamu yang berdatangan memberi ucapan selamat. Tampak Bunda Devi dan Ayah Hendro berwajah tulus, turut berbahagia bisa mendampingi Malik di pelaminan.


"Maafin aku ya." Nico menatap Suci penuh penyesalan.


Suci mengernyit tak mengerti. Ia berhenti mengipasi wajahnya yang berkeringat, menunggu Nico melanjutkan ucapannya.


"Maafin ya sayang. Dulu akad nikah kita hanya sederhana." Nico menatap kedua mempelai yang semringah menerima ucapan selamat dari para tamu. "Tidak ada acara adat seperti pernikahannya Rahma ini," lanjutnya merasa menyesal tidak menggelar acara mewah di kampung halamannya Suci.


"Kirain soal apa." Suci tersenyum lembut menatap suaminya yang berubah murung.


"Aku ikhlas kok, mas. Malah dapat surprise resepsi yang mewah di Jakarta." Suci menggoyang-goyangkan keduap pipi suaminya itu agar tak lagi murung.


"Aku lapar, papa--" Suci mengusap-ngusap perutnya dengan wajah merajuk.


Sontak Nico menegakkan tubuhnya dengan wajah yang kembali ceria. "Ah iya pasti kalian lapar. Tunggu aku ambilkan makanan dulu ya." Nico menyempatkan mengusap perut Suci sebelum beranjak pergi menuju stand makanan.


Suci tersenyum lega melihat Nico kembali bersemangat dan ceria.

__ADS_1


Interaksi keduanya tak luput dari perhatian seorang pria yang mengintip di sudut ruangan, dibalik lalu lalang para tamu. Tatapan matannya berkabut duka dan bergelayut awan kesedihan.


...Bersambung...


__ADS_2