MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Sentuhan Hangat


__ADS_3

Bunda Devi memeluk Suci yang kini telah menjadi bagian keluarganya. Rasa bahagia tergambar jelas di wajahnya, menandakan ia sangat menyukai menantunya itu. Ayah Hendro mengusap bahu saat Suci menyalaminya dengan takzim. Salaman mohon doa restu terhadap Umi dan Candra sudah dilakukannya paling awal oleh Suci dan Nico.


Acara sakral sudah dilalui. Semua tamu yang tak lebih dari 40 orang, karena hanya mengundang keluarga inti dan tetangga terdekat, menikmati sajian hidangan yang disediakan dengan suasana santai penuh kekeluargaan.


"Mas Nico, mau makan sekarang? Aku ambilkan ya." Suci beranjak dari kursinya namun lengannya ditahan oleh Nico.


"Kamu duduk manis saja, cantik. Biar aku yang ambil sendiri." Nico menganggukkan kepalanya agar Suci duduk kembali. Ia tak tega membiarkan Suci pergi mengambil makanan dengan baju pengantin. Meski baju itu simpel dan tak menyeret lantai.


Suci menurut. Ia kembali duduk di kursi paviliun menikmati semilir angin yang mampu mengusir rasa gerah di tubuhnya.


Tak lama, Nico datang dengan membawa sepiring nasi lauk porsi besar berikut air mineral. Suci yang melihatnya tampak mengkerutkan kening. "Kok cuma bawa 1 piring, Mas?"


"Sengaja. Biar bisa makan sepiring berdua," jawab Nico dengan berbisik di telinga Suci.


Meski malu dengan lirikan orang-orang yang tersenyum mesem ke arahnya, Suci terpaksa makan sepiring dua sendok bersama Nico.


"Rahma, gimana sih persiapan acaranya sampai kurang piring segala." Malik berkata dengan keras.


"Sudah perfect kok. Memangnya kenapa, Bang?" sahut Rahma tak kalah keras.


"Itu kasihan pengantin cuma kebagian piring satu."


Obrolan Malik dan Rahma tentu saja didengar oleh Nico dan Suci. Mereka faham sedang disindir oleh dua orang soulmate nya itu.


Pletak.


"Aduh" Malik mengaduh saat satu butir buah lengkeng tepat mengenai samping kepalanya.


"Sirik lo!" ujar Nico melotot. Dialah pelaku yang melempar buah lengkeng.

__ADS_1


Suci dan Rahma hanya mentertawakan kelakuan dua orang pria itu.


Usai makan, seseorang datang menghampiri. "Maafkan aku telat datang, Suci. Selamat berbahagia dengan pernikahanmu." Nisa datang seorang diri dengan menyerahkan sebuah kado untuk Suci. Mereka berpelukan penuh persahabatan.


"Terima kasih Nisa untuk kedatangannya. Kamu datang dengan siapa?" ujar Suci dengan binar bahagia. Ia melihat Nisa jauh lebih segar daripada saat pertama dulu dia datang. Suci menyuruh Nisa duduk di sampingnya. Ada kursi kosong yang ditinggalkan Nico karena sedang masuk ke dalam rumah, bercengkrama dengan orangtuanya yang akan kembali ke Jakarta sore ini.


"Aku datang sendiri. Bang Rafa hanya titip salam. Harap maklum, dia butuh waktu untuk merelakan," sahut Nisa terkekeh pelan.


"Tapi kalian sudah tinggal serumah lagi kan?" selidik Suci. Ingin memastikan kalau misinya menyatukan mereka telah berhasil.


Niaa mengangguk pelan. "Iya Suci. Sekarang dia berubah tidak acuh lagi. Dia bilang akan belajar untuk mencintaiku."


"Syukurlah, aku turut senang. Kamu hanya harus punya stok kesabaran. InsyaAllah kehadiran anak akan menjadi pengikat kuat hubungan kalian." Suci tersenyum tulus memberikan dukungan kepada Nisa.


****


Sore hari suasana rumah tampak sepi. Orangtua Nico, Candra, juga Malik telah berangkat ke bandara. Karena esoknya pekerjaan kantor telah menanti dikejar deadline. Lain halnya Malik, ia punya tugas dari Nico untuk mengorek trackrecord bisnis Prasetya. Masa tenggang kurang dari sebulan harus segera dituntaskan.


Melihat Nico menghampirinya dari pantulan cermin, Suci tampak tersipu. Pria dengan dada bidang dan perut rata berotot itu tersenyum memandangnya. Ia berdiri di belakang Suci dengan tubuh sedikit basah karena air yang masih menetes dari rambutnya.


"Aku mau ke dapur dulu." Suci segera bangkit dari duduknya. Perasaannya mulai bergemuruh tak karuan mendapat tatapan intens pria bertelanjang dada yang kini berstatus suaminya.


Suci sudah mandi lebih dulu saat Nico masih mengobrol dengan Om Badru.


"Eits. Nanti dulu. Aku belum puas mengagumi kecantikanmu." Nico menarik lengan Suci yang akan berlari. Sehingga tubuhnya tertarik menjadi menempel dengan tubuh Nico.


Nico meletakkan kedua tangan Suci di pundak kokohnya. Sementara kedua tangan Nico merengkuh pinggang istrinya itu.


"Kenapa gemetar?" Nico terkekeh merasakan gemetaran saat tangan halus Suci menyentuh kulitnya.

__ADS_1


"Ahh lepas, mas Nico. Aku baru pertama disentuh laki-laki--" Antara gemetar, malu, grogi, dan desiran, berbaur jadi satu dirasakan Suci.


Nico menaikkan kedua alisnya. Ia tersenyum bahagia menjadi pria pertama yang menyentuh gadis itu. Menjadi hal yang langka di jaman sekarang ini wanita yang menjaga kehormatan diri dari pergaulan bebas.


"Jangan dulu pergi, cantik. Aku minta tolong dipakaikan baju. Ayo!" Ide menggoda Suci muncul. Ia minta diambilkan baju yang sudah disiapkan Suci di atas ranjang.


"Nih." Suci memberikan setelan baju santai tepat di depan dada Nico.


"Pakaikan dong!"


"Ya Allah, Mas. Kan bisa pakai sendiri." Suci geleng-geleng kepala melihat Nico yang jadi manja.


"Kan melayani suami itu ibadah. Masa baru aja nikah udah nolak--" Nico pura-pura memberenggut. Padahal dalam hatinya ingin tertawa lepas melihat wajah putih Suci yang sudah memerah seperti tomat.


"Iya. Tapi kan--- ah sudahlah, sini!" Suci merasa kalah nggak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia memakaikan kaos putih ke tubuh Nico. Sangat pas mencetak tubuh tegapnya.


"Ini ****** ******** pakai sendiri ya!" Suci menatap Nico yang terus senyum-senyum selama sedang dilayaninya.


Nico menggelengkan kepalanya. "Nggak mau. Harus tuntas semuanya!" Nico akan melepas belitan handuk di pinggangnya."


"Eh-eh jangan dibuka handuknya! Iya-iya aku pakaikan." Buru-buru Suci jongkok sambil menunduk tak berani menatap handuk Nico yamg sudah mengembang bagian depannya. Suci meminta Nico membuka kakinya tanpa melihat ke atas.


Nico menang banyak. Ia tersenyum lebar, sangat menikmati setiap sentuhan tangan halus Suci dari atas sampai bawah. Andaikan tidak tanggung waktu karena sebentar lagi magrib, ia ingin melakukan lebih.


"Sudah." Suci menarik nafas lega dan berdiri setelah memakaikan celana pendek selutut. Ia membuka belitan handuk setelah semua terpasang. Tampak buliran keringat di dahinya seolah sudah melakukan olahraga lari.


Nico akhirnya tak bisa menahan tawanya setelah sukses mengerjai istri cantiknya itu.


"Padahal cuma memakaikan baju, kenapa sampai berkeringat gini hmm." Masih ada sisa tawa dari bicaranya. Nico mengusap bulir keringat di dahi dan pelipis Suci dengan tatapan lembut.

__ADS_1


"Mas Nico niat banget sih ngerjain aku." Suci merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. Tanpa sadar hal itu menjadi umpan untuk Nico tak bisa lagi menahan dirinya. Serobotan ke bibir ranum itu langsung mengunci. Membuat Suci tak bisa bernafas untuk sesaat.


__ADS_2