
Rahma menuju meja kasir dimana Suci sedang menghitung total belanjaan pembeli.
"Terima kasih. Nanti kembali lagi ya dek." Suci tersenyum ramah kepada gadis remaja yang juga membalas senyumnya dan mengangguk. Diserahkannya kantong berisi cup red velvet dan rainbow cake.
"Mang Syarif belum jemput?" Rahma menarik kursi untuk duduk di dekatnya begitu Suci selesai melayani pembeli. Ia baru saja mengantar Malik yang pamit pulang, sampai ambang pintu toko.
"Sebentar lagi. Aku sengaja menyuruh jemput selepas magrib."
"Males pulang lagi?" Rahma menopang dagunya dengan bertumpu pada meja, menatap Suci yang tampak enggan beranjak.
"Ya, begitulah. Andaikan boleh, aku pengen tidur di sini aja sama kamu." Suci mengelus perutnya. "Mami Dewi jauh berbeda dengan Bunda," keluhnya.
"Mau sampai kapan Mami Dewi tinggal di rumah Bunda?"
"Entahlah. Semenjak suaminya meninggal, perusahaannya mengalami pailit karena keuangan perusahaan dipakai biaya pengobatan selama ini. Juga rumahnya udah disita Bank."
"Mami gak mau tinggal dengan Mas Sony. Ia bilang rumahnya terlalu kecil, jadi gak betah," lanjut Suci.
"Hmm, berarti bakalan tinggal dalam waktu tak terbatas," dugaan Rahma. "Kamu kenapa gak minta pindah rumah aja sama Bang Nico."
Suci terdiam sesaat, berpikir.
"Nggak deh." Suci menggelengkan kepala. "Mami baru 1 bulan tinggal di rumah. Kalau aku ngajak Mas Nico pindah, terlalu mencolok. Aku takut Mami tersinggung. Seolah gara-gara ada dia jadi pindah rumah. Ditambah Mas Nico punya hutang budi. Dulu pernah tinggal di Surabaya selama tiga tahun saat SMA."
"Ya, kalau itu keputusanmu. Asal jangan sampai kamu stres. Ingat, kamu lagi hamil!" Rahma mengacungkan telunjuknya, mengultimatum.
Suci membalasnya dengan membulatkan jempol dan telunjuknya. "Don't worry."
"Neng, mau pulang sekarang?" Mang Syarif tahu-tahu sudah berdiri di depan meja kasir tanpa terlihat masuknya saking antengnya mereka berbincang.
"Eh, iya mang. Saya siap-siap dulu."
Suci bergegas merapihkan buku pesanan yang terletak di meja, menyerahkannya kepada Rahma. Hanya dengan meraih tas di laci bawah, ia pun beranjak dari duduknya.
Salma sudah pulang sebelum magrib bersama Candra yang menjemputnya.
"Kamu beneran betah tidur di sini? Gak mau tinggal di rumah Bang Candra?" Suci melirik Rahma yang ikut mengantarnya sampai luar pintu.
"Betah lah. Kan ada Lia sama Yuni juga. Jadi ada teman ngobrol." Rahma berkata dengan meyakinkan.
"Okay, aku pulang ya!" Suci melambaikan tangannya meninggalkan ruko yang masih ada pembeli keluar masuk.
.
.
Suasana rumah serasa tidak bernyawa tanpa kehadiran penghuni aslinya. Nico sedang berada di Jepang. Ayah dan Bunda sudah dua hari pergi ke Bali menengok Naura yang sakit tipes dan dirawat di rumah sakit.
Di rumah hanya ada Suci dan Mami Dewi ditemani asisten rumah tangga.
Mami Dewi. Ah, kenapa aku merasa gak cocok dengannya.
Suci mendesah panjang.
"Sudah sampai Neng."
Suara Mang Syarif membuyarkan Suci dari lamunan.
"Makasih ya, Mang. Langsung istirahat aja, saya tidak akan keluar lagi," ujar Suci saat akan membuka pintu mobil.
"Baik, Neng."
__ADS_1
Suci membuka pintu rumah dengan mengucap salam. Tak ada sahutan. Mungkin Mami Dewi ada di kamarnya. Suci memilih langsung ke dapur membuat susu biar tidak perlu turun lagi jika sudah naik ke kamarnya.
"Neng, makan dulu. Nasi dan lauknya sudah bibi siapkan di meja." Bi Titi menghampiri Suci yang sudah selesai menyeduh susu bumil rasa coklat.
"Aku belum pengen makan bi, tadi sore udah di toko. Buat nanti tengah malam aja." Suci berjalan menuju ruang makan, menarik kursi untuk duduk. Tanpa memasang alarm, ia akan terbangun jam 1 malam karena perutnya lapar.
"Sini Bi, temani ngobrol dulu!" Suci mengajak Bi Titi ikut duduk. Ia meneguk susunya perlahan.
"Mami sudah makan belum, Bi?"
"Sudah Neng, tadi selepas magrib."
Suci hanya membulatkan bibirnya tanpa suara.
"Baru pulang?"
Suci dan Bi Titi sontak menoleh ke arah asal suara di belakang mereka.
"Eh, Mami. Iya, Mi." Suci memaksa untuk tersenyum saat Mami Dewi mendekat.
"Kenapa baru pulang?" Mami Dewi memilih duduk berhadapan dengan Suci. Ia menatap kepada Bi Titi sejenak. Asisten rumah tangga itu langsung mafhum. Ia beranjak pergi ke dapur.
"Aku tadi rekap pesanan dulu buat besok, Mam." Suci mengatakan alasan seadanya meski sebenarnya rekapan bisa juga dilakukan oleh Rahma. Namun agar dia punya alasan menjawab jika ditanya oleh Mami Dewi. Dan benar saja dugaannya.
"Memangnya nafkah dari Nico kurang? Sampai harus buka toko kue segala," ujar Mami Dewi sambil memicingkan mata. "Kenapa gak diam di rumah aja temenin Mami. Mami bosen sendiri di rumah," lanjutnya, dengan tangan menopang dagu di atas meja.
"Alhamdulillah, nafkah dari Mas Nico lebih dari cukup. Aku buka toko kue, karena Mas Nico mengijinkan juga untuk menyalurkan hobi. Mengerjakan sesuatu karena hobi itu sangat menyenangkan, Mami." Suci tersenyum lebar dengan semangat yang tergambar di netranya.
"Mami biasanya siang gak ada di rumah kan? sering jalan-jalan ke mall kan?"
Mami Dewi tampak gugup dengan gestur tangannya mengusap rambut yang baru di cat warna coklat. Memang benar, dirinya pun jarang ada di rumah. Senangnya shopping atau kumpul bareng ibu-ibu sosialita.
"Yaaa...emang sih," ujarnya sambil menegakkan duduknya. "Tapi sejak Devi ke Bali, Mami di rumah aja karena uang pemberian Devi sudah habis." Mami Dewi mulai memasang mimik sedih.
"Berapa, Mami?" Suci menatap Mami, menungggu jawabannya.
"Lima juta. Gak akan lama kok, nanti Mami kembalikan segera." Wajah yang tadinya dibuat sedih kini tampak semringah ketika Suci menganggukkan kepalanya.
Mami tersenyum lebar. Wajah sedihnya kini berubah ceria.
"Aku akan bilang dulu sama Mas Nico. Nanti jam 8 biasanya Mas Nico telepon aku. Kalau sudah ada ijin, aku akan transfer ke Mami."
Senyum lebar Mami Dewi berubah kerutan wajah karena memberengut.
"Gak usah bilang Nico lah. Mami pinjemnya juga sebentar, nanti diganti. Mami lagi nunggu transfer dari Sony " Mami Dewi masih memasang muka masam.
"Maaf Mami, uang yang aku punya pemberian suami. Jadi aku harus ijin dulu meski Mami pinjamnya sehari misalnya." Suci berkata dengan lembut meminta pengertian.
Mami Dewi memundurkan kursinya dengan kasar. Ia berlalu pergi dengan menggerutu yang masih terdengar oleh Suci. "Dasar menantu pelit."
Suci menggedikkan bahunya.
Tak apa diomelin Mami daripada berdosa sama suami.
****
Sudah jam 8 malam. Biasanya ponselnya akan berbunyi karena sang suami menghubungi via video call. Suci yang sudah segar usai membersihkan diri dengan mengenakan baju tidur seksi dan rambut tergerai, duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya mengetuk-ngetuk bantal, sesekali menengok ponsel yang tergeletak di sisi kirinya. Namun layarnya masih gelap.
Perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Tokyo menandakan di sana sudah jam 10 malam. Biasanya Nico selalu tepat menghubunginya setiap malam di jam yang sama.
Lima belas menit.
__ADS_1
Tiga puluh menit.
Detak jarum panjang jam dinding terus bergerak tanpa bisa dicegah. Namun yang ditunggu tak kunjung ada.
Suci menghembuskan nafas panjang.
"Sayang, Papa mungkin sedang sibuk jadi gak bisa telpon." Suci berkata lirih sambil mengusap perutnya. "Dengerin Mama mengaji aja ya nak."
Dug. Terasa tendangan dalam perutnya membuat Suci tersenyum lebar, bahagia. Si kecil dalam perut meresponnya.
Ia pun turun dari ranjang berganti pakaian untuk mulai mengaji mumpung masih punya wudhu usai sholat isya tadi.
Setiap diperdengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an, bayi dalam perutnya akan diam. Hanya terasa pergerakan halus sesekali, mungkin sebagai respon kenyamanan mendengar suara lembut mamanya mengaji.
Matanya spontan terbuka begitu merasa.dalam perutnya berbunyi menyeruak. Lapar.
Entah jam berapa suci tertidur. Karena usai mengaji, ia tak serta merta bisa terlelap karena kantuk tak kunjung datang. Hingga ia memilih berdzikir hingga tertidur dengan sendirinya.
Usai membasuh muka dan memakai jilbab instan, Suci turun menuju ruang makan. Ia mengernyit begitu menyalakan lampu, melihat makanan tertata tanpa penutup dan masih hangat saat diraba.
Kenapa Bi Titi repot-repot manasin segala, pikirnya.
Ia pun menarik kursi dan segera duduk. Wangi masakan sangat menggugah selera, membuatnya ingin segera menyendok dan menghabiskannya.
"Eh, siapa ini?" Suci terjengit saat tiba-tiba ada telapak tangan lebar menutup matanya.
Jantungnya berdebar kencang saat tangannya mencekal lengan kokoh untuk berontak melepaskan mata yang ditutup. Dan aroma parfum itu....
"Mas Nico?!!" pekiknya gak yakin. "Ah bukan. Eh bener ya?!" Suci kembali memberontak mencoba membuka telapak tangan yang kuat menutup matanya.
Cup.
Begitu matanya terbebas. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipinya.
Suci terpana dan berkaca-kaca menatap wajah tampan yang hampir seminggu tidak bisa disentuhnya, kini tengah berdiri setengah membungkuk mensejajari dirinya yang duduk. Jarak yang begitu dekat, dan pria itu tersenyum cerah kepadanya dengan kilatan kerinduan yang nyata di netranya.
"Aghhh, Papa Nico--- kamu udah bikin aku jantungan." Suci merajuk, menghambur memeluk Nico yang tergelak membalas pelukan sang istri.
"Kan surprise, cantik." Nico mengusap kepala yang berbalut hijab penuh perasaan. "I miss you and baby very much." Nico mengurai pelukannya dan mencium seluruh wajah istrinya itu. Di bagian bibir ranum yang sudah menjadi candu, ia mema gut lama dengan hot.
Nico berjongkok. Ia membisikkan kata rindu untuk buah hati dan mengusap-ngusap perut sang istri pelan-pelan.
"Hai, anak Papa. Gimana kabarnya, sayang?" Nico mengecup perut istrinya itu dan menempelkan telinganya.
"Baik, Papa. Aku sangat sehat. Mama selalu ngasih aku nutrisi yang baik tiap hari." Suci menjawab dengan menirukan suara anak-anak.
Nico terperangah bahagia begitu merasakan pergerakan di permukaaan perut sang istri.
"Dia merespon, sayang." Nico mendongak menatap Suci sambil tersenyum lebar.
"Baby kangen Papanya pengen ditengok." Suci mengedipkan sebelah matanya dengan tersenyum malu.
"Wow, ditinggal seminggu, kamu jadi agresif. Sungguh kejutan manis." Nico mencubit gemas hidung bangir sang istri yang kedua pipinya masih merona.
"Justru Mas Nico yang udah ngasih kejutan manis. Makasih, udah pulang cepat." Suci kembali memeluk suaminya dengan perasaan yang membuncah bahagia. Tentu saja Nico membalasnya memeluk lebih erat.
Suci mengambilkan nasi dan lauk untuk Nico yang tergiur melihatnya makan. Mereke fokus menghabiskan makanan di piring sebelum kemudian melanjutkan obrolan.
"Katanya mau pulang dua hari lagi. Aku sampai puluhan kali lho lihat hp nunggu vidcall darimu, Mas." Ujar Suci usai meminum air putih penutup makannya.
"Alhamdulillah aku dimudahkan bisa bertemu cepat dengan Ceo Mr. Akiyama. Harusnya aku dijadwalkan meeting besok tapi Allah takdirkan bisa bertemu lebih awal karena aku punya tugas yang lebih penting."
__ADS_1
"Tugas apa?" Suci mengernyit penasaran.
"Besok jadwal menemani ibu negara cek kandungan. Itu tugas yang lebih penting." Jawab Nico kalem sambil memandangi Suci yang tersipu.