
Sekumpulan lima pria dewasa duduk melingkari sebuah meja bulat di coffee shop. Mereka duduk santai menikmati akhir pekan di salah satu mall di wilayah Menteng. Lalu lalang pengunjung mall yang tampak ramai, tidak mengganggu keseruan kelimanya karena area caffe tersekat kaca bening.
Salah satu pria tampan yang ikut hangout itu adalah Candra, dan keempat pria lainnya adalah teman-temannya. Sendirian di rumah membuatnya suntuk. Sehingga dia menerima ajakan temannya untuk ngopi bareng. Lima gelas kopi berikut cemilan memenuhi meja di ruangan No smoking area itu. Obrolan santai dengan canda tawa mengalir begitu saja. Sampai tak terasa sudah 2 jam lamanya mereka menikmati siang sembari memainkan ponselnya masing-masing.
"Gue ke toilet dulu ya!" pamit Candra kepada kawan-kawannya yang hanya dijawab dengan anggukan.
Langkah tegap pria tampan bernama Candra yang mengenakan celana panjang jeans biru itu begitu percaya diri. Lengan berototnya tampak menyembul dari balik t-shirt hitam press body yang juga membungkus perut ratanya. Tatapan suka dan decakan kagum juga nampak dari kaum hawa yang melihat pria berhidung runcing khas keturunan arab itu lewat.
Gila! macho banget dah.
Aku mau banget jadi pacarnya.
Uwu...bagaimana sensasinya kalau dipeluk dia.
Beruntung ya, cewek yang jadi pasangannya.
Begitulah, diantaranya bisikan-bisikan para perempuan melihat sosok Candra yang cool. Ia berjalan acuh tanpa tebar pesona, menuju toilet yang berjarak sedikit jauh dari tempatnya nongkrong.
Usai dengan urusan kamar mandinya, Candra kembali melangkahkan kaki panjangnya untuk menuju coffe shop. Pandangannya yang lurus mengarah ke depan, menangkap sosok perempuan yang dikenalnya sedang berdiri di stand kacamata, mencoba-coba kacamata yang dipilihnya.
Candra mengulas senyum tipis. Dia tak jadi belok ke coffe shop, tapi berjalan menuju sosok perempuan anggun berambut hitam panjang yang indah.
"Nah, yang itu cocok." ujar Candra yang berdiri di samping berjarak 1 meter, memberi penilaian.
Sontak perempuan berkulit kuning langsat itu menolehkan wajahnya, merasa familiar dengan suara bas itu.
"Eh, Pak Candra! Wah, kok bisa ketemu di sini. Lagi jalan-jalan sama pacar ya Pak?"
Perempuan itu, Salma. Ia merasa kaget bisa tak sengaja bertemu bossnya di mall. Tambah terpana lagi, dengan tampilan casual yang membungkus tubuh atletisnya, yang nampak lebih muda dibanding saat memakai setelan formal.
"Aku lagi hangout sama teman-teman di sana" Candra menunjuk tempat ngopi yang menuju sore semakin ramai.
"Kalau kamu sama siapa?" Candra menatap Salma yang terlihat anggun dan modis denga setelan celana jeans biru dan atasan putih.
"Aku sendirian, cuma jalan-jalan aja. Di kosan jemu sendirian. Anak-anak pada mudik. Daripada bengong di kosan, jadinya cuci mata deh ke sini."
"Salma, tunggu sebentar ya di sini. Aku mau pamit dulu sama teman-teman. Nanti kita jalan-jalan bareng!"
__ADS_1
Salma yang baru membuaka mulutnya untuk membuat penolakan, tidak jadi berucap. Karena Candra keburu berlari sengan langkah lebar.
Ya Tuhan. Dia mau mengajakku jalan-jalan. Huft, Jantungku makin deg-degan.
Spontan, tangan Salma memegang dada kirinya, merasakan debarannya yang kencang.
"Ayo! bayar dulu kacamatanya." Candra yang baru tiba kembali, mengambil kacamata yang tadi di coba Salma. Memberikannya kepada pelayan untuk di nota.
"Eh, Pak Candra, jangan! Aku tidak bermaksud beli kok. Cuma iseng mencobanya saja." Salma panik. Ia tidak mungkin membayar kacamata hitam yang akan menguras saldo tabungannya. Bisa-bisa sampai akhir bulan hanya makan mie instan.
"Tenang aja, aku yang bayar kok. Kamu akan membutuhkan itu saat kita kerja di lapangan. Modelnya juga cocok dengan wajah kamu. Terlihat makin cantik." Ujar Candra sambil tersenyum tipis.
Salma menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang terbit di kedua pipinya. Pujian sang boss membuatnya salah tingkah.
"Please, Salma. Jangan panggil aku 'Pak'. Ini diluar kerja, Sal. Panggil Abang aja, sama seperti Suci. Okay?"
Candra melakukan protes. Ia merasa tak nyaman dengan panggilan formal yang diucapka Salma.
"Baiklah, pak eh Abang." Salma menganggukkan kepalanya, Mengulas senyum tipis meski lidahnya merasa kaku mengucapkannya.
"Anak pintar." Candra menaikkan kedua alisnya sambil mengacungkan jempol.
Meja di sisi dinding kaca yang lebar menjadi pilihan tempat duduk Candra dan Salma. Lalu lalang jalan raya dan padatnya area parkir tampak jelas dari lantai atas tempatnya duduk.
"Salma, kenapa kamu gak mudik?" Sambil menunggu waiters mengantarkan pesanan dua paket steak, Candra membuka topik pembicaraan.
"Aku malas pulang, Bang. Orangtua selalu menanyakan kapan mau nikah. Kalau gak punya calon lakinya, orangtuaku akan menjodohkan dengan anak pak haji, orang terkaya di kampungku." Salma mencebikkan bibirnya. Dirinya paling malas menerima telpon dari bapaknya karena sering ditanya soal pacarnya mana.
"Memangnya kamu belum punya pacar?" Candra menatap tajam manik mata coklat yang duduk berhadapan dengannya.
Salma menggelengkan kepalanya. "Aku gak punya pacar. Tapi ada pria yang aku taksir sejak lama. Sayangnya orangnya gak peka." Dengan santai dan tenang, Salma sedikit membuka rasa terpendamnya.
"Berarti dia itu pria bodoh. Masa iya gadis cantik dan baik sepertimu tidak diliriknya."
Andainya kamu tau, pria bodoh itu kamu, Bang.
Salma terkekeh dengan pikirannya sendiri. "Bukan dia yang bodoh. Tapi aku yang ketinggian bermimpi. Dia pria yang tidak mudah untuk dijangkau, hatinya sulit untuk disentuh." Bela Salma.
__ADS_1
"Tetap saja. Menurutku, hanya pria bodoh yang mau mengabaikanmu." Candra keukeuh dengan pendapatnya. Membuat Salma hanya mengangkat bahu.
Benar kan, dia emang gak peka. Berarti dia gak punya rasa sedikitpun padaku.
Complainnya hanya mampu disuarakan di dalam hati.
"Sudah ya, jangan membahas itu lagi. Sekarang kita nikmati hari libur dengan happy." Candra mengajak Salma menikmati steak yang baru saja diantar waiters.
.
.
.
Usai melaksanakan sholat Asar, Candra mengajak Salma untuk menonton bioskop. Salma tidak menolaknya. Baginya kesempatan dekat dengan kekasih impiannya ini belum tentu datang dua kali. Biarlah tidak memiliki orangnya, namun memiliki kenangannya.
"Sal, pilih kursinya paling atas ya! posisinya bebas. Sekalian beli cemilannya juga. Aku terima telepon dulu." Candra memberikan dompetnya ke tangan Salma. Ia berlalu menuju kursi tunggu karena ponselnya terus berdering.
Bang, tolong jangan bersikap seperti ini. Aku jadi merasa seolah istrimu. Diserahin dompet suami. Hiks
Dengan tangan sedikit gemetar, Salma membuka dompet kulit berwarna hitam itu. Matanya tidak siap untuk menerima kenyataan jika di dalamnya ada foto wanita.
Salma mengambil dua lembar uang bergambar Soekarno Hatta untuk membayar tiket dan membeli cemilan. Ia tidak berani memeriksa isinya, sangat idak sopan, pikirnya. Hanya sekilas ia melihat deretan kartu dan lembaran uang yang entah berapa jumlahnya. Tampak juga sebuah foto dua orang dalam usia remaja sedang tersenyum. Salma bisa menebaknya, itu foto Candra dan Suci.
Candra dan Salma duduk bersisian di kursi tunggu sambil memainkan ponsel. Menanti pengumuman pintu teater dibuka. Sekali-kali Candra mencomot pop corn yang dipegang Salma. Sungguh, orang-orang yang mencuri pandang memperhatikan interaksi keduanya, mengira jika dua insan itu adalah pasangan kekasih atau suami istri.
.
.
.
Pukul sembilan kurang lima belas menit, mobil yang dikendarai Candra tiba di depan gerbang kos kosan khusus wanita. Mereka puas dan terhibur usai menonton film action produk Hollywood itu.
"Bang Candra, terima kasih untuk hari ini, juga untuk semua traktirannya. I'm so happy." ujar Salma tersenyum tulus usai membuka safety belt nya. Ia tetap membuat jarak, tidak lepas kontrol dalam becanda. Bagaimanapun Candra adalah bossnya.
"Sama-sama. Met istirahat ya!" Candra turut membalas dengan senyuman tipis.
__ADS_1
Salma masih berdiri di depan gerbang, meski mobil Candra sudah tak terlihat dalam pandangan.
Ini malam minggu, sang gadis mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap langit gelap bertaburkan kerlap kerlip bintang. Wajahnya semringah, tak meyangka bisa menikmati kebersamaan, yang biasanya hadir dalam angan dan harapan. Momen hari ini akan dicurahkannya di diary bersampul biru miliknya.