MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Extra Part 1


__ADS_3

Nico menyemangati baby Manda yang bergerak merangkak untuk menjangkau mainan. Ia mundur lebih jauh dengan memegang boneka lebah warna kuning strip hitam berharap sang anak mau mengejarnya. Bayi gempal itu menjerit-jerit riang saat mampu menjangkau mainan yang dipegang sang ayah.


"Anak Papa pinter...." Nico menciumi perut bayi montok itu dengan gemas sampai si kecil tergelak nyaring karena kegelian.


Pulang kerja adalah masa menguapnya lelah karena ada Amanda Molek, buah hati penyejuk jiwa, pelengkap kebahagiaan keluarga kecilnya.


"Papa, ada telepon." Suci datang dari arah kamar menyerahkan ponsel yang masih berdering.


"Siapa, Ma?" Nico masih menciumi kaki gempal baby Manda yang sedang tiduran sambil meremas bonekanya.


"Dari mbak Nita. Yaaah....mati." Suci menyerahkan ponsel yang sudah dua kali berdering ulang. "Call back, Pa. Siapa tau penting."


Nico menjauhkan diri, berdiri di balkon lantai dua sambil menikmati semilir angin malam. Kakaknya terdengar bicara serius usai saling bertanya kabar.


"Ada yang mau melamarku..."


"Menurutmu gimana..."


Ucapan sang kakak di sebrang sana terdengar hati-hati. Membuatnya mengulas senyum. Sungguh kabar baik.


"Oh ya?!"


"Kalau dia sayang sama Naura juga, aku dukung, mbak."


"Justru awal bertemu, dia udah jatuh hati sama Naura. Sekarang ini Naura sama anaknya udah deket banget."


Nico menautkan kedua alisnya. "Dia duda? Anaknya berapa?"


"Duda anak 1, laki-laki. Umur anaknya baru 1,5 tahun. Istrinya meninggal saat melahirkan."


"Owh."


Nico mengangguk mengerti. Ia beralih duduk di kursi yang tersedia di balkon.


"Apa Naura keliatan happy, mbak?" Ia perlu tahu lebih banyak sebelum memutuskan mendukung atau tidaknya.


"Very happy. Anak cowok itu namanya Alif. Saat ada di Jakarta, Naura akan menghabiskan waktu bermain sama Alif."


"Pernah nginap semalam di rumah."


"Gak sama bapaknya. Sama pengasuhnya aja."


Nico hampir saja terkaget begitu mendengar pernah menginap. Untung Anita segera menyambung ucapannya.


"Memangnya dia orang mana?"


"Medan."


"Tapi dia punya toko jewelry di dua mall Jakarta."


Nico mendengar sang kakak menghembuskan nafas panjang.


"Kenapa? Apa mbak ragu?"


Hening sesaat. Nico tetap setia menunggu sang kakak melanjutkan curhatnya.


"Dia seusia kamu. Menurutmu terima...atau jangan... Tapi dia pria baik dan santun. Selalu menangkup tangan jika bersalaman."

__ADS_1


Nico menangkap nada bicara Anita seolah meminta dukungan bukan penolakan.


"Kalau bisa bikin mbak dan Naura bahagia, aku akan dukung."


"Tapi tunggu! Aku ingin kenalan dulu."


Dan obrolan panjang hampir 1 jam lamanya itu berakhir dengan meminta Nico dan Suci untuk datang ke Jakarta. Karena tamunya Anita akan datang menemui Ayah Bunda sabtu esok.


Ia menuju kamar begitu melihat ruang keluarga kosong tidak ada siapa-siapa.


"Sstt, pelan-pelan." Suci menempelkan telunjuk ke bibirnya saat suaminya itu menaiki ranjang untuk bergabung. Ia tengah menidurkan baby Manda sambil melantunkan sholawat.


Begitu Amanda terlelap dengan pulas, Nico mengajak Suci berpindah ke sofa. Membiarkan si kecil tidur di ranjang, tidak dipindahkan ke dalam box.


Nico menceritakan hasil pembicaraan tadi bersama Anita, kakaknya. Tanpa ada yang dikurangi. Semua diceritakan sampai tuntas.


Nico merebahkan kepalanya di pangkuan Suci. Menselonjorkan kakinya sampah menyentuh ujung sofa. "Sayang, apa kamu masih takut ke rumah Bunda?"


Sejak peristiwa saat itu, Suci belum pernah lagi menginjak rumah besar kediaman Ayah Hendro. Ia merasa trauma. Dan sekarang sudah hampir 7 bulan berlalu.


Suci memejamkan mata saat kilasan peristiwa kelam itu akan membayang. Ia sekuat mungkin melawan, ingin mengalahkan rasa takutnya. "Bismillah....insyaAllah, aku udah gak takut lagi, Mas."


Nico meraih tangan Suci yang tengah mengusap rambutnya. Mengecupnya dengan penuh perasaan.


"Jadi besok kita ke Jakarta ya?"


Suci mengangguk setuju.


****


Nyatanya, Nico harus berangkat seorang diri. Pagi saat bangun tidur, Baby Manda tiba-tiba badannya hangat dan rewel. Ia awalnya urung untuk berangkat karena merasa tidak tenang melihat putri cantiknya sakit. Namun Suci menenangkannya. Baby Manda masuk angin, dan ia bisa menanganinya. Hanya saja tidak jadi ikut ke Jakarta. Padahal sejak semalam udah packing baju, siap berangkat.


"Sampaikan salam untuk Ayah Bunda dan mbak Nita ya, Mas." Suci mengantar Nico sampai halaman dimana mobil sedang dipanaskan.


"Iya, sayang. Aku pergi dulu ya!" Nico mencium kening Suci sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, mas. Jangan lupa berdo'a!"


Nico mengacungkan jempolnya sebelum tancap gas.


Sore hari ia sudah sampai di halaman rumah orangtuanya, disambut Naura yang meneriakinya dengan girang dari teras. Ada mobil lain terparkir, dan ia tidak mengenalnya.


"Hore...Om Nico datang." Naura menghampiri dan mencium tangannya. Lalu keponakannya itu melongokkan kepalanya ke dalam mobil seolah mencari sesuatu.


"Om, tante Suci sama Manda gak ikut?"


Nico mengeluarkan tas kecil dari jok belakang dan segera mengunci mobilnya. "Manda sakit...jadi gak bisa ikut deh. Lain kali ya..." Ia mengusap kepala Naura sambil mengajaknya masuk.


"Eh, ini siapa? Imut sekali...." Nico mendekati anak kecil yang berdiri di teras tengah memperhatikan interaksinya dengan Naura.


"Eh, Naura lupa hihihi...."


"Maafin kakak ya... dedek alif dicuekkin...".Naura mencium pipi gembul anak tampan itu penuh sayang.


Dan itu tak luput dari perhatian Nico yang memasang senyum ramah agar bocah lelaki itu tidak takut kepadanya. Oh jadi ini anaknya, Nico membatin.


Naura bahkan memperkenalkan Alif sebagai adiknya dengan ekspresi riang.

__ADS_1


"Assalamualaikum---" Nico memasuki ruang tamu dimana ada keluarganya tengah berkumpul menghadapi tamu yang duduk di single sofa.


Semuanya menjawab salam serempak. Pandangannya beradu dengan sang tamu, usai ia menyalami Ayah dan Bunda serta Anita.


"Rafa?!"


"Nico?!"


Tanpa dikomando, kompak keduanya saling memanggil dengan ekspresi terkejut.


****


Rafa


Nico mengajaknya bicara empat mata. Dan di sinilah kini ia dan Nico duduk saling berhadapan, di taman belakang. Keduanya saling diam, belum ada yang memulai bicara. Saat di ruang tamu tadi, raut heran pun tampak di wajah Anita dan orangtuanya.


"Kalian saling kenal?" Ayah Hendro bertanya penuh rasa penasaran.


"Iya, yah. Rafa teman aku dan Suci." Nico menjawab singkat sebelum mengajaknya berpindah lokasi duduk.


"Sejak kapan kenal dengan mbak Anita?" Nico mulai buka suara dengan tatapan yang sulit ditebak maksudnya.


Ia pun menceritakan apa adanya, awal pertemuan di Bali sampai dengan kedekatannya saat ini.


"Aku bahkan gak tau jika Anita adalah kakakmu."


"Jadi kamu jangan cemas. Niat aku melamar Anita tulus tanpa modus. Kami akan hidup bersama saling mengisi kekurangan." Ia dengan yakin mengucapkannya di depan Nico.


Karena secara pribadi, Anita sudah mau menerima pinangannya. Namun Anita ingin mendapat restu dari orang tua dan adiknya sebelum melangkah ke tahap berikutnya.


Ia ingin meyakinkan hati Nico. Bahwa masa lalunya dengan Suci sudah berakhir dan tak berbekas sejak ia menerima kehadiran Nisa, ibunya Alif.


"Hati yang membawa cinta, tidak tahu kemana akan berlabuh."


"Aku sama sekali tidak menyangka, takdir akan membawaku ke rumah ini."


"Apa kau mau merestui kami?" Ia terus-menerus bicara karena Nico lebih banyak diam sebagai pendengar. Dan dengan gentleman, ia meminta restu.


"Kamu harus berjanji akan membahagiakan Mbak Nita dan Naura. Jangan malah membuatnya menangis!" Nico menatapnya tajam.


"Langit dan bumi sebagai saksinya. InsyaAllah." Ia berucap mantap dengan jari telunjuk diangkat ke atas.


****


Nico


Esoknya ia sudah kembali ke Bandung dan tiba jam 4 sore di rumah. Dengan membawa oleh-oleh dari Bunda untuk Suci dan si kecil.


"Bagaimana, Mas?" Suci sudah tak sabar ingin mendengar ceritanya. Sucu duduk di sisinya usai menyimpan segelas kopi hitam untuknya.


"Sayang...." Ia berdehem sejenak. "Kamu akan kaget jika tau siapa orang yang melamar mbak Anita." ujarnya.


Suci mengernyit.


"Memangnya siapa?"


"RAFA." Ia berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik sang istri. Ingin melihat bagaimana ekspresi Suci saat nama mantan kekasih disebutnya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2