MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Saatnya Memikirkan Diri Sendiri


__ADS_3

Rere mencegat Suci yang melintas membawa nampan berisi segelas kopi hitam untuk Nico.


"Eits tunggu dulu Nyonya Nico. Gue masih excited dengan kabar pernikahanmu. Yang gue bilang waktu itu ternyata beneran ya. Lo cuti untuk dikawinin. Ishh beneran gue happy lo jadian sama Pak Nico." Rere mengepalkan kedua tangannya di depan dada saking euforia. Saat briefing tadi, Rere yang teriak senang paling heboh diantara ketiga temannya.


"Nikah kali, Re. Bukan kawin." Suci tersenyum mesem melihat kelakuan Rere yang selalu berisik namun menyenangkan, pencetus tawa di saat kantuk melanda. Bikin suasana kerja di ruangan staf marketing menjadi hidup.


"Sorry-sorry. Iya nikah maksudnya. Ya sudah silakan lanjutkan bu boss. Kopi dengan taburan cinta sudah ditunggu sang suami. Uhuy!"


Rere meminggirkan badannya dan membungkuk, mempersilakan Suci lewat.


"Dasar kamu ya!" Suci hanya bisa memelototkan matanya. Inginnya menjitak kepala Rere yang terus menggodanya. Namun kedua tangannya sedang memegang nampan.


Tiba di ruangan, Suci menyimpan kopi di atas meja. Ia mengedarkan pandangan karena Nico tidak ada di kursinya. Tidak mungkin suaminya pergi ke luar tanpa bilang dulu. Mungkin lagi ke kamar mandi.


"Sayang, mau ke mana?"


Suci yang sudah melangkah sampai ambang pintu, menoleh. Benar dugaannya, Nico baru keluar dari lorong kamar mandi.


"Mau ke mejaku dong. Itu kopinya sudah aku taruh." Suci menunjuk ke arah meja kerja. Tempat dimana berada segelas kopi hitam less sugar dengan kepulan asap tipis.


"Kerjanya di ruanganku aja deh. Kan semua orang sudah tau status kita." Nico menarik tangan Suci untuk kembali masuk. Dengan kakinya, Nico menutupkan pintu. Karena kedua tangannya sibuk menahan sang istri dalam pelukannya.


"Mas, kita harus profesional bekerja pada posisinya. Kalau aku di dalam sini, yang ada bukannya efektif kerja tapi tangan Mas Nico yang efektif mengerjaiku." Suci memberengut setelah berhasil melepaskan diri dekapan Nico.


Satu kecupan mendarat di bibir yang sedang memberengut itu. Inginnya sih menciumnya dengan rakus, namun Nico takut tidak bisa menahan diri untuk menuntaskan hasrat.


"Aku pengen selalu dekat dengan istriku. Gimana dong?" Giliran Nico yang kini memberengut, memelas seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan.


"Issh pagi-pagi udah ngegombal. Udah ah, aku mau kembali ke meja." Suci mengecup sekilas pipi Nico. Setengah berlari ia menuju pintu, melambaikan tangannya sebelum menutup pintu kembali.


Nico tergelak sendiri sepeninggal Suci. Ia selalu ketagihan untuk menjaili dan menggoda istrinya. Melihat ekspresinya yang kesal, dengan bibir mengerucut, adalah hiburan menyenangkan untuknya.


****

__ADS_1


Jam bubar kantor, Suci melangkahkan kaki menuju lift untuk turun ke lantai 3. Ia memilih santai mendahulukan rekan-rekannya yang akan pulang. Saat suasana mulai lengang, barulah memasuki lift yang hanya diisi 5 orang. Tak butuh waktu lama, dirinya sudah tiba di lantai 3.


"Suci!" Salma yang berdiri di depan lift menunggu pintunya terbuka spontan berteriak. Ia memeluk Suci dengan riang, tidak jadi memasuki lift. Karena ingin berbincang dulu dengan pengantin baru yang telah memberikan kejutan tak disangka.


"Bener-bener gak nyangka ya kamu bikin surprise. Padahal kemarin kita duduk bareng di kantin. Kamu kalem-kalem aja." Salma mengguncang-guncang bahu Suci saking antusiasnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Suci hanya terkekeh. Ia belum dapat kesempatan bicara karena habis diberondong oleh Salma.


"Anyway, Selamat ya Suci. Semoga bahagia selalu dan langgeng sampai hanya maut yang memisahkan." Salma dengan tulus mendoakan Suci dengan kedua tangan saling berpegangan.


"Aamiin. Makasih Salma. Kamu juga ya, semoga harapanmu terwujud. Sister in law." Suci tersenyum menaik turunkan alisnya menatal Salma.


"Aku aminin juga deh. Tapi soal itu mah biar takdir yang bicara." Ujar Salma tampak lapang dada.


"Salut buat kamu." Suci mengacungkan jempolnya. "Oh ya Sal, aku mau ke ruangan abang dulu. Happy weekend ya!


"Ha ha-- weekend buat jomlo mah kurang bermakna. Paling mager aja, meluk guling."


****


Dua orang kakak beradik duduk santai di sofa bersisian. Candra duduk merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, melepas penat. Digulungnya lengan kemeja panjangnya sampai siku. Sebelumnya Suci sudah memberitahu Nico bahwa dirinya ingin bertemu dengan Bang Candra dan sudah janjian untuk bersua usai jam kantor.


Nico mengijinkannya, ditambah ia pun ada urusan menemui sang Ayah di ruang kerjanya.


"Abang, aku sekarang sudah bahagia. Abang tak perlu risau lagi memikirkan nasibku. Tanggung jawab abang sudah beralih ke Mas Nico. Saatnya aku menagih janji." Suci memiringkan badannya dengan tangan yang menopang kepala di sandaran sofa.


Candra menatap adiknya dengan heran, keningnya mengkerut. "Janji apa?"


"Abang sudah menunaikan amanah Abi sampai ke tahap akhir, yaitu menjadi wali nikah aku. Katanya Abang akan memikirkan diri sendiri setelah aku menikah. Katakan padaku, apakah Abang sudah punya calon?" Suci menatap tajam Candra yang tiba-tiba memalingkan muka. Namun Suci melihat sekilas ada senyum tipis di bibir abangnya itu. Selama ini Candra memang tertutup untuk urusan pribadi.


Candra menghela nafas, menatap kembali adik satu-satunya itu. "Baiklah adik bawel, aku akan jujur sekarang." Candra memencet hidung runcing adiknya dengan gemas. Ia menegakkan punggungnya sambil meraih botol air mineral dari atas meja.


"Ada gadis yang sedang menungguku, namanya Rachel. Dia gadis sunda yang cantik, lembut keibuan, aku menyukainya." Candra tersenyum lebar, matanya menerawang membayangkan wajah gadis yang namanya sudah terpatri di hatinya.

__ADS_1


"Kalau gak salah, Salma juga orang sunda ya?"


"Iya betul. Kalau Salma orang Malangbong Garut, kalau Rachel orang Tasik. Jalannya sejalur ke arah Tasik. Eh, kenapa jadi bahas Salma." Candra mengoreksi perkataannya sendiri.


Suci mengulas senyum tipis mendengar penuturan Candra. Ah, gagal deh mau mendekatkan Abang dengan Salma, Suci membatin.


"Terus kapan Abang akan memperkenalkannya padaku? Sebelum resepsi aku ingin bertemu dulu, bisa ya, Bang?!"


"InsyaAllah Sabtu depan Abang akan ke Tasik, menemui keluarganya. Dia akan Abang bawa di resepsimu nanti." Senyum optimis tersirat di wajah Candra. Ia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Menemui sang pujaan hati, lalu memperkenalkan kepada Umi dan Suci, selanjutnya melamar.


Maafkan aku Salma, tadinya aku pengen membantumu. Tapi ternyata Abang sudah punya pilihan sendiri.


Suci berdiri di depan pintu lift sambil melamun. Harapannya untuk iparan dengan Salma seoertinya harus pupus.


"Sudah melamunnya?" seorang pria yang berdiri sendirì di dalam lift menegurnya. Tangannya menahan pintu lift agar tetap terbuka.


"Eh, Mas Nico, kok ada di sini?" Suci terperanjat, sadar dari lamunannya.


"Tadinya mau menyusulmu. Kamu mikirin apa, sayang?" di dalam lift yang baru tertutup pintunya, Nico merengkuh bahu sang istri.


Ting


Lift terbuka di lantai 4 sebelum Suci menjawab pertanyaan Nico.


Mereka keluar, menuju ruangan Nico karena tas di simpan di sana. "Nanti aja ya aku ceritakan di rumah. Kita pulang sekarang?" Suci sedikit mendongak menatap Nico yang tak melepaskan tangan merengkuhnya.


"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Nico balik bertanya menawarkan pilihan.


"Pulang aja deh. Kita jalan-jalan besok ya sampai puas, kan libur." Suci menatap dengan memelas agar keinginannya dikabulkan.


"Siap, cantik. Tapi jatahku malam ini gak boleh libur ya! Biar besok kuat menyetir."


"Tuh kan. MODUS !"

__ADS_1


__ADS_2