MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Rencana Pindah


__ADS_3

Malik


Ia melangkah keluar dari lift sambil membuka dua kancing atas kemejanya. Gerah dan lelah. Itulah yang dirasakannya malam ini setelah ikut menyaksikan peristiwa tak terduga siang tadi. Dan ia baru bisa pulang dari rumah Ayah Hendro selepas magrib.


Nyes.


Hatinya serasa disiram air es, dingin menyejukkan, begitu masuk apartemennya disambut senyuman manis sang istri, Rahma.


Sejak menikah, Rahma pulang dari ruko setiap jam 5 sore. Ada karyawan yang sudah bisa dipercaya dan menginap di ruko. Biasanya ia yang menjemput sang istri karena searah pulang dari kantor. Namun tadi ia mengabari akan pulang telat dan menyuruh pulang duluan.


"Lembur ya?" Rahma mengambil alih tas kerjanya usai mencium tangannya.


Ia menggeleng.


"Aku di kantor setengah hari." Ia menghempaskan tubuhnya di sofa sambil membuka seluruh kancing kemeja dan melepasnya. Tersiaa kaos dalam berwarna putih yang dikenakannya.


"Terus ke mana?" Rahma menatapnya penasaran sambil memberikan segelas air putih.


Dan ia pun menceritakan kronologis yang terjadi di rumah Ayah Hendro siang tadi.


"Ya Allah, Suci....." Rahma menutup mulut dengan kedua tangan sepanjang ia menceritakan kejadian tadi. Kaget dan menggeleng tak percaya.


"Besok aku mau nengok Suci ya, Bang?"


Ia mengangguk.


"Aku udah siapin makan malam. Mau sekarang?" Rahma mengambil kemejanya yang tergeletak di pinggir sofa dan memandangnya.


"Mandi dulu ah. Biar seger."


Sejak menikah, ia menjadi betah berada di apartemennya. Selalu ingin cepat pulang usai bekerja. Padahal dulu, kalau belum jam 11 malam, ia masih di luar sekadar hangout atau klubing dengan teman-temannya.


Tapi sejak memiliki istri yang begitu dicintainya , kebalikannya. Home sweet home / baiti jannati (Rumahku Surgaku). Ia betah dan nyaman tinggal di rumah.


Pagi pun tiba. Ia tak hanya mengantarkan Rahma ke rumah Umi tapi juga akan mengambil flashdisk karena Nico mengabari tidak akan masuk ke kantor.


Ia menahan lengan Rahma sebelum membuka pintu mobil. "Sayang, jangan menampakkan wajah iba di depan Suci."


Rahma mengerutkan keningnya, heran. "Kenapa, Bang?"


"Nico bilang Suci masih trauma. Tidurnya semalam gelisah dan mimpi dikejar si Jimmy. Jadi jangan bahas lagi soal kejadian kemarin. Biar gak merasa ketakutan terus, sebaiknya kasih motivasi dengan wajah ceria."


Rahma mengangguk faham.


Ia tidak bisa lama-lama. Usai berbincang sebentar dengan Nico, ia pun bergegas pergi dengan membawa flashdisk karena harus menyelesaikan laporan untuk bahan rapat nanti siang.


Ponselnya berbunyi saat ia sedang fokus menyelesaikan ketikan di laptopnya. Ia melirik sebentar hanya untuk melihat nama yang tertera di layar. Anak buahnya.


"Ada apa?" Tanyanya tanpa basa basi.


"Boss, ibu boss datang ke toko."


"Dengan siapa?" Ia menegakkan punggungnya begitu mendengar kabar yang membuatnya harus waspada.


"Berdua sama perempuan muda. Cantik dan modis kayak model, boss."


"Awasi aja! Istri saya belum datang ke toko."

__ADS_1


Ia mengakhiri teleponnya dan langsung mengakses cctv toko via smartphone nya.


"Mama...kenapa harus memaksakan kehendak. Tak akan mempan." Lirihnya.


10 menit lagi waktunya meeting dengan Ayah Hendro. Ia menggeleng untuk melepaskan urusan pribadi yang tiba-tiba hadir memenuhi kepala.


****


Bunda Devi


Usai sidang keluarga semalam ia tak serta merta bisa tidur. Dua anaknya sedang mendapatkan masalah yang saling berkaitan satu sama lain. Anita kena batunya karena keukeuh mempertahankan pilihannya. Tapi sekarang bukan saatnya memojokkan kesalahan. Anak sulungnya itu butuh dukungan karena sedang terpuruk.


Pagi ini ia merasakan aura rumah yang berbeda, terasa sepi dan hampa. Tentu saja. Karena 3 orang penghuninya pergi meninggalkan rumah. Nico, Suci, dan Amanda. Ia mengurut pelipisnya.


"Bunda kalau sakit di rumah aja. Jangan antar Anita ke bandara, cukup sama sopir aja." Ayah Hendro menatapnya saat ketahuan sedang mengurut pelipis. Suaminya itu sudah siap pergi ke kantor.


"Bunda tidak sakit, Yah. Lagi memikirkan anak-anak..." Ia menghembuskan nafas perlahan.


"Bunda antar Anita ke bandara terus nengok Suci," lapornya.


Ayah mengangguk.


Ruang keluarga menjadi tempat perpisahan Ayah dan Anita. "Ayah udah telepon pengacara untuk mengurus perceraianmu. Kamu hanya perlu tanda tangan saja. Kejadian kemarin bisa jadi bukti mempercepat ketok palu."


"Maafkan aku, Ayah." Anita menunduk lesu di depan Ayah Hendro.


"Sudah. Sekarang saatnya kamu bahagia tanpa sandiwara. Ada Naura, ada Ayah dan Bunda yang tulus menyayangimu." Ayah memeluk Anita dan mengusap rambutnya dengan penuh rasa sayang.


Ia pun terharu melihat interaksi keduanya itu.


"Nggak papa, Yah." Anita mengusap sudut matanya yang berair karena haru.


"Opa, ada yang cemberut terus nih." Ia mencolek sikut Ayah agar melihat cucunya yang meberengut.


"Cucu Opa yang cantik kenapa hmm?" Ayah duduk di sisi Naura dan mengusap rambutnya yang dikuncir dua.


"Naura gak mau pulang..." Dan gadis kecil itu menggosok matanya yang berair dengan lengannya.


Ia ikut duduk di sisi kanan Naura dan mengusap punggung cucu pertamanya itu.


"Dengar Opa, sayang....Naura ke Bali hanya sebentar. Di sana paling sekolah satu minggu lalu Naura pamit ke Ibu guru mau pindah sekolah di Jakarta."


"Benar, Opa?" mata Naura langsung berbinar.


Ayah Hendro mengangguk sambil mengulas senyum sehingga Naura memeluknya dengan memekik senang.


"Yah---" Anita menatap Ayah dengan menautkan kedua alisnya.


"Iya Nita. Tempat pulangmu adalah rumah ini bukan yang di Bali. Kamu urus perpindahan sekolah Naura. Bisnis hotel bisa kamu urus dari sini, tunjuk manajer yang bisa dipercaya untuk standby di sana!" Tegas Ayah.


Anita beralih menatapnya seolah meminta pertimbangan.


"Bunda setuju dengan keputusan Ayah."


Ia melepas kepergian anak dan cucunya di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta dengan pelukan hangat dan nasehat penyemangat. Tak biasanya ia mengantar sampai bandara. Namun kali ini situasinya lain. Anita seorang perempuan. Meski tampak tegar di luar, ia yakin hatinya rapuh. Butuh perhatian dan dukungan.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


Ia masuk ke rumah Umi diiringi sang sopir yang membawa dua kantong besar buah tangan untuk seisi rumah.


Umi menyambutnya dengan menjawab salam dan keduanya berpelukan hangat, saling bertanya kabar.


"Suci, Nico....ada Bunda." Teriak Umi ke arah kamar yang pintunya terbuka.


"Kami di sini..." Nico yang menjawab dari arah teras belakang dan bergegas masuk dengan merangkum bahu Suci.


"Eh, kirain pada di kamar," sahut Umi.


"Suci..." Ia memeluk menantunya itu dengan erat. Mengusap-ngusap punggungnya tanpa kata karena lidahnya kelu untuk bicara. Hanya gestur yang mengatakan kalau ia begitu menyayangi menantunya itu.


"Maafin Bunda ya....jangan benci sama Bunda...sama Ayah..." Ia mengurai pelukannya untuk mencium kening sang menantu dengan mata berkaca.


Suci menggeleng.


"Bunda jangan bicara seperti itu. Aku tidak benci sama Ayah dan Bunda...."


"Syukurlah..." Ia menggenggam tangan Suci dengan helaan nafas lega.


"Keadaanmu sekarang gimana, nak? Mau ke psikiater agar nggak trauma? Bunda akan anter." Ia menatap lurus, penuh perhatian.


"Tidak usah, Bun. Aku sudah lebih baik, ada mas Nico yang membuatku tenang." Suci melirik Nico yang kembali merangkum bahunya.


"Ijin ya, Bun. Untuk sementara Mas Nico kerja dari rumah mungkin sampai besok."


"Santai aja. Kalau perlu liburan aja dulu. Biar suasana baru. Ya? Tawarnya menatap silih berganti Suci dan Nico.


"Mau, sayang?" Giliran Nico yang menatap minta pendapat Suci.


Suci menggeleng. "Manda masih kecil, Bun. Aku di sini aja udah tenang."


Suara rengekan Amanda terdengar dari arah kamar.


"Ah, cucuku bangun ya...." Ia lebih dulu beranjak memasuki kamar. Rindu mendengar tangisan cucu keduanya itu.


Ia membawa sang cucu ke ruang keluarga dan Nico mengekorinya.


"Bun, aku minta ijin mau pindah rumah."


"Kejadian kemarin masih membekas di benak Suci."


"Dia gak mau kembali ke sana. Trauma."


"Aku harap Bunda mengerti."


"Kejadian kemarin ada hikmahnya. Memang sudah waktunya aku hidup mandiri dengan keluarga kecilku, Bun."


"Aku investasi properti sejak lama. Masa dijualin terus untuk orang lain. Aku mau pakai satu untuk keluarga kecilku."


Ia yang tengah menimang baby Manda, berhenti sejenak menatap Nico yang menjelaskan panjang lebar. Sementara Suci berada di dapur membantu Umi menyiapkan makan siang.


"Pindah ke mana?" Meski tak rela, ia harus legowo dengan keputusan anaknya.


"Bandung."


****

__ADS_1


__ADS_2