
Umi dan Candra menyambut kedatangan Nico dan orangtuanya. Bagi Umi, ini pertemuan pertamanya dengan Bunda Devi dan Ayah Hendro. Dengan sopan, Nico memperkenalkan mereka kepada Umi. Umi dan Bunda Devi saling berpelukan penuh kehangatan.
"Terima kasih bu Devi dan Pak Hendro sudi datang ke gubuk kami. Mohon maaf penyambutannya hanya sekadarnya saja." Dengan ramah, Umi mempersilakan tamunya untuk duduk.
"Bu Afifah bisa aja, saya senang sekali bisa berkunjung kemari. Pas turun dari mobil tadi langsung disuguhi pemandangan alam yang hijau, seger sekali," sahut Bunda Devi benar-benar merasa terkesan.
Obrolan santai para orangtua terus berlangsung. Lain dengan Nico, pandangannya mengedar mencari sosok pujaan hati yang belum juga muncul. Ia tidak mengindahkan apa yang menjadi topik pembicaraan, kalau boleh ingin sekali dirinya menerobos ke dalam untuk menemui sang kekasih.
"Ehm. Umi, ada yang gak sabar pengen ketemu Suci tuh." Ucapan Candra kepada uminya membuat semuanya menatap ke arah Nico yang fokus melihat ke arah dalam.
Nico tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian dua keluarga. Tepukan di bahu yang dilakukan Bunda, membuat Nico menoleh. "Lihat apaan sih?" Bunda menggodanya, membuat Nico tersenyum mesem sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal. Sontak kelakuannya itu membuat semua orang terkekeh.
Yang ditunggu Nico akhirnya datang. Suci membawa nampan berisi minuman teh hangat untuk semuanya. Dengan tersenyum manis, Suci menyalami calon mertuanya itu. Ia ikut duduk di samping Umi yang langsung berhadap-hadapan dengan Nico yang sedang memandangnya. Tatapan lembut pria dihadapannya itu membuat jantung Suci bertalu-talu.
Hal yang sama pun dirasakan Nico. Senyum manis sang gadis membuatnya merasakan level jatuh cintanya semakin naik. Ugh, kurang dari 24 jam lagi aku baru bisa menyentuhnya. Batin Nico.
Pembicaraan santai pun terhenti dan berubah senyap saat ayah Hendro mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
"Bu Afifah, Candra, yang saya hormati. Selaku orangtua Nico, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami datang hanya bertiga. Bermaksud untuk melamar sekaligus mengikat anak ibu yang bernama Sucita dalam ikatan pernikahan. Rencana ini sungguh mendadak dan tanpa persiapan. Rupanya ada masalah kecil yang harus diselesaikan oleh anak-anak kita. Jadi terpaksa harus menikah diam-diam. Kakaknya saja tidak diberitahu. Nggak kebayang nanti ngomelnya seperti apa," Ayah Hendro mulai menyampaikan hal serius. Ya, Anita kakaknya Nico yang ada di Bali sengaja tidak diberitahu dari awal. Rencananya, nanti setelah menikah baru akan dikabari.
Umi dan Candra mengangguk faham. Semua hal tidak ada yang ditutup-tutupi, Nico sudah memberitahu kedua keluarga inti.
"Nah, sekarang saya nanya kepada Suci. Beneran mau menikah dengan Nico? Saya mau dengar langsung dari orangnya. Takutnya Nico cuma ngaku-ngaku, karena dia yang kelihatan ngebet sama adiknya Candra ini--" ujar Ayah Hendro.
Pertanyaan sedikit candaan yang dilontarkan Ayah Hendro membuat Suci tersipu. Lain halnya dengan Nico, ia nampak geleng-geleng kepala mendengar ayahnya buka kartu dirinya di depan keluarga Suci.
Malik dan Rahma yang ikut menyaksikan acara lamaran dadakan itu pun ikut terkekeh pelan.
__ADS_1
"InsyaAllah, saya bersedia, pak?" Jawab Suci dengan seulas senyum. Wajahnya tampak merona merah karena malu menjadi bahan candaan calon mertua.
"Ayah, nak. Panggil saya Ayah, karena kamu akan segera menjadi anak mantuku." Ayah meralat ucapan calon menantunya itu.
"Iya, Ayah," jawab Suci.
Bunda Devi meminta Suci untuk pindah duduk di sisi kanannya. Nico menggeser duduknya, memberi ruang untuk Suci. Sehingga kini Bunda duduk di tengah mengapit Suci dan Nico. Bunda mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari dalam tasnya. Sebuah cincin emas putih dengan taburan berlian di tengahnya tampak berkilatan saat Bunda Devi membukanya.
"Suci, walaupun besok kalian menikah, tetep simbolis lamaran harus ada." Bunda meraih tangan halus nan lentik calon menantunya itu. Ia menyematkan cincin di jari manis Suci. Kilau berlian berpadu kulit putih pemiliknya, membuat Nico terpukau menatapnya. Sungguh menambah aura kecantikan sang gadis.
Suci tampak kaget, karena sebelumnya Nico tidak membicarakan akan ada lamaran dulu. Ini menjadi kejutan yang membahagiakan sekaligus mengharukan untuk Suci. Ia langsung memeluk Bunda Devi, mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Selesai makan siang bersama, Bunda pamit kepada Umi untuk pulang ke hotel. Nico meminta Bunda untuk tinggal sebentar lagi saja, dia masih ingin bersama dengan Suci. "Besok juga bakal seatap. Kita pulang sekarang. Bunda mau membeli kotak untuk seserahan besok." Bisik Bunda sambil menyentil telinga anaknya yang sudah tak sabar itu.
Mau nggak mau Nico pun menurut untuk kembali ke hotel bersama orangtuanya.
Minggu pagi yang cerah. Langit tampak biru berpadu awan putih, menambah keindahan pesona alam ciptaan Yang Maha Kuasa.
Di sebuah rumah bercat putih bergaya minimalis, dua orang pria tampan duduk berhadapan di ruang tengah yang luas dengan gelaran karpet. Sebuah meja kecil beralaskan taplak putih menjadi penyekat keduanya. Dua orang petugas dari KUA telah siap membimbing untuk ijab kabul.
Candra, sang kakak yang akan menjadi wali, mengulurkan tangan kanannya dan disambut jabat tangan yang erat oleh Nico. Calon mempelai pria yang tampil gagah memakai kemeja putih berbalut setelan jas hitam itu tampak tenang dan percaya diri.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau kepada adik saya yang bernama Cut Sucita Yasmin Al Katiri binti Ahmad Al Katiri dengan mas kawin 250 gram logam mulia dan seperangkat alat sholat dibayar TUNAI." Ucap ijab keluar dari mulut Candra.
Dalam satu tarikan nafas, Nico pun mengucapkan kabul dengan lantang. "Saya terima nikah dan kawinnya Cut Sucita Yasmin Al Katiri binti Ahmad Al Katiri dengan mas kawin tersebut di bayar TUNAI."
Kata SAH terucap dari saksi dan hadirin yang hadir. Nico pun menghembuskan nafas lega. Doa terlantun dengan khidmat dibacakan oleh seorang ustadz, sebagai penutup acara ijab kabul.
__ADS_1
Saatnya menanti mempelai wanita hadir. Nico berdiri, mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar yang terbuka. Pandangannya terkunci hanya pada sosok gadis yang tersenyum, berjalan perlahan ke arahnya didampingi Rahma. Dia, gadis yang setiap harinya selalu terlihat cantik, kali ini menjelma seperti bidadari surga yang dikirim Tuhan untuk seorang Nico Malviano. Seorang pria patah hati yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar cinta yang salah. Dan kini indah pada waktunya.
Sucita, dengan make up sederhana, dalam balutan gaun pengantin putih berpotongan lurus dengan full beads tampil sangat cantik, simpel dan anggun. Hijab satin putih dipadu long laces veil yang cantik, membuatnya semakin menawan dan mangling.
Keduanya saling bersitatap dengan senyum yang terkembang, dengan mimik wajah menyiratkan kebahagiaan. Jangan ditanya lagi soal kondisi jantung, degupannya semakin kencang seperti genderang mau perang, saat Suci dan Nico saling berhadapan. Dipegangnya puncak kepala Suci yang kini telah resmi menjadi istrinya. Doa lirih terucap dari bibir Nico. "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltaha 'alaih. Wa 'audzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
.
.
...Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan dari kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya....
...………...
...Bersambung...
Akoh rehat dulu dari update mamas Nico. Mau rilis dulu SANG PENGASUH ss2.
Cieee pada penasaran MP ya 😉
Sok atuh LiKE n VOTE nya.
.
.
.
__ADS_1
Tapi tetep akoh mau rehat dulu 😄😄😄