MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Cinta Kan Menemukan Jalannya


__ADS_3

Kehidupan modern masa kini, yang ditunjang teknologi yang terus berinovasi, membuat hari berganti hari, berjalan dengan cepat. Libur akhir pekan sabtu dan minggu serasa cepat berlalu. Kini tiba waktunya menyambut hari senin, kembali ke rutinitas kerja.


Salma mematut diri di depan cermin besar yang menggantung di kamar kosnya. Ini hari pertama dirinya bekerja dengan penampilan baru, berhijab.


Bismillah, saatnya bekerja!


Salma memotivasi diri untuk semangat menyambut hari. Sarapan setangkup roti dan segelas susu jahe sudah tandas. Ia kini duduk di ruang tunggu dekat pos security sambil ber say hallo dengan sesama teman kosan yang akan berangkat beraktifitas. Ada yang berangkat kerja juga ada yang akan berangkat kuliah.


"Hey lo pangling pakai hijab. Makin cuantik--" Lala si tomboy merasa terkejut melihat penampilan Salma yang baru.


"Masa sih, La." Salma merapikan hijab segi empat cream polos yang dikenakannya. Berpadu dengan blazer dan celana kulot warna moka.


"Cakep, Salma. Gue curiga lo bakal segera kawin ya?" Todong Lala yang sama-sama menunggu jemputan bang ojol.


"Issh apa hubungannya...tapi gue aminin deh. Biar ucapan lo jadi doa." Keduanya tertawa kompak, menceriakan suasana pagi yang mulai cerah dengan sinar mentari yang hangat menyapa.


Ojol datang bersamaan menjemput keduanya. Salma dan Lala berpisah karena bekerja di kantor yang berbeda.


Candra tiba di lantai tiga kantor bersamaan dengan Salma yang mulai berjalan menuju mejanya. Ia memperhatikan sekretarisnya itu dari belakang dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Pagi Pak Candra--" Salma menoleh saat indra pembaunya menghirup aroma parfum yang dikenalnya. Senyum manis dan ramah terkembang lebar dengan sikap profesional kerja yang diembannya.


Serrrr


Ada yang berdesir halus di dada Candra saat menatap Salma yang tersenyum manis menyapanya. Padahal itu senyuman biasa yang tiap hari Salma lakukan saat menyambut kedatangannya. Dan ia menanggapi biasa-biasa sebagai sapaan formalitas kerja. Tapi kali ini ada yang beda, tidak hanya mata yang menatap, tapi juga hati ikut memandang. Sehingga dadanya kini merasakan desiran halus saat mata beradu pandang dengan sang sekretaris yang berhijap anggun.


"Pagi, Salma. Semangat dengan tampilan barunya!" Candra mengacungkan jempolnya lalu berjalan menuju pintu ruangannya.


Setumpuk berkas diantar ke mejanya oleh salah seorang staf. Sambil menunggu komputernya hidup, ia bergegas ke pantry membuatkan teh hijau untuk sang boss yang rutin menjadi tugasnya setiap pagi. Meski OB siap membantu, namun Salma lebih suka menyeduh dengan tangannya sendiri.


Siang hari, keduanya makan siang bersama di kantin perusahaan. Sebenarnya, ini kebersamaan yang biasa dilakukan. Namun kali ini hati Candra merasa hangat mendapat pelayanan sekretarisnya itu yang menyiapkan makan dan minum untuknya.


"Pak, aku udah siapkan semua berkas untuk dibawa besok ke pabrik Rancaekek." Salma mulai membuka pembicaraan santai usai makan siang keduanya tandas. Besok bossnya itu ada jadwal bertugas di pabrik kedua di Rancaekek Bandung selama tiga hari.


"Good. Selama aku gak ada, tolong handle di sini dengan baik ua, Sal. Proposal dari pabrik Bekasi tahan dulu, aku harus pelajari sebelum sampai ke Pak Hendro. Beliau akan acc jika ada rekomendasi dari aku."

__ADS_1


Salma menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas perintah bossnya itu.


"By the way, jumat libur panjang, kamu mau mudik?" Candra mengalihkan pembicaraan dari pembahasan pekerjaan.


"Kayaknya nggak deh. Kalau mudik, pertanyaannya gak jauh-jauh dari soal mana calon." Jawab Salma dengan malas.


"Yakin gak mau pulang? Siapa tahu pas pulang, sama Bapak disediain calon suami yang datang melamar." Candra tersenyum tipis, menggoda sekretarisnya yang hanya mencebik menanggapi gurauannya.


****


Pembicaraan di kantin menjadi obrolan terakhir Salma dengan Candra. Karena esoknya Candra tak lagi masuk kantor karena mengemban tugas memantau mobilitas pabrik kedua.


Candra maupun Salma, tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Komunikasi yang terjalin hanya seputar ranah pekerjaan, tidak menanyakann hal-hal pribadi.


Ini adalah hari ketiga mereka berada di tempat yang berbeda. Lain pemikiran Candra, lain pula pemikiran Salma. Candra total dan fokus mengevaluasi kinerja pabrik Rancaekek agar segera kelar tugasnya. Karena malam tadi, jawaban sholat istikharoh yang dinantinya telah tergambar jelas lewat mimpi dan juga timbul pada kemantapan hati.


Namun berbeda dengan Salma, tiga hari tanpa kehadiran Candra di ruangannya, membuat hatinya hampa. Saat ini Salma terpaku di depan meja kerja sang boss, menatap kursi kebesaran yang kosong tanpa pemiliknya. Bukan hanya ruang kerja yang kosong tanpa sosok gagah sang pangeran impian, namun ruang hatinya pun ikut kosong ditambah beban rindu ingin menatap sosok si ganteng killer yang menjadi pujaannya.


Besok mulai libur panjang, makin panjang pula hari tanpa melihat sosoknya.


Salma membuang nafas berat. Diusapnya sandaran kursi seolah mengusap bahu sang boss, membayangkan dia sedang duduk dengan serius menatap laptop. Wajah serius yang menambah kharisma dan ketampanan. Wajah itu kini ia rindukan.


Salma menutup pintu ruangan Candra usai merapihkan berkas yang ia simpan di atas meja.


Libur telah tiba.


Tanggal merah yang selalu disambut gembira setiap orang, tidak berlaku untuk Salma. Baginya yang berstatus jomlo, lebih baik bekerja daripada libur.


Salma baru selesai maskeran saat pintu kosan diketuk. Ia buru-buru menyambar jilbab instan yang tergantung di kapstok.


"Bapak?!?" Salma terkaget, begitu membuka pintu melihat sosok bapaknya berdiri.


"Bapak kok ke sini gak bilang-bilang--" Salma menyalami bapaknya dengan kepala penuh tanda tanya dan teka teki. Tumben-tumbenan bapaknya mau mengunjunginya. Ini kali kedua sang ayah menengoknya selama dua tahun kerja di Jakarta.


"Salma, sekarang kamu pake kerudung? Anak Bapak meni geulis pisan (cantik sekali)--" Bapak Dedi bukannya menjawab pertanyaan Salma, namun malah memuji anak bungsunya itu dengan benar bahagia.

__ADS_1


"Iya, belum lama kok baru lima hari. Bapak belum jawab ih, Bapak ke sini sengaja atau lagi ada acara di Jakarta?" Salma sudah tak sabar ingin tahu.


Bapak Dedi duduk di kursi single yang ada di kamar anaknya itu. Ia bisa masuk ke dalam kosan usai memperlihatkan KTP kepada security dan memperkenalkan diri sebagai bapaknya Salma.


"Salma, Bapak sengaja datang ke sini buat menjemput kamu pulang. Soalnya kemarin kamu bilang gak akan pulang, makanya Bapak jemput aja. Pengen ngumpul sama kamu di rumah mumpung libur lama."


"Lho, biasanya juga kalau gak mudik ga masalah. Kenapa sekarang harus menjemput. Ada apa, Pak?" Salma yang duduk di tepi springbed tanpa ranjang, menatap curiga. Ia merasa ada hal serius yang dibawa bapaknya itu.


Bapak Dedi duduk tenang dan terkekeh menatap sang anak yang mengkerutkan keningnya.


"Salma, ada pria yang akan melamarmu besok. Sudah waktunya kamu menikah nak. Umurmu udah 26 tahun, sudah cukup matang untuk menikah. Kita pulang sekarang ya!"


Salma serasa disambar petir di siang hari mendengar ucapan bapak.


"Bapak ulah heureuy (jangan becanda)!"


Namun mendapat gelengan kepala dari bapaknya itu.


"Bapak kok memutuskan sendiri. Kenapa gak tanya aku dulu. Gimana kalau aku gak suka orang itu." Salma cemberut menyampaikan protesnya. Inginnya marah, namun ditahan. Ia berhadapan dengan orang tua yang harus dihormati dan tidak boleh dibentaknya meski orang tua dalam posisi salah, begitu kata ustad yang ia dengar.


Bapak berpindah duduk ke samping Salma yang cemberut dengan wajah ditekuk.


"Soalnya kamu tiap ditanya mana kabogoh (pacar) selalu menjawab belum punya. Makanya pas kemarin ada tamu yang datang ke rumah untuk melamar, Bapak jawab mengizinkan. Kamu gak akan kecewa kok. Bapak akan selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya." Bapak Dedi mengusap kepala Salma yang kini menunduk.


Salma diam membisu dengan mata menatap kosong ke arah kaca jendela mobil. Menatap bangunan dan pepohonan yang seolah bergerak karena laju mobil yang dikemudikan sopir yang merupakan tetangganya itu. Ia sama sekali mengacuhkan bapaknya yang duduk di jok sampingnya.


Ya Alloh, aku baru aja memulai hijrah. Kenapa langsung diberi ujian yang berat.


Salma tak lagi bisa membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. Air mata kini luruh tak terbendung membasahi kedua pipinya. Dadanya merasa sesak. Takdir mempermainkannya. Ia merasa penantiannya menjadi seorang Fatimah, sia-sia.


Bapak Dedi tersenyum tipis melirik anaknya yang terisak.


Hari kamu menangis sedih. Tapi besok kamu akan menangis bahagia.


Bapak mengusap kepala anak bungsunya itu dengan sayang, tanpa kata.

__ADS_1


Untuk story EMPAT SEKAWAN harap sabar menanti ya.


Aku mau selesaikan dulu season 1 novel ini. Cemungut untuk semuanya! 😍


__ADS_2