
"Mari, Nona Winda." Suci bangkit dari duduknya untuk mengantar Winda ke dalam, setelah sebelumnya menelpon Nico.
"Tidak usah diantar. Aku bisa sendiri." Winda menahan Suci yang akan melangkah menuju pintu ruangan Nico.
"Tapi Pak Nico sendiri yang memintaku untuk mengantar anda, nona. Mungkin anda dianggap tamu spesialnya sehingga harus dikawal ke dalam."
Winda pun mengalah. Bibirnya tersenyum, mungkin benar apa yang dikatakan sang sekretaris jika dirinya dianggap tamu spesial oleh Nico.
Suci membuka pintu ruangan bersamaan dengan Nico yang menatapnya dari kursi kebesarannya. Dengan tersenyum tipis dan mengerjapkan matanya. Suci memberikan kode kalau dirinya baik-baik saja.
"Mas Nico, aku kangen lho. Kemarin aku kesini, tapi Om Hendro bilang lagi ke luar kota." Winda mendekat ke arah kursi kebesaran Nico. Ekspektasinya dia ingin memperlihatkan kemesraan di depan Suci. Realitanya Nico buru-buru bangkit menghindarinya dengan pura-pura menjatuhkan pulpen ke kolong meja lalu keluar dari kursi untuk mengambilnya.
Winda tampak jengkel karena telah gagal. Ia memperhatikan wajahn Suci kalau-kalau menertawakannya. "Kenapa masih di sini? Kamu boleh keluar sekarang!" Winda berkata dengan ketus, mengusir Suci.
"Winda, Suci di sini sedang bekerja, jangan mengganggunya. Kita duduk saja di sofa!"
"Suci, data buat laporan sudah diketik kan? Pakai printer saya saja untuk ngeprintnya."
"Baik Pak Nico. Kebetulan printer di luar lagi trouble. Saya pindahkan dulu ke flashdisk." Suci keluar menuju mejanya untuk memindahkan file dari komputernya ke flashdisk.
"Kenapa sih sekretaris itu harus kerja di ruanganmu." Winda mencebikkan bibirnya. Harapannya untuk berduaan dengan Nico buyar sudah.
"Itu hal biasa kok, dia bolak balik ke ruanganku karena sedang bekerja. Aku kan sudah menemanimu duduk. Kalau kamu keberatan dengan kehadirannya, kamu boleh pulang." Nico menjawab dengan santai dengan bersedekap tangan menatap Winda.
"Eh, aku nggak keberatan kok. Asal Mas Nico menemani aku terus." Winda tersenyum manja menatap pria tampan yang dipujanya itu.
"Winda, tadi malam Papi kamu ada di rumah nggak? Tadinya aku mau datang, ada urusan bisnis yang ingin dibahas. Tapi mobilku mogok." Nico mulai melempar umpan untuk mengorek informasi.
"Papi nggak pulang. Dia lagi disibukkan untuk memenangkan tender impor bawang putih dari Kementan. Aku yakin, Papi akan memenangkannya. Dia selalu menang seperti tahun-tahun sebelumnya. Selama kenal dengan orang dalam, segala urusan selalu lancar." Winda tampak bersemangat menceritakan kehebatan sang ayah.
__ADS_1
Nico menatap jam ditangannya. lima menit lagi waktunya istirahat. "Ah, sudah waktunya makan siang ternyata. Mau makan siang denganku, Winda? Nanti kita lanjutkan ngobrolnya sambil makan."
"Tentu saja aku mau." Winda terlonjak girang mendapat tawaran yang baru pertama didapatnya. Biasanya dia yang selalu memelas mengajak Nico makan bersama.
"Mas Nico, aku ikut ke kamar mandi dulu ya."
Nico mengarahkan tangannya ke arah pintu berwarna coklat. "Masuk pintu itu, lalu belok kiri."
Setelah Winda memasuki pintu coklat itu, Nico menekan tombol pada handle hingga otomatis terkunci. Ia buru-buru mendekati Suci, mencium bibirnya sekilas.
"Cantik, aku mengajak Winda makan siang untuk mengorek informasi soal Pras. Jangan cemburu ya sayang," Nico memeluk Suci dari balik kursi. Mencium lama puncak kepalanya yang berbalut hijab.
"I'm okay, suamiku. Dia bukan levelku untuk dicemburui." Suci mengelus pipi Nico yang bersandar di bahunya, mengecupnya sekilas.
"Haduh, aku jadi pengen lebih, sayang." Nico berkata berat di telinga sang istri. Tangannya mulaii turun meremas dua gunung kembar yang padat. Nafasnya mulai memburu, hingga hembusan aroma mint menerpa pipi Suci.
"Eh, sudah-sudah. Dia keburu keluar lho." Suci menatap ke arah pintu coklat. Khawatir tiba-tiba Winda mengetok pintu karena terkunci.
Nico membalas dengan anggukan kepala. "Pakai kartu yang aku kasih ya. Aku juga akan makan di sana. Biar sekalian mengawasimu, jaga-jaga kalau si Bayu atau Rinto bersikap genit sama kamu." Nico mengedipkan matanya.
Suci hanya geleng-geleng kepala, melihat sikap protective suaminya itu.
****
Suci berjalan riang bersama 4 orang temannya memasuki restoran yang lokasinya di sebrang kantor. Cukup berjalan kaki sebentar untuk sampai ke sana.
Mereka memilih meja di pojok yang terbebas dari lalu lalang orang yang keluar masuk. Waiters menghampiri meja Suci dengan membawa daftar menu.
"Kalian bebas milih apa saja sesuka hati." Tawaran Suci membuat keempatnya heboh dan berisik. Membuat pengunjung lain menoleh sekilas ke arah meja Suci, termasuk Winda dan Nico yang duduk di meja paling tengah. Sengaja, agar Nico leluasa melirik sang istri.
__ADS_1
"Dasar ndeso. Makan di restoran disamain kaya di pasar." Winda menggerutu sambil memutar bola matanya. Ia merasa jengah dengan kehadiran lima orang karyawan Nico yang menurutnya kampungan.
"Sudahlah, biarkan saja mereka. Aku ingin lanjut mengobrol soal bisnis Papi kamu, siapa tahu kita bisa join." Nico berhasil mengambil alih situasi. Mood Winda kembali bagus mendengar Nico ingin join. Otak minimalisnya merespon sebagai suatu kesempatan dia akan makin dekat dengan Nico.
Denting sendok dan garpu beradu pelan di atas piring ceper dari arah meja Suci. Mereka makan sambil diselingi candaan yang membuat kelimanya terkikik.
"Gue kalau makan di sini tiap hari yang ada malah tekor, boro-boro bisa bayar cicilan motor." Rinto yang selesai lebih dulu, memberikan reviewnya. Soal rasa jelas enak, hanya soal harga yang membuatnya melotot.
"Sering-sering aja bu secan. Biar perbaikan gizi. Lihat nih kulit gue yang gosong, gara-gara sering ke lapangan terus." Bayu menunjukkan lengannya yang hitam.
"Enak di lo nggak enak di gue dong," sahut Suci terkekeh. Ia menyeruput jus strawberynya, lalu matanya bersirobok sekilas dengan pria di meja tengah yang tersenyum menatapnya.
"Hei kalian pada lihat nggak. Tuh suster ngesot lagi makan sama si boss di meja tengah. Ilfill deh gue lihat cewek songong kayak dia." Dina berkata sedikit berbisik memberi tahu teman-temannya.
"Herman gue sama si boss. Apa sih yang dilihatnya dari suster ngesot. Si boss kan tampan, mapan, baik pula. Pantesnya sih bersanding sama sekretarisnya," Rere ikut menimpali dengan menyikut lengan Suci.
"Bener. Gue setuju!" Temannya yang lain kompak mengamini.
Suci memutus pandangannya dari sang suami, saat telinganya mendengar celotehan teman-temannya itu. Ia menempelkan telunjuknya di depan bibir. "Sstt, jangan gibahin orang, dosa tau. Girl, ayo kita ke mushola dulu!"
"Aku lagi halangan. Sama Rere aja," sahut Dina.
Suci dan Rere berjalan ke arah mushola yang bersebelahan dengan toilet." Re, aku akan membuat drama . Apapun yang kamu lihat di toilet, kamu harus merekamnya, okay?"
Rere menganggukkan kepalanya meski belum faham dengan maksud Suci. Saat mau bertanya, ia keburu tercengang dengan drama pertama yang dilihatnya.
Suci berhenti di depan meja Nico dan Winda. "Maaf Pak Nico, ada saus tertinggal." Suci mengambil selembar tisu dari atas meja. Lalu tangan halusnya terulur ke bawah bibir Nico, mengelapnya dengan lembut dan hati-hati. Ujung jarinya pun ikut mengusap lembut bibir bawah Nico, sebagai sentuhan akhir.
"Nah, sudah bersih. Silakan dilanjut makannya Pak." Suci tersenyum manis menatap Nico yang tampak terkesima dan nadinya berdesir dengan perlakuan istrinya itu. Sentuhannya di bibir membuat Nico ingin menahan telunjuk lentik itu dan menggigitnya dengan gemas. Untung saja Nico masih bisa menahan diri. Suci berlalu dengan santai seolah tanpa beban.
__ADS_1
Di kursi sebrangnya, Winda mulai terpancing, ia tampak menggertakkan giginya menahan marah.
"Gila lo, Suci. Berani juga lo menantang suster ngesot. Gue baru faham sekarang, dia pasti bakal nyusulin kita kan?" Rere memekik pelan memuji keberanian Suci. Yang dipuji hanya membalas dengan senyum penuh arti.