
Muhasabah diri.
Itu yang dilakukan Candra sepanjang malam saat menginap di hotel. Rasa kantuk yang diharapkan hadir malah tidak datang. Ia memilih merenung, mengingat kembali bait kalimat yang terlantun dalam setiap doa yang dipanjatkan menyangkut permintaan pasangan hidup.
Ia baru menyadari, selama ini tidak pernah menyebut nama sang kekasih dalam doanya. Namun secara implisit, permohonannya kepada Allah meminta jodoh yang terbaik ia tujukan kepada Rachel. Karena dalam hati sangat yakin, Rachel lah jodoh terbaiknya. Ternyata harapan tidak sesuai dengan jawaban.
Candra baru bisa tertidur lelap usai shalat subuh dengan perasaan yang lebih ringan daripada kemarin. Ia berhasil berdamai dengan hatinya. Meski perih dan sedih masih ada. Manusiawi.
Suara perut yang menyeruwuk membuat Candra menggeliat. Ia memicingkan matanya mendapati cahaya matahari yang mengintip dari sela gorden jendela. Cahayanya menyentuh wajah.
"Astagfirullah-- jam 8." Candra memekik pelan dengan posisi terduduk di tepi ranjang. Ia segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan.
Berdiri di tepi jendela restoran usai sarapan pagi, Candra menghubungi Salma. Terdengar ucap salam suara wanita dari sebrang sana. Candra mengulas senyum tipis. Ah, kenapa aku jadi kangen dengan suara riangnya.
"Mau kembali ke Jakarta jam berapa, Sal? Kita bareng lagi. Aku check out jam 12."
"Aku mau berangkat abis ashar. Bang Candra silakan duluan aja. Biar aku mah naik bus." Jawaban di sebrang sana diiringi suara gaduh teriakan dan tepuk tangan anak-anak.
"Lagi di mana ini? Kok rame banget."
"Lagi mancing, Bang. Banyak penonton berisik dan gangguin nih, jadi umpanku gak nyangkut-nyangkut deh ah, ikannya ketakutan. Dasar bocah-bocah pikasebeleun (menyebalkan)."
Suara berdecak sebal dan menggerutu di sebrang sana malah membuat Candra terkekeh.
"Kita pulang bareng aja, Sal. Gak apa-apa sore juga. Berangkat bareng, pulang juga harus bareng. Aku ke rumahmu sekarang aja. Pengen ikutan mancing."
"Eh, tapi--"
"Aku jalan sekarang. Share loc ya!"
Tanpa menunggu jawaban dari Salma, Candra menutup panggilannya. Dengan semangat, ia segera menuju kamarnya memutuskan check out sekarang juga. Mendengar sedang memancing, Candra begitu antusias dan berbinar ingin ikut bergabung.
Mobil melaju cepat meninggalkan kota. Saat akan melewati rumah nuansa putih yang berdiri kokoh menghadap jalan raya, Candra memelankan laju mobilnya. Ia menoleh sesaat. Teringat kembali saat kemarin saling janji. Lebih tepatnya Rachel memaksanya berjanji untuk sama-sama bahagia.
Bismillah. Saatnya aku melangkah lagi.
Candra kembali memfokuskan pandangannya ke jalan. Pedal gas diinjaknya lebih dalam, menambah kecepatan agar segera sampai di rumah Salma. Butuh waktu 1 jam 15 menit, mobil berhenti di depan sebuah rumah asri bercat abu kombinasi putih, sesuai shareloc.
Salma berlari kecil menuju halaman rumah begitu melihat mobil yang dikenalnya terparkir di depan jalan. Ia mendorong pintu pagar besi sampai ujung. Candra yang akan turun membantunya menjadi urung karena pintu sudah terbuka lebar.
"Bang, mobilnya parkir di dalam aja biar aman." Salma berdiri diujung teras menunggu Candra selesai memarkirkan mobilnya di garasi terbuka.
"Akhirnya....mendarat juga di gubukku--" Salma tertawa pelan menyambut Candra yang turun dari mobil dengan tampilan santai, celana jeans selutut dan kaos putih.
"Bisa aja kamu--" Candra terkekeh mendengar istilah rumah yang diucapkan Salma.
"Silakan duduk, Bang. Aku panggilkan my parent dulu."
Candra mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu dengan dinding cat putih itu. Tampak tergantung kaligrafi besar bertuliskan ayat kursi juga lukisan bertemakan pemandangan gunung.
"Wah kedatangan tamu besar nih--" Bapak menyambut gembira kedatangan tamunya. Apalagi melihat penampilannya yang gagah dan tampan membuatnya kagum. Salma sudah menceritakan akan kedatangan tamu bossnya dan menyuruh bapaknya itu jangan bertanya aneh-aneh karena sang boss sudah punya calon istri.
Candra sontak berdiri menyalami kedua orangtua Salma.
"Saya Candra, rekan kerjanya Salma pak."
Demikian, Candra memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Saya Bapak Dedi dan ini Ibu Eni, kami orangtuanya si bungsu Salma." Bapak mempersilakan Candra untuk duduk lagi. Salma datang membawa nampan berisi minuman untuk disuguhkan.
"Nak Candra, bapak penasaran. Memangnya di kantor tidak ada pria yang suka sama Salma gitu? Padahal Salma cantik lho. Kenapa samlai hari ini masih jomlo dia--" lanjut bapak Dedi mengajak berbincang tamunya.
"Tuh-tuh nya Bapak mah, aku bilang apa tadi?! Udah bang jangan ditimpali--" Salma memelototkan matanya dengan bibir cemberut menatap ke arah bapaknya.
Candra terkekeh menyaksikan drama anak dan bapak saling protes.
"Tentu saja banyakmyang menyukai Salma, pak. Hanya Salma nya pemilih. Dia sudah naksir seseorang lho pak." Candra malah ikut mengompori hingga bapaknya antusias mendesak Salma untuk mengaku.
Iya. Seseorang itu kamu, Bang.
"Ah sudah. Kenapa jadi bahas aku. Bang Candra pengen mancing kan? ayo sekarang mumpung masih cerah cuaca." Salma mengalihkan pembicaraan yang membuatnya terpojok.
"Istirahat aja dulu, kan baru datang. Mangga, sambil dicicipi kuenya. Itu Salma yang buat." Ibunya Salma ikut menimpali. Dirinya dan bapak permisi meninggalkan ruang tamu karena sedang mengawasi panen padi yang sedang berlangsung di sawah miliknya di belakang rumah.
"Hm enak. Kamu pinter masak ternyata." Candra mengambil potongan kedua bolu ketan hitam yang harum dan masih hangat.
"Ah cuma bisa dikit." ujar Salma. Tapi jujur, dirinya merasa tersanjung hingga wajahnya tersipu malu.
"Bang Candra kalau mau mancing, bajunya diganti dulu jangan putih. Sayang kalau kena lumpur susah ngilangin nodanya."
"Bisa tolong ambilkan baju gantinya? Ada di jok tengah." Candra memberikan kunci mobilnya. Sementara ia melanjutkan mengambil potongan ke tiga, bolu yang ada di piring. Entah doyan entah lapar karena energinya terkuras usai berpikir semalaman.
.
.
.
"Ateu....mancing lagi???" Dua anak laki-laki kembar tampak berbinar mendekati Salma dan Candra yang akan bersiap memancing.
"Hadeuh...kalian kenapa ke sini lagi sih!" Salma berkacak pinggang memandangi dua keponakan yang hobi menjahilinya.
"Hei...kembar ya? Namanya siapa?" Candra memandang takjub bocah tampan kelas 4 SD yang nyaris tidak bisa dibedakan. Apalagi pakai bajunya juga sama.
"Mereka keponakan aku, Bang. Galang dan Gilang. Kalian, ayo salim dulu!"
Dua anak kembar itu menurut, mencium tangan Candra.
"Witwiw-- kabogoh ateu ya?!" Galang, dengan senyum menyeringai menggoda tantenya itu. Alhasil, Salma mencopot salah satu sendalnya, diayunkan kepada keponakan usilnya, seolah akan memukul. Dengan terbirit-birit duo kembar itu lari meninggalkan kolam menuju kakek neneknya di saung sawah.
Candra tergelak. Tawanya begitu lepas. Ia merasa terhibur dengan tingkah bocah yang menurut Salma menyebalkan itu.
Hanya dengan umpan cacing tanah, satu kali lemparan kail Candra langsung menyanggut.
"Yes. Strike!" Candra berseru girang saat mendapat tarikan kuat dari ikan yang didapatnya. Dengan pelan-pelan Candra menarik joran pancing agar ikan tidak lepas.
"Horeee dapat bawal." Salma bertepuk tangan saat ikan diangkat ke darat. Ikan bawal berukuran 1 kg berhasil didapat.
"Wow keren---" kompak Duo bocah. Mereka kembali menghampiri saat mendengar tantenya berteriak girang.
Pancingan selanjutnya, Candra berhasil berturut-turut mendapatkan ikan mas dan ikan nila sampai berjumlah 10 ikan. Pakan alami berupa dedaunan juga limbah makanan dapur, membuat ikan-ikan tampak besar-besar dan berdaging tebal. Tanpa ada pancuran mandi.
Duo kembar saling berbisik dan tersenyum jahat. Ia menghampiri tantenya yang sedang berdiri ditepi kolam, sedang fokus menyaksikan Candra yang melempar kembali pancingan.
Dengan isyarat jari menghitung sampai tiga tanpa suara, duo kembar mendorong bokong Salma.
__ADS_1
Byurrrr
"Arrghhh ibu---" Salma berteriak kaget karena tubuhnya oleng, tercebur ke kolam yang dalamnya sepaha orang dewasa.
Tawa cekikikan terdengar dari duo kembar yang meloncat-loncat kesenangan.
Candra yang kaget, melempar joran pancing begitu saja. Ia berjongkok mengulurkan tangannya membantu Salma naik. Keisengan si kembar belum usai. Mereka mendorong punggung Candra sampai ikut terjebur menimpa tubuh Salma yang hampir telentang karena terdorong. Spontan Candra menarik tubuh Salma ke dalam pelukannya dan mengusap-ngusap rambut panjangnya yang basah.
"Kamu gak apa-apa?" Candra menatap khawatir. Kedua pandangan saling beradu dan mengunci.
Deg.
Candra merasakan jantungnya berdegup kencang saat menatap kedua bola mata indah gadis yang masih berdiri rapat dengannya.
Suara tawa duo kembar dari atas kolam berhasil menyadarkan keduanya. Salma melepaskan diri dari pelukan Candra dengan perasaan gugup. Jantungnya bertalu dengan cepat.
"Hei awas ya kalian!!!" Perhatian Salma beralih kepada dua keponakannya yang masih cekikikan di atas. Dengan geram ia menyiramkan air dengan tangannya. Sebelum kena, anak-anak itu sudah berlari terbirit-birit.
"Maafin ya Bang, anak-anak nakal itu." Salma merasa tidak enak hati terhadap Candra karena kelakuan keponakannya itu.
"Gak apa-apa. Namanya juga anak-anak. Ada masanya mereka nakal. Nanti sudah dewasa akan menjadi kenangan."
Keduanya duduk ditepi kolam dengan pakaian yang basah kuyup. Mereka memutuskan pulang saat matahari mulai terik dan adzan Duhur berkumandang.
Sore hari, Candra pamit kepada orangtua Salma untuk kembali ke Jakarta. Pengalaman seru dan menyenangkan untuk Candra. Seharian ini diisi mulai dari menikmati bolu ketan sampai makan dengan ikan bakar plus nasi liwet komplit dan berbincang santai bersama keluarga Salma.
"Ateu...Om...aku minta maaf udah ceburin ke kolam." Galang dan Gilang menghampiri dengan wajah sendu diantar oleh Bundanya yang tak lain adalah kakak Salma. Mereka habis dimarahi sang bunda dan disuruh minta maaf.
Salma yang tadinya kesal menjadi terenyuh melihat wajah sendu dan menyesal dua keponakannya itu.
"Iya. Ateu maafin. Awas jangan diulang lagi ya!!"
Si kembar mengangguk dan tersenyum cerah. Kompak keduanya menengadahkan tangan dengan tawa cengengesan menatap tantenya.
"Tuh kan. Ujung-ujungnya minta jajan." Salma mendelik dengan bibir cemberut. Si kembar kembali ke mode menyebalkan. Membuat semua orang yang mengantar sampai teras, tertawa-tawa.
"Nih, dari Om aja." Candra segera mengeluarkan dua lembaran merah dari dompetnya. Si kembar berjingkrak senang sampai mencium tangan Candra berkali-kali.
Sepanjang jalan menuju Jakarta, wajah Candra tampak semringah. Saat kemarin mengalami sedih, hari ini mengalami bahagia. Sungguh suasana berbeda dan tak terduga.
Saat kemarin adalah masa lalu
Hari ini adalah kenyataan
Dan esok adalah harapan
**Jadi...
Beristigfarlah untuk masa lalu
Bersyukurlah untuk hari ini
Berdoalah untuk masa depan
...-------...
Follow my ig @me_niadar**
__ADS_1