
"Nitip toko ya Teh," Rahma menitip pesan sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.
"Tenang aja. Aku juga nitip, semoga Malik diterima," sahut Salma diiringi kekehan. Rahma tersenyum sambil membulatkan kedua jarinya.
"Umi berangkat dulu. Kalau bisa, jangan ada tugas ke luar kota selama Umi pergi. Kasihan Salma sendirian di rumah." Umi mewanti-wanti Candra saat anak sulungnya itu mencium tangannya disusul Salma melakukan hal yang sama.
"Iya, Umi. Nanti bisa diatur," sahut Candra menenangkan sang ibu.
Umi meminta ikut karena ingin menengok kampung halaman begitu mendengar Suci dan Rahma akan ke Aceh karena Malik akan datang lagi menemui ayahnya Rahma.
Candra dan Salma melambaikan tangan melepas kepergian Umi, Suci, dan Rahma. Tiga puluh menit yang lalu mobil yang dikemudikan mang Syarif datang mengantar Suci untuk menjemput Umi dan Rahma. Sejenak mereka berbincang santai sambil sarapan pagi.
Sementara Nico dan Malik akan menyusul besok pagi karena hari ini harus kerja lembur.
Candra merangkum bahu Salma untuk masuk ke dalam rumah. Masih terlalu pagi. Masih ada waktu 1 jam sebelum berangkat ke kantor.
"Abang, lepas dulu! Aku mau beresin piring kotor nih." Ruang gerak Salma yang sedang membereskan bekas sarapan di meja makan terasa sulit, karena Candra memeluknya dari belakang.
"Gak mau. Hmmm, cuaca dingin." Candra makin merekatkan pelukannya, membuat tubuh Salma terkurung tak bisa bergerak.
"Neng, masih ada waktu 1 jam nih." lanjut Candra berbisik dengan tangan yang mulai merayap naik.
"Terus?" Salma pura-pura tidak mengerti kode tangan suaminya yang tengah bergerilya itu.
"Fitnes yuk Neng."
"Ogah ah, nanti aja minggu," Salma menahan senyum saat Candra menggigit bahunya tanda gemas dengan jawabannya.
"Bukan fitnes itu. Nanti aja nyuci piring kotornya!" Candra menarik lengan Salma. Ia mengajaknya menuju anak tangga.
"Kita kan udah mandi, Bang." Salma merajuk dengan bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Gampang....kita mandi lagi." Candra menahan Suci di balik pintu usai menutupnya.
Pintu kamar menjadi sandaran untuk Salma menahan tubuhnya. Pagi yang dingin membangkitkan gairah keduanya untuk saling mema gut bibir dan bertukar saliva. Dengan satu kali ayunan, Candra mengangkat Salma dan membawanya ke atas ranjang.
Nafas keduanya masih terengah usai fitnes pagi yang menguras keringat. "Makasih, sayang--" Candra mengecup pipi sang istri sebagai bentuk penghargaan sudah melayaninya dengan baik.
Salma tersenyum dan melingkarkan tangannya di dada polos nan seksi sang suami. Bagian tubuh yang selalu membuat hatinya deg deg ser saat menatap dan menyentuh bulu halus yang memenuhi dada suaminya itu.
"Kita gak bisa tiduran santai, Neng. Mandi yuk!" ajak Candra sambil merapihkan rambut panjang Salma yang sebagiannya berantakan menutupi wajah cantiknya.
"Abang mandi duluan aja deh. Nanti aku ke tokonya pakai taksi online. Ngeringin rambutnya aja pasti lama."
"Ya udah. Abang duluan mandi." Candra bangkit membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ia kembali mengecup kening Salma dan membetulkan selimut sampai menutupi bahu sang istri yang polos.
Candra mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Salma. Setelan jas hitam dan kemeja putih tanpa dasi membungkus tubuh proporsionalnya. Dari balik cermin ia melihat pantulan Salma yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terbungkus handuk.
"Abang kenapa senyum-senyum?" Rupanya Salma menatap suaminya itu dari pantulan cermin juga.
Candra membalikkan badannya usai menyisir rambut setengah basahnya itu. Ia tersenyum menatap punggung Salma yang sedang memilih baju di lemari.
"Lihat kamu seger gitu, jadi pengen fitnes lagi." Candra mendekat. Ia benar-benar tak tahan ingin menyentuh kulit kuning langsat sang istri yang masih berbalut handuk. Alhasil, satu stempel tercipta di leher.
Salma membalikkan tubuhnya. Ia menjawil gemas hidung menjulang suaminya itu. "Mesum."
"Sana ah--tunggu di bawah! Aku gak akan kelar-kelar pakai baju." Salma mendorong tubuh Candra yang iseng menarik simpul handuk agar melorot.
Candra pun menurut. Ia keluar dari kamar usai membuat stempel kedua di bahu polos istrinya itu.
__ADS_1
Salma geleng-geleng kepala.
Awalnya ia terkaget. Di minggu pertama pernikahannya, ia baru menyadari perbedaan sikap Candra saat di kantor dan di rumah. Di kantor, Candra adalah sosok yang cool dan irit bicara. Tapi di rumah, ia adalah sosok suami yang hangat dan romantis. Membuat Salma semakin jatuh cinta padanya.
****
Banda Aceh
Malik
Sabtu siang selepas sholat duhur, ia datang ke rumah orangtua Rahma ditemani Nico.
Mereka berangkat dari Jakarta dengan penerbangan pagi dan tiba di rumah umi 1,5 jam yang lalu dan beristirahat sejenak.
"Aku nervous, bro." Ia mencekal lengan Nico sebelum mengetuk pintu rumah Om Badru.
"Itu wajar. Aku juga ngalamin dulu. Tapi nanti saat dites kamu harus bisa rileks. Anggap aja kamu lagi diplomasi sama klien untuk memenangkan tender."
"Ini beda, Bro," ia mendengus dan menyikut Nico yang malah mentertawakannya.
Jarak rumah Om Badru sangat dekat, berada di samping kanan rumah kakaknya, Umi Afifah. Suci sudah lebih dulu berada di sana bersama Rahma yang ingin ditemaninya.
"Apa kabar om, Uma?" ia dan Nico bergantian menyalami Om Badru dan Uma Saidah, orangtua Rahma.
"Alhamdulillah baik, nak Malik." Om Badru mewakili menjawab.
Mereka lanjut berbincang santai di ruang tamu yang cukup luas bernuansa cat putih. Hingga Rahma datang membawa baki minuman diikuti Suci yang membawa baki makanan, dihidangkan di atas meja.
Rahma dan Suci ikut duduk bergabung di kursi panjang yang masih kosong.
Malik berdehem untuk menekan rasa gugup yang kembali mencuat setelah Rahma bergabung. Ini artinya sudah waktunya ia menyampaikan maksudnya.
Om Badru mengusap jenggotnya sambil mengulas senyum. "Kamu sudah hafal, nak Malik?"
"Insyaa Allah, Om."
"Buktikan!"
Malik menoleh ke arah Rahma. Gadis yang ingin dipinangnya itu tersenyum dan menganggukan kepala.
Ia pun mendapat tepukan tangan Nico di bahunya, memberi motivasi. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan mata untuk memusatkan konsentrasinya.
Surat Al-A'la mengalun dari bibirnya dengan irama yang syahdu. Rahma sampai tertegun dan terkejut karena iramanya lebih bagus daripada saat Malik meminta mengoreksinya saat di toko. Ia benar-benar bekerja keras.
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۖ
bal tu`siruunal-hayaatad-dun-yaa
"Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia,"
(QS. Al-A'la 87: Ayat 16)
وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى ۗ
wal-aakhirotu khoiruw wa abqoo
"padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A'la 87: Ayat 17)
__ADS_1
اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُ وْلٰى ۙ
inna haazaa lafish-shuhufil-uulaa
"Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,"
(QS. Al-A'la 87: Ayat 18)
صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى
shuhufi ibroohiima wa muusaa
"(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
(QS. Al-A'la 87: Ayat 19)
Shodaqollohul adziim. (Maha benar Allah yang maha agung)
Malik mengusap wajahnya dan membuka mata usai menyelesaikan 19 ayat surat Al-A'la.
Ia mengedarkan pandangannya melihat orang-orang karena suasana hening. Ia melihat Uma Saidah menyeka sudut matanya, Rahma yang menunduk dengan Suci yang merangkul bahunya. Ia pun tidak bisa membaca raut wajah Om Badru yang diam dengan mengatupkan bibirnya. Terakhir ia melirik Nico. Sahabatnya itu mengacungkan dua jempolnya tanpa kata.
Suar azan asar terdengar.
"Jawabannya setelah sholat asar!" Om Badru bangkit dari duduknya dan mengajak Malik dan Nico mengikutinya ke masjid.
"Menurutmu aku lulus nggak?" ia menahan lengan Nico usai wudhu bersama, sebelum masuk ke dalam masjid yang berdiri kokoh hasil renovasi yang dibiayai oleh Nico.
"Aku sih yakin. Sudahlah jangan galau begitu, nanti sholatnya gak khusyu." Nico mentertawakan Malik yang tampak sekali gelisah.
****
Om Badru sudah duduk bersila sambil memegamg tasbih. Ia menoleh begitu dua pemuda yang ditunggunya sudah datang.
"Nak Malik, silakan maju!" Om Badru berdiri dan mengarahkan tangannya ke sajadah imam.
"Eh-- ma maju ke mana, Om?" wajah Malik mulai pias. Ia merasa sudah benar berdiri di shaf pertama, bersiap bersama makmum lainnya yang berkisar 10 orang.
"Maju menjadi imam!"
Deg.
Semua orang yang sudah bersiap berdiri rapat menoleh padanya. Membuat kaki Malik serasa tidak menapak saking kagetnya dan gemetar dengan intruksi om Badru.
Ya Allah. Aku ingin pingsan.
"Semangat, Bro. Ini ujian akhir. Kamu harus menaklukannya. Kamu pasti bisa!" Nico mendekatkan tubuhnya, berkata pelan memberi motivasi.
"Hajar, Bro. Sholat asar gak pakai suara. Kamu jangan takut salah. Masa kalah sama anak SMP," lanjut Nico membuat Malik ingin sekali menjitak kepalanya karena telah memprovokasi. Ia menjadi teringat saat menjadi makmum sholat magrib di sebuah mushola SPBU yang mana imamnya adalah anak SMP dengan bacaannya yang bagus.
Salah seorang maju mengumandangkan Iqomah tanda sholat berjamaah akan dimulai.
Huft. Bismillah....
Malik membenarkan peci yang dipakainya. Ia melangkah maju ke depan sajadah empuk yang tergelar dekat mimbar. Usai memeriksa kerapihan jamaah yang hanya 1 shaf itu, ia menghadap ke depan, membayangkan diri seolah sedang sholat di depan ka'bah. Begitu, kata ustad yang membimbingnya, salah satu cara agar sholat bisa khusyu.
Ia memulai takbiratul ihram.
Allahu Akbar
__ADS_1
Seumur hidup, untuk pertama kalinya, Malik menjadi imam sholat.