
Anita baru sampai di parkiran butik dan belum juga turun, tetapi ponselnya berdering. Ia mengernyit, jarang-jarang Malik menelponnya.
"Ha..."
"Mbak Nita, harus ke rumah serkarang!"
Belum juga selesai menyapa, Malik sudah cepat-cepat berbicara dari sebrang dengan nada serius.
"Ada apa?"
"Suamimu berbuat ulah. Cepetan ke rumah, mbak!"
Dan ia terhenyak. Begitu sampai rumah, keadaan di dalam sangatlah berantakan. Kursi yang terguling, meja yang terjungkal, vas bunga yang pecah berhamburan juga pecahan beling berserakan di ruang tengah dan dekat ruang makan.
"Apa yang terjadi?" Anita hanya menemukan Malik yang mengajaknya duduk di ruang keluarga.
Tangisnya tak bisa dibendung begitu mendengar penuturan Malik. Bukan menangisi keadaan suaminya yang wajahnya sudah tak berbentuk, tapi menangisi nasib rumah tangganya yang kemungkinan tidak bisa dilanjutkan. Apalagi semua keluarga kini sudah tahu keburukan suaminya itu. Cukup sampai di sini.
Jimmy dievakuasi ke kamar Surya dan mendapat pengobatan alakadarnya tampak meraung-raung menahan sakit. Anita menyuruh Surya membawa Jimmy ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensive. Meski benci dan muak, sisi manusiawinya tetap ada.
Reaksi Nico yang menyudutkannya membuatnya makin tersedu. Nico benar, ia tidak menurut ultimatum adiknya itu sejak dulu. Bukan tidak tahu belangnya Jimmy. Di kantor pun suaminya itu pernah berbuat skandal dengan sekretaris hingga si perempuan itu meminta dinikahi. Namun sejumlah uang dalam nominal besar mampu menyelesaikan persoalan itu hingga si sekretaris resign dari pekerjaannya. Ia tetap bersabar dan menggaungkan asa, suaminya kelak akan berubah.
Aku lelah.
Itulah yang dirasakannya sekarang. Lelah hati dan pikiran membuatnya memutuskan untuk berhenti saja.
"Suci, maaf...."
Anita teringat tadi saat mendekati Suci yang akan pergi dari rumah. Namun Suci malah memundurkan tubuhnya dengan raut ketakutan, dan memalingkan wajah.
Ya, wajar. Ia memaklumi kekecewaan dan kemarahan adik iparnya itu. Tapi ia bukan bermaksud meminta maaf atas kelakuan Jimmy karena memang tak pantas untuk dimaafkan. Ia bermaksud meminta maaf dan menyesal atas musibah yang dialami sang adik ipar. Itu mungkin gara-gara ia keluar rumah. Membiarkan dua orang dewasa dalam rumah, apalagi suaminya itu masih dalam keadaan mabuk.
"Mami, Tante Suci sama Manda ke mana?"
Kedatangan Naura membuatnya buru-buru memalingkan muka. Ia mengusap kedua pipinya yang basah dan menyusut hidungnya yang berair.
"Naura bangun, di kamar tante nggak ada siapa-siapa."
Anak semata wayangnya itu lanjut menguap dan mengucek kedua matanya lalu merebahkan diri di pangkuannya.
Anita bingung harus membuat alasan apa. "Tante Suci sama Manda lagi ke rumah Umi. Mau nginep dulu di sana." Ia mengusap rambut Naura dengan perasaan yang campur aduk.
"Naura kok nggak diajak." Naura memberengut dan merajuk ingin diantarkan menyusul ke rumah Umi.
"Naura lusa masuk sekolah, sayang." Ia mencoba memberi pengertian. "Besok kita pulang ke Bali."
"Sebelum pulang Naura pengen bobo lagi sama Manda. Nanti kan lama nggak ketemu."
"Mami, plis...." Naura merajuk. Menatapnya dengan sorot mata yang berkaca. Naura meminta diantarkan menyusul Amanda.
Ia menggeleng.
Akibat penolakannya, Naura pun menangis kencang dan berlari pergi meninggalkannya.
"Naura...." Ia berteriak serak. Gadis kecilnya itu berlari masuk ke dalam kamar.
Anita menghembuskan nafas panjang dan berat. Seolah ada batu besar yang menghimpit dada. Pening di kepalanya semakin berdenyut.
Ayah dan Bunda datang sore hari dengan wajah panik. Mereka belum tahu masalah apa yang terjadi sehingga Malik menyuruhnya segera pulang.
Rekaman kamera pengawas yang diputar Malik membuat Anita menutup mulut. Syok.
__ADS_1
Ternyata kenyataan lebih dramatis daripada sekadar mendengarkan lewat cerita.
Apalagi Suci yang mengalaminya, bisa saja menjadi trauma. Ia pun yang melihatnya merasa ngeri dan kaget bukan main.
Ayah dan Bunda terdengar mengucap beristighfar dan geleng-geleng kepala. Dan lalu menatapnya tajam. Anita menunduk pasrah jikalau mendapat pelampiasan kemarahan orangtuanya.
Bukan cinta yang membuatnya mempertahankan pernikahan. Awal pernikahan yang didasari cinta tulus kepada pemuda satu kampus yang hidupnya serba kekurangan, perlahan terkikis begitu sifat Jimmy berubah. Kepercayaan yang diberikan olehnya untuk mengelola hotel dan villa, membuat suaminya itu lupa jati diri. Hanya dua tahun pertama ia merasakan bahagianya pernikahan. Setelah Naura lahir, Jimmy senang berpesta dan hura-hura.
Ia bertahan dengan harapan suaminya itu kembali ke jalan yang benar. Ia bertahan dengan optimisme suaminya akan kembali ke watak baik seperti saat pacaran. Doa dan harapan tak putus dipanjatkannya untuk membuktikan kepada keluarga, bahwa pilihannya benar. Ia pula bertahan karena ucapan Ayah yang selalu terngiang di telinganya.
"Anita, Ayah tidak setuju kamu menikah dengannya bukan karena dia miskin. Tapi Ayah merasa dia tidak tulus sama kamu, nak."
"Tidak, Ayah. Jimmy orang baik. Aku sangat mencintainya dan kagum dengan kerja kerasnya sampai bisa lulus kuliah dengan jerih payah sendiri. Please, Yah. Restui kami."
"Baiklah, kalau memaksa. Tapi apapun yang terjadi nanti, kamu harus telan sendiri konsekuensinya!"
Dan ia harus menelan konsekuensi akibat pilihannya yang ternyata terbukti salah. Bertahun-tahun ia bersandiwara. Bahagia dan ceria di depan keluarganya, namun menangis di belakang.
"Ayah nggak mau ngomong sekarang. Tunggu Nico datang. Ayo, Bun...!" Ayah dan Bunda meninggalkannya. Ia melihat jelas raut kekesalan dan kemarahan di wajah kedua orangtuanya itu.
Kembali dirinya menghembuskan nafas panjang. Makin pening kepalanya. Belum lagi Naura yang mengunci diri di kamar. Ngambek.
Malam tiba. Anita bagaikan terdakwa di tengah berkumpulnya keluarga. Ada Ayah, Bunda, dan Nico menatapnya. Entah apa yang ada di hati dan kepala ketiga orang yang disayanginya itu. Ia sedang menghadapi penghakiman.
****
Amanda terus menangis tak mau berhenti. Suci sudah berupaya agar bayi lucu itu mau menyusu. Namun tak seperti biasanya, baby Manda menolak saat sang ibu menyodorkan sumber nutrisi yang biasanya disedot dengan rakus. Dengan sabar, Suci menimang agar sang anak berhenti menangis. Padahal saat Papa Nico ada di rumah, baby Manda bisa ditenangkan olehnya begitu ia merengek-rengek.
"Sayang, mimi ya....jangan nangis, nak. Cape...cup cup...." Suci memlih duduk karena lelah berdiri menimang-nimang dan ia menawarkan kembali ASI. Namun lagi-lagi baby Manda menolak. Ia tampak prustasi.
"Suci, biar aku yang gendong." Salma mengambil baby Manda dari pangkuan Suci. Ia dan Candra sudah mendengar masalah yang terjad saat magrib tadi tiba di rumah. Ia yang awalnya senang melihat kehadiran adik ipar dan keponakannya itu. Namun bertambah iba begitu mendengar cerita dari Umi.
"Cup cup cup....kesayangan ateu...sudah nangisnya dong....cape sayang...." Salma membawa baby Manda keluar dari kamar diikuti oleh Candra.
"Suci, anakmu bisa merasakan kalau ibunya sedang bersedih, emosimu tidak stabil. Itu pengaruh kepada ASI menjadi hambar, makanya Amanda menolak."
"Coba tenangkan diri, nak." Umi mengusap punggung Suci yang menundukkan wajah dan lalu terdengar terisak.
"Tenangkan hati dan pikiran....ini ujian dari Allah...."
"Berat Umi...." Suci merebahkan kepalanya di pangkuan Umi. Tubuhnya terguncang karena menangis lagi.
"Kenapa aku harus mengalami perlakuan yang nista, Umi. Kalau ini ujian, kenapa Allah mengujiku seperti ini....aku selalu menjaga diri dari maksiat....ini tidak adil....hiks."
"Sshh, jangan berkata seperti itu, nak. Istighfar...." Umi membelai rambut Suci, menyalurkan kasih sayang seorang Ibu kepada sang anak yang tengah labil emosinya.
"Allah tidak akan menghinakan hambaNya yang taat. Buktinya, kamu selamat berkat perantara suamimu yang menolong di waktu yan pas. Allah yang membuat suamimu lupa ketinggalan barang di rumah, lalu menggerakkannya untuk pulang ke rumah. Itu bukan kebetulan."
Suci sedikit tenang mendengar nasihat Umi. Tangisnya mereda. Terdengar ia mengucap istighfar dengan lirih.
Candra membuka pintu kamar Suci untuk mengadu. "Umi, Manda nggak bisa ditenangkan."
"Biar sama Umi," ujarnya sambil beranjak dan menyuruh Suci untuk istirahat saja.
Lantunan sholawat saat Umi menimang, membuat tangisan baby Manda perlahan reda dan tertidur. Sudah setengah jam lebih dalam gendongan, dirasa sudah cukup lelap, ditambah bahunya merasa kebas. Umi membaringkannya di dekat Suci yang tampak sembab.
"Pelan-pelan, Umi." Ujar Suci begitu Umi menurunkan baby Manda.
Baru aja Umi meluruskan tangan karena pegal, baby Manda terbangun dan kembali menangis kencang. Seolah protes karena tak lagi berada dalam gendongan.
"Bang, telepon Nico!" Umi menyerah. Barangkali Papanya yang bisa menenangkan. Ia menyuruh Candra untuk meminta Nico segera pulang.
__ADS_1
****
Ponsel di saku hoodie nya Nico bergetar. Ia abaikan. Fokusnya sedang menyimak ucapan Anita yang mulai membuka persoalan rumah tangganya selama ini dengan diiringi isakan tangis.
Nico lebih banyak menyimak daripada berbicara. Niatnya yang akan memenjarakan Jimmy urung karena kakaknya sudah membuat keputusan akan menggugat cerai. Ia mengikuti nasehat Umi untuk membuat keputusan dengan mempertimbangkan baik buruknya. Dan keputusan kakaknya untuk bercerai, sangat didukungnya. Ia juga akan memberi pengawasan jikalau Jimmy nantinya tidak terima dan berbuat jahat terhadap sang kakak.
Ponsel di saku hoodie nya kembali bergetar untuk yang kelima kalinya. Ia merogoh saku dan menatap layar ponselnya. Candra menelponnya.
"Iya Bang?" Ia menjawab tanpa beranjak dari ruangan kerja sang Ayah. Terdengar backsound anaknya menangis dan sedang ditenangkan.
Ia serta merta berdiri begitu mendengar penjelasan Candra. Membuat semua orang yang berada di ruangan itu mengernyit menatapnya.
"Iya. Aku pulang sekarang." Ia memasukkan lagi ponsel ke dalam saku.
"Nico, ada apa?" Bunda tampak was-was menatapnya.
"Amanda nangis terus, Bun. Hanya berhenti sebentar karena cape....terus nagis lagi, katanya."
"Aku pulang dulu."
"Bunda ikut." Bunda berdiri untuk siap-siap namun ia mencegahnya.
"Bunda besok aja. Ini sudah malam. Bunda juga pasti cape. Kalau besok mau seharian di sana juga kan enak." Sarannya membuat sang ibu mengangguk setuju.
Nico mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang cukup lengang karena sudah lewat jam 9 malam. Hanya butuh 15 menit sudah sampai di kediaman Umi.
Bukan hanya anaknya yang harus ditenangkan, tapi juga istrinya.
Ia meraih baby Manda dari gendongan Umi. Tinggallah di kamar mereka bertiga.
"Sayangnya Papa....kangen Papa ya....cup cup..." Ia menimang dengan diayun perlahan. Diciumnya kedua pipi sang anak yang menangis tanpa air mata. Naluri anak tahu akan hadirnya Papa sang pelindung. Tangisnya mereda dan tampak nyaman dalam buaian sang ayah.
Kini ia beralih menatap Suci yang tengah memperhatikannya dengan mata berkaca. Perlahan ia duduk di dekat sang istri.
"Manda kasih mimi dulu, sayang." Ia menatap sang istri dengan sorot mata meneduhkan.
"Manda tadi tidak mau ASI...udah dipaksa juga.." Suci menggeleng tanpa semangat.
"Coba lagi ya..." Ia menyerahkan baby Manda yang sudah tenang dengan mata yang mengerjap-ngerjap.
"Mama juga harus tenang...jangan ketakutan lagi...Manda sepertinya nggak nyaman liat mamanya sedih."
"Mas jangan pergi...jangan kemana-mana." Suci menatapnya dengan sorot mata kelam.
"Iya, sayang." Ia mengecup kening Suci agar tenang. Sorot mata suci masih tergambar ketakutan. Sepertinya mengalami trauma.
"Bismillah...." Nico membantu mendekatkan mulut sang anak ke sumber nutrisinya.
"Ayo, sayang....mimi dulu...cape ya abis nangis....Papa nggak akan pergi lagi kok...."
Ajaib.
Suara Papa Nico membuat baby Manda menyedot ASI begitu bibir merahnya menempel dengan pucuk sumber nutrisinya.
Ia tersenyum lega begitu pula Suci.
"Anak kita lapar, sayang...." Nico merapihkan rambut Suci dan mendekapnya tanpa mengganggu kegiatan menyusui. Kecupan dan belaian sengaja ia lakukan untuk mensugesti agar sang istri merasa aman dan terlindungi. Tentu saja dilakukan sepenuh hati.
"Pasti, Papa. Sejak Papa pergi Manda nangis terus. Jadinya lapar...."
Nico tersenyum lega melihat Suci bisa tersenyum lagi. Kembali dirinya mengulang mengecup kening dan mengusap-ngusap bahu sang istri.
__ADS_1
****