MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Lon Galak Gata??


__ADS_3

Suci duduk di bangku taman belakang rumah. Semilir angin sore yang sedikit kencang, mengayunkan ujung jilbab dan roknya mengikuti arah angin. Ia sedikit kecewa, ternyata abangnya belum sampai. Masih dalam perjalanan. Kemungkinan tiba di rumah jam 9 malam.


"Kenapa cemberut?" Nico yang baru datang dari arah dalam rumah, langsung menjawil dagu lancip sang istri.


"Barusan aku telepon Bang Candra. Kirain sudah sampe, ternyata masih di jalan. Tadinya aku mau ke rumah Abang sekarang. Gak jadi deh--"


Suci harus sabar menahan keinginannya bertemu langsung sang kakak, untuk menanyakan oleh-oleh pertemuan di Tasik.


"Nanti kan bisa tanya lewat telepon, sayang." Nico meminta Suci menggeser duduknya ke ujung bangku. Ia lalu merebahkan kepalanya berbantalkan paha sang istri.


"Lebih seru kalau ketemu, Mas. Nanti aja deh aku ke sana." Suci mengelus rambut sang suami dan memberi pijatan ringan di kepalanya.


"Besok Mbak Anita akan datang bersama suaminya, Mas Jimmy dan anaknya, Naura." lanjut Nico. Pijatan lembut tangan Suci di kepala membuatnya rileks.


Suci menanggapi hanya dengan menganggukkan kepalanya. Resepsi pernikahannya akan digelar malam minggu. Hanya menunggu lima hari lagi. Keluarga besar mulai berdatangan.


"Besok sore Umi juga akan datang. Kita menginap di rumah Bang Candra ya Mas ? Aku kangen sama Umi."


"Boleh." Dan Nico mengajak Suci masuk ke dalam rumah karena sebentar lagi adzan magrib.


Saling berpegangan tangan, mereka masuk ke dalam rumah. Bunda berseru memanggil keduanya saat melihat anak dan menantunya itu akan menaiki anak tangga.


"Ada apa, Bun?" Nico duduk menyandarkan punggungnya di sofa panjang di sisi sang ibu. Suci memilih duduk di sofa sampingnya.


"Resepsi kalian sebentar lagi. Meskipun sudah menikah, tetep harus menjalani pingitan selama tiga hari." Ibu menatap silih berganti Nico dan Suci.


Reaksi protes tampak dari Nico. Ia memiringkan tubuhnya dengan dahi mengkerut. "Gak usah lah, Bun. Kenapa harus dipingit segala. Aku gak bisa jauh-jauh darinya--" Pandangan Nico beralih ke istrinya saat mengucapkan kalimat terakhir, diiringi kerlingan mata.


"Ih gombal ya, Bun." Suci memutar bola matanya. Kelakuan suaminya di depan Bunda membuatnya malu.


Bunda mengulas senyun tipis. Kelihatan sekali anaknya yang begitu mencintai sang istri.


"Tetap aja harus dipingit. Itu sudah tradisi. Mulai Rabu, kalian harus pisah rumah dulu. Nanti ketemu pas malam resepsi!"


Suci menghela nafas lega. Wajahnya tampak semringah karena akan terlepas sementara dari suaminya yang selalu menempel padanya tiap malam.


"Aku nurut sama Bunda. Mulai besok juga aku udah pindah ke rumah Bang Candra karena Umi dan Rahma akan datang."


Lain halnya Nico yang bermuka masam. Jelas dirinya keberatan dengan aturan Bundanya yang menurutnya mengada-ngada.


Panggilan sholat magrib sudah terdengar. Suci menarik tangan Nico yang enggan untuk bangun karena protesnya tidak ditanggapi Bunda.

__ADS_1


"Ayo Mas, udah adzan" Suci berlalu lebih dulu menuju kamar untuk menyiapkan sarung dan baju koko suaminya.


****


Dua hari usai kepulangannya ke kampung halaman, Salma mulai punya kesibukan sendiri dengan ponselnya. Permintaan bapaknya untuk segera menikah membuatnya membuka diri untuk berteman dengan laki-laki, yang melajang tentunya. Ajakan pertemanan di medsos yang selalu diabaikannya kini dikonfirmasi.


Candra keluar dari ruangannya bersiap untuk pulang. Ia menatap heran sekretarisnya masih duduk manis di kursinya dengan bibir yang senyum-senyum. Kehadiran seseorang yang berdiri di depan mejanya sampai tidak disadarinya karena fokus membalas chat.


"Ehm."


Suara deheman Candra berhasil membiat Salma mendongakkan kepalanya.


"Eh Pak, mau pulang?" Salma menyimpan ponselnya di meja. Senyumnya merekah melihat sang boss berdiri menatapnya.


"Iya. Kamu tumben belum pulang?" Dahi Candra masih mengkerut. Karena tak biasanya Salma masih santai di mejanya saat jam pulang.


"Aku pulangnya sebentar lagi, Pak. Ada janji ketemuan dulu." Salma bicara apa adanya.


"Laki-laki atau perempuan?" Tanpa sadar, Candra menatap lekat wajah cantik yang selalu tampil modis dengan pakaian sopan dan rambut panjang tertata rapih.


"Laki-laki lah apak. Aku lagi mulai move on nih. Biar pulang nanti bisa bawa pacar. Kupingku udah panas ditanyain melulu kapan nikah sama Bapak, sama tetangga. Huft." Dengan terkekeh, Salma dengan santainya menceritakan alasan ketemuannya.


"JANGAN, Salma!" Spontan Candra mendekat ke tepi meja. Ia mencondongkan wajahnya menatap tajam kedua bola mata coklat sang sekretaris dengan kedua tangan bertumpu pada meja.


"Mak-maksudku gimana kalau laki-laki itu tidak baik. Aku khawatir, Salma. Kamu sudah ku anggap seperti adikku." Candra lebih dulu bisa menguasai keadaan. Ada yang aneh dengan perasaannya. Kenapa seperti tidak rela Salma akan menemui laki-laki lain.


Kenapa aku merasa tak bahagia hanya dianggap adik olehnya.


Salma berusaha tersenyum, menetralkan perasaannya yang gugup karena Candra masih menatapnya intens.


"InsyaAllah aku bisa jaga diri kok, Bang. Aku pernah belajar silat di padepokan waktu sekolah. Jadi aman lah--" Salma bergaya mengeluarkan jurus kuda-kuda sambil tersenyu lebar.


Suara notif terdengar dari ponsel Salma yang buru-buru ia buka. Tanpa sadar, wajah pria yang masih berdiri dengan bertumpu di meja itu menatapnya dengan gusar.


Salma berbinar usai membaca pesan yang diterimanya. "Pak Candra,maaf aku duluan ya. Dia sudah menunggu aku di resto depan. Bye Pak--"


Dengan semangat 45, Salma meraih tasnya, pergi dengan tergesa meninggalkan Candra yang terpaku dengan raut wajah datar.


****


Tiba di rumah, sudah ada Suci dan Nico yang telah menjemput Umi dari bandara. Wajah yang tadinya masam kembali cerah melihat Umi ada di ruang keluarga sedang berkumpul. Candra segera memeluk sng ibu dengan perasaan sayang dan rindu.

__ADS_1


"Abang, mandi dulu gih. Kita akan makan malam." Suci menghentikan Candra yang sedang asyik berbincang dengan Umi. Dengan segera Candra bangkit, setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.


Rasa penasarannya masih melekat di hati. Usai makan malam, Suci meminta waktu untuk bicara empat mata dengan sang kakak. Di balkon atas, keduanya berdiri dengan tangan bersandar pada pilar. Pekatnya malam menjadi indah karena hiasan bintang-bintang yang bertaburan.


"Bang, jadi gimana hasil silaturahmi ke Tasik? Aku dari kemarin udah gak sabar pengen tau." Suci nampak antusias dan beraemangat menunggu abangnya bercerita.


Sejenak Candra diam. Waktu lalu ia sudah berjanji kepada Suci, akan memperkenalkan Rachel sebagai calon istri.


Dengan meghela nafas berkali-kali, Candra mulai menceritakan kisahnya dimulai saat dirinya melakukan istikharoh sampai kepada perpisahannya.


Suci tercenung usai mendengar semuanya dengan detail.


"Jodoh benar-benar misteri ya." Candra berkata sendiri dengan pandangan tertuju menatap langit. Kerlap kerlip bintang nu jauh di sana seolah tersenyum memberi penghiburan untuk satu hati yang sedang kecewa.


"Iya, Bang. Dan aku sudah mengalaminya. Kini Abang pun harus mengalaminya. Ternyata seseorang yang ada di hati, hanya menjadi kisah masa lalu. Tidak sampai menjadi masa depan."


"Abang tau gak. Ada seseorang yang mencintai abang selama ini. Ia selalu setia dengan perasaannya, mencintai dalam hati, dalam diam. Ia memendamnya selama 1,5 tahun lamanya." Suci menoleh menatap Candra di sisinya. Ia tersenyum tipis melihat sang kakak yang terkejut dengan ucapannya.


"Siapa, Dek?" Raut keingintahuan tampak jelas di wajah Candra.


"S-A-L-M-A." Suci mengeja perlahan, huruf demi huruf.


"Jangan becanda! Serius, Dek!" Candra menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan ucapan sang adik.


"Seribu rius, Bang. Coba Abang periksa hati deh. Bagaimana rasanya selama ini berinteraksi dengan Salma. Apa ada rasa nyaman, senang, merasa kehilangan kalau dia gak ada. Atau malah datar-datar saja?"


Spontan Candra meraba dada kirinya. Kilas balik ucapan Salma terngiang kembali "Aku menyukai seseorang, tapi sayang hatinya dia tidak tertuju padaku."


Apakah laki-laki yang dimaksud itu, aku?


Candra pun kembali teringat jawaban Salma tadi sore di kantor.


"*Laki-laki lah, Pak. Aku lagi mulai move on nih. Biar pulang nanti bisa bawa pacar. Kupingku udah panas ditanyain melulu kapan nikah sama Bapak, sama tetangga. Huft." Dengan terkekeh, Salma dengan santainya menceritakan alasan ketemuann**nya.


Deg


Salma sedang berkencan dengan laki-laki kenalannya*.


"Oh, TIDAK!!"


...-------...

__ADS_1


Lon Galak Gata (Bahasa Aceh)


Artinya : Aku suka kamu


__ADS_2