MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2 - Syarat dan Makna


__ADS_3

Citarasa Cake and Bakery


Empat bulan berlalu.


Tiga orang wanita anggun berhijab duduk bersama dalam satu meja. Mereka adalah Suci, Salma, dan Rahma.


Udara sore yang mulai teduh membuat ketiganya nyaman bersantai di lantai dua ruko. Mereka sedang menikmati puding mangga ditemani teh tawar aroma melati yang masih mengepulkan uap panas. Wangi aroma melati menguar, menggoda indra penciuman.


Dua bulan yang lalu ketiganya sepakat membuka usaha kue dan roti. Ide yang dicetuskan Suci itu mendapat sambutan antusias Salma dan Rahma. Dari awal ketiganya memiliki hobi yang sama, senang berkutat di dapur membuat desserts.


Ketiganya terjun langsung sebagai chef dibantu satu orang karyawan bagian dapur ditambah dua orang karyawan dibagian depan.


Nama Citarasa dipilih sebagai brand yang merupakan gabungan nama Sucita, Rahma, dan Salma.


Suci duduk menyandarkan punggung dan meluruskan kaki dengan perut tampak membuncit. Kehamilannya telah menginjak usia 6 bulan. Ia merasa kakinya mudah pegal jika lama berdiri.


"Alhamdulillah, toko kita rame pembeli." Suci tersenyum lebar menatap layar cctv yang memperlihatkan aktifitas di lantai bawah. Disediakan beberapa meja bagi konsumen yang ingin makan di tempat.


"Pesanan puding mangga juga udah diambil. Jadi yang kita makan ini sisanya." Salma mengacungkan cup puding miliknya yang tinggal setengah.


"Rahma, pesanan untuk ke kantor Bang Candra besok biar aku yang antar. Sekalian mau bawain makan siang buat Abang." Salma menatap Rahma yang sedang menunduk memandangi ponselnya.


"Siap, teh. Bolu kukus gula arennya besok pagi aja dibuatnya biar dadakan ya?" Usul Rahma disetujui Suci dan Salma.


"Jangan nunduk terus. Tuh lihat! Pangeranmu udah datang." Suci menyikut Rahma yang masih asyik menatap layar ponsel. Ia sedang menyimak tutorial menghias cake yang dipresentasikan oleh chef terkenal.


Rahma mendongak. Senyum semringah terbit di wajahnya. Dari layar cctv ia melihat Malik yang langsung menuju meja nomer 9, tempat duduk favoritnya. Tempat biasa mereka ngobrol berdua.


"Aku ke bawah dulu ya!" Dengan semangat Rahma menggeser mundur kursinya untuk berdiri. Tak lupa melihat pantulan penampilan dirinya di cermin yang tergantung di dinding.


Suci dan Salma saling pandang dan terkekeh.


"Begitulah kalau orang jatuh cinta. Dulu aku juga gitu. Mau ke ruang Bang Candra aja pasti ngaca dulu. Gak pede kalau belum ngaca." Salma tertawa pelan mengingat tingkahnya dulu yang ingin selalu tampil sempurna di depan pujaan hati.


"Perjuangan cinta yang tidak sia-sia ya Teh," goda Suci mengingatkan dulu Salma yang curhat padanya.


"Yuhuu!"


Keduanya kompak tertawa renyah sampai tak melihat kalau Candra sudah tahu-tahi sudah berdiri dekat meja dan menarik kursi untuk duduk.


"Happy banget lagi pada bahas apa?"


"Eh, Abang udah pulang!" Salma terkaget campur senang. Ia mencium punggung tangan suaminya itu dengan takzim. Pertanyaannya tidak dijawab karena memang yang dibicarakan orangnya ada di sisinya.


Salma menuju pantry untuk membuatkan minum. Sepiring bolu ketan hitam kesukaan suaminya disiapkan pula.


"Nico kapan pulangnya?" Candra menatap adiknya yang sedang menghabiskan puding cup kedua.


"Kalau urusan lancar, dua hari lagi pulang." Jawab Suci tanpa berhenti menyuapkan pudingnya. Setelah melewati trimester pertama yang selalu mengalami morning sicknes, kini di trimester kedua hasrat untuk ngemil tak terbendung. Hingga pipinya menjadi chubby karena berat badan yang naik signifikan.


Nico mendapat tugas ke Jepang mewakili Ayah Hendro untuk diplomasi kesepakatan kontrak kerja sama dengan perusahaan garment ternama di sana. Sudah lima hari ia berada di negeri sakura. Komunikasi video call selalu dilakukannya setiap malam dengan istri tercinta sebagai pengobat rindu.


****

__ADS_1


Di lantai bawah, Rahma duduk berhadapan dengan Malik di meja paling ujung agar tidak terganggu lalu lalang orang.


"Bu guru, aku mau setor hafalan." Canda Malik dengan tatapan menyipit diiringi senyum.


Rahma terkekeh karena guyonan Malik meski memang pria di hadapannya itu serius ingin di tes bacaan surat yang menjadi syarat yang dipinta Pak Badru, ayahnya Rahma, untuk melamarnya.


"Biar lancar bacaannya, aku buatkan kopi dulu ya!"


"Cemilannya mau apa?" Rahma yang sudah melangkah membalikkan badannya.


"Apa aja deh. Asal jangan yang ada coklatnya."


Rahma mengangguk. Ia sudah tahu, jika lelaki yang ingin melamarnya itu tidak suka dengan coklat.


Malik menyandarkan punggungnya ke belakang. Pandangannya mentok menatap wallpaper dinding bertemakan kayu hingga membuat pikirannya menerawang kejadian sebulan yang lalu.


"Apa yang kamu punya untuk melamar anak saya?"


Pertanyaan dari Pak Badru ayahnya Rahma itu masih terngiang di telinga Malik saat memberanikan diri datang ke rumahnya ditemani Nico sebulan yang lalu.


"Saya punya apartemen, kendaraan, tabungan dan pekerjaan tetap. Saya tidak akan membuat anak Bapak sengsara."


Dengan percaya diri ia menjawab dengan mantap. Bukankan biasanya hal itu akan menjadi syarat dan kebanggaan para calon mertua, pikirnya.


Namun diluar ekspektasi, Pak Badru malah terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Itu terlalu biasa. Saya tidak takut anak saya sengsara ataupun kelaparan karena saya masih bisa menolongnya memberi bantuan finansial. Tapi saya takut anak saya celaka karena suami yang tidak membimbingnya menjalankan perintah agama. Dan tentunya saya tidak bisa menolong karena tanggung jawab sudah berpindah kepada suaminya."


Percakapan itu membuat suasana tegang dan membuatnya terpekur sesaat. Dan tentunya terekam di kepala Malik dan masih diingatnya sampai sekarang.


"Saya ingin mendengar nak Malik melantunkan surat Al A'la dengan cara menghafal bukan membaca. Kalau sekarang bisa, silakan!"


Glek. Saat itu ia menelan saliva, tenggorokannya serasa kering. Syarat yang tidak umum didengar, membuatnya mengusap peluh yang tiba-tiba mengembun di kening.


"Sa-saya tidak hafal. Beri saya waktu, Pak! Saya akan datang lagi setelah berhasil menghafalnya."


Ia memohon dengan tatapan sungguh-sungguh agar Pak Badru mengijinkannya untuk datang lagi. Dan Pak Badru menyetujuinya.


Syarat yang sebetulnya sangat mudah bagi orang yang biasa mengaji. Namun bagi seorang Malik yang tidak pernah lagi membuka kitan suci Al Qur'an sejak SMP bahkan sholat pun jarang dilakukannya, ia merasa syarat itu sangat berat.


"Bang Malik nyerah?"


Ia pun teringat pertanyaan Rahma di toko ini saat menceritakan hasil pertemuan dengan ayahnya.


"Oh tidak! Aku bukan lelaki pecundang. Aku siap memperjuangkanmu. Please bantu aku menghafal surat itu!"


Suara deheman berhasil membuat Malik tersentak dari lamunan panjangnya.


"Masih lama bengongnya?" goda Rahma yang ternyata sudah duduk di depannya menopang dagu.


Malik tersenyum menyeringai. Ia tampak salah tingkah dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena ketahuan sedang melamun.


"Maaf," jawab Malik singkat. Fokusnya kini beralih menatap secangkir kopi hitam yang tersaji dengan sepiring roti unyil berbagai varian.

__ADS_1


"Ini kamu yang buat?" Malik melahap satu roti dalam sekali suapan karena bentuknya yang mungil.


"Iya. Gimana rasanya?"


"Delicious (lezat)." Malik membulatkan jarinya dengan binar kepuasan terpancar di matanya.


Rahma tersenyum senang mendapat apresiasi meski cuma satu kata.


"Mulai yuk!" Rahma mengalihkan pembahasan ke hal utama.


Malik mengangguk. Ia menyeruput kopi perlahan agar rasa gugup yang tiba-tiba mendera menjadi hilang.


Malik memejamkan matanya agar bisa berkonsentrasi penuh.


Usai mengucap Basmallah, ia mulai menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


Sabbihisma robbikal-a'laa


Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi


Alladzii kholaqo fa sawwaa


Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)


Walladzii qoddaro fahadaa


Yang menentukan kadar (masing-masing), dan memberi petunjuk


Surat Al A'la ayat 1 sampai 19 terucap dari bibir tegas Malik. Suaranya yang pelan penuh penghayatan mampu di dengar Rahma dengan mata berkaca-kaca.


Betapa tidak, seorang pria metropolis yang beragama Islam dalam KTP, kini tengah berjuang untuk menghalalkannya.


"Kenapa menangis?" Malik yang telah menyelesaikan bacaannya mwngernyit heran melihat Rahma meyeka air mata yang menetes di pipi.


"MasyaAllah, bacaanmu.bagus. Aku terharu, Bang." Rahma terkekeh malu karena ketahuan menangis. Ia mengambil tisu untuk mengusap sudut matanya yang masih menggenang.


"Aku minta maaf, Rahma." Ada sorot penyesalan di bola mata Malik


"Untuk?" Rahma yang kini mengernyit heran.


"Aku butuh waktu sebulan untuk menghafalnya. Bukan tidak sungguh-sungguh. Setelah bekerja kantoran, waktuku terbelenggu oleh tugas yang menumpuk. Apalagi Nico sedang ke Jepang, aku harus menghandle pekerjaan di kantor. Jadi jadwalku belajar dengan ustad berkurang waktunya."


Sejak Nico diangkat menjadi wakil direktur, Malik direkrut sebagai asistennya. Awalnya ia menolak karena lebih menyukai freelance (bekerja lepas). Ia terbiasa menghandle bisnis joinnya dengan Nico yang berada di Bandung, bebas tanpa terikat waktu. Namun Nico memaksanya dengan alasan hanya dialah partner yang cocok.


"Iya Bang, aku maklum kok. Bang Malik tahu gak kenapa Ayah memberi syarat itu?" Rahma menatap pria tampan yang semakin memancarkan aura kesejukan.


"Koreksi jika pendapatku salah." Malik meneguk kopinya sampai tersisa sedikit.


"Secara tidak langsung Ayahmu memintaku menjadi imam yang baik karena seorang suami bertanggung jawab membimbing istrinya di jalan yang Allah ridhoi. Benar begitu?"


Rahma mengangguk diiringi senyuman manis refleksi dari perasaannya yang lega.


"Mencintaimu, menjadi pembuka jalan diriku untuk hijrah. Makasih Rahma." Senyuman manis tersungging pula di bibir Malik, diiringi tatapan teduh dan dalam.

__ADS_1


Tatapan keduanya bersua. Binar penuh cinta tergambar di kedua bola mata Malik, membuat Rahma segera menunduk karena jantungnya bertalu kencang.


__ADS_2