MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Tabungan Rindu


__ADS_3

Hari bahagia yang dinanti pun tiba.


Sabtu siang dikediaman Suci riuh riang, karena keluarga besar dari Aceh berdatangan. Juga perwakilan dari keluarga almarhum ayahnya tiba dari Malaysia dan Turki. Mereka bersukacita bercengkrama melepas rindu karena lama tak berjumpa.


Mobil Alphard hitam utusan Bunda Devi tiba di depan rumah untuk menjemput keluarga inti menuju hotel tempat resepsi akan di gelar. Pihak keluarga Nico sudah prepare kamar hotel untuk Umi dan Candra menginap. Tentu saja yang paling utama untuk sang pengantin, sudah disiapkan kamar presidential suite.


Berangkatlah keluarga inti menuju hotel bintang lima dimana resepsi akan digelar mulai pukul 7 malam. Ikut serta pula Rahma dan Om Badru menemani mereka.


Bunda Devi dan Ayah Hendro serta Anita dan suaminya tersenyum ramah menyambut kedatangan Suci dan keluarga di restoran hotel. Mereka saling berpelukan hangat penuh kekeluargaan. Suci mengedarkan pandangannya. Sosok suaminya tak nampak hadir. Tiga hari mereka tidak berjumpa bahkan video call pun hanya sekali karena Suci diminta Bunda untuk tidak melakukan komunikasi dengan Nico, mereject panggilannya.


Biar terasa kangennya, kata Bunda.


"Kamu cari Nico ya?" Anita tersenyum kecil menggoda adik iparnya itu. Suci tentu tersipu. Kedua pipinya yang putih halus nampak bersemu merah. Ia malu karena semua orang mentertawakan tingkahnya.


"Nico nya Bunda kurung dulu. Tiap hari dia kayak anak kecil merengek-rengek pengen ketemu kamu, Suci. Sampai pusing deh dengernya." Bunda memijat keningnya saat mengatakan itu.


Suci tertawa kecil. Ia bisa membayangkan. Biasanya Nico tiap malam manja padanya, minta diusap-usap kepalanya, sebelum akhirnya sang suami tidur memeluknya. Lalu Bunda membuat aturan untuk berpisah sementara, pasti ia uring-uringan dan merajuk.


"Maklum Umi, adikku itu udah bucin sama Suci," ujar Anita lagi. Membuat Umi dan semua orang tertawa bahagia, terkecuali Suci yang hanya mesem-mesem.


"Sabar ya sayang, tunggu sampai magrib. Baru kalian boleh bertemu." Bunda merengkuh bahu Suci dan mengusap-ngusapnya dengan lembut penuh kasih sayang.


Tak berselang lama, dua orang pramujasi mendorong troli memgantarkan aneka makanan ke meja panjang tempat dua keluarga sedang bersenda gurau. Acara makan siang bersama berlangsung santai dan hangat.


.


.

__ADS_1


.


Malik membuka pintu kamar hotel dimana Nico berada. Ia membawa nampan berisi makan siang untuknya dan Nico. Ia melihat sahabatnya itu sedang sibuk dengan Tab di tangannya.


"Makan dulu, Bro. Biar kuat nanti malam." Seloroh Malik sambil menyimpan makanan di meja sofa yang kosong.


"Suci udah datang belum?" Nico tak mengindahkan selorohan Malik. Ia lebih tertarik menyanyakan istrinya yang tidak bisa dihubungi karena ponselnya disita Bunda.


"Sudah sekeluarga. Sekarang lagi makan bersama di restoan." Malik menjawab santai tanpa melihat ke arah Nico. Ia memilih memulai makan karena cacing di perutnya sedang berdisco.


"Aku mau ke sana!" Nico langsung bersemangat begitu mendengar sang istri ada di hotel. Ia segera bangkit dari duduknya untuk keluar namun lengannya di tahan Malik.


"Sabar. Hanya 4 jam lagi kalian bisa ketemu. Nanti Bunda marah kalau kamu kabur sekarang. Duduk! Cepet makan dulu mumpung masih hangat." Nico hanya bisa berdecak karena Malik mencekal lengannya. Bisa aja Nico berontak tapi ia memilih menurut dengan aturan Bundanya. Tanpa bicara, Nico menyendok makanannya tanpa selera.


****


"Tante Suci cantik banget. Seperti princess." Naura mendongakan wajahnya dan memuji dengan tulus sang tante yang sedang berdiri melakukan finishing oleh tiga orang tim MUA.


"Naura juga cantik seperti Barbie." Suci pun memuji gadis cilik yang cantik dan lucu dengan gaun putih dan mahkota di kepalanya itu.


Anita senyum-senyum melihat sang anak bisa langsung akrab dengan Suci.


Pintu kamar tebuka karena seseorang mendorongnya dari luar. Tampak seorang pria tampan dan gagah berdiri tegap dalam balutan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu di lehernya.


"Kalau sudah, aku mau berdua dulu dengan istriku!" Perintah tegas Nico diangguki oleh tim MUA yang segera membereskan perlengkapannya dan permisi keluar kamar.


"Ck ck. Dasar nakal ya! Harusnya setengah jam lagi baru boleh datang." Anita menggeleng-gelengkan kepala karena sang adik sudah gak sabaran untuk bertemu Suci. Ia pun keluar terakhir bersama anaknya.

__ADS_1


Hanya tersisa dua insan yang berada di kamar mewah yang dihias sebagai kamar pengantin itu. Suci yang masih berdiri dengan gaun indah yang menyapu lantai tampak menundukan kepalanya dengan kedua tangan saling bertaut. Jantungnya mendadak berdebar kecang. Dirinya merasa dejavu mengingat hari pertama tinggal sekamar saat akad nikah di Aceh.


Nico yang menatap intens sang istri yang tengah tertunduk itu perlahan mendekat. Aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Nico membuat Suci memejamkan mata. Ia tengah menyesapi rindu yang bergejolak di hati kepada pemilik aroma parfum itu. Tangan Nico terulur meraih dagu lancip nan halus. Jemarinya perlahan mengangkatnya hingga tegak menghadapnya. Dan perlahan Suci pun membuka matanya yang berhiaskan bulu mata lentik alami.


"Benarkah ini bidadariku?" Netra dengan beban rindu yang menggunung itu menatap lekat manik mata indah wanita cantik dihadapannya yang kini bersemu laksana kepiting rebus.


Suci hanya menjawab dengan senyuman manis, menampakkan barisan gigi putihnya.


"I miss you so much, darling." Nico memeluk sang istri dengan kuat dan rapat. Hingga keduanya bisa saling merasakan kerja jantung yang bertalu dan berdetak kencang.


Keduanya saling menyalurkan beban rindu yang ditabung selama tiga hari tanpa bertemu, tanpa komunikasi. Dan kini, nikmat pada waktunya.


"Jangan menciumku! Nanti make up aku rusak." Suci menggelengkan kepala. Menahan bibir yang akan bergerak menyentuh bibirnya.


"Tak apa cantik. Biar MUA ada kerjanya." Nico mengalihkan telunjuk sang istri yang menahan bibirnya. Ia arahkan kedua tangan Suci melingkar di lehernya.


Sungguh adegan yang romantis. Sang pria melingkarkan kedua tangannya di pinggang kekasih halalnya.


Kedua tubuh beradu tanpa jarak. Kedua bibir berpagut lembut dengan mata saling terpejam, membawa bongkahan rindu yang kini mencair karena hangatnya aliran cinta berdesir, menjalar ke seluruh tubuh.


"Sudah, Mas!" Suci melepaskan bibirnya karena pasokan oksigen berkurang membuatnya tak bisa bernafas.


Nico membiarkan sang istri mengatur nafasnya sejenak sampai normal kembali.


"Once more, baby." Nico masih belum puas. Suaranya yang berat menandakan ia sangat berhasrat. Tak hanya memagut bibir seksi yang manis itu. Kini lidah mereka saling bertaut, bertukar saliva. Ciumannya tak lagi lembut, tapi mendamba hal yang lebih.


Suara ketukan di pintu menyadarkan Suci terlebih dulu untuk menyudahi adegan manis dan panas yang diprakarsai oleh suaminya itu.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2