
Hamparan kebun teh di hari minggu jam 6 pagi masih terselimuti kabut putih. Udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang sumsum. Suci duduk di balik jendela yang berembun, menatap indahnya pemandangan kabut, lukisan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Ia sempat membuka jendela sesaat, namun hembusan udara dingin membuatnya bersin-bersin, hingga memilih kembali menutupkan jendela.
Suci membiarkan rambut setengah basahnya tergerai. Minuman bandrek yang diseduhnya cukup menghangatkan badannya. Untungnya, atmosfer di dalam villa bersuhu normal. Jauh berbeda jika pintu atau jendela dibuka, hawa dingin langsung berhembus masuk.
Suci menoleh saat mendengar suara kunci pintu diputar. Ia menyongsong seseorang yang baru masuk dan mengunci pintu kembali dengan menenteng kantong kresek.
"Mas Nico bawa apa?"
Nico memberikan kresek yang dipegangnya kepada Suci. "Aku menyuruh Pak Mamat membeli bubur ayam. Yuk, sarapan dulu!"
Dua cup bubur ayam yang masih panas dan harum gurih, begitu menggugah selera. Ditemani minuman teh tawar panas, keduanya makan dengan lahap. Cuaca dingin terkalahkan dengan hangatnya makanan dan minuman yang masuk ke perut.
"Sayang, mau request jalan-jalan ke mana? Aku siap jadi guide." Nico menarik rambut Suci yang terurai ke depan, menyematkannya ke belakang telinga.
Bubur ayam keduanya sudah tandas. Percintaan tadi malam dengan durasi yang lama, membuat energi terkuras dan perut keroncongan.
"Aku mau jalan-jalan di kebun teh tapi tunggu dulu matahari nongol biar sekalian berjemur. Terus ke taman safari, terus pengen sholat di Masjid Atta'awun. Aku pengen banget mengunjungi masjid itu. Aku liat di sosmed viral banget. Katanya gak afdol liburan ke Puncak tanpa mengunjungi masjid Atta'awun." Suci mendikte satu-satu dengan jarinya, destinasi wisata yang ingin ia kunjungi selama berada di Puncak.
"Siap, Nyonya. Driver akan mengantar kemanapun nyonya mau." Nico mengangkat tangan kanannya ke atas, tanda hormat.
Suci terkekeh dengan kelakuan absurd suaminya itu. "Tambahannya terserah Mas Nico mau ke mana."
"Aku sih pengennya ngamar aja. Gak usah keluar villa." Nico mengedipkan matanya dengan genit.
"Hadeuh, mesum aja dalam otakmu, Mas. Ngapain liburan kalau cuma diam di kamar. Udah aja tinggal di rumah." Suci memanyunkan bibirnya. Apakah semua otak lelaki sama, pikirannya tak jauh-jauh dari urusan ranjang. Batin Suci.
Nico hanya terkekeh melihat istrinya tampak sebal.
"Tambahannya satu aja, sayang. Olahraga sore. Abis isya kita pulang ke Jakarta."
Suci akan protes. Namun Nico membungkam bibir Suci yang akan berucap. Ia mengunci bibir manis itu dengan bibirnya. Bertukar saliva.
Permainan lihai bibir dan lidahnya membuat Suci tak berdaya, yang awalnya mau melakukan protes dengan permintaan Nico. Kini malah terbuai dengan permainan yang menimbulkan sengatan listrik dan desiran yang merambat mengikuti aliran darah.
__ADS_1
.
.
.
Sesuai keinginan Suci, acara minggu diawali dengan joging pagi mengitari kebun teh, menikmati sejuknya udara yang bersih dan segarnya mata menatap hamparan hijau, sejauh mata memandang.
Suci berjalan sambil memperhatikan ibu-ibu pemetik teh yang bekerja dengan cepat menggunakan gunting petik, sekali-kali tersenyum dan saling sapa dengan ibu'ibu yang dilewatinya.
Nico yang membawa kamera menggantung di lehernya sigap mengambil candid camera saat sang istri tersenyum, mencium aroma daun teh, dan gestur lain yang menurutnya bagus serta natural.
****
Sore hari. Usai berpuas diri berkeliling di Taman Safari juga mengunjungi masjid Atta'awun, kini keduanya merebahkan diri di atas ranjang. Mereka melepas lelah setelah sebelumnya mandi bersama.
"Gimana, puas jalan-jalannya?" Nico menggenggam tangan Suci dan meremasnya dengan lembut.
"Haduh, cape ya tapi sangat puas. Baru terasa sekarang, kaki aku pegal banget." Suci bangkit dari tidurannya. Merubah posisi menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan diganjal sebuah bantal. Tangannya memijat-mijat betisnya yang pegal.
"Aku belum cape tuh. Masih ada satu acara lagi, baru cape--" Nico mengerlingkan matanya penuh arti. Tangannya yang memijat betis, pelan-pelan merayap naik. Setelah mandi, badannya lebih segar dan bersemangat mengakhiri acara liburan dengan kembali menindih sang istri.
"Aku cape, Mas--" Rengek Suci, manja.
"Gak papa. Kamu diam aja, sayang. Biar aku yang bekerja!"
Dan hawa sore yang dingin di luar berbeda dengan atmosfer di dalam kamar. Panas dan berkeringat.
.
.
.
__ADS_1
Saatnya pulang.
Nico mengepalkan sejumlah uang ke tangan Pak Mamat saat bersalaman untuk pamit pulang. Dengan wajah malu namun tersirat binar bahagia, Pak Mamat mengucapkan terima kasihnya.
"Sayang, kita makan dulu ya. Sate kelinci, mau?" tawar Nico saat mobil mulai melaju meninggalkan gerbang Villa. Menyusuri jalan kampung beraspal menuju jalan raya.
"Hm. Boleh-boleh--" Suci memilih mengukuti saja. Tubuhnya begitu lelah hingga malas untuk memberi ide.
Mobil melaju meninggalkan kawasan Puncak usai menikmati makan malam dengan menu utama sate kelinci. Akitifitas seharian yang melelahkan ditambah 'olahraga sore' yang menguras tenaga, membuat Suci terlelap sepanjang jalan.
Nico sekali-kali melirik wanita di sampingnya itu yang tampak pulas. Sandaran jok yang digeser ke belakang membuat tidur Suci lebih nyaman. Diusapnya dengan sayang, kepala wanita cantik berbalut jilbab yang telah berhasil merubah jalan hidup dan takdirnya.
Cup.
Jalanan yang macet dimanfaatkan Nico dengan memberi kecupan berkali-mali penuh perasaan. Kecupan mendalam dilabuhkan Nico di kening sang istri yang kepalanya miring menghadapnya. Suci sama sekali tidak terganggu. Ia benar-benar lelap dalam tidurnya. Lelah.
Stamina Nico begitu kuat. Lebih nampak kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya daripada gurat kelelahan.
Setelah melewati macet dari banyaknya kendaraan arus balik menuju Jakarta, kendaraan SUV nya melesat cepat di jalanan tol. Pulang.
Aku telah menulis namamu dihatiku
Dan akan kujaga sepenuh hati
Tak ada seorang pun dapat menghapusnya
Atau pula menggantikannya
Mencintaimu telah mendekatkanku kepada Sang Maha Cinta
Aku sungguh jatuh cinta sedalam-dalamnya
Hanya karena wajah berhias jilbab
__ADS_1
Dan senyum yang menyejukkan pandangan
Dia, Istriku