MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Malam Aksi (2)


__ADS_3

Suara gaduh dari arah kamar membuat nafas Nyonya Siska dan Winda merasa tercekat di kerongkongan. Rintihan itu paduan dari suara pria dan wanita. Dengan lutut yang sudah gemetar, Nyonya Siska memberanikan diri memegang handle pintu.


Brak


Pintu pun terbuka lebar.


Tidak, tidak. Ini pasti hanya mimpi. Aku sedang mimpi kan?


Nyonya Siska dan anaknya seolah kehilangan suara, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ini hanyalah kejadian dalam mimpi.


Matanya melotot dengan mulut menganga melihat pemandangan tak senonoh. Dua orang dewasa berlawanan jenis sedang bergumul, dengan pakaian berserakan sembarangan. Keduanya ikut terkejut dengan kehadiran tiga orang tamu di ambang pintu. Buru-buru mereka menarik selimut menutupi tubuh yang polos. Pras meraih bajunya yang teronggok di atas meja, memakainya dengan cepat.


"Mami--Winda." Bergetar suaranya, terkesiap wajah Pras, saat menyadari dua wanita yang berdiri terpaku adalah anak dan istrinya.


"Pras, brengsek kamu!!! Kenapa kamu tega menghianati aku hah! Kamu tega menghancurkan keluarga kita. Brengsek kamu Pras. Brengsek!!!"


Entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba Nyonya Siska mendekat. Memukul-mukul tubuh atas suaminya, mencakarnya, sambil teriak-teriak penuh amarah. Yang dipukuli berusaha menangkis dengan tangannya. Tidak berniat membalasnya, Pras hanya menahan tangan istrinya agar tidak berlanjut meluapkan amarah. Mulut Pras terkunci, dirinya masih shock dengan kejadian yang tak diduganya. Kepergok anak istri.


"Kamu juga. Dasar perempuan murahan. Mau morotin Papi gue hah!!! Winda dengan marah ikut mendekat. Menjambak rambut pirang perempuan muda yang menggulung tubuhnya dengan selimut sampai leher.


Aww


Perempuan itu meringis kesakitan. Rambutnya ditarik dengan kasar sampai kepalanya mendongak.


Suara teriakan di malam sunyi itu membuat tetangga kamar berdatangan, ingin mengetahui apa yang terjadi. Pemilik kos berusaha menahan mereka untuk melihat ke kamar. Namun suara amukan dan jeritan pelampiasan amarah, membuat orang-orang menerobos masuk karena penasaran. Akhirnya drama dalam kamar itu menjadi tontonan dan direkam orang-orang , sebelum akhirnya ada yang turun tangan untuk melerai, menenangkan keadaan.


"Saya sudah bilang jangan buat keributan. Bawa saja mereka dari sini! Saya nggak mau kosan ini menjadi viral gara-gara perselingkuhan kalian." Pemilik kosan sudah hilang kesabarannya. Ia memilih mengusir keduanya, berikut tamunya.


****


Di sebrang jalan dalam jarak 50 meter, ada mobil hitam terparkir di bahu jalan. Dua pria tampan didalamnya. Nico dan Malik dengan jelas menyaksikan orang-orang yang keluar dari gerbang kosan. Diiringi sebagian penghuni kos yang membuntuti dengan mengabadikan menggunakan kamera ponsel.


Pras yang jalan menunduk, tak berkutik saat Nyonya Siska menyeretnya masuk ke dalam mobil yang sama. Sementara sopir membawa mobil Tuannya yang berada di parkiran kosan.

__ADS_1


"Selanjutnya akan terjadi kiamat di rumah mewah mereka. " Nico mengomentari pertunjukan live sekian menitnya. Kawasan kosan kembali sepi saat dua mobil meninggalakan lokasi, pintu gerbang kembali ditutup rapat oleh security.


"Kita lanjut ke mana?" Malik menoleh karena Nico belum menjawab pertanyaannya. Ia melihat Nico aedang berpikir keras.


"Kenapa anak buahmu belum memberi kabar? Jangan-jangan tidak jadi." Nico balik bertanya. Sudah jam 11 malam, namun belum ada kabar penangkapan asistennya Pras. Padahal malam ini sudah mendapat bocoran, akan ada pertemuan dangan oknum pegawai kementrian. Untuk penyerahan uang suap pemenangan tender.


"Belum ada pergerakan, katanya. Mereka masih stay memantau." Malik menerima pesan laporan dari anak buahnya.


"Apa sebaiknya kita pulang? Tidur, menunggu besok nonton berita di TV," lanjut Malik.


"Tidak. Kita cari warung kopi saja. Pulang ke rumah nggak mungkin bisa tidur, kalau belum ada kabar baik."


Malik hanya mengangkat bahu. Ia memutar balik mobilnya, kembali membelah jalan raya yang mulai lengang. Mencari warung kopi yang masih buka menjelang tengah malam ini.


****


PoV Suci


Aku dengan berat hati melepas Mas Nico pergi. Kupikir kita akan lanjut tidur bersama, berbincang santai dan becanda sampai kantuk menyerang. Ternyata Bang Malik datang menjemput. Malam ini katanya segala hambatan hubungan kami akan berakhir. Mas Nico akan membongkar segala kebusukan Pras, papanya Winda.


Sepeninggal Mas Nico, aku hanya rebahan di atas ranjang. Untuk turun ke bawah menemani Bunda nonton TV juga rasanya malas, dan juga lelah tentunya. Aku berdoa kepada Allah, agar suamiku diberi kelancaran dan keselamatan di segala urusan.


Aku tak bisa terjaga lama. Mataku mulai memberat karena kantuk, berkali-kali menguap. Benar kata istilah Mas Nico, penyatuan tadi ibarat pil tidur alami. Aku benar-benar nggak mampu lagi mengganjal mata agar terus melek. Aku tertidur.


Pukul 12 tengah malam aku terjaga ingin pipis. Menoleh ke samping, tempat biasa Mas Nico tidur sambil memelukku. Namun sosoknya tidak ada, hanya ada guling.


Usai pipis, aku mengecek ponsel. Berharap ada pesan yang dikirim suamiku, namun nihil. Ingin menelpon tapi ragu, takut mengganggu misinya. Aku memilih kembali berdoa, melafalkan dzikir. Sampai tak sadar akupun kembali tertidur.


Gerakan kasur yang mengombak, membuat mataku terjaga. Pelukan tangan kekar yang melingkar di perut sungguh familiar, wajahku langsung berbinar. Aku membalikkan badan, tersenyum lebar menatap wajah tampan yang juga menatapku dengan senyum. Tatapannya begitu hangat dan lembut.


Aku menyentuh seluruh permukaan wajahnya, memastikan tidak ada luka sedikitpun. Memastikan dirinya baik-baik saja. Sekilas aku melihat jam dinding, pukul 2 dini hari.


"Cantik, aku pulang dengan selamat. Semuanya sudah berakhir." Mas Nico mengecup keningku mesra. Menenggelamkan wajahku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Alhamdulillah, lega rasanya mendengar kabar baik itu.


"Ayo lanjut tidur, sayang!"


Aku hanya mengangguk. Seulas senyum manis dan kecupan di pipi, aku lakukan. "I love you, suamiku."


Satu kalimat ungkapan perasaan, dari hati yang paling dalam, tulus aku ucapkan untuk pertama kalinya. Apresiasi untuk pengorbanan suamiku demi kebahagiaan ikatan cinta kami.


"I love you too. Istriku, sayangku, bidadariku."


Mas Nico menciumi seluruh wajahku dengan penuh perasaan. Ya, aku bisa merasakannya. Aliran cintanya begitu kuat menyentuh pori-pori kulit, meresap ke hati, menjalar ke jantung yang membuat kami bisa saling merasakan detak jantung yang bertalu kencang, karena kita saling jatuh cinta lagi.


Ya Allah...


Lelaki ini tlah mendapat tempat istimewa di hatiku


Aku tlah jatuh cinta padanya


Cinta dan kasih sayangnya begitu besar


Dan akan kubalas dengan kesetiaan


*Aku tak hanya mencintai**nya*


Tapi aku mencintainya karena Allah


Ya Rabb


Jadikanlah suamiku seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu


Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2