
"Lo yakin, si suster ngesot akan ngikutin kita?" Rere menghentikan langkahnya saat akan memasuki toilet.
"Feelingku sih yes. Nanti apapun yang terjadi kamu fokus rekam aja, jangan menolongku. Ayo, aku mau pipis." Suci menyudahi keraguan yang nampak di raut wajah Rere. Ia segera masuk ke dalam toilet mendahului teman kerjanya itu.
Basuhan tangan di wastafel terhenti begitu ada suara seseorang di belakangnya.
"Hai sekretaris ganjen, berhenti kamu cari muka. Kalau tidak, lihat sendiri nanti akibatnya!!"
Suci mendongakan wajahnya. Dari pantulan cermin, ia dapat melihat Winda sedang berkacak pinggang menatapnya dengan tajam. Ia lalu membalikkan badannya.
"Nona Winda bicara sama saya?" Suci menunjuk dadanya. Meyakinkan lagi kalau orang yang kini berdiri berhadapan sedang mengancamnya.
Jelas saja Winda menjadi kesal dengan sambutan yang diberikan Suci. "Jangan pura-pura bego lo. Gue lagi ngomong sama lo. Ngapain tadi maksudnya hah? Mau cari perhatian Nico hah?" Winda tidak bisa menutupi rasa marah dan bencinya terhadap Suci. Dari pertama ia melihat sekretaris Nico itu, hatinya sudah merasa takut jika dia akan merebut perhatian Nico.
Suci tertawa pelan. Ia tampak santai bersidekap tangan di dada, menghadapi Winda yang sudah tersulut amarah. "Nona Winda, anda harus tahu. Tugas sekretaris itu tidak hanya membantu menghandle urusan pekerjaan bossnya, tapi juga penampilan boss harus dijaga agar selalau perfect di setiap kesempatan."
"Tapi nggak harus kayak tadi juga kali. Lo, bisa bilang sama Nico kalau ada saus di dagunya, nggak perlu lo sendiri yang mengusapnya. Lo sengaja nyari kesempatan kan buat ngambil hatinya Nico. Dasar sekretaris ganjen, tak tahu diri. Sadar diri ya! Lo bukan levelnya Nico!" Winda berbicara sambil menunjuk-nunjuk muka Suci dengan telunjuknya.
"Hei Nona, harusnya telunjukmu itu dipakai intuk menunjuk diri sendiri. Siapa yang ganjen dan tak tahu diri? Anda, nona. Sudah tahu ditolak, tapi masih ngejar-ngejar juga. Bossku tidak suka dengan perempuan manja dan otaknya kosong seperti anda." Suci tetap tenang tidak terpancing dengan penghinaan yang diarahkan Winda terhadapnya.
Beruntung suasana di ruang toilet wanita itu sepi, tidak ada.orang lain yang masuk. Hanya ada Rere yang berdiri tegang di depan pintu toilet paling ujung mengabadikan live drama yang tersaji di depan jajaran wastafel tempat cuci tangan. Ia ingin melerai, tapi keburu ingat dengan pesan Suci sebelumnya.
Plak.
Tamparan melayang ke muka Suci, membuatnya mengaduh dan meringis-ringis.
"Kurang ajar lo. Berani-beraninya menghina gue. Mulai besok lo harus berhenti kerja di kantor Nico. Kalau kamu membantah, gue nggak akan segan-segan nyakitin elo!!" Muka Winda merah padam dengan amarah yang membumbung sampai kepala.
__ADS_1
Suci hanya tertawa sinis menanggapinya. "Anda siapa berani-berani mengatur hidup saya. Saya bisa mengadu ke Pak Nico, dan anda tidak akan bisa masuk ke kantor lagi, nona Winda."
"Sialan kamu!" Winda mendorong Suci sampai badannya membentur dinding tembok. Winda yang makin tersulut, tangannya mencekik leher Suci dan menekannya ke tembok. Suci tidak melawan. Ia membiarkan Winda melampiaskan amarahnya
"Stop!"
Rere berteriak untuk menghentikan aksi itu. Ia berlari mendekat dan menarik Winda sampai terjengkang, jatuh terduduk di lantai.
"Hei suster ngesot. Lo mau masuk penjara karena membunuh hah!" Rere melotot menatap Winda yang masih terduduk di lantai.
Wind tidak berkata apapun. Dia ikut shock dengan kelakuannya sendiri yang hampir hilang kendali. Perlahan ia berdiri, menepuk-nepuk pakainnya.
Suci menarik Rere mendekatnya sambil berbisik pelan. "Kenapa menolongku? Kan sudah kubilang rekam aja. Ini tuh puncaknya drama."
"Ah, gue takut lo mati kehabisan nafas. Tenang aja, adegan terakhir masih gue rekam kok." Rere balas berbisik di telinga Suci.
Suci maju dua langkah ke hadapan Winda dengan membawa ponsel dan memperlihatkan cuplikan video. "Nona Winda, kelakuanmu sudah terekam semuanya. Berani kamu mengancam saya, rekaman ini akan membuatmu masuk penjara karena sudah melakukan penganiayaan!"
"Kamu! Awas kalau berani melaporkan!" Winda menggertakkan giginya. Ia membalikkan badannya menuju pintu keluar dengan sedikit terpincang dan menahan bokongnya yang sakit karena terjatuh.
Suci dan Rere saling pandang setelah Winda menghilang di balik pintu. Mereka bertos ria merayakan kemenangan. "Gue suka gaya lo, smart way. Sudah nggak zaman jadi perempuan lemah teraniaya." Rere mengacungkan dua jempolnya. Kagum dengan keberanian Suci yang mau melawan.
"Sudah ah. Ayo kita ke musholla," ajak Suci.
****
Musik instrumen saxsophone menemani Suci melanjutkan pekerjaannya setelah istirahat siang. Tiba-tiba fokusnya terganggu karena matanya di tutup oleh telapak tangan lebar yang dikenalnya.
__ADS_1
"Mas Nico, ngapain ih. Aku kan lagi ngetik." Suci membuka tangan yang menutupi pandangannya.
"Serius amat sih, cantik. Di dalam lagi yuk ngetiknya, biar aku ada teman ngobrol." Nico duduk di atas meja. Tersenyum memandangi istrinya yang memberenggut karena sudah mengganggunya.
"Hm. Nanti bukannya kerja tapi malah ngobrol." Suci menggelengkan kepalanya tanda menolak
"Eh, Winda mana. Sudah pulang?" lanjut Suci bertanya.
"Tadi waktu ke toilet dia nggak balik lagi. Katanya langsung pulang ada urusan mendadak."
"Owh." Suci tersenyum tipis. Jelas saja Winda tak akan kembali ke mejanya karena jalannya pincang karena keseleo, terjatuh memakai high heel, ditambah bokong sakit karena mencium lantai toilet.
"Sayang, nanti pulang ikut denganku ya, nginap di rumah Bunda." Nico mengelus tangan istrinya dengan sayang.
"Nanti kalau Winda atau Ibunya datang ke rumah, gimana?" Suci mendongak, menatap Nico yang duduk di tepi meja.
"Jangan khawatir, security akan melapor kalau mereka datang. Aku ingin tidur memeluk istriku." Nico mengecup tangan Suci yang masih digenggamnya.
"Baiklah. Nanti pulang dulu ambil baju ganti ya Mas." Suci mengangguk setuju. Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang seharusnya tinggal bersama.
"Nggak perlu bawa baju ganti. Semua keperluanmu sudah ada lengkap di kamar kita."
"Siapa yang menyiapkannya?" Suci membulatkan matanya. Kaget mendengar perkataan suaminya itu.
"Aku dong. Tapi yang belanjanya Bunda karena beliau keukeuh ingin memberikan yang terbaik buat menantu kesayangannya katanya." Nico tersenyum memandang Suci yang tersipu.
"Aku lanjut kerja lagi ya, cantik. Sudah siap berkas untuk rapat dengan ayah?"
__ADS_1
"Ini kan aku lagi ngetik. Sedikit lagi selesai kalau Mas Nico nggak gangguin. Makanya sana pergi--" Suci mengibaskan tangannya mengusir Nico untuk meninggalkan mejanya.
Nico tertawa pelan. Tak lupa dia mencium sekilas bibir ranum sekretarisnya itu sebelum pergi. Ia selalu gemas kalau melihat Suci menggerutu dengan bibir mengerucut.