
Rahma menatap Malik sambil menggeleng. "Jangan sampai Uma teriak lagi. Ayo kita keluar!"
Malik menggosok-gosok rambutnya dengan telapak tangan. Ia harus menetralkan kembali gairah yang sudah naik ke ubun-ubun. Baru aja mulai, keluhnya.
"Ah Uma, padahal ini juga mau makan," ujarnya sambil mengatur nafas agar sebelum keluar kamar, penampilannya terlihat normal dan wajar.
Rahma usai berkaca merapihkan penampilan, hanya mengulum senyum menatapnya.
Di ruang tengah yang tergelar karpet sudah tersaji berbagai hidangan. Orang-orang yang duduk melingkar menatap kedatangan sepasang pengantin baru itu.
"Maaf, kirain tidak ada acara makan bersama." Malik tersenyum menyeringai dan memilih duduk sila di sisi Nico.
"Masa lagi ramai orang gini udah ngamar aja. Masih sore Bang. Sabar dong---" Nico sengaja mengeraskan suaranya untuk meledek sahabatnya itu.
Sontak semua orang tertawa. Suci dan Salma terkikik sambil melirik Rahma yang bergabung duduk di dekatnya.
"Bilang sama si abang, jangan kontan. Dicicil aja sampai seminggu, biar gak nyeri." Suci berbisik di telinga Rahma namun juga terdengar oleh Salma.
"Apaan, sih." Rahma mencubit lengan Suci sampai terdengar mengaduh. Ia begitu malu karena menjadi bahan godaan.
Lagi-lagi Suci dan Salma terkikik melihat wajah Rahma yang merona.
"Mendadak pengantin pengen punya ilmu sirep. Biar semua orang yang ada di rumah tertidur. Jadi gak ada yang mengganggunya." Giliran Ayah Hendro menggoda Malik.
"Ha ha ha...pengalaman ya pak Hendro." Giliran Om Badru yang tertawa lepas dengan mulut penuh makanan.
"Ayah awas kesedak!" Uma memperingatkan suaminya yamg tertawa sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Yang menjadi tokoh utama hanya mesem-mesem menanggapinya.
Malik menuju balkon dimana ada keluarga Jakarta sedang bersantai menikmati udara malam yang cerah dengan angin yang berhembus pelan. Kerlap kerlip bintang semarak menghiasi langit malam yang hitam pekat. Keindahan alam ciptaan Tuhan yang patut disyukuri dan ditafakuri oleh umat manusia.
"Ayah, Bunda, Malik sangat-sangat berterimakasih udah bersedia menjadi wali." Entah sudah berapa kali Malik mengucapkan kata itu saking bersyukurnya karena Ayah Hendro dan Bunda Devi mau meluangkan waktu menjadi wakil orangtuanya.
Ketidak dekatan orangtua kandung Malik dengan keluarga besarnya membuat Malik juga jauh dengan kerabat baik dari pihak ayahnya maupun ibunya. Seolah kini ia tidak punya sanak saudara. Hanya keluarga Nico lah yang ia punya, yang notabene tidak ada silsilah keluarga.
Ayah Hendro mengangguk. "Ambil hikmahnya, Malik. Kelak jangan sampai terjadi kepada anak keturunanmu, harus saling akrab, jangan putus silaturahim."
Malik membenarkan ucapan Ayah Hendro.
"Besok kita pulang duluan ya. Jadilah suami yang setia dan bertanggung jawab. Hidup yang sesungguhnya baru dimulai hari ini." Bunda mengusap punggung Malik. Usapan yang mengalirkan kehangatan seorang ibu terhadap anaknya.
"Iya, Bunda." Malik merasa terharu mendapat usapan penuh sayang. Bahkan ia tidak ingat kapan terakhir kali mendapat usapan lembut dari ibunya.
Obrolan berlanjut bersama Nico dan Candra sampai tak terasa malam semakin larut. Malik sebenarnya sudah gelisah ingin pergi dari sana, menyusul Rahma yang sudah masuk ke kamar duluan. Dasar Nico, ada aja cara untuk mencegah Malik beranjak. Sampai akhirnya jam 11 malam semuanya membubarkan diri. Nico dan Candra pulang ke rumah Umi.
Perlahan Malik membuka pintu kamar dan menguncinya. Kamar berukuran tidak terlalu luas namun terdapat kamar mandi di dalamnya itu menyuguhkan pemandangan elok. Bagi Malik pemandangan di atas ranjang berkelambu putih itu membuatnya menahan nafas, saking terkesima.
Sesosok wanita cantik berbalut gaun tidur merah jambu tengah tertidur lelap dengan rambut hitam dibiarkan tergerai. Sebagian anak rambut tampak jatuh menutupi dahi.
Cantik sekali.
Malik sungguh terpesona. Ia yang duduk di tepi ranjang terus menerus menatap wajah ayu istrinya itu. Untuk pertama kalinya ia melihat Rahma tanpa hijab.
"Tidur yang nyenyak, istriku." Malik mengecup kening Rahma dengan berkata pelan. Ia tidak tega membangunkan Rahma yang wajahnya tampak lelah. Besok lusa waktunya pergi honeymoon. Waktu yang bebas melakukan hal apapun berdua. Tanpa ada yang mengganggu.
"I love you." Kecupan yang kedua mendarat di bibir ranum Rahma. Cape usai acara tadi siang membuatnya tetap pulas tanpa tahu jika kini Malik sudah tidur di sampingnya dan memeluknya dengan erat dan hangat.
__ADS_1
****
Jakarta
Seminggu kemudian.
Akhir pekan di rumah besar Ayah Hendro, mertua dan menantu duduk bersama di sofa ruang keluarga. Suci memegang Tab untuk memilih dekorasi ruang kamar untuk anaknya kelak. Kamar yang disiapkan posisinya ada samping kamarnya.
Sebenarnya Suci menolak untuk mempersiapkan kamar sekarang. Karena selama masih bayi, anaknya akan tinggal sekamar dengannya. Bahkan box bayi sudah disiapkan, berikut perlengkapan bayi lainnya sudah dibeli. Hanya tinggal menunggu waktu kelahiran si kecil.
Namun lain halnya dengan pemikiran Bunda Devi. Mertuanya itu ingin persiapan total dengan mendesain kamar calon cucu keduanya itu.
"Ini bagus ya. Pink putih. Lucu. Girly." Bunda memperbesar tampilan gambar itu dengan senyum lebar penuh kepuasan.
"Tapi kita belum tau jenis kelaminnya, Bun. Gimana kalau warna yang netral aja?" usul Suci. Sama halnya memilih pakain bayi pun ia memilih warna-warna yang netral.
"Tapi feeling Bunda sih anakmu perempuan." Bunda mengamati perut Suci yang kian menonjol dan mengusapnya sekali. "Ah tapi mau perempuan atau laki-laki sama aja. Yang penting lahir sehat dan selamat." lanjut Bunda mengoreksi.
Suci mengangguk. Pilihan interior kamar akhirnya diputuskan memakai warna pastel sesuai contoh desain.
"Ini biar jadi urusan Bunda. Karena desainernya anak teman Bunda."
Suci bernafas lega. Acara pilih-pilih sampai 1 jam itu kini usai sudah. Ia menyimpan Tab di atas meja.
"Bunda kabari aja untuk biayanya. Nanti aku transfer."
Bunda menggeleng. " Gak usah. Ini kado dari Bunda. Buat cucu kedua."
"Ah, Bunda emang the best. Makasih--" Suci memeluk ibu mertuanya itu dengan mengulas senyum lebar. Bunda balas tersenyum sambil mengusap-ngusap punggung menantunya itu dengan sayang.
"Siapa, Sri?"
.
.
.
.
"Apa kabar, Indah?" Bunda memeluk hangat sosok wanita anggun berambut coklat yang tertata rapih. Wanita berusia setengah abad itu pernah menjadi tetangganya saat Nico dan Malik usia SD.
"Baik." Mama Indah membalas cipika cipiki dengan wajah datar.
"Mana Malik?"
Bunda mengulas senyum dengan wajah tenang. Sementara Suci yang diajak Bunda untuk ikut menemui sang tamu, menatap seksama. Ia belum tahu siapa wanita paruh baya yang tampak awet muda itu.
"Kita bicara sambil duduk yuk!" Bunda mempersilahkan tamunya.
"Malik mana, Devi?" kembali mama Indah mengulang pertanyannya.
"Mali tidak ada di sini. Mereka masih honeymoon." Bunda menjawab dengan tenang.
Tampak kedua mata sang tamu membelalak. Kaget.
"Jadi benar kata security apartemen. Malik sudah menikah?" mama Indah memicingkan mata menatap Bunda.
__ADS_1
Bunda mengangguk. "Saya dan suami yang menjadi saksinya, juga yang mendampinginya di pelaminan."
"Siapa perempuannya?"
"Kenapa kamu lancang? Padahal sayalah ibunya."
"Istrinya bernama Rahma, dia--"
"Oh wanita kampung itu. Saya tidak setuju. Pernikahannya harus dibatalkan!" Mama Indah memotong ucapan Bunda. Mendengar nama Rahma, ia tentu ingat dengan wanita berpenampilan sederhana yang dikenalkan Malik padanya.
"Kamu bicara apa, Indah." Bunda mulai terpancing emosi. Namun Suci menyentuh lengannya dan menggeleng pelan.
Bunda menghembuskan nafas perlahan. Berusaha kembali tenang.
"Ini Suci, menantu kesayangan saya." Bunda menoleh ke arah Suci yang duduk di sisinya. "Dan Suci adalah kakak sepupunya Rahma. Keduanya keturunan keluarga baik-baik."
"Indah, jangan memandang orang dari status sosial." Bunda menggelengkan kepala. Tidak setuju.
"Terserah. Kamu mau punya menantu orang kampung, saya tidak peduli. Tapi saya peduli dengan masa depan Malik. Saya sudah punya calon yang sepadan dengannya. Pernikahan mereka harus dibatalkan!"
"Ada apa ini? Kenapa tante menghina istri saya?" Rupanya ucapan mama Indah didengar Nico dan Ayah Hendro yang baru tiba usai jogging bersama mengelilingi komplek.
Nico dan ayah duduk bergabung di kursi panjang yang masih kosong.
"Nico, tante bukan menghina istrimu. Bahkan tante tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Tapi kenapa orangtuamu ikut campur urusan orang. Makanya tante protes." Mama Indah kini beralih menatap Nico dengan wajah berapi-api.
"Tante, saya juga ikut campur urusan Malik. Saya yang mengantarnya untuk melamar sampai dengan menikah. Karena Malik yang meminta tolong dan karena dia sahabat saya."
"Tante harusnya bangga. Malik mendapatkan istri yang sudah membimbingnya menjadi orang baik."
Mama Indah menatap tajam ke arah Nico. "Kamu tuh anak kemarin sore. Tidak tahu apa-apa. Dulu ayahnya Malik tergoda perempuan kampung yang sok lugu. Nyatanya, habis diporoti."
Wajah Mama Indah nampak memerah karena menahan amarah.
"Jangan memutar balikan fakta, Indah." Giliran ayah Hendro menimpali. "Harta almarhum suamimu habis kamu pakai untuk pelicin kursi jabatan eksekutif."
" Jangan salahkan laki-laki kalau sampai berpaling ke wanita lain. Salahkan istrinya yang menelantarkan suami dan anak yang lebih peduli dengan karir dan jabatan," sindir ayah Hendro.
Nico menautkan kedua alisnya. Ia terkejut dengan fakta masa lalu bercerainya orangtua Malik.
"Jangan sok tahu, Hendro." Mama Indah menyipitkan matanya dengan tersenyum sinis. Mendadak wajahnya pias. Terkesiap.
Ayah Hendro tampak tenang meski mendapat tatapan intimidasi.
"Almarhum yang bilang sendiri sama saya. Dulu dia selalu curhat."
Hening sesaat. Mama Indah tampak mengatupkan bibirnya. Ia terhenyak. Tidak menyangka mantan suaminya selalu curhat dengan Hendro. Itu artinya keduanya berteman dekat.
"Saya tetap akan batalkan pernikahan Malik!"
"Permisi."
Mama Indah bangkit dari duduknya. Ia pergi dengan langkah tergesa meninggalkan ruang tamu.
Suci tercenung menekuri lantai granit yang mengkilap memantulkan bayangan wajah sang adik sepupu.
Ya allah. Kasihan Rahma.
__ADS_1