
Sabtu pagi
Mobil Alphard hitam tiba di depan rumah minimalis dua lantai type 60 milik keluarga Candra. Nico dan Suci turun dari mobil yang dikemudikan sopir keluarga Ayah Hendro. Mereka masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka dengan mengucap salam.
"Bang, kita satu mobil aja. Calon pengantin gak boleh nyetir sendiri." Nico menggoda Candra yang sudah siap dengan setelan casual, celana jeans hitam dan kaos putih. Batik lengan panjang yang akan dikenakannya digantung di hanger. Akan dipakai jika sudah dekat ke tujuan.
"Kamu bisa aja--" Candra menoyor lengan Nico. Keduanya tampak akrab dan saling meledek. Umi yang melihat kelakuan keduanya hanya menyunggingkan senyum. Sebagai orang tua, ia merasa bahagia, anak dan menantunya rukun dan harmonis.
Suci dan Rahma menyiapkan hantaran yang akan dibawa sebagai buah tangan. Om Badru sudah pulang lebih dulu ke Aceh karena akan memulai pembangunan renovasi masjid yang didanai oleh Nico.
Dua hari yang lalu abangnya itu bertanya kapan akan berangkat honeymoon. Saat dikasih tahu akan pergi hari minggu, Candra meminta Suci menemaninya dulu sabtu ini untuk mengkhitbah Salma. Suci mengucap syukur, harapannya untuk memiliki kakak ipar Salma akan terwujud.
"Sudah siap semua?" Nico menghampiri ruang keluarga dimana ada Suci dan Rahma sedang mengobrol. Lebih tepatnya, Suci menjadi pendengar Rahma yang curhat soal Malik.
"Udah, Mas. Mau berangkat sekarang?" Suci mendongak menatap Nico yang berdiri melihat-lihat isi hantaran yang dibungkus plastik mika bening untuk dibawa ke rumah Salma.
"Iya. Keburu siang--"
Nico membantu membawa hantaran yang berjumlah 6 buah ke dalam bagasi mobil.
Perjalanan ke Malangbong Garut akan dimulai.
Dengan mengucap doa, sopir mulai melajukan mobil mewah yang membawa lima orang penumpang.
****
Flashback On
Kamis sore
Ini adalah hari terakhir Candra berada di Rancaekek. Ia dengan detail memantau mobilitas pabrik yang merekrut ribuan karyawan garmen. Bertugas sebagai perwakilan direktur, loyalitasnya tak perlu diragukan. Ia tak mempan dengan sogokan tumpukan uang dari manajemen pabrik yang meminta agar memberikan laporan nilai A kepada direktur pusat.
Candra adalah Candra. Pria yang serius dalam melakukan investigasi dan akan melaporkan apa adanya keadaan di lapangan. Sosok yang irit bicara dan fokus bekerja itu ditakuti dan disegani kepala pabrik dan para staf.
.
.
.
Mobil Candra tiba di depan rumah orang tua Salma. Dengan penuh percaya diri dan niat baik, ia datang bertamu di sore hari selepas Ashar. Ia telah usai dengan urusan kerjanya yang beres lebih cepat.
Di ruang tamu, disaksikan kedua orang tua Salma dan kakaknya, Candra mengutarakan maksud kedatangannya. Tuan rumah mendengarkan dengan seksama penuturan Candra yang ingin melamar Salma. Juga menceritakan bagaimana sebetulnya Salma sudah menyukainya lebih dulu, justru dirinyalah yang terlambat menyadari perasaannya.
Bapak Dedi manggut-manggut. Ia menarik benang merah mengingat Salma yang selalu menolak laki-laki yang ingin meminangnya. Rupanya, laki-laki ini yang ditunggunya. Bapak Dedi membatin.
"Pak,Ibu, mohon jangan kasih tau Salma kalau saya datang ke sini. Saya ingin memberinya kejutan. Dan mungkin Bapak harus menjemputnya ke Jakarta karena Salma tidak akan pulang."
__ADS_1
"Baiklah nak, kami selaku orang tua Salma menyambut dsngan gembira niat baik nak Candra. InsyaAllah, besok Bapak akan menjemputnya ke Jakarta."
Begitulah Candra, ia mengakhiri bertamunya dengan berjanji akan datang membawa keluarga sabtu siang.
Hari jumat akan digunakan untuk beristirahat, merehatkan badan dan pikiran yang mumet usai kerja maraton.
Flashback Off
****
Mobil memasuki daerah Limbangan. Suci yang duduk di jok belakang, bersandar di bahu sang suami yang duduk sambil sesekali mengecek ponselnya saat notif berbunyi. Malik memberikan laporan usahanya yang di Bandung via chat dan laporan keuangan via email kepada Nico.
Candra yang duduk di depan bersama sang sopir, memerintahkan untuk berhenti di depan. Ia melihat ada masjid megah dengan pelataran parkir yang luas. Sudah waktunya sholat duhur. Mobil pun berbelok ke dalam parkiran dan berhenti dengan arahan tukang parkir.
Semua penumpang turun sambil meregangkan tubuhnya. Duduk berjam-jam membuat kaki dan punggung terasa pegal.
Masjid bergaya arsitektur modern dengan cat nuansa putih berdiri kokoh dengan latar belakang pemandangan sawah dan lebatnya pepohonan hutan kayu. Letak masjidnya strategis berada di jalur provinsi yang menghubungkan Bandung-Tasikmalaya.
Usai sholat, mereka duduk-duduk santai di teras masjid berbahan granit sambil beristirahat dan menikmati kacang rebus yang dijual pedagang sepuh.
"Pak, kacang rebusnya bungkus semua. Tolong bagikan kepada semua orang. Saya yang bayar semuanya." Candra mengeluarkan beberapa lembaran merah, dikepalkannya kepada tangan yang telah keriput itu.
Bapak tua penjual kacang itu mengucapkan terima kasih berkali-kali dan menangis haru serta mendoakan kebaikan untuk sang pemberi sedekah. Uang yang diterimanya sangat banyak untuk orang gak mampu seperti dirinya. Sangat lebih dari harga kacang rebus yang dijualnya.
Nico mengajak Suci berswafoto dengan latar masjid dan naungan langit biru. Rahma kebagian tugas menjadi fotografer dadakan.
"Ini masjid wakaf dari Pak Ricky, wakaf atas nama kedua orang tuanya yang udah meninggal. Pak Ricky tinggalnya di Bandung."
Nico manggut- manggut mendengar penjelasan tukang parkir itu. Dirinya menjadi terpacu untuk Fastabiqul Khairat (berlomba dalam kebaikan).
Usai makan siang di sebuah restoran Sunda, mobil kembali melaju menuju tujuan utama. Kurang dari satu jam lagi akan tiba di rumah orang tua Salma.
****
Rumah Salma
Susan, kakaknya Salma, masuk ke dalam kamar sang adik yang tak dikunci. Ia menggelengkan kepalanya melihat Salma yang masih meringkuk di balik selimut. Tidak ada gairah dan semangat, wajah Salma tampak kusut dengan sedikit sembab sisa menangis semalam. Menangis meratapi nasib cintanya.
"Sal, cepetan mandi dan sholat! Bentar lagi tamu akan datang." Susan ibunya si kembar Galang dan Gilang, menarik selimut yang dipakai Salma sampai melorot ke bawah.
"Teteh, aku mau kabur aja ya!" Salma terduduk dengan rambut acak-acakan.
"Oh, kamu mau Bapak kena serangan jantung terus mati, gituh?" Susan mendelik kesal dengan adiknya yang gak bisa dinasehati. Sejak semalam ia sudah menghibur, bahwa calon suaminya nanti orangnya baik dan tampan. Tapi Salma keukeuh, hatinya masih terpaut kepada pangeran pujaannya.
"Ih teteh mah, malah doain Bapak mati." Salma mengerucutkan bibirnya. Kepalanya terasa pening memikirkan seperti apa pria yang akan melamarnya. Ia pun sudah memikirlan untuk segera resign demi bisa melupakan Candra, si bodoh yang dicintainya.
Dengan langkah diseret, ia menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Dengan mandi dan sholat, berharap hati dan pikirannya bisa tegar menghadapi takdir yang akan menyambutnya.
__ADS_1
.
.
.
Satu jam berlalu, Salma yang tetap berada di kamarnya mendengar suara riuh banyak orang di luar kamarnya. Suara Bapaknya terdengar keras dan riang menyambut tamu.
Salma mengurut pelipisnya yang berdenyut. Andaikan jendela kamar tak ada teralisnya, ia ingin sekali loncat dari jendela, kabur sejauh-jauhnya.
Pintu kamar di dorong dari luar.
Salma acuh.
Ia memandang keluar jendela dengan tangan memegang erat teralis seolah tahanan yang mengiba ingin bebas.
Kakaknya mendekat, menyentuh bahu adiknya dengan tersenyum lebar.
"Sal, semua keluarga berbahagia, Pak RT dan Bu RT juga turut hadir ikut sukacita menyambut tamu sekelurga. Ini pengantinnya malam cemberut, tingali na kaca, goreng patut." (lihat di cermin, jelek sekali)
"Teteh sama yang lainnya tega, menari diatas penderitaan orang lain." Salma berbicara tanpa menolehkan wajahnya. Tetap memandang ke luar jendela. Menatap kosong hamparan padi yang hijau.
"Sudah-sudah jangan ngelantur. Sebentar lagi kamu akan menyesal dengan semua pemikiran buruk dan ucapanmu itu."
Susan membantu adiknya merias wajah dengan make up tipis sehinga terlihat segar, menyembunyikan wajah pucat dan sembab sang adik. Gamis berwarna hijau menambah segar penampilannya meski sebenarnya hatinya terasa layu.
Dengan enggan, Salma berjalan keluar kamar mengikuti sang kakak yang menuntunnya. Jantungnya mulai berdebar. Ia menunduk sangat dalam, tak berani mengangkat wajahnya saat sampai di depan ruang tamu.
Tubuh Salma merinding.
Samar-samar ia mencium aroma parfum yang familiar. Tangannya makin erat mencengkram tangan kakaknya itu karena dirinya merasa terkena halusinasi.
"Salma, ayo duduk! Jangan berdiri terus." Bapak menyuruh sang anak duduk di tengah. Diapit oleh Bapak dan Ibu.
Tanpa mau mengangkat wajah, Salma menuruti perintah Bapak.
"Yang mau dilamar kok cemberut sih. Gak seneng ya--"
Deg
.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung...