
Surabaya
Bendera kuning terpancang di sela pagar besi dan melambai pelan tertiup angin sepoi. Pintu gerbang dibiarkan terbuka lebar untuk memudahkan para pelayat yang akan masuk dan keluar.
Sebuah taksi online memasuki pekarangan rumah yang sudah terpasang tenda dan kursi. Beberapa karangan bunga ucapan duka cita berjajar di tepi tembok benteng rumah.
Empat orang penumpang turun dari mobil. Ada Ayah Hendro, Bunda Devi, Nico juga Suci. Mereka segera masuk ke dalam rumah, menemui keluarga yang belum berhenti menyeka air mata yang terus jatuh karena duka mendalam.
"Mbak, yang tabah ya!" Bunda Devi menghambur memeluk sang kakak yang tak lain adalah Mami Dewi. Ia dengan setia duduk di depan jenazah suaminya yang sudah rapih ditutupi kain, ditemani anak dan menantunya.
"Devi, maafkan mas Yadi jika ada salah." Mami Dewi kembali terisak di balik punggung sang adik saat berpelukan dengan Bunda Devi
"Iya, mbak." Bunda Devi hanya menjawab singkat karena tenggorokannya merasa tercekat. Ia mengusap-ngusap pungung sang kakak memberinya kekuatan.
Hal yang sama dilakukan Ayah Hendro, Nico dan Suci, ikut mengucap bela sungkawa.
"Bro, yang tabah ya." Nico memeluk Sony, kakak sepupunya. Yang merupakan anak tunggal Mami Dewi.
Sony hanya mengangguk. Gurat duka mendalam tersirat di wajahnya.
Terakhir, Suci berpelukan dengan Bella, istri dari Sony yang setia duduk menemani sang suami.
Saat resepsi pernikahan Suci dan Nico, Om Yadi tidak datang karena sakit stroke yang dideritanya setahun terakhir ini. Berbagai terapi sudah dilakukan. Namun karena kerusakan pada saraf otak sudah parah, berbagai terapi tidak menampilkan keberhasilan yang signifikan. Puncaknya, subuh tadi Om Yadi menghembuskan nafas terakhirnya.
Tanah pusara masih basah dan menguarkan aroma segar bersumber dari kelopak bunga mawar yang ditaburkan. Para pelayat yang mengantar ke peristirahatan terakhir sudah bubar. Terakhir, keluarga inti baru beranjak saat matahari mulai terik.
Ayah Hendro dan Nico menginap semalam. Besoknya mereka pulang lebih dulu karena perkerjaan di kantor sudah menantinya.
"Sayang, aku pulang duluan. Gak keberatan kan kamu di sini dulu sama Bunda?" Nico membawa tubuh Suci ke dalam pelukannya. Tak lupa mencium keningnya dengan mesra.
"Iya, Mas Nico tenang aja. Aku sama Bunda di sini dulu, mungkin sampai tujuh hari selesai doa bersama."
Nico mengurai pelukannya, menatap sang istri dengan cemberut.
"Jangan selama itu juga kali. Aku bisa insomnia jika tidur tanpa memelukmu."
__ADS_1
"Mulai deh lebay bin gombal." Suci mencubit perut Nico karena merasa gemas dan sebal. Nico hanya balas menyeringai.
Bekal Hot kiss dipinta oleh Nico di kamar tamu yang menjadi saksi aksi rakusnya. Pasokan energi yang mengantar Nico kembali pulang ke Jakarta bersama Ayah.
Doa bersama hari ke lima selesai digelar. Suci membantu memberesi piring-piring bekas jamuan tamu ke dapur. Ada bibi yang akan mengambil alih pekerjaannya karena sebetulnya Suci sudah dilarang ikut bantu beres-beres.
Suci memilih duduk di paviliun karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan. Bunda di dalam sedang asyik bercengkrama dengan kerabat. Mami Dewi masih murung dan mengurung diri di kamarnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Senyum merekah tersungging di bibirnya begitu melihat ada chat dari Nico.
"Boleh gabung?"
Suci mendongak dari fokusnya menatap layar ponsel. Ada Sony yang berdiri menatapnya memegang segelas kopi.
Suci mengangguk. Mempersilakan Sony duduk. Ada dua kursi di kiri dan kanannya yang masih kosong. Ia pun urung membalas chat dari Nico. Ponsel yang ia pegang diletakkannya di atas meja.
"Suci, maaf waktu resepsi aku dan Bella gak hadir karena harus jagain Papi di rumah sakit." Sony mulai membuka percakapan dengan Suci. Dirinya baru ada kesempatan untuk dekat dengan adik iparnya. Kemarin-kemarin disibukkan dengan menerima tamu yang masih berdatangan untuk takziah.
Suci menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis, tanda tidak keberatan dengan alasan Sony.
"Aku dan Mas Nico tentu saja maklum kok Mas."
"Dulu Nico SMA di sini. Padahal di Jakarta banyak sekolah favorit. Tapi ia keukeuh memilih Surabaya, alasannya pengen satu sekolah sama aku. Padahal kan aku udah naik kelas 3, dia baru mau masuk kelas 1. Eh usut punya usut ternyata modus doang. Sekolah di sini pengen mengejar cewek yang disukanya saat kenalan pertama kali di cafe. Dan cewek itu ternyata lolos tes keterima di sekolahku."
Ucapan Sony lolos begitu aja dengan santai. Ia tak menyadari perubahan raut muka orang yang diajaknya bicara.
"Gila si Nico. Karena takut cintanya ditolak, ia memilih diam memendam perasaannya. Dia memilih jadi sahabat cewek itu agar bisa selalu dekat."
"Bayangkan! Tiga tahun memendam rasa." Sony menerawang disusul dengan tawa terkekeh.
Suci berdehem pelan. Tenggorokannya mendadak kering. Ia merubah posisi duduknya lebih tegak demi menetralkan perasaannya yang menjadi resah.
Namun Sony seolah tidak peka. Ia lanjut menceritakan masa lalu Nico sambil menyalakan ujung rokoknya sampai keluar bara.
"Eh tau gak Suci. Saat si cewek itu memilih kuliah di Bandung, si Nico juga ikut. Dasar ya, cowok gak punya cita-cita dan pendirian. Mau aja dia ngikut ke Bandung demi gadis pujaannya." Sony menghembuskan asap rokok ke udara disusul tertawa lepas sambil geleng-geleng kepala. Menurutnya, peristiwa masa lalu itu membuatnya lucu dan menghibur.
Uhuk uhuk.
__ADS_1
Aroma rokok dan asap yang menerpa terbawa angin, membuat Suci terbatuk.
"Kamu alergi asap rokok?" Sony terkejut dengan reaksi Suci yang tangannya mengipas-ngipas menghalau asap.
Suci mengangguk dan kembali terbatuk.
"Sorry." Sony menatap penuh penyesalan. Ia segera menggerus ujung rokok ke asbak sampai benar-benar baranya padam.
"Mas Sony, maaf aku tinggal. Mau minum dulu." Suci beranjak pergi tanpa menunggu jawaban pria itu. Disatu sisi dirinya merasa lega, punya alasan untuk menghindar dari pembicaraan yang membuatnya tak nyaman.
.
.
.
Suci berada di dapur meneguk dua gelas air putih sampai tandas. Tenggorokannya sudah lega, namun tidak dengan hatinya.
Yang diceritakan Sony memang sebuah kenangan masa lalu. Karena masa depan Nico adalah bersamanya. Tapi karena mendengar masa lalu suaminya dari orang lain, Suci merasa hatinya sedikit perih.
*Kenapa a*ku jadi merasa berduka berada di rumah duka.
Ponsel di saku celananya bergetar. Ia memang sengaja mematikan nada dering selama doa bersama selepas magrib digelar.
Suamiku calling
Begitu nama yang tertera di layar. Suci hanya menatapnya, enggan menerima panggilannya.
Untuk kedua kalinya, Suamiku calling.
Suci menghela nafas. Ia belum mau menerima telepon dari Nico karena suasana hatinya sedang gundah gulana alias bete.
Gara-gara Sony, moodnya jatuh terperosok ke tempat buruk.
Suci bergegas meninggalkan dapur menuju kamarnya. Ponsel yang terus bergetar di saku celana diabaikannya.
__ADS_1