
Ruang keluarga menjadi saksi seorang pemuda bercerita tentang niatnya menikah, tentang masalahnya dengan Prasetya, tentang kerugian yang menimpa perusahaan.
"Salah itu. Menuruti kemauan anak, tapi menghalalkan segala cara," Ayah Hendro menanggapi penjelasan Nico. Bunda hanya geleng-geleng kepala, tak menyangka dengan kenekatan keluarga Winda.
"Maafkan aku Yah, Bunda. Gara-gara urusan pribadi, perusahaan jadi ikut rugi. Aku berjanji akan membereskan masalah dengan Pak Pras secepatnya." Nico menatap silih berganti kedua orangtuanya. Bersyukur memiliki orangtua yang bijaksana, tidak menanggapi dengan kemarahan akan masalah yang tengah terjadi.
"Kamu mau melakukan apa? Jangan balas keburukan dengan keburukan," ujar Ayah Hendro mengingatkan anaknya.
"Tenang Yah. Aku hanya akan memberinya efek jera."
"Bunda percaya, kamu tidak akan berbuat jahat. Oh ya, meskipun mau nikah diam-diam tetep harus bawa seserahan. Masa cuma bawa badan doang, kan malu--"
"Ribetlah Bun, nanti juga langsung balik ke Jakarta. Nanti aja belanja setelah nikah sepuasnya. Yang penting bawa mahar aja," sahut Nico berpikir praktis.
"Eh tidak-tidak, tetep harus ada yang dibawa biarpun satu dua. Itu biar jadi urusan Bunda."
Nico mengangkat bahunya, memilih mengalah dengan kemauan ibunya itu.
Hari berganti, rutinitas pekerjaan tetap dijalani. Dokumen persyaratan nikah menjadi urusan Malik dan Rahma dan semuanya sudah selesai. Kamis sore, Suci bersiap kembali mudik ke kampung halaman. Dengan diantar Candra dan Nico sampai bandara, Suci siap terbang ditemani Malik.
Nico dan Suci berjalan bersisian menuju area check-in diikuti Candra dan Malik dibelakangnya. "Suci, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai rumah!"
"He he kenapa jadi sepanik itu. Tenang aja Mas, aku sudah biasa pulang pergi naik pesawat." Sahut Suci dengan kerlingan manja. Ia bukan tak faham dengan kecemasan Nico, jadi ia mencoba mengajaknya bercanda.
"Bukan itu cantik. Aku khawatir cowok itu nekat menculikmu. Makanya aku suruh Malik menemanimu, anggap saja dia bodyguard." Nico merasa harus waspada dengan kemungkinan buruk yang akan dilakukan Rafa. Tidak hanya Malik yang mengawal, ada anak buah Malik yang juga siaga mengawasi.
"InsyaAllah Mas Nico, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir ya." Suci memandang Nico dengan senyuman manisnya, untuk memberi ketenangan.
__ADS_1
Nico tentunya merasa senang mendapat senyuman dan pandangan lembut sang kekasih. "Oh ya, uang yang aku transfer kurang nggak ya? Aku tambah lagi deh, takutnya kurang." Nico hendak mengeluarkan ponselnya dari saku tapi dicegah Suci.
"Sudah lebih dari cukup Mas, jangan tambah lagi." cegah Suci sambil menggelengkan kepalanya. Hanya sekadar acara di rumah, Nico memberinya uang yang sangat banyak. Bahkan cukup untuk acara nikah di gedung.
Mereka hanya akan berpisah dua hari saja, tapi rasanya berat untuk saling melepas. Tepukan di bahu membuat Nico tersadar dari termangunya. Pesawat yang membawa Suci telah take off, dan Candra menyadarkan Nico untuk mengajaknya pulang.
****
Nico dan Candra berpisah pulang dengan mobilnya masing-masing. Bukannya menuju rumah, Nico mengarahkan mobilnya menuju rumah Winda untuk menemui Pak Pras. Di ruang tamu yang mewah dengan kursi ukir berbahan jati premium khas Jepara, Nico duduk menunggu tuan rumah yang sedang dipanggil oleh asisten rumah tangga.
"Hai Mas Nico, wow surprise....kamu mau datang ke rumahku?" Winda menghampiri dengan memekik senang. Dandanannya sungguh paripurna begitu mendengar ada Nico di ruang tamu.
"Apa kabar mas Nico?" Sekonyong-konyong Winda bersiap memeluk tamunya, namun dengan halus Nico menahannya.
"Aku baik, Winda. Aku mau bertemu dengan ayahmu, ada kan?" Meski dalam hati sebal dengan kelakuan gadia manja itu, Nico berusaha menetralkan wajahnya.
Kembali Nico melepaskan tangan Winda dengan senyum dipaksakan. "Kamu juga nggak apa-apa di sini. Kita akan ngobrolnya bertiga. Cepet panggilkan ya, plis."
Winda dengan ogah meninggalkan Nico menuju ruang kerja ayahnya. Sepeninggal Winda, Nico menghembuskan nafas keras. "Sabar Nico, kamu baru saja melangkah dengan rencanamu," batin Nico, berusaha memotivasi diri.
Terdengar derap langkah dari dua orang mendekati Nico yang masih duduk tenang di kursinya. Bapak dan anak datang dengan wajah menyiratkan kemenangan dan kepuasan.
Pak Pras duduk bertumpang kaki menatap Nico yang duduk dihadapannya. "Ada kabar baik sepertinya?" Pak Pras menaikkan kedua alisnya, senyum tipis terbit di bibir coklatnya.
"Saya akan menikahi Winda dengan tiga syarat." Ucap Nico langsung kepada maksud dan tujuan.
"Pertama, beri saya waktu satu bulan untuk menyelesaikan kekacauan yang telah anda buat. Pabrik sekarang sedang sibuk mengejar produksi ulang karena sebagian barang hangus. Dan anda harus tahu, invest anda ada di project itu." Nico dengan tegas menyampaikan tujuannya datang ke rumah itu.
__ADS_1
Winda dan Pak Pras mendengarkan dengan serius tanpa menyela. Mereka diam menunggu Nico menyampaikan persyaratan selanjutnya.
"Kedua, jangan mengganggu atau menyakiti sekretaris saya. Dia tidak tahu apa-apa, jangan libatkan dia dengan urusan kita. Dan yang terakhir, pastikan citra keluarga Prasetya baik. Jika ketiga syarat itu disetujui, saya bersedia menikah dengan Winda."
Winda, dengan isi otak minimalisnya langsung mengangguk setuju dengan rona gembira. Menurutnya, itu bukanlah persyaratan yang sulit.
Pak Pras merespon dengan sedikit tersentak saat mendengar syarat ketiga. Bibirnya terkatup rapat, belum bisa berkomentar apa-apa.
"Papi, deal ya Pi,--?" Winda merajuk kepada ayahnya itu yang masih saja diam.
"Tunggu sebentar!"
Pak Pras beranjak meninggalkan ruang tamu, membuat heran Nico dan Winda yang kemudian saling pandang. Winda menggedikkan bahunya, tanda dia juga gak tahu apa-apa.
Tak lama Pak Pras datang dengan sebuah berkas di tangannya.
"Ini adalah berkas kerjasama perusahaan PT. Prasetya Indonesia dengan PT. Karya Utama Garmindo." Selesai berkata, Pak Pras merobek berkas MOU tersebut di hadapan Nico dan Winda.
"Anggap saja perjanjian itu tidak pernah ada. Dan uang invest itu tak usah dikembalikan juga tak usah memberikan keuntungan. Itu untuk mengganti kerugian akibat kebakaran gudang. Saya sudah memperhitungkannya sebelum berbuat. Buat saya, uang itu tak seberapa." Aura sombong orangtua itu tampak jelas. Sobekan kertas yang ia robek-robek ditaburnya sampai berserakan di lantai granit.
Nico berdiri dari duduknya sambil mengulurkan tangannya. "Deal kan?" tanyanya, tanpa basa basi lagi.
Pak Pras berdiri, menyambut uluran jabat tangan Nico dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Urusannya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi pulang. Selamat malam."
"Mas Nico, nanti dulu...aku masih kangen." Winda menahan lengan Nico yang hendak melangkah ke luar.
__ADS_1
"Maaf Winda, saya cape baru pulang kerja. Lain waktu, oke!" Nico menepuk punggung tangan Winda yang masih mencengkram lengannya. Dengan berat hati, Winda melepas tangan pria obsesinya itu.