MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Perpisahan


__ADS_3

PoV Suci


Aku kira tidak akan ada rasa sedih berpisah dengan teman-teman di kantor. Ternyata mataku berkaca-kaca juga. Di restoran sebrang kantor, aku sedang berkumpul dengan empat orang staf marketing yang sudah akrab dan solid. Dan aku juga mengajak Salma, teman yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.


Kangenku terhadap sepupu Rahma terobati dengan adanya Salma yang sifatnya hampir mirip. Sama-sama suka menciptakan tawa.


Berenam, kita duduk dalam dua meja yang disatukan. Suasana santai penuh tawa usai jam kerja ini, tiba-tiba senyap saat aku mengutarakan maksud mentraktir kali ini adalah untuk perpisahan.


"Kamu resign? Kenapa?" Salma yang paling dulu bertanya dengan tatapan mata membulat, tampak tidak percaya.


"Aturan perusahaan ini melarang suami istri bekerja dalam satu divisi. Kalian gak lupa itu kan?" jawabku mengingatkan akan regulasi. Beda dengan karyawan pabrik yang bebas, tidak terkena regulasi itu.


"Ah iya aku lupa. Kamu kan bisa.pindah posisi. Tapi eh untuk apa kerja juga. Gak akan kekurangan pulus ini. Mau apa-apa tinggal gesek. Gue juga kalau dilamar sama asisten direktur bakalan resign." Kehaluan Rere rupanya naik. Ia membidik Yosep, pria single 30 tahun asistennya Ayah Hendro.


"Di kantor kita ini banyak pejabat atas yang ganteng-ganteng tapi jomlo. Apakah mereka jatuh cintanya sama mesin-mesin atau kain tekstil ya--" Dina juga ikut menimpali dengan analisa konyolnya sendiri. Membuat semuanya tertawa.


"Ngapain nyari yang sulit dijangkau. Kita berdua juga siap jadi gacoan." Bayu menaik turunkan alisnya menatap Rere dan Dina bergantian. Yang juga didukung oleh Rinto.


Ah, nanti aku akan rindu canda tawa ini.


Kedepannya mungkin akan sulit untuk berkumpul lagi. Kita benar-benar memanfaatkan waktu kebersamaan ini dengan makan sepuasnya dan obrolan-obrolan santai yang tak penting namun mengundang tawa. Tak terasa adzan magrib terdengar menggema. Aku mengakhiri kebersamaan usai salat magrib dengan melakukan wefie.


Di lobby restoran hanya tinggal aku dan Salma yang menunggu jemputan ojol. "Salma, aku udah menganggapmu seperti saudaraku. Aku tak mau kita putus hubungan meski aku tak kerja lagi di sini. Kapan-kapan kita hangout bareng ya?!"


"Yee aku sih hayu-hayu aja. Dengan senang hati malah. Meski gak jadi iparan juga--" Salma tertawa lepas. Tak ada riak kecewa atau sedih setelah tahu Bang Candra sudah punya calon istri. Tapi justru aku yang sedih dan kasihan dengan Salma yang begitu setia dengan hatinya yang mencintai Abang.


"Sal, kamu harus membuka hati. Kamu cantik dan baik. Aku yakin banyak pria yang tertarik padamu. Jodoh itu misteri Illahi, Sal. Aku mengalaminya sendiri. Dua minggu lagi mau nikah, ternyata Allah memutuskan dengan caraNya. Aku malah nikah dengan pria yang dua bulan baru dekat."


Kalimatku membuat Salma terkejut dan takjub. Aku memang belum pernah cerita padanya, baru sekarang. Saat Salma ingin bertanya lagi, ojol keburu datang. Aku berjanji jika ketemu nanti akan bercerita lagi. Aku dan Salma berpisah saling berpelukan.


.

__ADS_1


.


.


"Udah selesai,.cantik?" Mas Nico menghampiri aku yang pas masuk ke ruangannya, aku langsung duduk di sofa merebahkan punggung ke sandaran.


"Sudah, Mas. Sedih juga ya harus berpisah, padahal belum lama kita akrab tapi serasa udah kenal bertahun-tahun."


"Sayang, kalau masih ingin bekerja, gak apa-apa selama belum punya anak. Aku gak mau kamu sedih. Nanti aku bicara sama ayah, minta posisi yang pas buat kamu. Cuma kita gak bisa bersama satu divisi." Mas Nico menatapku dengan rasa bersalah karena melihat aku yang sedih.


"Eh gak usah Mas. Aku udah mantap kok. Aku ikhlas mengikuti keinginan Mas Nico untuk di rumah aja." Aku menghambur mengecup pipinya dengan senyum mengembang. Mas Nico tidak boleh merasa bersalah dengan keputusan ini.


****


Sabtu pagi.


Mobil Candra terparkir depan kosan Salma yang sudah siap menunggunya. Sesuai janjinya, Candra mengajak Salma yang akan mudik ke Malangbong untuk ikut bareng dengannya yang akan ke Tasik.


"Barang bawaannya gak ada yang ketinggalan?" tanya Candra. Karena melihat Salma gak membawa apa-apa. Hanya tas selempang yang dibawanya.


"Alat tempur apa?" Candra mengernyit menatap Salma yang sedang memasang safety belt.


"He he he...kosmetik untuk perawatan wajah dan rekan-rekannya, bang."


"Ada-ada aja istilahnya--" Candra terkekeh. Selalu ada aja hal lucu yang dibuat Salma dan membuatnya tertawa.


Usai tiga jam perjalanan meninggalkan Jakarta, melewati tol Cipularang dan.kini sudah dekat menuju daerah Malangbong.


Sepanjang jalan, meski diisi dengan obrolan santai namun Salma menangkap ada sesuatu yang berbeda dari wajah tampan sang boss. Meski matanya terhalang oleh kacamata hitam yang bertengger diatas hidungnya yang menjulang, namun Salma bisa mengintip dari sudut kacamata itu. Ia melihat kerjapan mata seperti orang gelisah.


Bang Candra kenapa ya? Aku gak berani tanya. Kecuali dia mau curhat sendiri. Tapi dia kan orang tertutup. Duh, bingung. Tanya jangan, tanya jangan.

__ADS_1


Perang batin Salma belum tuntas. Mobil sudah memasuki wilayah Malangbong.


"Bang, berhenti di depan pasar ya!" Salma menunjuk 100 meter di depannya bangunan sebelah kiri berupa pasar Malangbong.


"Rumahnya yang mana, Sal?" Candra melongok ke kiri kanan mencari rumah. Karena mobil berhenti di bahu jalan depan pasar.


"Bang Candra cukup anterin sampai sini aja. Rumahku masuk lagi ke sebelah kiri, lewat jalan desa. Aku pakai ojol aja Bang." Salma membuka safety belt dan merapihkan rambut panjangnya dengan jari tangan.


"Aku sekalian anterin aja, Sal. Lewat mana?" Candra menyaksikan jalan simpang tiga tempat mobilnya terparkir.


"Makasih bang. Lain kali boleh anterin. Sekarang bang candra punya tujuan utama ke Tasik kan? Kalau anterin aku dulu nanti bakal ketemu Bapak aku dan dipaksa masuk dulu. Bisa jadi lama lho, nanti ke Tasiknya kesorean."


Pemjelasan Salma membuat Candra faham. Usai Salma mengucapkan terima kasih, Candra melajukan mobilnya. Salma menatapnya sampai mobil Candra menjauh dan hilang dari pandangan karena terhalang mobil-mobil di belakangnya.


Bang Candra sedang menuju kekasihnya .


Aku sudah kalah.


*Sepertinya a*ku harus ikutin saran Suci.


Waktunya move on. Semoga aja bisa!


Came on Salma.


Pria di dunia ini bukan hanya Candra.


"Teh Salma, ya?"


Suara driver ojol mengagetkan Salma yang masih berdiri dan melamun.


"Iya."

__ADS_1


Ojol membawa Salma menuju rumah orang tuanya yang sudah dibayangkan akan disambut dengan pertanyaan dari Bapak, seolah menagih utang. "Mana kabogohna? (Mana pacarnya?)


...Bersambung...


__ADS_2