MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Jangan Menolak Takdir (2)


__ADS_3

Semburat jingga hanya muncul sesaat terganti awan kelabu. Perlahan awan itu bergerak menutupi sang surya yang hendak tenggelam seolah ditelan samudra. Pemandangan indah sunset tidak jadi dipentaskan alam. Berganti penampilan langit berhiaskan awan abu-abu cenderung hitam pertanda hujan akan turun.


Nisa datang menghampiri setelah mendapat kode lambaian tangan dari Suci. Ia berdiri di belakang Rafa yang terdiam, yang memandang hampa ombak yang menari seolah mentertawakan dirinya yang merana karena cinta.


"Bang Rafa, lihat di belakangmu!" Suci menyadarkan Rafa dari lamunan.


Rafa membalikkan badannya. Tatapannya bersirobok dengan bola mata redup wanita cantik pucat pasi. Wajahnya sedikit tirus dari yang terakhir dia lihat. Pandangan Rafa terpaku pada perut yang tercetak karena hembusan angin laut, tampak sedikit menonjol.


"Nisa," lirihnya tanpa sadar.


Wanita yang dipanggilnya tertunduk, kedua tangannya meremas ujung baju. Perasaannya campur aduk, bingung harus mengekspresikan apa dulu.


"Mari selesaikan permasalahan diantara kita sore ini juga. Pantai ini jadi saksinya!" Entah mendapat kekuatan dari mana sehingga Suci bisa berkata setegas itu.


"Bang Rafa, Nisa, aku harap setelah hari ini kalian bisa hidup berbahagia. Doakan aku juga agar hidupku bahagia dengan pasanganku." Suci meraih tangan kanan keduanya, dan disatukannya. Rafa hendak memberontak tapi ditahan oleh Suci.


"Aku mohon peluk.Nisa, Bang!"


Rafa menggelengkan kepalanya lemah. "Aku butuh waktu untuk bisa menerimanya," ucapnya pelan.


"Aku hanya minta kamu memeluknya, plis, sebentar saja," mohon Suci.


Rafa masih tampak enggan. Tiba-tiba Nisa menubrukkan badannya, memeluk erat Rafa dengan tangan yang kuat melinggkar dipunggung suaminya itu. Tangisnya pecah, tersedu di dada bidang yang masih diam mematung tak memberikan reaksi. Nisa menumpahkan kerinduannya lewat tangisan pilu yang menyayat hati.


Rafa meringis, dadanya ikut merasakan perih mendengar Nisa yang tergugu di dadanya. Perlahan tangannya terangkat, mulai balas memeluk dan mengusap punggung Nisa. "Maafkan aku," lirih Rafa dengan suara bergetar.


Suci pun tak mampu menahan air matanya. Keharuan menyeruak melihat pemandangan di depannya itu, dua insan halal saling mendekap erat menyalurkan penyesalan dari sang pria serta menyalurkan kerinduan dari sang wanita.


Suci ikut terisak, tangis bahagia dan senyum kelegaan dirasakannya. Wajahnya mendongak menatap langit yang mulai menjatuhkan rintik hujan.


"Ayok kita pulang. Hujan mulai turun. Kalian bisa lanjutkan nanti di rumah!" dengan mengulum senyum, Suci mengajak Nisa dan Rafa pulang. Keduanya tampak masih larut dalam perasaan. Nisa tersipu malu mendengar kalimat terakhir Suci.

__ADS_1


"Suci, aku minta maaf selama ini sudah banyak salah. Terima kasih sudah menyadarkanku," ujar Rafa.


Suci menatap tajam dua bola mata Rafa, mencoba menyelami apakah ada kebohongan dibalik penyesalannya itu. Setelah yakin, kalau Rafa sungguh-sungguh dengan ucapannya, Suci pun mengangguk.


"Hari ini kita mulai lembaran baru, Bang Rafa, Nisa. Semoga kita bisa berteman baik. Lusa, aku mengundang kalian ke rumah jam 10 pagi. Aku akan menikah. Tidak ada pesta, hanya kumpul keluarga dan tetangga terdekat saja. Aku duluan ya!" Suci memeluk Nisa dengan erat. Ucapan terima kasih berkali-kali diucapkan Nisa dengan mata berkaca-kaca.


Setengah berlari Suci meninggalkan tepi pantai karena hujan mulai deras. Hatinya lega dan penuh ucap syukur, karena menjelang pernikahannya, masalah dengan Rafa tuntas sudah.


Rahma menyongsong Suc ke arah pantai dengan membawa payung. Hujan yang tersapu angin telah membasahi pakaian Suci. Segera ia masuk ke dalam mobil,


"Aku yang bawa mobilnya!" seru Malik menghampiri mobil Suci. Rahma yang akan masuk ke kursi kemudi menjadi urung. Ia menyerahkan kunci mobil kepada Malik.


"Mobil abang siapa yang bawa?" tanya Rahma penasaran.


"Anak buahku yang bawa."


Di parkiran sebelah utara, Rafa menuntun Nisa menuju mobilnya. Rafa menahan Nisa agar tidak berlari, karena khawatir dengan kandungannya. Alhasil, mereka masuk ke mobil dengan basah kuyup. Melihat Nisa yang menggigil, Rafa merasa terenyuh. "Nis, biar gak terlalu dingin, pakai dulu--" Rafa membantu memakaikan jaket miliknya yang tersampir di jok. Nisa mengangguk patuh, senyum tipis tersungging di bibirnya.


****


Selepas magrib ia segera menghubungi Suci lewat panggilan video. Wajah cantik berucap salam tampil di layar. Suaranya terdengar merdu dari sebrang sana, membuat Nico tersenyum lalu menjawab salamnya.


"Apa kabar hari ini, cantik?" Nico menatap lekat wajah yang selalu dirindukannya itu.


"Alhamdulillah baik. Mas Nico, kapan ke sini? aku sudah tak sabar menunggumu datang." Sang gadis di sebrang sana nampak tersenyum malu.


"Aku berangkat besok pagi cantik, doakan ya biar lancar dan selamat." Nico menatap gemas tampilan Suci di layarnya yang sedang berada di kamarnya.


"Aamiin. Mas Nico sekarang gak perlu khawatir lagi ya. Urusan dengan Rafa sudah selesai tadi sore. Dia tak akan menggangguku lagi."


"Syukurlah. Tinggal satu lagi penghalang kita. Ini bakal alot, kamu nanti harus sabar ya mengikuti skenario yang sudah kita buat."

__ADS_1


"Siap masku. Sudah dulu ya, aku mau gabung makan dulu. Mas Nico jangan lupa makan ya!"


Lambaian tangan Suci yang tampak di layar, dibalas Nico dengan Kissbye.


"Huft. Sudah tak sabar menunggu besok." Batin Nico.


Ia pun segera keluar dari kamar, bergabung dengan orangtuanya untuk makan malam.


****


Sabtu pagi, sopir mengantar Nico dan orangtuanya ke bandara Soetta. Penerbangan kelas bisnis akan membawa mereka menuju bandara Sultan Iskandar Muda.


Di Banda Aceh, keluarga Suci sudah bersiap menanti kedatangannya. Dua jam setelah pesawat yang membawa Nico take off, Malik segera menuju ke bandara untuk penjemputan.


Suci bersama Rahma duduk di sofa kamarnya yang sudah dihias sebagai kamar pengantin. Tirai berwarna putih berpadu biru menghiasi kamar, tersemat juga beberapa bunga artifisial menambah kesan cantik minimalis. Springbad berbalut seprai biru muda motif bunga-bunga kecil, ikut menambah kesan sejuk dan rileks.


"Duh, aku deg degan nih. Sebentar lagi Mas Nico sampai--" Suci menempelkan telapak tangannya yang dingin ke tangan Rahma. Membuat Rahma terkekeh dan menggodanya.


"Ciee, calon manten. Kemarin bilangnya merindu, sekarang orangnya mau datang malah grogi." Rahma mencebikkan bibirnya, meledek sepupunya yang tampak tak tenang.


"Awas ya. Nanti kamu juga akan merasakan hal yang sama kalau di lamar Malik," Suci menoyor bahu Rahma yang duduk di sisinya.


"Lho kok Malik sih. Memangnya dia calon aku?"


Giliran Suci yang mencebikkan bibirnya. "Jangan pura-pura. Aku tahu kamu suka menatapnya diam-diam, aku juga lihat dia sama, suka curi-curi pandang sama kamu. Kenapa sih gak saling terbuka aja, jangan malu-malu meong gitu kayak anak kecil aja." Suci tertawa senang melihat Rahma yang tampak malu.


Canda tawa bersama Rahma membuat rasa grogi Suci teralihkan. Mereka yang sedang asyik tertawa tiba-tiba mengatupkan mulutnya, berganti memasang telinga. Terdengar suara Umi dan Candra seperti sedang menyambut kedatangan tamu.


Suci membelalakkan matanya menatap Rahma, degupan jantungnya kembali bertalu. "Dia datang!"


...…………...

__ADS_1


Kasih poin dong buat Suci sama Nico otewe halal. 😍😍😍


__ADS_2