MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Percaya Padaku Saja


__ADS_3

Suci menyeka air mata yang luruh di pipinya. "Tenang saja aku nggak apa-apa. Ini cuma reaksi manusiawi saat hati teriris--" Suci terkekeh kecil, berusaha menormalkan kembali suasana hatinya.


"Eh kalian dengar semua omongan Nyonya pongah tadi?" Suci menatap Rere dan Dina silih berganti.


"Ya dengerlah, orang suaranya gembreng kayak kaleng kerupuk. Pengen tak bejek-bejek tuh mulut orang kaya, sombong banget." Kedua tangan Dina diangkat ke depan dengan gerakan meremas-remas tanda gemas dan jengkel.


"Sudah-sudah, kita kerja lagi. Plis jangan bilang Mas Nico ya soal kejadian barusan, biar aku sendiri yang ngomong."


"Cieee, panggilnya Mas." Rere dan Dina kompak menggoda Suci yang tampak tersipu.


Suci kembali duduk di balik meja kerjanya. Tak dipungkiri, kejadian barusan mempengaruhi konsentrasinya. Diteguknya air putih sampai habis setengah tumbler, membasahi kerongkongan yang mendadak kering karena peristiwa horor tak terduga olehnya.


*Ya Allah, kenapa urusan percintaanku ada aja batu sandungan. Masa iya aku harus mundur. Tidak-tidak, aku gak boleh lemah. Ini bukan ftv ikan terbang yang pemeran utamanya selalu menangis tersakiti. Aku akan memperjuangkan kebahagiaanku. Aku percaya dengan Mas Nico bukan karena ucapannya saja, tapi karena dia sudah hadir berturut-turut dalam mimpi sebagai jawaban Istikharahku selama tiga kali*.


Dulu, saat hubunganku dengan Rafa, aku tidak mau melakukan Istikharah. Takut kecewa, takut jawaban do'a tak sama dengan perasaan. Eh, ternyata beneran. Tak apa menyesal belakangan, hikmahnya aku akhirnya bertemu Mas Nico.


Aroma mint yang berhembus meniup matanya membuat Suci mengerjap kaget. Seorang pria duduk di depan mejanya menopang dagu, wajahnya begitu dekat, menatap lekat wajah Suci yang gelagapan


"Eh, Mas Nico ka-kapan datang?" Suci yang ditatap intens, menjadi gugup.


"Ngelamunin apa sih cantik, sampai tak tahu dari tadi aku sudah datang. Ada apa hmm?"


Kumohon Mas, itu mata, jangan menatapku seperti itu. Jantungku rasanya mau copot.


"Tuh kan melamun lagi--" Nico menyentil hidung bangir Suci. Gemas, melihat wajah cantik alami kekasihnya yang lagi-lagi bengong.


"Eh, maaf. Aku menunggu Mas Nico, kan mau makan siang bareng tapi belum datang juga jadinya melamun deh." Suci nyengir kuda, berusaha membuat alasan masuk akal. Tapi jawabannya malah membuat Nico senang, merasa diperhatikan.


****

__ADS_1


Selesai makan, Nico menahan Suci yang akan keluar. "Suci, aku ingin kita saling terbuka. Kalau ada masalah atau ganjalan tolong bicara. Tadi kamu melamun lama, tak biasanya seperti itu. Kenapa hmm?" Tatapan lembut Nico membuat Suci lulih untuk bicara.


"Tadi ibunya Winda datang, ia menyuruhku menjauhi Mas Nico. Derajat kita beda, hanya Winda yang pantas bersanding denganmu, begitu katanya."


"Jangan didengarkan. Kamu cukup percaya padaku saja. Jangan pernah ragukan kesungguhanku, oke cantik." Suci mengangguk. Jawaban Nico membuatnya semakin tenang dan percaya.


"Aku tadi ke kantornya Pak Pras, ayahnya Winda. Kirain mau membahas pekerjaan penting, eh ternyata minta aku menikahi Winda. Tau gitu, aku nggak akan datang. Buang-buang waktu saja!" Tanpa diminta, Nico menceritakan soal urusannya tadi. Ia menyurai rambutnya, rasa kesal kembali terlihat di wajahnya.


Suci tersenyum lembut, kini giliran dirinya yang memberi ketenangan kepada Nico. "Selamanya kita saling percaya dan menjaga, InsyaAllah segala rintangan akan mampu kita hadapi."


Kalimat itu, sungguh membuat hati Nico adem dan basah karena haru. Suci semakin terbuka dengan perasaannya. Membuat Nico semakin semangat memperjuangkan jalinan cinta yang sedang mekar merekah.


"Hari ini kita pulang lebih awal. Aku akan mengajakmu ketemu Bunda. Biar kamu makin tenang, kalau Bunda juga merestui hubungan kita."


"Iya Mas. Saling mencintai saja tidak cukup. Kita juga perlu doa restu orangtua, biar berkah," sahut Suci. Meski sudah pernah bertemu satu kali dengan Bunda Devi dan berkesan baik, tetap saja Suci merasa ded degan karena kali ini akan diajak ke rumahnya Nico.


Security segera membuka pintu gerbang saat terdengar bunyi sekali klakson mobil. Ia sudah mengenal kode itu, pasti anak majikannya yang datang. Mobil Nico melaju pelan memasuki halaman luas dengan penataan taman yang indah di sudut kiri dan kanan jalan. Mereka keluar kantor lebih awal, pukul tiga sore. Tak lupa Nico memberitahukan Candra perihal maksud mengajak Suci ke rumahnya.


"Mas Nico, di dalam ada siapa aja? Aku deg degan nih." Suci menahan Nico yang akan keluar dari mobil. Perasaannya jadi gugup.


Senyum tipis terbit dari bibir Nico. Spontanitas Suci memegang lengannya membuatnya senang. Tangan halus lembut gadis itu mengalirkan kehangatan yang menjalar seolah mengikuti aliran darah. Ia merasa beruntung menggulung lengan kemejanya sampai sikut. Berharap sentuhan skin to skin itu berlangsung lama. Tapi imajinasinya buyar saat Suci menarik kembali tangannya.


"Di dalam cuma ada Bunda dan bibi. Jangan gugup gitu dong, kedatanganmu akan jadi kejutan buat Bunda,m percaya deh."


Benar saja, saat mendengar ucap salam anaknya, Bunda yang berada di ruang keluarga memekik girang melihat Nico datang berdampingan dengan Suci. Bunda memeluknya hangat, "Akhirnya kamu datang juga ke sini. Ah, Bunda senang sekali. Ayo-ayo duduk sini--" Bunda menuntun Suci ikut duduk di sisinya.


"Nico, tolong fotoin dulu! Kakakmu tadi udah telpon minta foto calon adik ipar, katanya." Bunda tampak antusias. Ia menyerahkan ponsel ke tangan Nico, meminta difoto berdua. Suci hanya tersenyum pasrah mengikuti keinginan Bunda Devi.


Tanpa kata, hanya dengan seulas senyum, Nico menuruti titah sang Bunda. Nico mengabadikn lebih dari lima foto dua wanita cantik beda generasi agar Bundanya puas.

__ADS_1


"Suci, bagaimana kabar ibumu, sehat?" selesai mengabadikan foto, Bunda mulai berbincang santai. Nico memang sudah terbuka, menceritakan tentang keluarga Suci kepada Bunda. Ditambah Bunda juga sudah mengenal Candra sebagai salah satu karyawan terbaik di perusahaan.


"Alhamdulillah, Bunda. Umi sehat." Rasa canggung dan gugup Suci seketika menguap. Ternyata Bunda begitu welcome kepadanya. Sekarang tak ada lagi yang harus diragukan ketika dua keluarga sudah saling menerima.


Nico pamit ke kamar dulu, membiarkan dua wanita yang disayanginya saling bercengkerama, saling mengenal, saling akrab.


****


Selepas magrib, dengan berat hati Bunda melepas Suci yang harus pulang. Ketika Bunda berbincang soal masak memasak dan mengeluh selalu gagal membuat puding yang enak, Suci menyempatkan membuatkan puding untuk Bunda. Mereka menghabiskan waktu sore di dapur sekalian mempersiapkan menu makan bersama.


Sepanjang perjalanan menuju arah pulang, bibir Suci selalu merekah. Semua itu tak luput dari perhatian Nico yang ikut tersenyum tipis. "Benar kan, Bunda sangat menyukaimu?"


Suci mengangguk pelan, kepalanya yang menyender di kursi jok dimiringkannya menghadap Nico yang fokus meyetir menatap jalanan. "Aku sekarang lega, Mas."


Lampu lalu lintas berubah merah. Nico menoleh ke sampingnya, mendapati Suci yang tengah menatapnya. Tatapan penuh cinta bersirobok. Gelenyar dan desiran halus dirasakan keduanya. Bibir ranum Suci menjadi magnet untuk Nico mendekatkan wajahnya, didorong bujukan setan yang berbisik. "Ayo cium"


"Jangan Mas Nico. Kita belum halal."


Hampir saja. Hanya tinggal 5 cm lagi mencapai bibir lembut itu. Suci mampu mengendalikan diri dengan memundurkan wajahnya. Nico pun tersentak, tersadar akan kesalahannya.


"Maaf Suci. Maaf, aku hampir khilaf." Nico mengusap kasar wajahnya. Kata istighfar terucap dari bibirnya. Hening melingkupi, keduanya sedang berusaha meredam rasa di dada yang bergejolak karena luapan cinta. Sampai tak terasa, mobil tiba di depan rumah Suci.


"Suci, minggu ini aku akan membawa keluarga untuk melamarmu. Kamu siap ya?"


"Apa!?" sahut Suci penuh kekagetan.


"Aku baru saja pulang. Berarti jumat besok pulang lagi dong?" Suci bertanya untuk meyakinkan apa yang didengarnya.


Nico menjawab dengan anggukan. "Kalau sekalian akad nikah, bagaimana?"

__ADS_1


...……………...


Cukup kasih LIKE aja othor mah udah syeneng. Jadi merasa karyanya dihargai readers tersayang. So, jangan lupa jempolnya ya ya !😉😉😉


__ADS_2