
Di rumah besar kediaman Ayah Hendro.
Dua insan yang telah menikmati liburan bersama dan tiba di rumah pukul 11 malam, kini telah siap dengan setelan kerjanya.
I Like Monday!
Mensugesti diri itu penting. Agar semangat memulai aktifitas di hari senin yang bagi sebagian orang merasa berat menjalaninya.
"Hmm-- dicium terus. Aku kapan?" Lagi, Nico cemburu kepada buket besar rangkaian bunga aster dan krisan yang Suci bawa dari villa. Ia merasa sayang meninggalkan bunga yang bisa bertahan sampai 2 minggu itu, ditinggalkan di kamar villa. Inginnya membawa serta dua buket lainnya, namun dicegah Nico. Biar menjadi kenangan, katanya.
Suci memutar bola matanya dengan malas. Ia kembali menyimpan buket cantik itu di atas meja. Dirapihkannya kembali kuntum bunga yang tergeser karena ulahnya.
"Tak ada ciuman untukmu. Udah keseringan." Suci memeletkan lidahnya. Ia buru-buru pergi menuju pintu dan menutupnya, saat Nico ingin menangkapnya.
"Sayang, aku tunggu di ruang makan!" Suci membuka pintu lagi. Melongokkan wajahnya dari balik pintu. Ia mengedipkan matanya, menggoda Nico yang senyum-senyum menatapnya.
Kamu menggemaskan banget sih.
Nico hanya mampu mengepalkan tangannya, gregetan. Istrinya itu mulai berani memanggilnya 'sayang' tapi dari jauh dan malu-malu kucing.
.
.
Nico melangkah ringan menuruni anak tangga, menyusul Suci ke ruang makan yang ikut membantu Bunda menyiapkan sarapan pagi.
Sudah ada Ayah Hendro berpakaian setelan jas rapih yang sedang dilayani makan oleh Bunda. Piring Nico sudah terisi nasi goreng yang disiapkan Suci beserta segelas air putih hangat.
"Kalian jangan lupa nanti siang pemotretan di studio. Kostumnya sudah Bunda pilihkan dan sudah janjian dengan MUA juga." Bunda mengingatkan kembali Nico dan Suci. Karena foto mereka diperlukan untuk membuat undangan dan show up di acara resepsi.
"Iya, Bun. Usai jam istirahat kita meluncur ke studio," sahut Nico disela mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Bun, aku bantu apa nih? Masa Bunda sendiri yang capek." Suci menawarkan diri untuk ikut membantu persiapan resepsi karena semua di handle Bunda. Sama sekali keduanya tidak dilibatkan meski sekadar ide. Bunda benar-benar ingin memanjakan anak dan mantunya itu dengan menggelar pesta resepsi meriah berdasar konsepnya. Karena Nico adalah anak terakhir yang menikah, jadi ingin berkesan.
"Bunda gak cape kok. Kan Bunda tinggal nyuruh-nyuruh aja, ngasih konsep. Semua WO yang urus. Kalian kerja keras aja bikinin kami cucu." Bunda melirik ayah di sampingnya yang mendukung dengan menganggukkan kepalanya.
Suci tersenyum malu. Lain halnya Nico, ia menggoda Suci untuk menuruti apa kata Bunda. Di bawah meja, Suci mencubit paha suaminya itu sampai Nico mengaduh tanpa suara.
****
Suara derap langkah sepatu terdengar dikesunyian ruangan, karena semua staf sedang bekerja dengan penuh konsentrasi.
Malik melewati begitu saja, karena ia akan menuju ruangan Nico.
"Hai mbak Suci, Nico ada di dalam?" Malik mendekat ke meja Suci yang sedang fokus menginput data di komputernya.
"Eh Bang Malik. Langsung masuk aja. Mas Nico ada di dalam." Suci menyunggingkan senyumnya. Malik punya akses bebas masuk karena dia sahabatnya Nico.
"Thank you."
"Ada kabar apa, bro?" Nico mulai membuka percakapan. Ia mengendorkan dasinya agar lebih rileks.
"Siska dan Winda sudah meninggalkan Jakarta. Rumahnya kosong, hanya ada security saja. Bahkan pengacara Siska sudah melayangkan gugatan cerai ke Pras. Dia lepas tangan dengan kasus yang menimpa Pras." Sambil bertumpang kaki, Malik memberikan laporannya.
"Kesombongan yang membawa kehancuran." Nico menghembuskan nafas lega. Kabar kepergian Winda dan ibunya menambah kelegaan dan ketenangan hatinya menjelang resepsi yang akan digelar.
"Gimana dengan bisnis kita di Bandung?" Nico merasa cukup dengan kabar soal keluarga Pras. Ia lebih antusias dengan usaha yang dirintisnya bersama Malik.
"Keuntungan makin naik, bro. Aku sudah kirim laporan keuangannya via email tadi pagi. Sore ini aku balik lagi ke Bandung. Kamu tinjaulah ke sana, jangan cuma baca laporan aja."
"Nanti aku ke sana sama Suci."
****
__ADS_1
Pemotretan berjalan dengan lancar selama 2 jam dari mulai persiapan sampai take. Suci dan Nico mengganti kostum terakhir dengan pakaiannya kembali.
Tujuan berikutnya ke restoran. Makan siangnya tertunda karena menyelesaikan dulu pekerjaan sebelum berangkat ke studio photo, agar tak perlu kembali lagi ke kantor.
Makan dengan sop buntut menjadi pilihan. Kuahnya yang panas dan aroma wangi sop bertabur daun seledri itu begitu menggugah selera.
"Hmm--Mas, haruskah aku resign dari pekerjaan?" Usai makan, Suci dengan hati-hati bertanya. Ia menatap lekat wajah Nico yang baru selesai menerima telepon dari klien.
Nico bersidekap tangan di atas meja, balas menatap istrinya itu.
"Aku sudah ada rencana untuk membahas ini. Tapi keduluan deh." Nico memperbaiki posisi duduknya, sedikit memajukan kursi karena akan membahas hal serius.
"Sayang, apa kamu tidak keberatan jika dipinta untuk resign? Setelah resepsi kita, ada wacana aku akan diangkat menjadi wakil direktur. Kesibukan dan tanggung jawabku akan meningkat. Biarkan aku yang bekerja keras, kamu di rumah aja seperti Bunda." Nico pun menjelaskan keinginannya dengan hati-hati.
"Aku akan menuruti perintah suamiku."
Nico meraih tangan Suci, menggenggam jemarinya dengan tatapan sayang setelah mendengar jawaban istrinya itu.
"Kamu sudah menjadi istriku. Mencari nafkah adalah tanggung jawabku sebagai suami. Biar aku yang bekerja keras. Kamu gunakan kartu yang aku kasih sepuasnya. Semua yang aku punya menjadi milik kamu juga, cantik."
"Aku bukan tipe perempuan yang gila belanja, Mas. Akan menggunakan sesuai kebutuhan saja. Kan perbuatan menghambur-hamburkan harta itu disebut saudaranya setan."
"Aku percaya kamu bisa menggunakannya dengan bijak. Karena kamu istri solehaku." Nico mengecup tangan Suci dengan mesra. Ia tidak meragukan akan sifat istrinya yang relijius itu.
"Baiklah, besok aku akan membuat suratnya. Kasih waktu sampai jumat ya! Aku mau perpisahan dulu sama anak-anak, mau traktir mereka. Boleh ya!"
"Boleh, sayang."
"Oh ya, satu hal lagi. Kita belum bisa punya rumah sendiri karena Bunda mengiginkan kita tinggal bersamanya. Tapi kalau kamu tidak betah, bilang sama aku ya. Jangan dipendam!"
"Tak apa, Mas. Ayah sama Bunda mertua yang baik. Mereka mungkin merasa kesepian hanya tinggal berdua di rumah sebesar itu. Kita turuti saja."
__ADS_1
Nico mengangguk setuju dengan pendapat Suci. Setelah semuanya dibicarakan, hati menjadi bertambah lapang. Keduanya sepakat untuk selalu terbuka dan komunikasi dalam hal apapun. Demi keharmonisan dan ketenangan rumah tangga yang baru berjalan satu bulan.