MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Suasana Pesta (2)


__ADS_3

Setiap manusia punya rasa cinta


Yang mesti dijaga kesuciannya


Namun ada kala insan tak berdaya


Saat dusta mampir bertakhta


Kuinginkan dia yang punya setia


Dan mampu menjaga kemurniaannya


Saat ku tak ada ku jauh darinya


Amanah pun jadi penjaganya


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku


"Kalau abang bisa menyanyi, pengen deh mempersembahkan lagu itu buat kamu." Candra berbicara sambil mendekatkan tubuhnya. Karena ia dan Salma berdiri dekat dengan panggung.


"Oh ya?" Salma menoleh dan mendongak menatap wajah Candra dengan takjub.


Candra mengangguk. Tatapannya mengarah ke panggung saat gesekan biola mengiringi alunan lagu 'Bidadari Surga', menambah kesyahduan suasana.


"Tapi sayang suara abang pas-pasan." Candra merangkum bahu Salma dan berbisik di telinganya. "Yang penting kamu tahu. Kamulah bidadari surgaku, neng Salma."


"Aw aw aw....lututku jadi lemas bang...aku boleh pingsan gak?!" Salma memerosotkan tubuhnya dengan lutut dibuat bergetar. Namun suara cekikikan menandakan ia sedang becanda.


Candra menahan tubuh Salma dan menariknya untuk kembali berdiri tegak. "Kamu tuh ya gak bisa diajak romantis." Candra mengetatkan rangkuman di bahu Salma dengan gemas karena kelakuan iseng istrinya itu.


Salma terkekeh dengan dua jari diangkat. "Emang tadi itu romantis ya?" Ia malah menggodanya. "Aku tadi mendengarnya bukannya baper tapi jadi geli," lanjutnya dengan kembali terkekeh. Salma beralih menatap raja dan ratu sehari. Sungguh, aura bahagia dari atas pelaminan yang menebar senyum, seolah ditransfer untuk semua tamu.


"Jujur amat sih, neng." Candra memberengut, padahal pura-pura kesal.


Salma menggelayut di lengan kekar suaminya itu. "Abang emang gak bisa berkata romantis." Salma menjatuhkan kepalanya di bahu kokoh Candra, dengan tangan masih menggelayut. "Tapi....abang sangat-sangat romantis dalam sikap. Aku bisa merasakan besarnya cinta abang dari bentuk perhatian, kelembutan, juga sentuhan..."


Candra tersenyum lebar meski pandangannya sedang berpusat ke vokalis yang masih bernyanyi. Ia membiarkan Salma yang masih berbicara dengan menggelayut manja.


"Bagiku romantis yang benar itu ya dengan sikap. Karena kata bisa jadi hanya bualan untuk memperdaya."


Salma lalu menegakkan tubuhnya untuk menjangkau indera pendengaran sang suami yang tinggi menjulang." Cara abang memperlakukanku di ranjang, selalu membuatku melayang. It's so romantic." Ia mengakhiri ucapannya dengan mengedipkan mata.


Candra membulatkan matanya, menatap Salma dengan semringah. "Wow, neng Salma mulai berani genit." Ia geleng-geleng kepala namun tampak takjub dengan ungkapan istrinya itu. Penghargaan yang membuatnya bangga bisa menjadi pria perkasa yang mampu memuaskan istri.


"Aku ambil makanan dulu ah---" Salma dengan wajah merona malu memilih pergi sejenak dengan alibi untuk mengambil makanan. Padahal ia butuh menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena rasa sentuhan suaminya itu tiba-tiba membayang di pelupuk mata.


Candra mengulas senyum menatap punggung Salma yang menjauh dengan tergesa.


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku


Gesekan biola menutup ending lagu dengan penuh penghayatan.


****


"Sudah kenyang, mas." Suci menggeleng saat Nico membawakan es krim untuknya. Ia sudah makan sepiring nasi lauk berikut beberapa kudapan. Tapi Nico begitu bersemangat mengambilkan lagi.

__ADS_1


"Ini terakhir, sayang." Nico mendekatkan 1 cup es krim vanila ke depan wajah Suci. Barangkali jika Suci mencium aroma es krim itu menjadi tergiur.


Benar saja.


Suci meraihnya dan mengicip-ngicip dengan ragu. Namun selanjutnya tampak berbinar dan lalu menyuapkan satu sendokan penuh.


"Ini enak, mas."


Nico mengulum senyum. Lucu melihat ekspresi istrinya itu. Yang awalnya ragu, malah berubah doyan.


"Papa juga harus makan----" Suci menyuapi Nico yang menyambut dengan senang hati suapan istrinya itu.


Lalu lalang para tamu dan anak-anak yang berlarian tidak mengganggu kemesraan calon orangtua itu. Karena keduanya duduk di stand VIP yang dikhususkan untuk tempat makan pengantin dan keluarga.


"Mas nitip tas. Aku ke toliet dulu, pengen pipis." Suci mencabut dua lembar tisu untuk dibawanya ke toilet.


"Hati-hati jalannya, sayang!"


"Iya."


Sepanjang berjalan menuju toilet yang terletak di teras samping gedung, Suci berhenti dan berbincang sejenak saat ada tamu yang menyapanya, menanyakan usia kehamilannya, bahkan mendoakan kelancaran persalinannya kelak.


Ia menghela nafas lega setelah selesai urusan kamar mandi. Dengan langkah perlahan ia kembali memasuki gedung utama dari arah pintu samping. Namun tiba-tiba ada dua orang anak laki-laki berlari saling kejar dan tertawa-tawa.


"Astagfirullah--" Suci memekik. Ia terkejut saat anak kecil yang sedang dikejar temannya itu menjatuhkan segelas minuman sehinggga lantai menjadi basah. Kaki Suci yang beralaskan sepatu flat tidak sempat menghindar, terlanjur melangkah di lantai yang basah dan licin itu.


Semuanya terjadi begitu cepat dalam hitungan detik. Tubuhnya oleng dan hampir terjatuh.


"Awas mbak!!!" Suci mendengar dengan jelas orang-orang yang berteriak panik.


Suci memejamkan mata. Pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.


Namun sebuah badan tegap dan cengkraman tangan kuat berhasil menahan tubuh belakang Suci hingga selamat tidak terjerembab.


"Ya Allah--!" Suci mengatur nafasnya yang tersengal saking kagetnya. Hampir saja.


Kedua anak tadi telah pergi menjauh setelah mendapat teguran salah satu tamu yang melihat kejadian itu.


Suara itu....


Suci baru sadar jika tubuhnya masih didekap dari belakang oleh orang yang menolongnya. Dan suara itu...


Suci segera menegakkan tubuh dengan dorongan perlahan dari belakang. "Bang Rafa!"


Tempat duduk di tenda luar menjadi pilihan Suci dan Rafa untuk berbincang. Rafa menarik kursi yang terbungkus kain putih itu sehingga berhadapan dengan Suci. Orang-orang di sekitar mereka ada yang baru duduk, sebagian lagi telah selesai makan dan lanjut berbincang santai.


Suci menjadi penasaran saat tadi menanyakan kabar Nisa namun Rafa menggeleng lemah. Ia melihat kabut kesedihan di sorot mata pria masa lalunya itu. Ia mengangguk setuju saat Rafa meminta waktu untuk berbicara.


"Nisa sudah meninggal--"


"Maafkan jika selama ini dia punya salah."


Dua kalimat pembuka obrolan yang diucapkan Rafa membuat Suci refleks menutup mulut dengan tangannya. Terkejut.


"Jangan becanda, bang!" Suci menggeleng tak setuju.


Rafa mengangguk.


"Nisa meninggal 7 bulan yang lalu saat melahirkan Alif, anak kami."


Rafa memejamkan mata untuk menghalau gulungan ombak kesedihan yang akan menerjang. Laki-laki harus kuat, begitu motivasinya.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...."


Suci berucap lirih. Ia msih tidak percaya dengan berita yang didengarnya itu.


"Kenapa aku baru tau?"


"Bahkan umi atau om Badru pun tidak pernah cerita."


Suci menatap Rafa yang menatap kosong ke sembarang arah.

__ADS_1


"Aku gak tau soal itu. Aku pun baru ke Aceh lagi sekarang, hanya untuk menghadiri pernikahan Rahma. Karena berharap bisa bertemu kamu, untuk menceritakan tentang Nisa."


Suci mengatupkan bibirnya. Tak bisa lagi berkomentar.


Rafa menatap Suci dengan tatapan penuh kesedihan."Sebulan setelah islah di pantai itu, aku mengajak Nisa pindah ke Medan. Memulai hidup baru di sana."


"Waktu menghadiri resepsi kamu, sebenarnya aku sudah menetap di Medan."


Suci terdiam. Membiarkan Rafa melanjutkan ceritanya.


"Nisa melahirkan terlalu awal saat hamil 8 bulan. Bayinya lahir prematur."


"Padahal selama cek kandungan, aku selalu mendampinginya. Hasilnya, ibu dan bayi sangat sehat."


Rafa menarik nafas panjang, membuangnya perlahan. Ia merasa berat untuk melanjutkan cerita.


"Nisa mengalami pendarahan hebat dan pingsan usai Alif lahir."


"Aku sudah meminta penanganan terbaik untuk keselamatan Nisa. Tapi takdir berkata lain....."


"Dua jam setelah melahirkan, Nisa pergi.....wajahnya begitu damai...."


Suci tak bisa menahan tetesan air mata yang mendesak membasahi kedua pipinya. Ia ikut merasakan kesedihan dari pria yang dilihatnya sedang berjuang keras untuk tidak menangis. Ia baru sadar, Rafa terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia bertemu di resepsi pernikahannya.


"Yang sabar, bang Rafa. InsyaAllah Nisa husnul khotimah. Ia telah syahid." Suci mengusap lelehan air mata di pipinya. Ia merasa iba dan hanya bisa mendoakan dan memberi dukungan moril.


"Melihat kamu tadi akan jatuh, aku terbayang Nisa. Dokter menduga Nisa pernah mengalami benturan hingga menyebabkan lahir prematur dan pendarahan."


Suci mengernyit kaget dengan informasi tambahan itu.


"Aku yang penasaran langsung pulang dan mengecek semua cctv rumah."


"Lalu?" Suci tak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


"Iya. Nisa jatuh terduduk di teras depan saat mengantarku berangkat kerja. Pagi itu memang gerimis. Kejadiannya sehari sebelum Nisa melahirkan."


"Aku merasa sangat bersalah, Suci." Rafa mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Bang Rafa tidak salah. Ini sudah kehendak Allah. Dan Allah tahu, bang Rafa mampu menerima ujian ini."


Rafa menggeleng.


"Mengapa di saat benih cinta sedang bersemi, Tuhan malah mengambilnya."


"Dua kali aku kehilangan wanita yang kucintai." Rafa tertawa sumbang. Seolah menertawakan nasib hidupnya.


Suci berdehem. Ia faham maksud kalimat Rafa.


"Yang sabar ya bang. InsyaAllah sabar menghadapi ujian kelak akan berbuah manis. Yakinlah." Suci memberi support agar Rafa tetap tegar meniti jalan kehidupan. Ia memotivasi Rafa dengan mengingatkan kalau dirinya masih punya Alif yang akan menjadi pelipur lara.


Mendengar Suci menyebut nama anaknya, binar ceria mulai nampak di wajah Rafa.


"Ini Alif, Suci." Rafa memperlihatkan galeri di ponselnya yang hampir seluruhnya berisi foto bayi dalam berbagi gaya.


"MasyaAllah...lucu dan montok sekali. Kalau ada disini pengen nyubit pipi bakpaunya ini...."


Keduanya mulai bisa tertawa ketika obrolan beralih membahas baby Alif.


"Alif gak ikut. Ia di Medan bersama ibu pengasuh yang sudah aku percayakan penuh. Beliau seperti ibu kedua buat aku. Jadi aku tenang meninggalkan alif bersamanya."


"Ini senyumnya kok bikin gemes sih." Dengan tubuh dicondongkan ke depan, jari Suci menggeser layar ponsel yang dipegang Rafa. Ia kagum melihat foto baby Alif yang tampan dan lucu. Tak menyangka bayi prematur itu kini tumbuh sehat dan gempal.


"SUCI!"


Suci menoleh ke samping memdengar suara orang yang memanggilnya.


"Eh, mas Nico."


...……………...


Eh kepanjangan ya nulisnya hehe...

__ADS_1


Kasih secangkir kopi + vote ya! Biar bisa lanjutin lg nih. Aku meregangkang otot dulu ahh


__ADS_2