
Anita yang berinisiatif masuk ke dalam kamar usai mengetuk pintu, hanya mampu geleng-geleng kepala. Ia menyuruh sepasang pengantin itu untuk berkaca melihat noda lipstik yang belepotan di bibir keduanya. Untung Naura tidak ikut.
"Nico-Nico....gak sabaran banget sih. Nanti usai resepsi kalian bebas ngapa-ngapin juga." Omelan Anita ditanggapi cuek oleh Nico. Lain halnya Suci yang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
Kedatangan Anita ke kamar untuk memberitahu Nico dan Suci untuk bersiap-siap menuju Ballroom. Nyatanya harus kembali memanggil tim MUA untuk memperbaiki dan merapihkan penampilan sepasang pengantin itu.
it's show time!
Rasa tegang menghinggapi perasaan Suci begitu akan memasuki Ballroom. Ayah Hendro dan Bunda Devi serta Umi dan Candra ikut berdiri di belakang akan mengiringi langkah sepasang pengantin berjalan di karpet merah.
Begitu crew WO membuka pintu, tampak pemandangan dekorasi indah dan mewah terpampang nyata di depan mata. Setiap sisi sepanjang gelaran karpet merah, tampak berjajar vas bunga tinggi berisi buket bunga aster kombinasi krisan.
Suci dan Nico saling pandang. Bunda benar-benar memberikan surprise tak terduga. Lebih dari sekedar ekspektasi. Suci tentu merasa terharu dan bersyukur memiliki mertua yang begitu baik terhadapnya.
Kilatan kamera menyambut rombongan pengantin memasuki ruangan dengan gelaran karpet merah terbentang sepanjang jalan menuju pelaminan. Sang pengantin menebarkan senyum bahagia kepada semua tamu yang berbaris di tiap sisi, alunan saxophone lagu romantis mengiringi langkah keduanya sampai tiba di pelaminan. Bung MC pun mulai memandu acara seremonial resepsi dari awal sampai akhir.
.
.
.
Raja dan Ratu sehari yang tampak gagah dan cantik, menerima ucapan selamat dari para tamu yang mengantri naik ke pelaminan. Candra yang tak kalah gagah, berdiri menemani sang ibu menerima tamu yang bersalaman. Relasi Ayah Hendro mulai berdatangan, juga karyawan kantor pusat yang diundang seluruhnya juga tampak hadir. Total 1500 undangan yang disebar. Pantas saja antrian tamu terlihat mengular.
Alunan musik tak henti menyuguhkan lagu-lagu romantis mengiringi sukacita suasana pesta.
"Selamat, Bro!" Rafa datang bersama Nisa yang perutnya sudah membuncit. Ia dengan tulus memberi ucapan selamat dan doa untuk sepasang pengantin. Mereka berpelukan hangat, tak ada lagi persaingan ataupun rasa permusuhan. Rafa sudah ikhlas dengan takdirnya.
"Terimakasih banyak sudah hadir di sini." balas Nico tersenyum bahagia karena Rafa sudah legowo.
Suci juga sangat senang dengan kehadiran Rafa dan Nisa malam ini. Nisa memeluk Suci sambil mengucapkan doa sang pengantin.
"Aku senang sekali kalian datang. Sudah berapa bulan ini? Jadi gemas nih." Suci mengusap perut Nisa dengan binar bahagia.
"Sekarang memasuki bulan ke tujuh. Semoga kamu cepat nyusul ya." Balas Nisa ikut mengusap perut Suci yang masih rata.
"Aamiin."
__ADS_1
Tak lupa kehadiran keduanya diabadikan dalam bingkai foto bersama oleh petugas fotografi yang selalu standby dibawah panggung pelaminan.
Tamu tak kunjung usai, MC memberi jeda sejenak agar yang berada di pelaminan istirahat duduk dan mempersilakan para tamu untuk mencicipi hidangan terlebih dulu.
Sesi ke 2 dimulai.
Seorang wanita cantik bergaun ungu muda dan pashmina warna senada, berdiri anggun diantara antrian yang mulai naik ke atas pelaminan. Tiba saatnya bersalaman dengan sang pengantin, ia mengucapkan selamat kepada Nico. Saat tatapan matanya bertemu dengan Suci, mereka saling berpelukan dengan erat.
"MasyaAllah Salma, kamu cantik sekali. Aku sampai pangling deh." Suci terkejut senang dengan penampilan Salma yang baru dilihatnya.
"Apalagi kamu Suci, sangat cantik seperti putri kerajaan. Selamat berbahagia ya. Semoga cepat dapat momongan."
"Aamiin. Salma, apa kamu akan terus berhijab?" Suci merasa penasaran. Ia masih menggenggam tangan Salma dengan erat.
"Doakan aku bisa istiqomah ya, Suci."
Keduanya kembali berpelukan dengan erat.
Semoga Abang balas menyukaimu dengan penampilanmu yang baru ini, Salma.
Salma bergeser menyalami Umi,mencium tangannya dengan takzim. Umi membalasnya dengan senyuman ramah.
"Bang Can, semoga segera menjadi Om." Salma menyalami Candra sambil terkekeh mentertawakan ucapannya sendiri karena bingung mau ngucapin selamat apa untuk Candra.
"Salma, kamu datang dengan siapa?" Candra tidak mempedulikan ucapan Salma. Ia masih terpesona dengan sosok anggun di depannya itu.
"Aku datang sendiri pakai taksi online, Bang. Kalau pakai ojol bisa rusak dandanan aku." Salma terkekeh lagi. Sebetulnya dirinya sedang berusaha mengalihkan rasa salah tingkah karena Candra menatapnya sangat dalam. Sampai menembus ke dada, membuat jantung berdebar kencang.
Candra tak bisa lagi bertanya karena antrian tamu di belakang Salma sesang menunggu giliran bersalaman. Matanya tak lepas dari mengawasi sosok Salma yang turun menuju stand makanan.
Candra mulai tak betah dan gelisah berada di pelaminan. Sosok Salma dengan penampilan yamg berbeda, mampu mencuri hatinya. Sang gadis kini tak terjangkau oleh pandangan matanya. Terakhir ia lihat sedang berbincang dengan teman-teman kantor yang berpapasan dengannya. Saat pandangan beralih kepada tamu undangan yang menyalaminya, ia tak lagi melihat sosok Salma.
"Umi, aku turun dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban Umi, Candra segera menuruni dua titian tangga. Ia ingin mencari Salma diantara kerumunan-kerumunan orang yang menikmati pesta.
Mata Candra memindai ke berbagai sudut dan spot mencari sosok gadis bergaun ungu. Sesekali langkahnya terhambat karena teman-teman yang menyapanya.
__ADS_1
Itu dia!
Candra tersenyum lega. Sosok yang dicarinya sedang sendiri, berdiri menatap spot indah dengan dekorasi bunga mawar merah berbentuk hati berhiaskan lampu.
"Kamu sudah makan?"
Salma membalikkan badannya saat mendengar suara yang familiar di belakangnya.
"Eh, kirain siapa. Belum, Bang. Nanti aja, aku lagi menikmati dekorasi indah ini. Serasa di negeri dongeng." Salma tersenyum, takjub memandang indahnya dekorasi pesta yang elegan dan wah.
"Aku lapar. Temani makan ya!" Tanpa menunggu jawaban, Candra meraih lengan Salma untuk mengikutinya ke stand makanan.
Padahal Candra memegang lengannya hanya lima detik, tapi sengatan listrik masih membekas di tubuh Salma.
Kini mereka duduk bersama di meja VIP menikmati makan. Tak ada yang bicara. Salma tertunduk menikmati suap demi suap makanan dalam piringnya. Sementara Candra terus menerus curi-curi pandang wajah cantik berbalut pashmina di hadapannya.
Alunan lagu From this moment miliknya Shania Twain dari atas panggung musik membuat Salma mengangkat wajahnya, ikut menikmati bait demi bait lirik romantis itu.
Saat yang ditunggu para jomlowan jomlowati tiba. Yaitu sesi lempar buket bunga.
Bung MC mengarahkan para lajang untuk mendekat ke depan panggung pelaminan. Lagu miliknya Bruno Mars 'Marry You' mulai menghentak, agar para lajang ikut berjoged.
"Bang, ikutan yuk!" Salma tampak bersemangat melihat orang-orang mulai berkumpul.
"Gak usahlah. Kita duduk aja."
"Tapi aku pengen. Siapa tahu dapat buket bunganya. Mitosnya kan kalau dapat bunga, bisa nyusul segera. Aku mau ke sana!" Salma memundurkan kursinya. Ia bersemangat melangkah dengan cepat untuk bergabung.
"Tunggu! Aku ikut." Candra bergegas mensejajari langkah Salma yang entah kenapa merasa takut hilang lagi dari pandangan.
Semua tangan diangkat ke atas. Bergerak mengikuti irama lagu dengan bertepuk tangan. Nico dan Suci sudah bersiap memegang buket bunga. Candra terus mengawal Salma yang menelusup ke barisan depan.
Dalam hitungan ke tiga MC memerintahkan melempar bunga, namun hanya prank. Buket tak jadi dilempar, membuat suasana riuh. Dan saat ketiga kalinya, dengan kompak Nico dan Suci mengayunkan tangannya.
Buket bunga bernuansa putih dengan hiasan pita gold melayang di udara. Dan....
Hap.
__ADS_1
...-------...