
Nico
Ia memijit kode sandi apartemen Malik. Berharap kodenya masih sama seperti dulu. Sejak menikah, ia belum pernah lagi menginjakkan kaki di apartemen sahabatnya itu. Karena mereka lebih sering ketemuan di luar.
Benar saja, kodenya masih sama. Perlahan ia membuka pintu. Suasana di dalam apartemen tampak temaram karena hanya satu lampu yang menyala di sudut ruang tv.
Ia mendapatkan penjelasan mengenai masalah Malik dan Rahma saat menjemput Suci ke ruko. Usai pulang ke rumah dan berganti pakaian, selepas magrib ia mengantar lagi Suci ke ruko yang akan menginap menemani Rahma. Dan ia pun akan menemani Malik di apartemennya malam ini.
Hal yang ia ketahui kalau Malik sedang memiliki masalah berat, sahabatnya itu akan mengurung diri di ruang kerjanya ditemani rokok dan minuman. Tapi itu kebiasaan dulu. Entah sekarang.
"Are you okay?" Ia bernafas lega melihat sedang telentang di sofa dengan bantal sofa yang berserakan di lantai. Ia duduk di dekat kaki Malik yang sedang memejamkan matanya dengan ditutupi oleh lengan.
"Hmm." Hanya itu sahutan yang Malik berikan masih dengan posisi yang sama.
Ia memperhatikan beberapa puntung rokok di asbak yang terletak di meja. Dengan abu rokok yang berserakan di sekitarannya.
"Gue boleh 'minum' gak? Otak gue mumet, bro."
Permintaan Malik membuat ia sedikit lega. Berarti sahabatnya itu belum membeli minuman alkohol.
"Kamu sudah jadi orang baik, jangan kembali mundur ke belakang."
"Setiap masalah akan ada jalan keluarnya. Ayo kita bicarakan dan pikirkan solusi." Ia menepuk paha Malik agar bangun.
Dengan malas Malik menggeliat dan bangun. Tangannya terulur memijat-mijat pelipis. Pening.
"Aku ingin menikah secepatnya. Meski mama tak merestui." Malik membuang nafas kasar. Kilatan rasa sedih, kecewa dan marah tersirat di sorot matanya.
"Tadinya aku ingin membicarakan ini dengan Rahma. Tapi dia gak mau menemuiku."
"Aku takut Rahma meninggalkanku."
Ia terenyuh dan kasihan melihat Malik yang menutup mukanya dengan kedua tangan. Apalagi mendengar kalimat terakhirnya. Malik tampak rapuh.
"Aku mendukung keputusanmu. Jangan khawatir, kamu masih punya keluarga. Ada ayah sama bunda yang akan mendampingimu di pelaminan." Ia menepuk bahu Malik memberinya dukungan dan semangat untuk terus maju.
"Tapi aku gak tahu Rahma setuju atau tidak," ujar Malik. Ada kegusaran dan kegelisahan terpampang di wajahnya.
"Malam ini Suci menemani Rahma di ruko. Biarkan malam ini Rahma menenangkan diri dulu. Suci bilang, Rahma tak sengaja mendengar percakapan kamu sama tante Indah. Ya, wajar kalau dia sakit hati."
Malik mendesah panjang.
"Aku pikir perjuanganku sudah selesai dengan mendapat restu om Badru." Malik mengambil sebatang rokok yang tersisa 1 di dalam bungkusnya. "Ternyata, batu rintangan malah dari nyokap gue."
Ia bergerak cepat menyingkirkan korek api dari atas meja, saat Malik akan mengambilnya untuk menyalakan rokok.
Malik mendelikkan matanya.
"Kamu udah terlalu banyak merokok, bro. Bukannya sudah berhenti?" Ia mengingatkan Malik yang sudah dua bulan ini berhasil berhenti merokok, demi Rahma yang memintanya.
"Untuk malam ini saja, Nico. Gue pusing soalnya." Malik memberi tatapan memelas agar Nico menyerahkan korek apinya.
Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku bilang apa tadi. Jangan mundur lagi ke belakang!"
__ADS_1
"Wudhu sana gih!"
"Adukan semua keluh kesahmu kepada Allah. Dijamin hatimu akan lebih tenang dan lapang." Ia mendorong tubuh Malik agar segera pergi ke kamar mandi.
Ia tersenyum lega menatap punggung Malik yang berjalan menjauh, keluar dari ruang kerjanya.
Hampir satu jam berlalu. Ia yang kini berada di mini bar yang tembus ke dapur, menoleh ke arah pintu kamar Malik yang terbuka. Ia melihat Malik yang berbeda. Wajahnya tampak tenang dan segar usai sholat.
"Alhamdulillah. Kamu benar. Sholat membuatku lebih tenang." Malik menatapnya dengan sorot mata penuh terima kasih. Lalu ikut duduk di mini bar untuk menyeduh kopi.
****
Suci menyimpan kembali ponselnya ke ats meja usai mendapat telepon dari Nico yang mengabarkan keadaan Malik. Ia masuk lagi ke dalam kamar Rahma. Sementara dua karyawan toko sudah masuk ke kamarnya usai menutup toko dengan tertib saat jam menunjukkan pukul 8 malam.
"Suci, sebaiknya kamu pulang aja. Aku gak apa-apa kok." Rahma menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Matanya masih terlihat sembab usai menangis sejak pulang dari rumah Malik.
Suci menggelengkan kepala sambil ikut duduk di samping Rahma. Ia mengusap-ngusap perutnya dengan kedua kaki yang diselonjorkan.
"Aku pengen tidur denganmu malam ini. Jangan usir dong." Suci mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah.
"Eh-- bukan begitu. Aku sih seneng banget. Tapi kasihan mas Nico tidur sendirin."
"Tenang aja. Mas Nico gak ada di rumah. Dia lagi di apartemen bang Malik."
Rahma tampak terkejut. "Kenapa dengan bang Malik?" Ia menatap Suci agar segera memberikan penjelasan.
"Tadi sore bang Malik mencarimu. Penampilannya kusut dan kacau. Dia ingin bertemu denganmu. Tapi aku mencegahnya, sesuai permintaanmu." Suci memperhatikan Rahma yang memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya.
"Mas Nico barusan menelpon. Bang Malik tampak rapuh, takut jika kamu meninggalkannya."
"Aku harus gimana, Suci?" Mata Rahma mengerjap resah.
"Jangan menghindar lagi kalau besok bang Malik ingin menemuimu. Kalian harus bicarakan masalah ini dengan tenang dan kepala dingin."
Rahma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Benar apa yang dikatakan Suci. Esok sorenya Malik kembali mendatangi toko usai pulang kerja. Malik memasuki pantry dimana ada Rahma sedang menghias kue ulang tahun custom order dengan gambar kartun Frozen.
"Cantik," ujar Malik yang telah berdiri di samping tanpa Rahma sadari.
"Eh--kirain gak ada abang." Rahma tentu terkejut melihat kehadiran pria spesial itu. Ia terlalu fokus menghias kue dengan detail.
"Alhamdulillah selesai." Rahma mengulas senyum kelegaan. "Beneran kuenya cantik, bang?" Ia menatap Malik dengan ceria. Seolah telah lupa kejadian kemarin karena teralihkan oleh kesibukan hari dengan berkutat di pantry.
"Bukan hanya kuenya. Tapi juga yang menghias kuenya," sahut Malik balas tersenyum menatap Rahma yang kini kedua pipinya memerah seperti udang rebus.
"Bisa aja deh gombalnya."
"Serius kok." Malik mengangkat dua jarinya menyatakan kesungguhan.
Keduanya pun sejenak larut dalam candaan ringan diiringi kekehan tawa.
"Rahma, bisa kita bicara di tempat biasa?" Kali ini Malik mulai berkata serius.
Rahma menganggukkan kepalanya. "Abang duluan ya. Aku beres-beres dulu sebentar."
__ADS_1
Rahma melepas apronnya dan segera membuatkan kopi untuk menyusul Malik ke meja tempat biasa mereka duduk berdua.
"Rahma, soal kemarin aku minta maaf." Malik mulai membahas kepada inti masalah. "Maafkan sikap mama aku. Dan tolong jangan sampai perasaanmu berubah terhadapku." Ia menatap Rahma dengan sorot penuh harapan.
"InsyaAllah, bang. Perasaanku masih sama. Tapi bagaimana caranya agar ibumu mau merestui kita?" Rahma balas menatap Malik dengan sorot kekhawatiran.
"Caranya dengan menikah. Secepatnya."
Rahma mengerutkan kening. Ia masih belum mengerti jalan pikiran Malik.
"Aku kan sudah berjanji kepada ayahmu, untuk melamar sekaligus menghalalkanmu setelah mama tiba di Jakarta."
"Aku masih punya Ayah Hendro dan Bunda Devi yang siap menggantikan peran orangtua. Aku sudah ke rumahnya tadi pagi. Alhamdulillah, mereka mendukungku."
Rahma masih diam menyimak ucapan Malik.
"Tingggal sekarang bagaimana jawabanmu." Malik meraih jemari gadis pujaannya itu.
"Cut Mutiara Rahma, maukah menjadi istriku?!" Malik menatap lembut dengan rasa yang mendalam.
"Maukah hidup bersabar mendampingiku, melalui hari bersama. Sampai suatu saat nanti hati ibuku bisa luluh dengan kekuatan cinta kita."
Keduanya bukan berada di tempat romantis. Mereka berada di tengah suasana ramai konsumen yang membeli aneka kue, bahkan lalu lalang orang yang mengambil tempat duduk untuk bersantai menikmati sore dengan sepiring kue dan segelas minuman.
Namun sungguh, ungkapan Malik mampu membuat Rahma terharu dan berkaca-kaca. Pria di depannya itu begitu serius ingin menghalalkan hubungan.
Rahma menarik tangannya dari genggaman Malik untuk menyeka sudut matanya yang berair.
Beberapa saat hening tercipta karena Rahma masih menundukkan wajahnya. Ia sedang meraba hati dan pikirannya untuk bersinergi memantapkan jawaban.
"Bismillah," ucapnya dalam hati.
"Johan Al Malik. Aku bersedia menjadi istrimu." Rahma berucap penuh keyakinan. "Apapun rintangan yang akan menghadang kedepannya, aku akan selalu berjalan di sampingmu," pungkasnya dengan seulas senyum manis untuk sang calon imam.
Seandainya boleh, ingin sekali Malik memeluk sang kekasih untuk meluapkan rasa bahagianya. Tapi Rahma adalah seorang perempuan yang menjaga marwah diri. Dan Malik samgat tahu itu.
Senyum Malik masih merekah lebar. Ia tak henti mengucap rasa syukur kepada Allah.
"Bolehkah aku memasangnya di jarimu?" Tanpa di duga, tahu-tahu Malik sudah memegang kotak kecil dan diperlihatkannya kepada Rahma.
Sebuah cincin dengan satu butir berlian yang berkilau indah di tengahnya.
"Bolehkah aku yang memasangnya sendiri?" Rahma membalikkan pertanyaam Malik. "Aku tak mau kita banyak sentuhan sebelum halal." Ia menatap lembut Malik memohon pengertiannya.
"Baiklah, aku mengerti." Malik mengangguk sambil mengulas senyum. Ia menyaksikan calon bidadarinya itu mengenakan cincin di jari manisnya yang lentik.
"Kok bisa pas, bang. Aku kan belum pernah ngasih ukuran cincin." Rahma menatap kagum cincin berlian yang berkilauan di jari manisnya.
"Malik gitu loh," ujarnya membusungkan dada penuh kebanggaan. Bangga karena dirinya berhasil minta bantuan Suci untuk mengetahui lingkar jari manis Rahma.
Keduanya melepas tawa bahagia. Sampai kemudian terdengar suara deheman dari arah samping. Tampak ada Nico merangkum bahu Suci, ada pula Salma menggelayut manja di lengan Candra.
"Kamu harus traktir kita makan malam di restoran Arab!" Ancam Nico dengan wajah sinis. "Itupun kalau kamu mampu," ledek Nico.
"No problem. Sekalian borong dengan restoran dan pemiliknya juga," jawab Malik tak kalah sombong.
__ADS_1
Lima detik kemudian, tawa semuanya pecah tak terbendung. Nico dan Candra bergantian memeluk Malik. Mengucapkan selamat atas keberaniannya melangkah maju.
Begitu pula Suci dan Salma saling berpelukan dengan Rahma yang memamerkan cincin di jarinya.