
Nico
Ia bebrapa kali menolehkan kepalanya ke samping kiri dan kanan, melihat pula ke belakang mencari keberadaan Suci yang belum juga kembali. Barangkali Suci sedang berbincang dengan sanak saudaranya, ia berpikir positif.
Sudah setengah jam berlalu. Ia mulai khawatir dan memilih beranjak menyusul Suci ke toilet sambil menenteng tas istrinya itu.
Sambil berjalan, matanya mengawasi seputaran spot yang dilalui. Kalau-kalau Suci ada diantara kerumunan para tamu undangan.
"Cari siapa, nak?" Seorang Mamak berumur sekitar 60 tahunan menyapanya yang celingak celinguk di depan lorong toilet wanita. Ia sudah bertanya pada orang-orang yang keluar dari toliet, menanyakan apakah melihat wanita hamil di dalam. Namun semuanya menggeleng.
"Istri saya tadi pamit ke toliet. Tapi sudah setengah jam belum kembali ke dalam." Ia tampak cemas dengan dahi mengkerut.
"Ciri-cìrinya?" Tanya Mamak menyelidik.
"Istri saya pakai gaun coklat muda, lagi hamil besar mau 8 bulan." Ia menjawab sambil mengarahkan pandangannya melihat sepanjang teras samping yang terlihat sebagian tamu juga crew catering yang lalu lalang membawa stok makanan ke dalam gedung.
"Suci, bukan?"
"Anaknya Umi Afifah?" Mamak yang kini duduk di bangku panjang depan mushola yang berdampingan dengan toilet, menebak dengan benar.
"Ah iya, benar. Mamak lihat?" Ia berbinar dan mendekat kepada Mamak.
"Hampir saja." Mamak menghembuskan nafas panjang.
Ia mengernyit. Belum faham dengan maksud ucapan Mamak itu.
"Tadi Suci hampir mau jatuh kepeleset lantai yang basah. Tapi ada pemuda sepantaran kau yang menolongnya. Tubuh Suci tertahang tak sampai jatuh. Saya kira itu suaminya. Ternyata kau suaminya ya."
Ia tentu terkejut mendengar cerita Mamak itu. "Mamak tahu kemana Suci perginya?"
"Tadi ke arah sana--" Mamak menunjuk halaman depan yang terpasang tenda biru kombinasi putih.
Ia tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum beranjak pergi menuju tenda depan yang ramai keluar masuk tamu undangan yang hendak makan sambil duduk.
Ternyata tidak sulit mencari keberadaan Suci di tempat itu. Ia melihat Suci sedang berbicara dan tertawa seorang pria. Keduanya tampak akrab dan Suci terlihat asyik memainkan ponsel pria itu.
Cowok itu kan....
Awal rasa yang diselimuti kecemasan berubah menjadi hawa panas yang membakar dada. Ia melangkah dengan cepat menuju dua orang yang duduk sambil tertawa.
"SUCI!!!"
Ia berusaha menekan rasa kesal dan cemburu yang membakar dada melihat pemandangan itu.
"Eh, Mas Nico."
Suci tampak kaget melihat kehadirannya. Namun sejurus kemudian tersenyum senang menatapnya.
"Mas, ini Bang Rafa." Suci tampak ceria memperkenalkan Rafa padanya. Mungkin Suci menganggap ia sudah lupa dengan pria itu.
Ia masih mematung dengan wajah masam.
"Apa kaba, Nico?" Rafa berdiri dan mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.
"Baik." Dengan enggan ia menjabat tangan itu dan menjawab datar.
"Oh ya, aku sekalian pamit aja, mau balik duluan." Rafa mengatupkan tangannya di depan dada menatap Suci.
"Bang Rafa, makasih untuk yang tadi."
Ia melihat Suci tersenyum dengan sorot mata penuh penghargaan kepada Rafa.
Apa-apaan ini...
__ADS_1
Ia mengepalkan tangannya menahan marah.
"Sama-sama, Suci. Dijaga dengan baik kandungannya ya!"
Dan Rafa pun pergi usai mengucap salam.
"Mas, duduk--" Suci menyuruhnya duduk di kursi bekas Rafa duduk.
Ia memilih duduk di kursi samping Suci. Wajahnya tampak ditekuk dan masam.
"Aku cemas mencarimu. Ternyata kamu malah asyik tertawa-tawa sama mantan." Ia mendengus kesal dengan wajah memerah.
Suci merubah posisi duduk mengarah padanya.
"Mas Nico, cemburu?" Suci tampak kaget dan menatap wajahnya penuh selidik.
Ia hanya diam dengan air muka asam. Helaan nafasnya terdengar berat.
"Mas, jangan salah faham." Suci meraih tangannya dan menangkupkan di atas perut.
Ia merasakan gerakan yang kuat bayi dalam perut istrinya itu. Air mukanya mendadak berubah takjub dan berbinar.
"Anak kita gelisah merasakan Papanya marah sama aku." Suci tampak meringis dan mengaduh sambil menegakkan punggungnya.
"Sayang, kenapa? Ada yang sakit?" Ia tampak panik melihat Suci yang mengatur nafas.
"Baby bergerak kuat sekali. Rasanya ngilu." Suci mengusap perutnya pelan-pelan agar bayinya itu tenang.
Ia ikut mengusap perut Suci dengan lembut. "Maaf, aku memang cemburu. Secara dia itu mantan kamu."
"Mas Nico, dengar dulu penjelasanku ya....."
Ia fokus mendengarkan cerita Suci. Seiring dengan itu berangsur pula amarahnya mereda dan rasa cemburunya menguap.
Ia menggeleng cepat.
"Jangan bicara seperti itu, sayang. Maafin aku." Ia meraih kepala Suci ke dalam dadanya dan mengusapnya penuh sayang. Merasa takut kehilangan.
"Cantik, tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana!" Ia berkata tegas. Suci hanya mengangguk dengan wajah heran melihatnya pergi dengan tergesa.
"Rafa!"
Ia berhasil menemukan Rafa di tempat parkir saat akan masuk ke dalam mobil.
"Makasih udah menolong Suci." Ia berdiri berhadapan dengan Rafa di samping mobil.
Rafa mengangguk dengan mengulas senyum tipis.
"Buang rasa cemburumu."
"Aku gak akan mengambil Suci darimu."
Ia terdiam. Mendadak lidahnya kelu karena sudah berpikiran jelek terhadap Rafa.
"Jaga dia dengan baik. Jangan sampai kamu bernasib seperti aku. Kehilangan."
Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Rafa.
"Semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaan baru." Ia tulus mendoakan pria tegap dihadapannya itu.
Rafa hanya tersenyum dan menepuk bahunya sebelum masuk ke dalam mobil.
****
__ADS_1
Kamar pengantin bertirai dan berkelambu putih itu menguarkan aroma bunga-bunga segar. Perpaduan mawar, melati, dan kenanga, memberi sensasi menyegarkan indera penciuman dan merelaksasi pikiran.
Rahma menatanya ulang usai membuka dan merapihkan barang hantaran ke dalam lemari pakaiannya, sambil menunggu Malik pulang sholat isya dari masjid. Kotak hantarannya ia pindahkan ke kamar lain agar ruangannya tidak berantakan. Kini kamarnya itu kembali bersih dan rapih.
Suara gemeretak bunyi gagang pintu yang dibuka dari luar membuat jantungnya berdebar kencang. Itu pasti Bang Malik, batinnya.
Rahma merasa salah tingkah. Bingung harus berbuat apa saat Malik masuk ke dalam kamar dan mengganti baju koko dengn baju santai yang sudah ia siapkan. Untuk pertama kalinya ia berduaan di dalam kamar dengan lelaki asing yang bukan keluarganya.
"Kok bengong?"
Rahma mengerjap. Karena tahu-tahu Malik sudah berdiri di depannya dengan mengulum senyum.
"Eh---" Rahma malah tergagap. Tak bisa berkata.
Malik meraih jemari tangan Rahma yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Rahma, hari ini aku sangat bahagia." Malik mengecup tangan istrinya itu penuh perasaan. "Makasih sudah mau menjadi pendamping hidupku. Selalu ingatkan aku jika ada sikapku yang keliru." Malik menatap lembut Rahma. Sorot mata yang memancarkan gelombang cinta.
"Aku juga sangat bahagia, Bang." Rahma membalas lembut tatapan suaminya itu. Ia merasa sulit berkata lebih banyak karena jantungnya terlampau bertalu makin kencang. Bagaikan mengandung magnet, pandangan keduanya saling mengunci tanpa mampu beralih.
Perlahan Malik mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas hangat terasa menerpa wajah Rahma yang kemudian memilih memejamkan mata.
Hati dan pikiran Rahma berkecamuk. Apa gerangan yang akan dilakukan Malik selanjutnya. Saat ia memejamkan mata, hembusan nafas kuat makin terasa menerpa wajah. Dan....saat sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh bibirnya....
Tok tok tok
Rahma terperanjat mendengar pintu diketuk dengan keras. Sehingga ia refleks menjauhkan wajah yang ternyata begitu dengan dengan wajah Malik. Hampir tak berjarak.
"Penganten....makan dulu!"
Itu teriakan Uma.
Rahma dan Malik saling pandang dan tertawa bersama.
"Makan dulu katanya, Bang." Rahma tersipu dengan wajah merona merah.
"Iya ya. Biar ada tenaga." Malik menaik turunkan alisnya.
"Ish, Abang apaan sih." Rahma memalingkan muka karena lagi-lagi dirinya tersipu malu.
"Aku sudah gak sabar melihatmu tanpa jilbab." Malik membelai wajah halus Rahma yang masih berbalut jilbab instan. Ia begitu mengagumi pahatan kecantikan natural tanpa polesan itu.
"Ayo Bang, makan dulu!"
"Sebentar!" Malik menarik tangan Rahma.yang akan melangkah menuju pintu.
"Aku ingin seperti ini dulu, sebentar saja!" Malik memeluk Rahma yang telah halal untuknya. Pelukan yang begitu erat dan ketat. Sehingga masing-masing bisa merasakan debaran jantung yang berdegup kencang. Keduanya saling memejamkan mata menikmati desiran dan gelenyar yang menjalar menimbulkan sensasi hawa panas tubuh.
Tujuh menit berlalu.
Malik sedikit mengurai pelukannya dengan nafas yang mulai tidak teratur.
Di luar jendela tempat mereka berdiri, bulan tampak bersinar terang di balik langit malam yang hitam pekat.
Jarinya perlahan mengusap bibir lembut Rahma yang masih memejamkan mata. Bibir merah jambu yang sedikit terbuka itu membuatnya tergoda untuk mencicipinya.
Ia baru akan melu mat bibir yang menggoda hasrat itu setelah mengecapnya dan merasakan manisnya.
Tok tok tok
"Penganten.....makan dulu!"
Kembali gedoran di pintu dan teriakan kedua Uma terdengar lebih nyaring.
__ADS_1
...Bersambung...