
"Mas, jangan ganggu terus dong. Gak kelar-kelar nih pasang dasinya," Suci menjauhkan wajahnya karena Nico terus menciumi wajahnya saat sedang memasangkan dasi.
"Berapa lama lagi selesai haidnya. Lama banget--" Bukan bibir yang kini mengganggu kegiatan sang istri. Tapi tangan yang kini menjelajah menyusuri tempat-tempat favoritnya.
"Lama gimana?! Biasanya juga seminggu. Besok udah mulai sholat lagi." Suci merapihkan kerah kemeja Nico sebagai sentuhan akhir tugasnya.
"Yaahhh, nanti malam kita udah pisah rumah. Kenapa sih Bunda ngasih aturan dipingit segala--" Nico mendengus. Kini dirinya mengganggu sang istri yang sedang berkaca mengenakan jilbab. Memeluknya dari belakang.
"Sabar, cuma tiga hari ini. Bukan tiga tahun, Mas." Suci menatap dengan senyum tipis, wajah lesu yang bersandar di bahunya.
"Gimana kalau aku kangen?" keluhnya, manja.
"Kan bisa video call."
"Gimana kalau aku pengen?"
Suci membalikkan badannya. Ia menjawil pipi sang suami dengan gemas. "PUASA DULU!"
.
.
.
Nico melajukan mobilnya menembus jalan raya yang mulai padat dengan kendaraan yang mayoritas akan berangkat bekerja. Ia akan mengantarkan dulu Suci ke rumah Bunda karena kakaknya yang di Bali sudah tiba semalam.
"Mas Nico bakal telat ke kantor, gak papa?" Suci menoleh ke arah suaminya dan menatapnya lama. Ia selalu mengagumi sang suami disaat sedang fokus, wajah tampan berahang kokoh itu semakin sempurna menurutnya.
"Gak papa, hari ini tidak begitu sibuk. Tugasmu sementara digantikan Rere. HRD belum membuat lowongan kerja, nanti menunggu aku naik posisi."
"Sayang, sebetulnya aku enggan kerja di kantor Ayah. Passion aku bukan di sana. Nanti aku akan bicara dengan Mbak Nita agar mau gabung di perusahaan. Aku ingin kita tinggal di Bandung, sekalian mengelola bisnis sendiri di sana. Selama ini hanya Malik yang mengurusnya." Nico berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
Suci hanya mendengarkan keluhan suaminya itu tanpa melarangnya. Bagaimanapun, suaminya punya keinginan sendiri dan dia harus mendukungnya.
"Memangnya di Bali Mbak Nita punya kegiatan apa?"
"Mbak Nita punya villa di Jimbaran dan Nusa Dua, yang dikelola suaminya. Dulu, Ayah sempat tidak merestui Mbak Nita menikan dengan Mas Jimmy karena dia pengangguran. Tapi Mbak Nita saking cintanya, bersikukuh bisa membimbing suaminya untuk berubah."
Berkendara sambil berbincang, tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah yang luas usai security membukakan pintu gerbang. Suci yang masih penasaran dengan kisah kakak iparnya, harus menyimpan dulu pertanyaannya karena mesin mobil sudah dimatikan, siap-siap turun.
"Cantik, nanti pulangnya di antar sopir Bunda. Jangan pakai taksi online!" Perintah tegas sang suami diangguki Suci.
.
.
.
__ADS_1
Masuk ke dalam rumah, tampak Bunda dan Nita sedang berada di ruang keluarga, bersantai.
"Hai adik iparku...duh lebih cantik aslinya ya daripada di foto." Nita menyambut kedatangan Suci dengan memeluknya lama. Ekspresi bahagianya tersalurkan, saat mengetahui dari Bunda jika Nico sudah menikah dengan wanita yang tepat.
"Aku gak dianggap, Mbak?" Nico mencebik melihat kakaknya yang hanya fokus dengan Suci.
"Adik bandelku...cangrats kamu udah bergelar suami." Nita beralih memeluk adiknya dengan sayang.
"Jadi suami yang baik ya. Jangan pernah sakiti istri." Nita berkata lirih di samping telinga Nico yang masih dipeluknya. Nico sedikit mengernyit. Suara sang kakak sedikit terdengar sumbang saat mengatakan kalimat itu.
"Om Nico... I miss you!"
Suara cempreng keponakannya membuyarkan keheranan Nico. Gadis kecil berusia 5 tahun itu merentangkan tangan minta digendong.
"I misa you too, Naura!" Nico mengangkat tinggi-tinggi gadis kecil yang lucu itu sampai tertawa-tawa senang.
"Kenalin nih, Tante Suci yang cantik seperti Naura--" Nico menyuruh Naura untuk menyapa.
"Hai Tante Suci, aku Naura."
Naura tersenyum imut, menyalami dengan sopan tantenya itu. Tampak dia biasa diajarkan tata krama ala timur, bagaimana cara berlaku sopan terhadap yamg lebih tua.
"Hai Naura cantik, pinter sekali ih--" Suci menjawil dagu bulat Naura yang tampak periang itu, membuatnya gemas.
****
Di kantor PT. Karya Utama Garmindo.
Candra keluar dari lift menuju ruangannya. Namun langkahnya terhenti saat mendekati meja Salma. Ia terpaku entah terpesona, melihat penampilan sang sekretaris yang tampil beda. Salma dengan busana formal yang modis dan sopan, terlihat lebih cantik dan fresh dengan model rambut dikepang satu.
"Pagi, Pak Candra. Teh nya mau sekarang?" Suara riang Salma menyadarkan Candra untuk mengedipkan mata setelah sekian detik terpaku.
"Eh, iya-iya. Bawa ke ruanganku ya!"
Candra bergegas melangkah lagi, membuka pintu ruangannya yang bersih dan rapih usai dibersihkan petugas cleaning service.
Kenapa aku mendadak grogi saat menatapnya.
Candra mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia mulai memfokuskan konsentrasinya untuk memulai bekerja.
"Sal, kamu pangling. Apa sengaja dandan seperti itu karena mau dating?" ujar Candra menatap Salma saat menyimpan teh hijau di mejanya.
"Iya, Pak. Aku minta tolong kepangin rambut sama tetangga kamar kos dan hasilnya aku suka. Siapa tahu cowok yang sekarang cocok. Semoga aja terjadi Love at first sight (cinta pada pandangan pertama)."
Uhuk uhuk
"Eh, Pak Candra. Pelan-pelan! Tehnya masih panas."
__ADS_1
Salma tampak panik melihat sang boss mengipas-ngipas bibirnya. Dahinya mengernyit. Biasanya juga si boss tidak langsung meminum teh yang baru disajikan. Biasanya membiarkan dulu tehnya sampai hangat.
.
.
.
Bayangan penampilan Salma membuat Candra tidak bisa berkonsentrasi penuh. Dia sudah dua kali mencuci muka, bahkan mengucek-ngucek matanya agar wajah cantik ceria itu tidak berayun-ayun di kelopak mata.
Apalagi dengan rambut dikepang itu, jadi memperlihatkan lehernya yang putih bersih. Hatinya merasa gak rela dan ingin menyuruh Salma mengurai kembali rambutnya untuk menyembunyikan keindahan lehernya karena bisa membuat laki-laki nakal berfantasi liar.
Tak terasa jam pulang kantor sudah lewat 15 menit karena Candra baru bisa fokus mengerjakan berkasnya usai jam istirahat.
"Astagfirullah, sudah lewat waktu." Candra bergumam sendiri. Tiba-tiba ia teringat Salma.
Buru-buru Candra merapihkan berkasnya. Memasukkan laptop ke dalam tas kerjanya.
Meja Salma sudah kosong, saat Candra keluar.
Candra mulai dihinggapi kekhawatiran. Ia mengingat kembali percakapannya dengan Salma tadi malam.
Dia bilang cowoknya pegawai Bank dekat sini. Berarti ketemuannya di restoran depan.
Candra menjentikkan jarinya. Berlari ia menuju lift, menyalip para bawahannya yang sedang berjalan santai ke arah lift. Tujuannya, restoran sebrang jalan.
Dengan nafas terengah-engah karena terus berlari sampai tiba di pintu masuk restoran, Candra merapihkan dulu penampilan dan menormalkan sikapnya agar Salma tidak curiga.
Candra bernafas lega. Sekali mengedarkan pandangan ia sudah dapat menangkap sosok Salma yang berada di meja dekat jendela sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Salma tampak tertawa pelan, entah apa yang sedang mereka perbincangkan.
"Mas, saya pesan ini ya. Nanti tolong antarkan ke meja itu!" Candra memberikan daftar menu yang dipesannya dan menyuruh pramujasi untuk mengantarkan ke meja Salma.
Salma terkejùt dan terbengong. Tiba-tiba Candra datang, menarik kursi dan ikut bergabung di mejanya.
"Salma! Aku cari-cari ternyata di sini. Kenapa pergi gak bilang dulu. Aku gak marah kok sama kamu." Candra dengan santainya mengambil gelas jus milik Salma dan meminumnya sampai tersisa setengahnya.
Bukan hanya Salma yang bengong. Teman cowoknya pun ikut bengong dan mengernyit.
"Kalian silakan lanjutkan makannya. Aku lagi menunggu pesananku datang." Dengan wajah tanpa dosa, Candra mengambil stik dengan garpu yang masih dipegang Salma.
"Maaf ya bung. Dari kemarin Salma lagi ngambek sama aku, makanya dia cari cowok agar aku cemburu."
Lagi-lagi Salma dibuat terkejut dan mulut menganga. Mau berucap membantah tapi lidah mendadak kelu.
...Bersambung...
...-----...
__ADS_1
Mataku udah ngantuk berat gak bisa dilawan lagi. Maafkeun ya digantung dulu daripada dipaksa ngetik malah typo. 😥