
Bali
Suasana Bandar Udara Ngurah Rai siang ini ramai dengan kedatangan dan kepulangan para turis lokal maupun mancanegara. Meski sekarang weekday, bandara internasional itu tidak pernah sepi. Karena pulau Bali selalu menjadi destinasi yang menarik hati para pelancong. Tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga menjadi tujuan bisnis maupun kegiatan politik.
Anita turun dari mobil bersama Naura yang riang memegang boneka Panda kesayangannya. Betapa tidak, sejak semalam Naura sudah melakukan panggilan video bersama Oma dan Opanya untuk mengabari kalau besok (hari ini) akan terbang ke Jakarta. Ia pun melakukan panggilan video dengan Om dan tantenya karena kangen dengan Amanda disamping mengabari akan pulang ke Jakarta.
"Gak usah antar ke dalam, Pak Anwar. Biar saya yang bawa kopernya." Anita mencegah sopir sekaligus orang kepercayaannya itu yang loyal menjaga dan merawat rumahnya.
"Titip rumah ya, pak. Saya mungkin akan jarang ke Bali kecuali kalau ada hal yang urgent."
"Baik, non Anita. Semoga selamat sampai Jakarta."
Anita bergumam mengaminkan. Ia tak lupa menyelipkan sejumlah uang ke telapak tangan Pak Anwar saat bersalaman.
"Naura, jangan jauh-jauh dari Mami. Nanti terpisah..." Anita mengingatkan Naura yang tidak bisa diam duduk di ruang tunggu, malah berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari.
Gerakan Naura tiba-tiba terhenti. Matanyan membulat sempurna dengan senyuman yang lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih terawat meski dua gigi depannya ompong bekas dicabut.
"Mami, itu...." Naura menunjuk ke arah seorang ibu yang memangku bayi. "Itu Alif, Mami...."
Anita mengikuti arah telunjuk sang anak dengan kening mengkerut. "Benarkah?" Ia ragu. Karena yang menggendong bayi saat di pantai adalah pria dewasa yang ia duga ayah sang bayi.
"Naura!" Ia terpaksa mengikuti sang anak yang berlari menuju kursi paling ujung yang diduga itu adalah Alif.
"Dedek Alif!" Naura berseru girang di depan bayi montok yang juga menatapnya.
Si Ibu yang memangku bayi itu tampak terkejut dan menaikkan kedua alisnya.
"Maafkan anak saya, bu. Dikiranya adek ini Alif." Anita meringis tampak tak enak hati.
"Tapi betul kok mbak, ini Alif." Si ibu menjawab dengan ramah.
"Tuh kan Mami, Naura bener...." Anak itu berjingkrak-jingkrak di depan alif sambil memainkan bonekanya. Bayi menggemaskan itu tampak tertawa dan menjerit senang.
Anita membulatkan bibirnya. "Maaf, ibu neneknya Alif ya?"
"Dua hari yang lalu, anak saya ketemu Alif sama ayahnya saat di pantai." Jelasnya karena melihat si Ibu yang menatapnya penuh selidik.
Giliran ibu itu yang membulatkan bibirnya. "Saya pengasuhnya Alif, mbak. Ini ayahnya Alif ikut pameran perhiasan sekalian ngajak liburan."
"Hai, Naura ya?!"
Anita sontak membalikkan badannya mendengar suara bariton pria yang menyapa anaknya. Namun ternyata Naura lebih dahulu berlari menghampiri pria yang mengenakan kacamata hitam itu.
"Om..." Naura mencium punggung tangannya.
"Anak soleha..." Pria itu tersenyum dan mengusap puncak kepala Naura.
Sesaat Anita terpaku menatap interaksi Naura dan pria tampan itu. Ya, ia baru sadar jika lelaki yang sempat mengajaknya berbincang di pantai itu ternyata gagah dan tampan. Apalagi dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya itu, menambah macho penampilannya.
"Mbak---"
__ADS_1
Anita mengerjap.
"Mbak pulangnya ke mana?"
"Ke Jakarta, Om." Naura yang gesit menjawab. "Naura sama Mami mau pindah ke rumah Oma. Naura mau sekolah di Jakarta." Sahutnya dengan mata berbinar.
Pria itu mengangguk.
"Kirain di Bali lagi liburan. Ternyata tinggal di Bali ya."
"Iya Om, Naura tinggal Jimbaran. Tapi sekarang mau pindah ke Jakarta." Lagi-lagi anak itu yang menjawab tanpa menatapnya karena tengah mengayun-ngayunkan tangan gempal baby Alif.
"Om pulangnya ke mana?" Kali ini Naura mendongak menatap sosok tubuh proporsional yang berdiri di depannya.
"Om pulangnya ke Medan."
"Yaaah, Om ke Jakarta aja....nanti Naura bisa main sama Alif. Ya Om ya...?!"
"Naura...." Anita menegur sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu terkekeh sambil mengusap gemas poni gadis kecil itu. "Kalau ada jodoh...kita akan ketemu lagi ya, anak manis."
"Jodoh itu apa, Om?" Naura mengernyit menatapnya tidak faham.
"Eh, apa ya..." Pria itu menatap Anita seolah meminta bantuan untuk menjelaskan.
"Maksud Om nya, mudah-mudahan suatu hari nanti ketemu lagi."
"Permisi, kami duluan ya..." Anita menganggukkan kepalanya sebelum pamit, begitu terdengar pengumuman panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Jakarta.
"Sebentar!"
Anita menghentikan langkahnya dan mengernyit.
"Saya Rafa." Pria itu mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Anita."
Pengumuman ulang penerbangan tujuan Jakarta kembali terdengar. Anita bergegas meninggalkan Rafa yang masih mematung di tempatnya karena Naura terus-terusan membalikkan badan melambaikan tangan.
****
Jakarta
Wanita berambut sebahu itu termenung dengan menggenggam selembar kertas di tangannya. Pengacara baru saja pergi dari ruangannya menyerahkan kertas itu. Kertas akta cerai. Hanya butuh waktu sebulan, ia kini resmi menyandang status janda.
Tak terbayangkan perjalanan hidupnya akan sampai pada fase ini. Tapi ia bukannya tidak berjuang. Sudah susah payah ia memperjuangkan agar bahtera terus berlayar namun akhirnya harus karam.
Pikirannya masih dalam mode menjelajah kilas balik perjalanan hidupnya bersama Jimmy yang kini menjadi mantan suaminya. Rasa yang tersisa untuknya adalah kasihan. Entah apa pekerjaannya sekarang. Yang biasanya duduk manis, tunjuk sana tunjuk sini.
"Mami kenapa Papi nggak ikut?"
__ADS_1
Pertanyaan Naura saat di pesawat mampu diredamnya dengan jawaban "Papi lagi sibuk, sayang."
Namun seiring berjalan waktu, berganti hari, Naura kembali bertanya penuh keingintahuan.
"Mami, Papi masih sibuk ya?"
Dan Anita harus memutar otak untuk memberikan jawaban. Jawaban yang harus bisa difahami anak seusianya.
"Naura kalau memilih, mau tinggal sama Mami atau sama Papi?"
"Karena ternyata Papi nggak bisa tinggal di Jakarta. Papi mau tinggal di Bali."
"Mami dong...."
Ternyata ada keuntungannya juga jika hubungan ayah dan anak selama ini biasa-biasa saja. Anita selalu protes jika Jimmy pergi pagi pulang larut malam sampai tak bertemu dengan Naura karena sang anak sudah tidur. Tapi hikmahnya sekarang, sang anak memilihnya karena hubungan ibu dan anak yang begitu dekat
Pikiran yang berkelana harus tertarik lagi pada sumbunya saat ia merasakan bahunya diguncang-guncang.
"Mbak--"
"Mbak Nita......hey.....ngelamun kok sampe segitunya."
Anita terperanjat begitu mendengar suara Nico diiringi guncangan lagi di bahunya. Kertas yang dipegangnya telah berpindah tangan. Nico membacanya dengan seksama.
"Mbak sedih dengan keputuaan ini?" Nico menyimpan kertas yang dipegangnya ke atas meja.
Anita menggeleng. "Bukan sedih. Tapi kasihan aja. Papi nya Naura sekarang kerjaannya apa? Biasa di zona nyaman soalnya." Ia menghembuskan nafas panjang.
"Ngapain mikirin orang seperti itu." Nico menggeleng tak setuju. "Pikirkan masa depan mbak sama Naura aja. Life must go on."
Nico menarik kursi agar bisa duduk lebih dekat Anita. Ia menatap sang kakak dengan wajah serius.
"Mbak masih muda. Aku nitip pesan aja, kalau mau nikah lagi cari ayah sambung yang tulus sayang sama Naura."
Anita memukul lengan Nico menggunakan map yang ada di meja dengan mata melotot.
"Aku gak akan nikah lagi. Mau fokus mengurus Naura."
"Yakiiin.....? Waktu yang akan menjawab." Nico menaik turunkan alisnya menggoda sang kakak.
Anita memutar bola matanya. Sebal dengan adiknya itu. Kali ini ia menggeplak lengan Nico dengan penggaris.
Atmosfer ruang kerja Nico yang nantinya akan diambil alih Anita menjadi hangat dengan canda tawa kakak beradik itu.
"Mbak, kalau sudah menguasai manajemen perusahaan, aku mau resign." Ujar Nico kembali serius.
"Aku mau fokus urus perusahaan di Bandung."
"Sabar dulu. Aku belum meninjau pabrik. Banyak hal yang harus aku pelajari seputar dunia garmen."
"Ok. 2 minggu harus mahir ya!" Tantang Nico dengan tegas.
__ADS_1
"Deal."
****