
Dua pemuda menatap layar monitor komputer berukuran 32 inc, menampilkan foto-foto hasil investigasi.
"Orang yang menguping pembicaraan kalian adalah suruhan Rafa. Itu rumah barunya, dia sudah tidak tinggal dengan istrinya." Malik mengarahkan kursor ke sebuah foto rumah mewah dua lantai yang tampak seperti bangunan baru.
Nico manggut-manggut, tatapannya tidak beralih dari layar monitor. Seolah memindai wajah-wajah dan lokasi yang harus ia save di kepala. Saat lalu dirinya mengantar Suci pulang, Nico melajukan mobilnya menuju apartemen Malik. Di sinilah keduanya berada, di ruang kerja apartemen Malik.
"Hm, feelingku ternyata benar. Si Rafa tak akan rela Suci menjadi milikku. Ini bukan lagi soal cinta, tapi obsesi. Suci dalam bahaya--" Nico menghembuskan nafas panjang.
Nico kilas balik pertemuannya saat di taman. Gestur Rafa yang kasar saat mencengkram tangan Suci dan tatapan kebencian mengarah padanya, membuat Nico segera menghubungi Malik, memberinya tugas.
"Berapa orang anak buahmu kemarin?" Nico menatap punggung Malik yang berjalan membuka jendela, membiarkan udara malam menerobos masuk.
"Hanya 2 orang. Mereka asli orang sana, jadi aman tak akan ada yang curiga," jawab Malik.
Nico menjatuhkan tubuhnya di sofa, "Minggu besok aku akan lamaran. Pengennya sih langsung akad nikah saja, tapi masih dipertimbangkan. Lihat sikon dulu."
"Kamu nanti harus atur di sana. Semua harus berjalan lancar jangan sampai si Rafa mengganggu!"
Malik hanya membulatkan jarinya tanda oke. Ia menawari rokok, tapi di tolak Nico dengan gelengan kepala. "Aku sudah berhenti. Suci nggak suka dengan asap rokok."
"Wah hebat juga pengaruh dia buat kamu." Malik membelalak takjub melihat perubahan demi perubahan sahabatnya itu.
"Bagiku, dia wanita istimewa. Aku hanya berusaha memantaskan diri aja."
"Oh ya, satu lagi tugasmu. Cari tahu soal track record Prasetya, bokapnya Winda. Dia memaksaku untuk mau menikahi anaknya. Aku belum tahu dia punya rencana apa setelah tadi siang aku menolaknya."
"Huft, urusan cinta bikin pusing ternyata. Itulah kenapa gue betah menjomblo, urusan asmara hanya membawa beban pikiran," ujar Malik sambil menghembuskan bulatan asap rokok dari mulutnya.
Nico mencebikkan bibirnya. "Yakin masih betah menjomblo? Kemarin Rahma nanyain kamu tuh."
Rokok yang baru dihisap sebentar, ditekannya ke asbak sampai baranya padam. Nama gadis yang disebutkan Nico lebih menarik perhatiannya. "Dia nanyanya gimana?" Malik menatap Nico dengan serius, meminta penjelasan lebih.
"Dia nanyanya malu-malu, 'Bang Malik nggak ikut ya Bang', aku bilang lagi sibuk. Lampu hijau tuh, jangan dilepas."
"Apa aku pantas buat dia?!" gumam Malik. Kalimat pertanyaan yang diucapkannya bukan ditujukan untuk Nico tapi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Came on, kamu jangan pesimis. Karena pada dasarnya perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, kita masih ada kesempatan memantaskan diri untuk mendapatkan kriteria itu." Nico menepuk bahu Malik, memberinya semangat.
"Aku balik dulu."
****
Pagi masih basah dengan embun yang menempel di daun-daun, sang surya pun masih mengintip malu-malu menampakkan sinarnya. Bersyukur Tuhan masih memberikan nafas, masih diberi waktu untuk memperbaiki diri, dari lalai menjadi taat, dari malas menjadi giat.
Seorang pemuda bertubuh kekar memakai koko putih, masih betah duduk bersila di dalam masjid, dengan seuntai tasbih di tangan kanannya. Hanya ada dua orang yang tersisa di dalam masjid usai sholat subuh, dirinya dan imam masjid yang lirih membaca Al Qur'an.
Dengan mata terpejam, ia menikmati kekhusyuan dan kenikmatan dzikir yang diucapkan dalam hati. Hanya jarinya yang bergerak menapaki butiran demi butiran tasbih.
Sebuah tepukan pelan di pundak, membuat matanya terbuka dan menoleh ke belakang.
"Den Nico, maaf saya ganggu. Den Nico disuruh pulang sekarang oleh Tuan ada hal penting katanya." Mang Syarif, sopir ayahnya dengan merunduk memberi kabar dengan wajah panik.
"Memangnya ada apa Mang?" Nico memicingkan matanya.
"Ah mendingan sekarang pulang dulu. Nanti biar tuan yang menjelaskan. Ayo Den Nico cepetan!" Mang Syarif lebih dulu beringsut keluar dengan tergesa-gesa.
"Apa?"
Nico terkejut mendengar penjelasan Ayah Hendro yang kini berjalan hilir mudik di depannya. Garis kerutan di keningnya makin jelas terlihat karena sedang berpikir keras. Setengah jam yang lalu, Head of Wearhouse memberi kabar kepada Candra yang langsung diteruskan kepada Ayah Hendro, telah terjadi kebakaran gudang yang saat ini sedang berupaya dipadamkan.
"Ayah tugaskan kamu sama Candra ke pabrik Bekasi sekarang. Cari tahu penyebabnya dan laporkan berapa total kerugiannya!" Akhirnya Ayah Hendro membuat keputusan setelah cukup menimbang-nimbang. Cukup anaknya saja yang berangkat, hitung-hitung belajar menghandle urusan tampuk kepemimpinan.
"Oke Yah, aku siap-siap dulu."
Kamu berangkat sama sopir saja, jemput Candra sekalian. Biar bareng satu mobil."
"Bunda sudah siapkan sarapan. Ayo ganti baju dulu nak!" Bunda yang baru datang dari ruang makan ikut menyahut.
Nico mengangguk. Ia menaiki tangga setengah berlari menuju kamarnya.
****
__ADS_1
Mobil Nico yang di bawa Mang Syarif berhenti di depan rumah. Candra sudah menunggu di teras ditemani Suci. Nico yang memakai kemeja biru muda berlengan pendek dan celana jeans hitam bergegas turun menghampiri keduanya.
"Sudah siap?" Nico menatap Candra yang sedang menggulung lengan kemejanya sampai siku.
"Ya." jawab Candra pendek.
"Suci, mau nyetir sendiri atau pakai taksi? Nico menatap kekasihnya yang sudah tampil cantik dan anggun dengan setelan kerjanya.
"Pakai taksi aja Mas. Aku belum hafal jalanan Jakarta, takut salah belok. Nanti malah terlambat lagi." Sahut Suci, tak lupa seulas senyum manis tersungging di bibir ranumnya.
"Hati-hati ya. Aku dan abangmu pergi ke pabrik dulu."
Suci menanggapi dengan membulatkan jari dan senyumnya.
"Abang dan Mas Nico juga hati-hati. Cepet pulang kalau sudah beres investigasinya!" Suci mengikuti kedua pria berpostur tinggi dan gagah yang disayanginya, sampai keduanya duduk di jok tengah.
Candra melongokkan wajahnya ke kaca yang dibuka oleh Nico, "Dek, awas pulang kerja jangan kelayapan dulu. Langsung pulang ke rumah!"
Suci mengerucutkan bibirnya dengan mendelikkan matanya. "Lagian kapan aku pernah pulang keluyuran. Kan tiap hari kalian giliran jadi pengawal." Suci menunjuk satu-satu wajah tampan yang tengah mentertawakannya.
Saat Candra tengah menerima telpon masuk, Nico memberikan kissbye dan kedipan mata untuk sang kekasih. Dan Suci pun tersipu malu dibuatnya.
Lambaian tangan dan senyum manis mengantar kepergian mobil yang melaju meninggalkan sang gadis yang masih berdiri menatap, sampai mobil berbelok, lepas dari pandangan. Masih terlalu pagi untuk berangkat kerja. Suci kembali masuk ke dalam, masih ada waktu untuk menyapu rumah.
Nico memnadangi ponselnya. Wallpaper bergambar seorang gadis tengah tersenyum menjadi teman setia kemanapun dirinya melangkah. Senyum yang menjadi candu dan pelipur rindu.
Wahai sang pencuri hati,
Senyummu adalah penguat suasana hatiku
Senyummu adalah penyemangat hari-hariku
Hanya menjadi penikmat senyummu saja sudah bahagia...
Apalagi jika saat nanti menjadi pemilik senyum itu
__ADS_1