
Belaian tangan halus sedikit mengeriput itu begitu menenangkan. Tangan yang dulu mendekap tubuh mungilnya, menuntunnya berjalan, menemaninya belajar, hingga sampai dewasa menunjukkan jalan kebaikan. Umi, tangan yang mengusap rambut anak bungsu yang tidur dipangkuannya, menyalurkan kasih sayang yang tulus. "Suci, dua hari lagi kamu menikah, sederhana tanpa pesta, apakah kamu sudah yakin, nak?"
Suci yang berbaring dengan mata terpejam menikmati quality time dengan sang bunda, sontak membuka mata. Dibenahinya posisi menjadi duduk bersisian dengan Umi di atas ranjangnya.
"InsyaAllah Umi, aku sudah mantap dengan keputusan ini, lebih baik sederhana. Tak dipungkiri kegagalan kemarin membuat aku ada trauma. Bagaimana kalau pesta pernikahan direncanakan, terus gagal lagi. Aku takut, Umi." Jawabnya sendu.
"Eh, nggak boleh bilang begitu, sama saja berprasangka buruk dengan kehendak Allah. Istighfar, nak."
Suci dengan lirih menuruti nasehat Umi. Benar, tidak boleh membiasakan hati dan kepala diisi dengan pikiran negatif. Dampaknya akan menimbulkan ketakutan dan kegelisahaan.
Suara ketukan di pintu membuat membuat perbincangan terhenti. Rahma membuka pintu setelah Suci menyuruhnya masuk.
"Ci, ada tamu." Rahma menatap Suci dengan wajah serius.
"Siapa?"
"Nisa." Jawaban Rahma membuat Suci terkejut. Suci memandang Umi seolah meminta pendapatnya.
"Temui saja. Mudah-mudahan dia datang dengan niat baik." Kalimat bijak yang dilontarkan Umi menguatkan Suci untuk menemui tamunya itu.
Suci menghampiri seorang perempuan yang tampak badannya berisi, sedang duduk termenung di ruang tamu.
"Ehmm."
Suara deheman Suci membuat perempuan itu mendongak. Dia Nisa, istri dari Rafa, berdiri mengulurkan tangannya.
"Hai Suci, apa kabarnya?" sapaan basa basi dilontarkan Nisa dengan wajah kuyu dan senyum kikuk. Setelah menjawab sapaan Nisa, Suci menyuruhnya kembali duduk.
Suci memperhatikan Nisa yang menundukkan kepalanya. Sejak tadi menatapnya, wajah cantiknya lesu dan pucat. Sorot matanya mendung, menyiratkan ada beban yang berat tengah dihadapinya.
"Nisa, ada apa?" Suci berinisiatif membuka pembicaraan karena ditunggu-tunggu lama, Nisa masih saja mengatupkan bibirnya sambil tertunduk.
__ADS_1
Nisa mendongakkan wajahnya, air mata tampak menggenang di kedua matanya. "Aku memang perempuan tak tahu malu, sudah merebut calon suamimu. Dan kini datang ke sini untuk meminta pertolonganmu--" dengan suara bergetar Nisa mulai mengutarakan maksudnya.
"Sudahlan Nisa, jangan ungkit masa lalu. Aku sudah melupakannya, aku tak pernah menganggapmu merebut Bang Rafa. Semua sudah takdir Tuhan," Suci dengan tenang menangapi. Menurutnya, Nisa tak sepenuhnya salah, ia malah ketiban untung karena menikahi pria yang sejak lama disukainya. Andaikan menuruti ego, Mama Nur lah yang pantas disalahkan. Ia yang punya kendali membuat keputusan saat itu. Tapi Suci memilih ikhlas menerima ini sebagai jalan hidup yang harus dilaluinya.
"Lalu apa yang bisa aku bantu?" lanjut Suci.
Nisa menyeka air matanya yang jatuh di pipi. "Rafa tak pernah berhenti mencintaimu sampai detik ini. Meski hidup seatap tapi dalam tidurnya ia selalu mengigau memanggil namamu." Ada kegetiran saat Nisa mengucapkan kalimat itu.
"Suci, saat ini aku sedang mengandung anaknya. Dan sudah tiga bulan Rafa pergi meninggalkanku untuk kembali mengejarmu. Aku akan mencoba ikhlas jika kalian mau bersatu lagi. Tapi aku mohon, jangan ceraikan aku. Anak ini butuh kehadiran ayahnya." Air mata yang awalnya menetes tertahan, kini luruh tak terbendung. Meluap bersama beban di dada yang terdorong keluar, tak lagi sesak.
Suci pamit meninggalkan Nisa sebentar menuju dapur. Dengan langkah tergesa ia kembali membawa segelas air hangat dan diserahkannya kepada Nisa.
"Minumlah dulu, Nis. Tenangkan dirimu. Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran." Suci yang kini duduk di sisinya, mengusap bahu Nisa memberikan ketenangan.
"Gini ya Nis. Buang jauh-jauh pikiran kalau aku akan kembali kepada Rafa. Hubungan kami saat itu juga sudah selesai. Lusa, InsyaAllah aku akan menikah. Bukan dengan Rafa tapi dengan pria yang sudah berhasil mengisi kekosongan hati." Pelan tapi jelas, Suci memberikan ketenangan untuk Nisa.
Awan mendung yang melingkupi sorot mata Nisa, perlahan menipis berganti semburat cahaya menerbitkan asa.
"Aku akan coba membujuk Rafa. Nanti selepas ashar ikutlah denganku ke pantai Alue Naga. Semoga aku bisa kembali mempersatukan kalian."
"Aku tidak setuju dengan rencanamu. Nico melarangmu pergi ke luar rumah demi keselamatanmu, mbak Suci. Pernikahan kalian lusa." Malik menolak permintaan Suci.
Nisa sudah pulang. Saat ini Suci, Rahma dan Malik berada di paviliun, membahas kedatangan Nisa tadi. Nanti sore Suci akan menemui Rafa, dan Malik dengan tegas menolaknya.
"Bang Malik, aku ingin menuntaskan urusan dengannya. Biar dia tidak terus menggangguku, biar kita bisa menjalani hidup masing-masing dengan tenang. InsyaAllah, aku akan baik-baik saja." Suci berupaya membujuk Malik. Dan memintanya agar tidak memberitahu Nico. Akhirnya setelah tarik ulur, Malik menyetujuinya dengan pengawasan dan kewaspadaan yang akan ia tingkatkan.
"Rahma, nanti tunggulah di mobil bersama Nisa. Aku akan bicara empat mata dengan Rafa." Pungkas Suci.
Sepeninggal Suci, Malik menatap Rahma, gadis cantik berkulit kuning langsat. "Rahma, suasana pantainya sepi atau rame?"
"Kalau sore cukup rame. Banyak warga yang melihat sunset. Bang Malik jangan terlalu cemas ya, Suci tidak akan kenapa-napa." Rahma tersenyum melihat kecemasan yang tersirat di wajah Malik.
__ADS_1
Sore yang dinanti tiba.
Dua mobil beriringan menuju pantai. Suci yang menyetir, bersamanya ada Rahma dan Nisa. Sementara Malik mengikuti di belakangnya, anak buahnya sudah stand by lebih dulu di sekitar lokasi berpura-pura menjadi pengunjung pantai.
Angin laut yang kuat menerpa gadis yang berdiri di pasir pantai mengibarkan kerudung dan tuniknya, melambai mengikuti arah angin. Ia menatap luasnya samudra biru yang seolah tanpa ujung. Deburan ombaknya yang tenang ikut membawa kenangan masa lalunya kembali hadir bagaikan pentas layar tancap yang terkembang di atas ombak biru yang pecah beriak saat menerpa pasir pantai.
"Apakah kamu merindukan suasana dulu, Suci?"
Suara yang dikenalnya mengagetkan Suci dari lamunan. Seorang pria datang mendekat, ikut berdiri menatap mentari yang bergerak surut.
"Aku mengajakmu kesini untuk bicara tentang masa depan. Masa depan aku dan masa depan kamu!" Tanpa menoleh ke sampingnya, Suci mulai berbicara.
Wajah Rafa sontak berubah sumringah. Ia memposisikan badannya menjadi menghadap Suci.
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Rafa dengan tersenyum lebar.
"Bang Rafa, sadarlah. Kita tidak ditakdirkan sebagai jodoh. Masa depanmu adalah Nisa dan anak kalian. Lepaskan namaku dari hatimu, gantikan dengan nama istri dan anakmu." Suci menatap tajam mantan kekasih yang raut mukanya kini berubah, mengernyit belum faham.
"Nisa sedang hamil Bang Rafa. Kembalilah padanya. Seorang ibu hamil sangat butuh perhatian suaminya." Suci memperjelas kembali kalimatnya.
Rafa menggelengkan kepalanya."Tidak-tidak, dia hamil karena dia menjebakku. Aku menidurinya tanpa sadar. Aku sudah mentalaknya, Suci." Secepat kilat, raut sumringah yang tadi hadir kini berubah kemarahan. Bayangan malam panas bersama Nisa terlintas di kepalanya.
Suci mendesah berat. Ia mencoba kembali berbicara dengan hati-hati. "Talak yang diucapkan dengan marah itu TIDAK SAH!"
"Istri mana yang tak sedih dan sakit hati, sekian lama hidup bersama tapi suami tak mau menyentuhnya. Jadi menurutku wajar, dia ingin menjadi istrimu seutuhnya Bang, bukan hanya status."
"Dia mengadu padamu?" Rafa memicingkan matanya.
Suci menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya menduganya. Dia datang demi anak yang dikandungnya. Dia bersedia dipoligami asal anaknya punya sosok ayah. Tidakkah hatimu tersentuh dengan pengorbanannya hm?" Suara Suci tak kalah keras dengan suara debur ombak yang memecah karang. Menghentak relung hati yang paling dalam seorang Rafa yang kini diam terpaku.
"Kumohon, Bang Rafa. Belajarlah ikhlas menerima takdir. Abang orang yang baik, faham ilmu agama, jangan sampai iman kalah oleh nafsu. Kembalilah dengan Nisa, relakan aku menikah dengan Mas Nico." Suci mengatupkan tangannya di dada. Hatinya tak putus merapalkan doa agar pria di hadapannya ini sadar.
__ADS_1
Dari arah mobil, semua menatap dengan tegang ke arah dua sosok yang berdiri di tepi pantai, di tengah lalu lalang orang yang sedang jalan-jalan menikmati senja.
...Bersambung...