MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Sambutan Tak Terduga


__ADS_3

Malik tidur terlentang di sudut kanan karpet shaf pertama. Dengan tangan terentang, ia menghembuskan nafas panjang.


Lega.


Begitu yang dirasakannya usai menjadi imam sholat yang merupakan pengalaman pertama untuknya.


Malik dan Nico mempersilakan Om Badru pulang terlebih dulu. Keduanya kini rebahan di karpet masjid yang empuk saat jamaah yang lain sudah pulang. Tinggalah mereka berdua.


"Kayak abis lomba lari," ledek Nico diiringi kekehan, melihat Malik yang bercucuran keringat.


"Lebih melelahkan dari sekedar lomba lari. Tegang, Bro," balas Malik memeletkan lidahnya. Membuat Nico tertawa lepas.


Saat dirasa sudah cukup menstabilkan tensi ketegangan menjadi kembali normal, Malik mengajak Nico keluar dari masjid. Ia sudah tidak sabar menanti keputusan Om Badru.


"Kapan orang tua nak Malik mau ke sini?"


Pertanyaan Om Badru saat Malik baru saja duduk dikursi, membuatnya menegakkan punggung saking kagetnya. Apakah ini artinya aku diterima?


Malik menatap Om Badru dengan raut penuh tanda tanya. Berharap ayahnya Rahma itu mau memperjelas ucapannya.


"Saya merestui kamu menikahi Rahma." Om Badru seolah bisa membaca raut muka Malik.


"Jadi kapan mau mengajak orangtua ke sini?"


"Saya tunggu!"


Malik mengucap syukur ditengah Om Badru bicara bertubi-tubi. Spontan ia menoleh ke arah Rahma hingga keduanya beradu tatap dan saling melempar senyum.


Sikutan dari Nico membuat Malik tersadar untuk memutus pandangannya dan beralih kembali menatap lurus sang calon mertua.


"InsyaAllah Om, begitu mama saya tiba di Jakarta, kami akan segera ke mari." Malik tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang tergambar jelas di wajah.


"Langsung menikah saja, nggak usah ada khitbah. Saya percaya dengan niat baik kamu."


Sungguh, tawaran menggiurkan dari calon mertuanya itu membuat Malik tersenyum lebar penuh suka cita. Dengan mantap ia mengatakan siap.


"Ciee--" Suci berseloroh menggoda Rahma hingga membuat adik sepupunya itu mencubit lengannya. Tentu saja Rahma merasa malu. Kedua pipinya yang putih bersih tampak seperti udang rebus karena semua yang ada di ruang tamu menoleh, menatapnya dengan senyum-senyum.


Hari bahagia saat ini untuk seisi rumah. Satu tahapan sudah dilalui. Tuan rumah melanjutkan menjamu tamunya untuk makan sore.


"Sekarang aja yuk akadnya!" Malik berbisik lirih saat duduk bersama menikmati makan.


"Sabar--" Rahma menoleh diiringi senyum tipis.


Malik hanya menyeringai. Ia sengaja menggoda Rahma. Tapi kalaupun Rahma mengangguk iya, tentu saja ia siap lahir batin. Dengan sederet kartu di dompetnya, semua bisa berjalan lancar.


Esoknya, bersama-sama mereka pulang ke Jakarta. Hari-hari berlalu dengan rutinitas seperti biasanya. Hingga waktu sebulan telah tiba. Sesuai rencana, keluarga Malik tiba di Jakarta dan akan menetap di ibukota.


Rahma


Ia baru saja mendapat pesan dari Malik, satu jam lagi akan menjemput untuk bertemu mamanya.


"Yang ini atau yang ini ya?" Ia minta pendapat Suci dan Salma yang ikut masuk ke kamarnya di lantai dua ruko. Ia menunjukkan dua gamis polos warna hijau dan marun.

__ADS_1


Suci dan Salma kompak menggelengkan kepala.


"Yang hijau terlalu santai, kurang cocok untuk bertemu calon mertua." Suci memberikan pendapatnya sambil duduk di tepi ranjang mengamati Rahma yang memegang dua hanger baju gamis dan meminta penilaian.


"Iya betul. Yang marun juga lebih cocoknya untuk ke kondangan. Yang lain deh--" Salma menyambung pendapat Suci.


Suci berdiri mendekat ke depan lemari baju yang terbuka pintu kiri dan kanannya, menatap deretan baju yang digantung di bagian kanan dan baju yang terlipat di sisi kiri.


"Ini aja--" Suci mengambil rok plisket warna krem dengan atasan blouse warna putih.


"Kerudungnya ini--" Suci menarik hijab segi empat warna krem motif bunga. Lalu memamerkan hasil padu padannya kepada Salma dan Rahma.


"Good. Modis dan anggun." Salma mengacungkan dua jempolnya dan menyuruh Rehma segera berganti pakaian.


Ia menghembuskan nafas panjang. Tak biasanya mau berpakaian harus minta pendapat dulu orang lain. Namun karena mau bertemu dengan keluarganya Malik, seketika rasa percaya dirinya turun. Ia gak mau kesan pertama penampilannya terlihat buruk di mata calon mertuanya itu.


Salma dan Suci meninggalkannya sendiri karena di bawah sedang ramai pembeli.


Ponsel di atas meja rias berdering. Ia melirik nama yamg tertera di layar, Suci. Tanggung, ia sedang menyematkan bros di bahu kirinya sehingga di dering ketiga barulah menjawab panggalin.


"Kenapa?"


"Malik sudah datang. Sudah beres belum dandannya? Jangan menor-menor, sederhana aja biar cantiknya natural." Terdengar sahut Suci dari sebrang diakhiri tawa kecil.


"Ish aku gak suka dandan menor. Udah, sekarang mau turun." Ia pun menutup teleponnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Malik


Ia tersenyum lebar menatap gadis bertubuh ramping yang mendekat ke mejanya. Penampilan Rahma terlihat anggun dan makin cantik.


Rahma tampak tersenyum dengan pipi yang merona.


"Makasih."


"Kita berangkat sekarang atau mau minum dulu?" tawar Rahma.


"Sekarang aja mumpung masih siang. Yuk!" Ia pun pamit kepada Suci dan Salma yang tampak sibuk melayani pembeli. Ia sudah ijin pula kepada Nico hari ini bekerja hanya setengah hari karena sang mama sudah menunggunya.


"Bang, aku deg degan lho." Rahma memegang dadanya yang teraba jantungnya berdetak kencang.


Ia yang lagi fokus menyetir, melirik sesaat ke arah Rahma sambil terkekeh.


"Gak usah tegang, rileks aja. Ini bukan mau di sidang." Ia mengulum senyum karena Rahma meremas-remas tangannya, terlihat gelisah.


"Kalau mama tidak menyukaiku gimana?" Rahma kembali menatapnya penuh kekhawatiran.


"Hei, jangan takut begitu," tangan kirinya menangkup tangan Rahma yang teras dingin. "Kamu cantik dan soleha. Dan kamu sumber kebahagian dan penerang hidupku. Gak ada alasan mama untuk menolakmu." Ia memberikan ketenangan dengan menggenggam tangan Rahma sejenak lalu melepasnya karena harus membelokkan kemudi memasuki halaman rumah.


****


Malik tidak pernah mau tinggal di rumah mama dan ayah tirinya. Semenjak mereka pindah ke Singapura, rumah itu dirawat oleh pekerja sepasang suami istri yang ditugaskan membersihkan dan menjaga keamanan rumah.


Mama Indah dan keluarga barunya hanya datang sesekali. Dan sekarang mama Indah akan menetap lagi di Jakarta karena suaminya dimutasi ke kantor cabang di Jakarta.

__ADS_1


Malik dan Rahma masuk ke dalam rumah sambil berucap salam.


"Malik, sayang--" Mama Indah langsung berdiri dari duduknya begitu mendengar suara anaknya itu. Ia serta merta memeluk Malik erat-erat penuh luapan kerinduan.


"Kamu makin tampan aja, nak. Kamu sehat kan sayang?" Mama Indah merangkum wajah Malik dan menatapnya lekat-lekat. Merasa pangling. Malik menjawabnya dengan mengangguk.


Rahma tersenyum menyaksikan pemandangan haru pertemuan ibu dan anak itu yang seringnya hanya berkomunikasi video call.


"Ma, kenalkan ini Rahma. Calon istri Malik." Malik mengurai pelukan sang mama setelah dirasa cukup saling melepas kangen.


Mama Indah baru tersadar ada orang lain yang datang bersama Malik. Ia menatapnya dari atas sampai bawah. Rahma merasa kikuk mendapat pandangan seolah memindai itu.


Rahma mengulurkan tangannya, mencium tangan Mama Indah.


"Nama kamu siapa?" Mama Indah bertanya dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya yang ceria menyambut kedatangan Malik. Ia memang sudah diberitahu oleh Malik bahwa akan memperkenalkn calon istrinya.


"Saya Cut Mutiara Rahma. Biasa dipanggil Rahma, tante." Rahma memperkenalkan diri dengan tersenyum sopan.


"Ayo duduk--"


Rahma mengangguk. Ia menuruti Mama Indah untuk duduk di kursi ruang tamu yang dihiasi pernak pernik guci yang mungkin harganya mahal.


"Wah ada Malik. Sudah lama?" suara berat dari pria setengah baya yang datang bergabung membuat semuanya menoleh. Ia datang bersama anak lelaki remaja usia SMA yang tak lain adik tirinya Malik.


"Baru aja. Om, apa kabar?" Malik berdiri menyalami Om Theo. Ia memang dari awal tidak mau memanggilnya 'Papa'. Ia juga beradu tos dengan Kevin, sang adik yang terus ngeloyor ke dalam enggan bergabung.


"Kabar Papa baik. Ini siapa?" Om Theo mengernyit menatap Rahma.


"Namanya Rahma, dia calon istri Malik." Malik dengan cepat menjawab saat dilihat Rahma akan membuka mulutnya.


"Kerja di mana? Mama Indah mengalihkan perhatian Malik dan Om Theo yang turut memandang Rahma yang duduk sendiri di kursi single.


"Saya buka toko roti dan kue bersama dengan dua saudara saya. Belum lama sih, baru jalan 3 bulan." Rahma menjawab apa adanya.


"Memangnya lulusan apa?"


"Saya hanya lulus SMA, tante." Rahma menelan salivanya untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering.


"Ma--" Malik menyentuh bahu mama Indah yang duduk di sisinya.


"Hm, buka toko kue baru 3 bulan. Sebelum itu berarti nganggur dong." Mama Indah memicingkan mata menatap Rahma yang menundukkan kepalanya.


"Ma--" Malik memandang mamanya dengan sorot penyesalan. Ia tidak setuju dengan pertanyaan sang mama yang seolah mengintrogasi.


Rahma mengangkat kepalanya menatap calon mertuanya itu dengan berani. "Tidak tante. Saya tidak nganggur. Siang hari, saya menjadi guru di madrasah. Malamnya selepas magrib, saya mengajar anak-anak mengaji.


"Gajinya paling berapa ya--?" ujar Mama Indah bernada merendahkan.


Malik mulai gusar, berkali-kali ia menggerakkan badannya berharap mamanya mengerti.


"Menjadi guru madrasah dan guru mengaji gajinya kecil bahkan tidak cukup untuk biaya hidup satu bulan. Tapi niat saya pengabdian. Ikhlas karena Allah." Rahma meremas roknya. Ia tidak menduga sambutan mamanya Malik seperti ini.


Om Theo memilih permisi. Ia sudah membaca gelagat mulai panas. Apalagi Malik mengajak mamanya beranjak dari ruang tamu setelah meminta ijin kepada Rahma.

__ADS_1


Rahma menghembuskan nafas panjang. Tinggalah ia seorang diri di ruang tamu dengan perasaan tak nyaman.


__ADS_2