MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Khodijah atau Fatimah?


__ADS_3

"Maaf ya bung. Dari kemarin Salma lagi ngambek sama aku, makanya dia cari cowok agar aku cemburu."


Lagi-lagi Salma dibuat terkejut dan mulut menganga. Mau berucap membantah tapi lidah mendadak kelu.


Pria yang duduk menghadap Salma memicingkan matanya menatap tajam sang gadis yang tengah terkejut. Ia mengira reaksi Salma itu karena merasa terciduk oleh pacarnya.


"Maaf saya gak mau ikut campur. Silakan selesaikan sendiri urusan kalian."


Si pria kenalan barunya Salma itu memundurkan kursi, segera angkat kaki tanpa menunggu penjelasan Salma.


"Hei, tunggu dulu!" Seruan Salma hanya percuma. Karena sang pria tidak menoleh lagi ke belakang. Salma berdiri dengan keterkejutan yang bertambah karena reaksi pria kenalannya tak diduga.


Kini ia cemberut menatap Candra yang duduk tenang tanpa rasa bersalah.


"Pak, maksudnya apa? Kenapa mengganggu kencanku?" Masih dalam posisi berdiri, Salma menegur Candra sambil menahan rasa geram. Andaikan dia bukan atasan, ingin sekali Salma menghardiknya dengan keras.


"Panggil Abang, Sal! Ini udah di luar kantor. Ayo duduk dulu, jangan marah-marah begitu." Candra kembali pada mode kalemnya. Membuat Salma luluh dan patuh untuk duduk.


"Karena sekarang aku sebagai adekmu, aku mau marah! Kenapa Bang Can ngaku-ngaku sebagai pacar aku? Jadi dia kabur--" Salma memotong steak dengan pisau yang ditekan keras-keras, melampiaskan kekesalannya. Satu potongan besar ia masukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya penuh tekanan.


Candra menaikkan kedua alisnya. Cara marahnya Salma membuatnya ingin tersenyum, namun ditahannya karena khawatir Salma tersinggung.


Seorang pramujasi datang membawakan makanan pesanan Candra dan menyajikannya di atas meja. Candra sekalian meminta makanan milik tamunya Salma yang baru disentuh tiga suap itu dibawa ke belakang. Jadilah di meja hanya makanan berdua.


"Ayo makan dulu. Nanti aku jelasin kenapa aku bersikap begitu." Ternyata menu Candra sama dengan Salma, steak tenderloin.


"Aku.udah kenyang." Salma bersidekap tangan di atas meja. Steak miliknya masih tersisa setengahnya.


"Makan atau aku suapi?! Ancam Candra dengan mengangkat garpu dan pisaunya, menatap Salma yang masih terlihat bete.


Plis Bang, jangan bersikap perhatian begini. Aku bisa gagal move on.


"Iya-iya aku makan." Salma memilih diam dan menundukkan kepala selama makan. Perasaannya saat ini menjadi campur karena sikap Candra padanya.


"Maaf tadi jusnya aku minum karena haus. Ini aku ganti dengan punyaku, masih utuh kok." Candra mendekatkan jus mangga miliknya ke hadapan Salma.


Candra memperhatikan raut wajah cantik yang hanya menunduk, diam membisu, tak menghiraukan tawaran jus apalagi menyentuhnya.


"Salma, maafkan aku. Aku memang sengaja menganggu kencanmu. Bukan untuk menghalangimu mencari jodoh, tapi mau ngasih cara yang lebih baik untuk mendapatkan jodoh yang baik." Candra menjelaskan dengan lembut, berharap Salma bisa memahami alasannya.


Salma kini mendongakkan wajahnya, menatap pria blasteran Arab berhidung runcing, menatap dengan sorot mata tanpa semangat.


"Nasib percintaanku menyedihkan sekali ya. Cinta pertamaku adalah pada 'si bodoh' tapi mimpiku ternyata ketinggian. Kini aku sedang berusaha membuka hati untuk pria lain, tapi nyatanya gak mudah." Jus yang tadinya diacuhkan, kini diminumnya sampai tersisa setengah. Begitulah Salma, jika kesal atau marah pelampiasannya pada makan dan minum.

__ADS_1


Candra mengulum senyum. Ia jadi tahu sifat sekretarisnya itu jika sedang kesal atau marah, malah membuatnya gemas.


"Jadi Bang Can mau ngasih saran apa?" Salma menopang dagu dengan kedua tangan bertumpu pada meja.


"Sebaiknya kamu kejar lagi 'si bodoh' itu. Bukan dengan meminta pada orangnya, tapi meminta pada Allah. Selama janur kuning belum melengkung, kamu bisa menikungnya lewat sepertiga malam."


"Gak mungkin, Bang." Salma menggelengkan kepalanya lemah.


"Kenapa?"


"Karena si bodoh itu--." Salma terkejut dengan ucapannya sendir. Hampir saja ia keceplosan.


"Kenapa dengan si bodoh?" Candra awalnya sudah merasa tegang mendengar ucapan Salma yang seolah akan mengungkap identitas si bodoh itu. Ada rasa kecewa karena Salma tidak melanjutkan ucapannya.


"Maksudku, aku gak mau menikungnya karena pasti calon istrinya wanita solehah yang tinggi ilmu agama, sama seperti si bodoh itu. Sedangkan aku, sampai saat ini niat berhijab aja masih lemah. Nunggu entar kalau udah nikah baru berhijab." Seketika Salma merasa kepercayaan dirinya menurun. Ia merasa kalah bersaing.


"Gni aja, Salma. Selama sebulan ini kamu jangan lagi kencan dengan pria kenalanmu. Kamu cukup berdoa kepada Allah, minta jodoh yang terbaik. InsyaAllah, dalam waktu.sebulan ini jodohmu yang sebenarnya akan datang." Perkataan meyakinkan dari Candra membuat Salma menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan ikuti saran Bang Can. Hanya satu bulan kan?"


"Iya. Satu bulan. Mungkin malah gak sampai satu bulan." ujar Candra tersenyum tipis.


Usai setuju dengan saran yang diajukannya, dan melaksanakan sholat magrib di musholla restoran, Candra mengajak Salma pulang. Ia membayar semua makanan di meja itu termasuk bekas si cowok yang udah kabur karena ulahnya.


"Bang, aku mau pesan ojol aja. Kita kan gak searah pulangnya." Salma berusaha menolak ajakan Candra. Semakin sering bersama, dirinya merasa semakin susah melawan jantung yang selalu berdebar kencang itu.


Salma hanya menghela nafas mendengar jawaban santuy bossnya itu.


Yang masalah aku, Bang. Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sering perhatian disaat aku mencoba move on. Aduh, Ibu....tolong anakmu ini!


Salma hanya mampu teriak dalam hati mengungkapkan kegundahannya.


.


.


.


"Salma, kamu tahu kisah cinta romantis dua wanita mulia, Khadijah dan Fatimah?" Candra memecah keheningan dalam mobilnya dengan mengajak Salma berbincang. Karena sejak mobil melaju, Salma hanya diam membisu.


"Aku gak tahu. Ceritakan Bang, sepertinya seru!" Salma mulai antusias untuk mendengar cerita Candra.


Lalu lintas yang padat merayap menjadi hal biasa di jalanan ibukota. Setiap pengguna jalan perlu memiliki kesabaran ekstra menghadapinya. Candra mengisi waktu perjalanan dengan memulai cerita.

__ADS_1


"Ada dua pilihan wanita untuk menikah. Melamar atau dilamar. Kedua pilihan ini sudah dicontohkan oleh dua wanita mulia, Khodijah dan Fatimah. Khodijah 'melamar' Muhammad SAW dan Fatimah menunggu 'dilamar' Ali bin Abi Thalib. Jadi, seorang wanita melamar laki-laki untuk menjadi suaminya bukanlah hal yang hina. Tapi ingat, melamar untuk menjadikan suami bukan sebagai pacar."


Salma menolehkan wajahnya, mendengar dengan seksama sambil menatap Candra yang berbicara dengan tetap fokus menyetir.


"Khodijah melamar sang Nabi setelah ia tahu kualitas lelaki ini. Ketika itu Khodijah dan Muhammad melakukan kerjasama bisnis. Khodijah amanahkan bisnisnya kepada beliau. Ia kagum saat Muhammad menyampaikan laporan perjalanan bisnisnya ke beberapa negara. Ditambah cerita mengenai akhlak dan perilaki mulianya yang dilaporkan anak buah Khodijah yang ikut dalam misi dagang itu. Wanita kaya raya yang sudah matang menjalani kehidupan ini akhirnya mengutus Nafisah binti Munabih untuk menemui laki-laki yang sudah 'menaklukan' hatinya. Utusan itu menyampaikan isi hati dan ketertarikan Khodijah kepada Muhammad. Dan akhirnya, dengan ditemani Abu Thalib pamannya, secara resmi Muhammad SAW melamar Khodijah. Wanita inilah yang mendampingi penuh cinta, kesetiaan, dan pengorbanan saat Nabi Muhammad berjuang menyebarkan agama Islam."


"MasyaAllah kisah yang mengagumkan sekali. Kalau Fatimah gimana, Bang?" Salma merasa takjub dengan kisah yang baru didengarnya itu. Ia tak sabar ingin tahu juga kisah tentang Fatimah.


"Fatimah putri Nabi Muhammad SAW sejak lama memendam rasa kepada Ali bin Abi Thalib. Namun ia malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada lelaki yang sering berada di sisi Ayahnya ini. Beberapa kali lamaran dari laki-laki yang datang melalui sang Ayah ditolak. Dan ia begitu gembira saat Ali melamarnya. Rupanya Ali juga memendam rasa cinta kepada Fatimah. Namun terkadang ia merasa tak pantas mendampingi putri sang Nabi ini.


Maka ketika keduanya menyatu dalam pernikahan, kebahagiaan yamg begitu besar menyelimuti hati dua insan yang telah sama-sama jatuh cinta ini."


Tak terasa mobil sudah tiba di depan kosan.


"Ah sudah sampai. Asyik dengar cerita, perjalanan jadi terasa cepat deh." Salma sedikit kecewa saat ternyata sudah tiba dikosan .


"Bang, aku jadi malu. Orang islam tapi tidak tahu kisah-kisah sejarah yang penuh teladan ini." Salma nyengir kuda sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Itu yang aku ceritakan singkatnya lho. Kalau baca lengkapnya akan terasa syahdunya, malah sudah ada author yang mengemas dalam bentuk novel. Mulai sekarang, biasakan isi waktu luang dengan bacaan yang bermanfaat, agar ada ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari."


"Iya, Bang. Makasih ya untuk ceritanya. Aku tinggal memilih ya Bang, mau seperti Khodijah atau Fatimah. Tapi aku harus memantaskan diri dulu kayaknya he he he."


Candra tersenyum lebar. Salma sudah kembali ke mode riangnya usai mendengar ceritanya. Ia menatap punggung sekretarisnya itu sampai hilang dibalik pintu gerbang kosan. Kini, ia melajukan mobilnya putar arah menuju rumahnya.


.


.


.


Disepertiga malam.


Di dua tempat yang berbeda. Dalam keheningan malam dan kekhusyuan sholat serta kesyahduan untaian dzikir, dua insan saling berdoa memohon petunjuk kepada Allah jodoh terbaik.


Usai doa dipanjatkan, bisik hatinya berkata :


...Haruskan aku menjadi Khodijah yang datang padamu untuk menyatakan rasa. Ataukah aku menjadi Fatimah yang mencintaimu dalam diam dan doa....


...(Salma)...


...Benarkah Salma Savitri adalah jodoh yang Allah pilihkan untukku? Semoga aku segera mendapat petunjuk dalam mimpi....


...(Candra)...

__ADS_1


...---------------...


Beri othor secangkir kopi (vote 199 poin) biar semangat kebut cerita. Masih ada Rahma dan Malik yang harus dikasih panggung karena kisah cintanya juga seru. Apalagi pemeran utama akan segera masuk ke konflik keluarga. Itulah sedikit bocoran 😀😀😍


__ADS_2