
Salma
Acara pengajian rutin seminggu sekali di wilayah tempat tinggalnya sudah selesai. Dan jadwal minggu pagi ini pengisi tausyiah adalah Umi. Ia tak hanya menjadi mustami tapi juga selalu setia mendampingi Umi di setiap jadwal tausyiahnya.
Tukang sayur dan buah menggelar dagangannya di parkiran masjid menyambut ibu-ibu yang berhamburan keluar.
Ia dan Umi tidak berniat belanja karena stok di rumah masih ada. Ia hanya menggeleng ketika ada yang mengajaknya memilih sayuran.
"Mpok, kami duluan ya." Ia menyapa Mpok Atun tetangganya yang asyik memilih bumbu dapur.
"Iya, Salma, Umi. Saya nanti, masih betah." Teriak mpok Atun yang sedang berjongkok di depan gelaran dagangan, melambaikan tangannya.
Ia cepat sampai di rumah karena hanya berjarak 200 meter dari masjid. Dan Umi mengajaknya berjalan kaki, sekalian olahraga katanya.
Ia segera menaiki tangga menuju kamarnya usai Umi masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Sejak memcium aroma minyak angin saat tadi di dalam masjid, kepalanya menjadi pening dan mual. Namun tidak ingin muntah, hanya merasa mual yang serasa memenuhi perut.
"Neng."
"Neng....tidur?"
"Sayang, kamu kenapa?"
Ia jelas mendengar suara Candra dan merasakan telapak tangan menempel di keningnya.
Tanpa mengganti baju, hanya melepas kerudung saja, ia memilih merebahkan diri dan tanpa sadar tertidur.
"Hm."
Ia hanya bergumam dan perlahan membuka matanya. Candra tengah menatapnya dengan raut wajah cemas.
"Aku ketiduran ya." Ujarnya dengan suara serak. Ia menggeser posisinya menjadi setengah duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Tangannya menutup mulut yang menguap.
Tangan Candra terulur untuk merapihkan rambut panjangnya yang terurai berantakan.
"Di bawah cuma ada Umi lagi di dapur. Katanya kamu belum turun lagi sepulangnya dari pengajian." Candra yang baru pulang dari lapang mini soccer masih menatapnya cemas.
"Sakit? wajahmu pucat, Neng." Candra kembali menyentuh keningnya. "Tapi gak panas," lanjutnya dengan kening mengkerut.
"Tadi mendadak pusing, Bang. Alhamdulillah sekarang udah enggak." Ia menatap lurus wajah suaminya dan memberikan senyum menenangkan.
"Kalau sakit istirahat aja, jalan-jalannya lain kali aja ya."
Ia segera menggeleng. Sudah sebulan yang lalu ia menginginkan pergi ke Taman Safari Bogor dan semalam sudah sepakat akan berangkat hari ini.
"Aku tidak apa-apa. Lihat...." Ia turun dari tempat tidur, menyibakkan rambut panjangnya dengan wajah ceria. Memang iya, rasa pusing dan mualnya sudah hilang setelah tidur meski sebentar.
Candra terkekeh melihat tingkahnya yang seperti kanak-kanak "Siap-siap kalau gitu. Aku mandi dulu."
"Umi ikut yuk...seru lho Umi...lihat kebun binatang. Di rumah sendirian entar bosen." Ia merayu lagi sang mertua sebelum keluar rumah.
"Kalian sana senang-senang aja. Umi ada teman kok. Nanti Mpok Atun mau ke sini minta diajarin bikin kue Bhoi."
Umi gak bisa dirayu. Ia dan Candra pamit pergi dan mungkin pulangnya malam. Umi tampak tidak keberatan.
Ia menggelayut manja di lengan Candra saat keluar rumah. Entah kenapa perasaannya begitu senang sekali karena keinginannya pergi ke tempat yang dibayangkannya, dituruti sang suami.
__ADS_1
"Deuh, yang mau ketemu saudara....senang amat." Candra menggoda begitu melihatnya memasang sabuk pengaman dengan bersenandung.
"Ishh, Abang mah. Masa aku disamain sama monyet." Ia pura-pura marah dengan bibir mengerucut.
Cup.
"Becanda, Neng."
Kecupan yang tiba-tiba dari Candra membuat senyumnya merekah lagi.
"Bismillah...Taman Safari...I'm coming..." serunya semringah.
Candra mengulum senyum seiring mobil yang melaju meninggalkan komplek rumahnya.
****
Magrib di rumah besar Bunda Devi.
Suci menghentikan langkahnya di depan kamar Anita yang pintu kamarnya sedikit terbuka. Disaat Ayah Hendro dan Nico sedang melaksanakan sholat magrib di masjid, di kamar itu terdengar percakapan dengan nada suara ditekan.
Ia tak sengaja menguping. Tujuannya turun untuk mengambil poci air minum di dapur. Namun kamar yang terletak di samping tangga itu malah membuatnya mengkerutkan kening. Ada apa dengan mereka, batinnya.
"Kak Naura, sudah sholat?" Suci mendekati keponakannya itu yang setia di kamarnya menemani baby Manda. Ia menyimpan poci dan gelas di atas nakas, persiapan jika tengah malam terjaga ingin minum.
"Belum, tante." Naura menjatuhkan tubuhnya di sofa dan berguling-guling malas.
"Anak cantik harus sholat dulu. Punya mukena nya kan?" Suci membelai poni Naura yang rambutnya dikepang dua.
Naura mengangguk. "Ada di kamar Mami. Tapi Naura sholatnya di sini ya?"
"Jangan bertingkah, mas. Ingat, kita lagi di rumah Bunda. Jangan perlihatkan kebiasaan burukmu. Bukannya ikut ke masjid."
"Di rumah terus bosen, Nita. Temanku mengajak kumpul di klub. Aku bisa keluar tengah malam tanpa orang rumah tahu."
"Jangan bertingkah, Mas. Kalau di Bali terserah, di sini jangan!"
"Tante, Naura mau wudhu."
Suara gadis kecil itu membuatnya terjaga dari kilasan percakapan yang ia tangkap tadi.
"Iya. Nyalain krannya kecil aja ya, biar bajunya gak basah."
Anak periang itu mengangguk dan melangkah sambil bernyanyi-nyanyi.
Pagi menjelang.
Senin adalah permulaan hari untuk memulai kembali aktifitas kerja. Meski malam selalu terjaga dengan rengekan si kecil yang ingin menyusu, Suci tidak melupakan kewajibannya menyiapkan setelan baju untuk sang suami bekerja.
Padahal Nico sudah melarangngnya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan kewajiban seperti biasanya. Menyiapkan baju, memeriksa dompet Nico yang selalu di taruh di atas meja rias dan lalu mengisinya dalam jumlah yang sama setiap harinya.
"Hari ini aku lembur, sayang. Ayah sama Bunda akan pergi ke Bandung tiga hari. Mau meninjau pabrik sekalian ada undangan kolega di sana." Ujar Nico usai mengancingkan lengan kemejanya. Ia lalu menyerahkan dasi, minta dipasangkan oleh Suci.
Suci mengangguk. "Jangan telat makan, Mas!" Ia selesai memasangkan dasi dengan cepat dan terakhir merapihkannya.
"Kalau jadwal makan kamu kapan? Kasih tahu ya. Sama, itu juga gak boleh telat." Nico memeluk pinggang Suci dan menempelkan ke tubuhnya sampai tak berjarak.
__ADS_1
"Dua minggu lagi." Suci tersenyum simpul menatap lurus sang suami yang masih mencengkramnya.
"Bohong---" Wajah Nico mendekat, mengarah ke bibir ranum yang menggoda. "Perhitunganku minggu ini udah bisa dikunjungi." Ia lalu menyesap bibir lembut yang manis itu untuk kemudian beralih melu matnya dengan rakus.
Tok tok tok.
"Tante Suci, Naura mau masuk."
Teriakan Naura serta merta menghentikan aktifitas panas keduanya yang saling beradu kening.
"Issh, anak itu ganggu aja." Nico menggerutu disela mengatur nafasnya yang memburu.
Suci tertawa kecil. Ia usap-usap kemeja sang suami agar kembali rapih.
"Naura sudah kangen ketemu Manda. Semangat sekali anak itu."
"Biar aku yang buka." Nico menahan langkah Suci karena ia sudah siap turun."
"Kamu gak usah turun temani sarapan. Biar aku bareng yang lainnya." Nico mencium kening Suci dan juga pipi si kecil yang digendong sang istri karena terbangun dan merengek.
Teriakan Naura kembali terdengar.
"Iya sebentar!" sahut Nico yang bergegas ke arah pintu yang dikunci dari dalam.
Gadis kecil dengan rambut diilat ekor kuda sudah berdiri di depan pintu mendekap boneka beruang berwarna pink.
"Belum mandi ya?" Nico menjegal Naura di ambang pintu ketika hendak masuk.
"Udah dong....nih wangi gini..." Naura memdekat agar Omnya bisa mencium wangi cologne di bajunya.
Nico tersenyum dan mengusap poni keponakannya itu. "Temani Manda ya, soalnya Om kerjanya sampai malam."
"Okay." Naura berlari masuk ke dalam kamar.
****
Suasana rumah sudah sepi ketika Suci turun untuk sarapan. Dari balkon kamar, ia sudah melihat mobil Nico meninggalkan halaman begitu pula mobil Ayah Hendro yang langsung berangkat ke Bandung.
Suci yang duduk sendiri di ruang makan, menyudahi sarapannya dengan cepat. Ia tak melihat mbak Anita dan suaminya. Pintu kamarnya tertutup rapat.
Matanya tak sengaja menangkap dari balik kaca sosok Anita sedang duduk menyendiri di kursi kolam renang. Mumpung ada Naura yang menemani anaknya, ia membawa nampan berisi dua gela teh melati menuju kakak iparnya itu.
"Mbak, ngeteh dulu."
Suci duduk di kursi sampingnya. Ia sedikit terkaget melihat wajah Anita yang sembab. Anita pun tak kalah kaget dan memalingkan wajah ke arah kiri. Terlihat jarinya terangkat untuk menyusut ujung matanya.
"Mau berbagi denganku, mbak?" Suci menatap Anita dengan sorot mata kasihan. Ia yakin ada masalah rumah tangga yang disembunyikan wanita cantik di sisinya itu.
Anita tidak mengelak karena Suci sudah melihat keadaan dirinya yang kacau. Ia menghela nafas panjang.
"Minum dulu, mbak." Suci menyodorkan gelas teh karena Anita masih saja diam.
"Makasih, Suci." Anita meraihnya dan meneguk perlahan.
"Aku akan cerita. Tapi tolong rahasiakan." Anita menatap Suci penuh permohonan.
__ADS_1
"Baiklah, mbak."