MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Extra Part 2


__ADS_3

"Apa?" Suci menggeleng. Lalu tertawa sumbang. "Masa sih?" Ia masih tak yakin dengan ucapan Nico.


Melihat Nico yang diam, ia pun memasang wajah serius. Sudah mendapatkan jawabannya.


"Selanjutnya gimana, Mas?"


Nico menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan bibir yang terkatup rapat. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana setelah tahu pria yang mendekati kakaknya adalah mantan istrinya. Benarkah Rafa tulus dengan Anita? Tapi Rafa bilang dari awal kenal dengan kakaknya itu, sama sekali tidak tahu latar belakang keluarganya. Hanya tahu Anita sebagai single parent.


"Mas."


"Mas Nico."


Sentuhan lembut tangan Suci di bahu, membuatnya tersadar dari lamunan. Ia menatap lurus istrinya itu, tanpa kata.


"Apa yang Mas Nico khawatirkan?"


"Aku?!" Suci menyentuh dadanya sendiri.


"Di hati ini hanya kamu Mas, yang bertahta di hati. Aku...."


Belum selesai Suci berbicara, Nico menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Hening sesaat karena keduanya saling diam. Nico mengecup puncak kepalanya dengan lama. Otaknya tengah berpikir keras.


"Sayang, aku tidak meragukan sedikitpun cintamu. Bukan, bukan itu."


Suci terdiam dalam pelukan Nico. Menunggu suaminya itu melanjutkan bicara. Terdengar helaan nafas yang dihembuskan perlahan.


"Jujur. Aku...aku ragu dengan dia (Rafa). Nanti kamu akan berinteraksi dengannya. Aku takut dia menyukaimu lagi. Dan....mbak Anita jadi tersakiti." Nico akhirnya mengeluarkan apa yang mengganjal di hati. Tentang ketakutannya.


Suci menarik tubuhnya dari pelukan Nico. Memilih duduk tegak sambil memandangi wajah sang suami yang tampak galau.


"Mas, aku bukannya membela bang Rafa. Tapi ketakutan mas Nico itu berlebihan."


"Terakhir kali bertemu dia di pernikahan Rahma. Bahkan dia menolongku saat hampir terjatuh. Itu...hampir setahun yang lalu."


"Dan setelah itu aku gak tahu kabarnya lagi. Tak ada komunikasi. Eh, malah sekarang dapat kabar cukup mengejutkan juga."


Suci mengangkat bahunya.


"Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Termasuk pertemuan mbak Nita dan bang Rafa. Itu diluar kehendak dan rencana kita sebagai manusia. Tak bisa memilih di mana cinta berlabuh."


Nico menaikkan kedua alisnya. Kalimat terakhir Suci sama persis yang diucapkan Rafa.


"Keputusan ada sama mbak Nita, mungkin juga mas Nico." tandas Suci.


Dan pembicaran sore hari itu menguap begitu saja. Nico tidak lagi membahasnya. Suci pun memilih tak bertanya. Memilih berdiam dan menjadi pendengar kalau mungkin Nico membahasnya lagi suatu saat. Suaminya itu malah disibukkan dengan grand opening beberapa outlet baru di luar kota.


Dua minggu berlalu. Suci merasa surprise dengan kedatangan Anita dan Naura di jumat sore. Ia melihat dari kaca jendela ada mobil plat Jakarta yang dikenalinya perlahan parkir di halaman rumahnya yang terbuka.


Suci berdiri di teras menyambut sang tamu. Usai menjawab salamnya mbak Anita dan Naura, keduanya saling berpelukan dan berbagi kabar.


"Tante....belum salam." Naura menengahi ibu dan tantenya yang asyik mengobrol dengan mengulurkan tangannya.


"Aishh, tante lupa." Suci memberikan tangannya untik diraih Naura. "Kak Naura gimana kabarnya sayang?" ia mengusap rambut gadis kecil yang menggemaskan itu.


"Naura lagi sedih, tante."


"Udah 10 hari tidak ketemu adek Alif."


"Alif pulang ke Medan." Naura mengadu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Adek Alif itu siapa?" Suci menaikkan kedua alisnya. Tali ia pun merasa pernah mendengar nama itu.


Namun belum juga Naura menjawab, Anita mengalihkan pembicaraan anaknya itu. "Sayang, kan kangen sama Manda...."


"Iya Tante, mana Manda...." Naura langsung berbinar dan berlari masuk ke dalam rumah duluan.


"Manda sama teh Sri lagi main di teras belakang." Suci sedikit berteriak karena Naura sudah menjauh.


"Mbak, kenapa nyetir sendiri?" Suci mengiringi langkah Anita masuk ke dalam. "Aku khawatir di tolnya lho mbak."


Anita mengulas senyum. "Aku udah biasa bawa mobil sendiri....masuk tol pun udah biasa. Yang penting gak ngebut aja," ujarnya santai.


Tak berselang lama Nico pulang dari kantornya. Sama, merasa surprise dengan kedatangan kakaknya yang tak memberi kabar terlebih dulu.


****


"Ada hal yang ingin aku tanyakan sama kalian."


Malam ini disaat anak-anak sudah tertidur, Anita duduk bersama Nico dan Suci di ruang keluarga.


"Ada apa?" Nico mengernyit menatap sang kakak yang duduk di kursi sebelah kirinya.


"Soal Rafa."

__ADS_1


"Saat aku tanya bagaimana bisa kenal dengan Nico dan Suci, dia bilang sebaiknya kalianlah yang menjelaskan." Anita menatap bergantian Nico dan Suci yang tampak terpekur.


"Setelah aku bertemu waktu itu, apa komunikasi kalian jadi berubah?" Nico balik bertanya tentang perkembangan hubungan kakaknya dengan Rafa.


Anita menggeleng.


"Komunikasi masih intens hanya belum bertemu lagi karena dia pulang ke Medan."


"Dia siap melamar aku."


"Tapi aku menunggu restu kamu, Nico."


"Kenapa setelah ketemu Rafa....aku rasa kamu jadi beda." Anita menatap sang adik yang masih menggantungkan dukungannya sejak pertemuan di rumah bunda waktu itu.


Suci dan Nico saling tatap. Melalui isyarat anggukan kecil, Suci menyuruh Nico untuk menjelaskan.


"Rafa itu aslinya dari Banda Aceh, satu kota sama Suci hanya beda gampong (desa)." Nico menjeda ucapannya untuk melihat reaksi sang kakak.


Anita mengangguk. "Aku udah tahu. Rafa pernah cerita latar belakangnya."


"Rafa itu...."


Nico mulai menceritakan tentang Rafa secara gamblang menyangkut hubungannya dengan Suci. Raut muka Anita tampak terkejut dan mengkerut usai mendengar keseluruhan cerita adiknya itu.


"Mbak, itu adalah masa lalu." Suci mulai angkat bicara. "Tak ada yang tersisa dari masa lalu. sampai aaat ini, kita tetap menjalin silaturahmi sebagai teman. Aku sih mendukung jika mbak Nita mau menikah dengan bang Rafa." ujarnya tulus.


"Maafin aku, mbak. Bukannya nggak mendukung pilihan mbak Nita. Aku hanya merasa khawatir dia mengecewakan mbak." Nico menatap sang kakak yang menunduk memeluk bantal sofa.


"Tapi setelah mendengar cerita mbak tentang kesungguhan dia mau melamar, aku ikut mendukukng." pungkas Nico.


"Benarkah?" wajah Anita terlihat berbinar.


"Mbak, mantap nggak?" Nico balik meyakinkan."


"Pertama, Naura paling antusias menganggap Alif sebagai adiknya dan Rafa pun menyukai Naura. Itu poin penting buatku."


Suci membulatkan bibirnya. Teka teki siapa Alif terjawab sudah dengan penjelasan kakak iparnya barusan.


"Kedua, a aku juga menyukainya." Anita memalingkan mukanya karena tersipu malu. "Aku juga udah istikharah."


"Apakah mantapnya hati ini bisa sebagai jawaban istikharahku?" Anita menatap Suci meminta pendapat.


Suci mengangguk. "Allah memberi jawaban dengan berbagai cara. Diantaranya lewat mimpi dan kemantapan hati."


****


Seorang wanita berbalut gaun pengantin putih dengan hijab sutra warna senada, duduk di tepi ranjang kamarnya. Ia telah memantapkan langkah memulai kembali lembaran baru bersama seorang pria yang melamarnya dua bulan yang lalu dan mendapat restu seluruh keluarganya.


"Setelah kita menikah, aku ingin kamu berhijab memenuhi syariat Islam. Karena kamu akan menjadi tanggungjawabku. Aku tidak ingin masuk neraka karena lalai membimbing istriku."


"Aku akan berhijab saat kita menikah."


Anita mengulas senyum tipis begitu mengingat percakapannya bersama Rafa saat acara lamaran kala itu.


"Mami cantik bangeett...." Naura memujinya dengan tersenyum lebar dan mata yang berbinar.


"Alif...Mami cantik kan ya?!" Naura yang tampil cantik memakai gaun putih dan bando hias bunga, bertanya pada calon adik kecil yang dituntunnya.


Alif hanya menganguk-ngangguk dengan wajah berseri memandangi sosok dewasa yang juga menatapnya sambil tersenyum.


"Sini sayang..." Anita melambaikan tangan agar Alif dan Naura mendekat.


Anita mendudukkan Alif di sisinya sambil mengusap rambut anak berusia 18 bulan itu. "Alif mulai sekarang panggil MAMI ya ?"


"Ma...mi....Ma mi." Alif mengikutinya sambil menatap calon ibu sambungnya yang tinggal hitungan menit akan sah menjadi ibu sambungnya.


"Anak pinter." Anita mencium puncak kepalanya.


"Yes. Aku punya adek. Nanti Alif bobonya sama kak Naura...." Naura berseru girang dan memeluk Alif dengan riang.


Pintu kamar dibuka dari luar. Suci yang mengenakan gaun warna peach masuk ke dalam dengan wajah semringah melihat pengantin yang selesai dirias.


"MasyaAllah....mbak Nita cantik banget...mangling..kayak anak gadis."


"Bisa aja deh mujinya..." Anita tampak tersipu malu.


"Serius lho mbak...."


"Sstt...dengerin ya." Suci menempelkan telunjuknya di bibir agar Naura dan Alif tidak ribut. Karena di lantai bawah kediaman Ayah Hendro mulai berlangsung ijab kabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anita Maheswari bin Hendro Rusnandar dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


SAH

__ADS_1


SAH


Suaranya jelas terdengar ke kamar pengantin. Anita tersenyum lega namun juga gugup karena harus turun menemui Rafa yang telah sah menjadi suaminya.


"Aku gugup, Suci." Anita mencengkram erat lengan Suci yang akan menuntunnya menuruni tangga.


"Tenang, mbak. Tarik nafas yang panjang....hembuskan perlahan."


"Jangan menunduk ya. Tegakkan wajah dan tebarkan senyum."


Nita mengikuti arahan Suci.


Alunan biola mengiringi langkahnya menuruni tangga satu demi satu dengan digandeng sang adik ipar. Dibelakangnya Naura dan Alif ikut mengiringi langkahnya menuruni tangga.


Di ujung tangga, Rafa tampak gagah dalam balutan jas pengantin putih. Ia berdiri tegak menanti permaisurinya turun. Tatapan keduanya saling mengunci dengan senyum mengembang.


Keluarga dari kedua belah pihak ikut berdiri menyaksikan prosesi penyambutan sang pengantin wanita yang kemudian diraih tangannya oleh sang pengantin pria menuju meja akad untuk melanjutkan penandatanganan surat nikah dan prosesi lainnya.


Acara akad nikah telah selesai. Para tamu yang seluruhnya keluarga, mulai menikmati hidangan yang disediakan catering. Sementara untuk resepsi, akan diselenggarakan besok di ballroom hotel bintang 5 kawasan Menteng.


Salma dan Candra hadir bersama dua putra kembarnya yang berusia 5 bulan, duduk dalam dua stroller. Malik dan Rahma melipir ke taman belakang yang sepi karena putra mereka yang baru berumur 3 bulan merengek ingin menyusu.


"Suci...maafkan saya..." Seseorang mendekatinya saat ia kembali.bergabung usai dari.kamar mandi.


"Sudahlah Mamak, yang lalu biarlah berlaru. Kita sekarang menjadi keluarga." Suci memeluk Mamak Nur, Ibunya Rafa yang dulu memutuskan hubungannya dengan Rafa.


"Maaf...Suci. Maaf...." Mamak Nur tercekat dengan isakan tangis dalam pelukan Suci. Ia menyesal atas kesalahan masa lalunya.


Suci mengusap-ngusap punggung ibu ya Rafa itu. Ia pun mengulas senyum di balik punggung mamak Nur karena seorang pria tengah berdiri lurus memperhatikan interaksinya.


Takdir yang awalnya menyakitkan hati telah mengantarnya pada kebahagiaan hidup bersama sosok pria yang masih berdiri terpaku memangku buah hati.


Suci pamit meninggalkan Mamak Nur yng mulai tenang dan mampu tersenyum kembali. Ia menuju sumber kebahagiannya. Suami dan anak tengah menatap setiap langkahnya yang mendekat.


"I love you, baby." Suci mengecup pipi bakpau putri cantiknya yang tersenyum menggemaskan.


"I love you, Papa." Ia pun menatap Nico dengan mengulas senyum manisnya.


Nico mengetuk pipinya.


Suci menggeleng. "Malu ah....."


Nico memberengut. "Manda dicium, kenapa aku nggak. Buktikan kalau memang cinta!"


Suci memutar bola matanya. Ada saja akal-akalan Nico untuk memgerjainya.


Cup.


"Satu lagi!" Nico mendekatkan pipi kanannya untuk dicium sang istri.


"Sekarang kita cium pipi Manda barengan ya!"


Jepretan kamera tanpa flash tanpa disadari Suci, telah mengabadikan adegan mesra keluarga kecil itu. Tentu saja semua sudah direncanakan oleh Nico dengan fotografer.


Gesekan biola tengah memainkan akustik lagu Bidadari Surga - Uje, dengan syahdu, mengiringi aepasang pengantin juga seluruh tamu yang berbahagia dan bercengkrama dalam suasana kekeluargaan.


Kuinginkan dia yang punya setia


Dan mampu menjaga kemurniaannya


Saat ku tak ada ku jauh darinya


Amanah pun jadi penjaganya


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku


...********...


Dear readers,


Story ini sudah benar-benar tamat ya. Ikuti terus semua karyaku. Cerita tokoh yang dirasa masih menggantung akan terjawab di next novel. InsyaAllah.


Peluk onlen untuk semua pembaca setia 😍


Me Nia (@me_niadar)

__ADS_1


__ADS_2